BUKU ini terbit pertama kali di Spanyol pada 2004 dengan judul asli 'Historia universal de la destruccion de libros. De las tablilas sumerias a la guerra de Irak'. Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Lita Soerjadinata. Fernando Baez, sang penulis, berusaha menyajikan fakta penghancuran buku tidak hadir dari ruang kosong.
Baez membahas soal sejarah yang selalu berkelindan dengan budaya penghancuran, baik itu benda maupun manusia. Dalam buku ini ia mengambil bagian dalam sejarah yang mungkin tidak banyak dilirik orang-orang, yakni sejarah bagaimana buku bisa terlahir dan binasa dalam sepanjang peradaban manusia.
Membaca buku ini, pembaca ikut belajar sejarah, menyelami seluk beluk peradaban literasi manusia dengan susunan rapi. Baez memberikan kita fakta dengan data bahwa tak hanya kaum tak terdidik yang membinasakan buku, melainkan pula kaum intelektual dan vandal-lah yang mempelopori hal ini.
Pelbagai alasan menjadi cikal bakal peristiwa mengerikan ini, mulai idelogis hingga personal, seperti ketidakcocokan selera atau ketidaksukaan dengan sesama penulis. Bibliosida pada ujungnya berakhir dengan genosida. Peradaban yang dibangun dengan kata-kata agar diingat melalui tulisan dihancurkan dan dihanguskan dengan gejolak api kepentingan penguasa.
Di mana pun mereka membakar buku, pada akhirnya mereka akan membakar manusia. Terangnya, buku-buku yang dibakar api, sejatinya menerangi dunia. Menarik untuk dibaca adalah, bagaimana alur sejarah yang dibawakan dengan rapi hingga detail terkecil tak terlewatkan layaknya arsip buku yang tersusun rapi oleh pustakawan sesuai latar belakang penulis.
Bagian pertama buku ini pada masa peradaban kuno, diceritakan pembakaran buku di Timur Tengah, kronik filsuf kuno Yunani termasuk yang populer ialah Plato pernah membakar buku, berdirinya perpustakaan Alexandria, perpustakaan kuno di Israel, Cina, hingga masuknya era Romawi dan kekristenan.
Penghancuran buku dalam sejarah dimulai di Sumeria dimana di tempat itu pula buku muncul untuk pertama kalinya dalam peradaban manusia. Berdasarkan temuan para arkeolog di tahun 1924 ada 100.000 buku yang saat itu masih dalam bentuk tablet (lempengan tanah liat) telah hancur akibat perang yang terus berkecamuk. Ironisnya adalah penemuan buku-buku paling awal tersebut juga menandakan penghancuran perdana.
Di bagian kedua buku ini dimulai dengan era Byzantium. Terungkap, era perang Salib tidak hanya menyebabkan korban jiwa yang besar, melainkan turut hancurnya manuskrip dan buku-buku berharga. Kedua pihak baik dari Pasukan Kristen maupun Islam secara berbalasan menghancurkan perpustakaan dan buku-buku ketika mereka berhasil menaklukkan wilayah lawannya.
Peran otoritas keagamaan dalam penghancuran buku juga ada terutama untuk buku-buku yang dianggap sesat/bidah. Semua buku tersebut dibakar di muka umum sekalian dengan penulisnya.
Di bagian ketiga dari Abad 20 hingga sekarang, penulis membeberkan tentang Holocaust dan bibliocoust Nazi. Kita diajak melihat, sesungguhnya Holocaust yang dilakukan Nazi terhadap jutaan orang Yahudi selama Perang Dunia II diawali oleh sebuah bibliocaust. Jutaan buku secara sistematis dihancurkan Nazi.
Penghancuran ini dilakukan melalui sebuah ritual pembakaran buku yang diawali pengumpulan massa, menyanyikan himne, pidato, dan diakhiri pembakaran buku. Bersambung kepada penghancuran situs budaya disertai dengan penjarahan buku pasca runtuhnya rezim Saddam Hussein di Irak.
Penghancuran situs budaya dan buku di Irak populer dan mendapat sorotan. Berdasakan laporan pustakawan Irak hampir satu juta buku lenyap dalam penjarahan dan pembakaran. Ironis memang karena di Irak-lah tempat buku pertama di peradaban modern dilahirkan. Irak adalah sebuah bangsa yang kehilangan sebagian besar ingatannya, buku-bukunya kini menjadi abu, karya-karya budayanya dijual di pasar.
Irak adalah korban pertama pemusnahan kebudayaan pada abad 21. Begitulah salah satu bait yang tertulis dalam buku ini terkait sejarah Kebudayaan Irak. Demikianlah buku ini merangkai sejarah penghancuran buku dari masa ke masa. Dalam rentang waktu berabad-abad di seluruh dunia termasuk di Indonesia.
Indonesia sendiri memiliki sejarah panjang juga tentang pemberangusan buku, yang paling populer yaitu Orde Baru dan komunis dalam buku ini disebutkan beberapa kasus di bagian pengantar.
Metode lain untuk penghancuran buku seperti membuang buku ke laut, dijadikan bahan bakar pemandian umum, dilemparkan keluar jendela agar dipakai tuna wisma sebagai penghangat badan, dihapus tintanya untuk ditulis kembali menjadi buku baru, sebagai pembungkus mesiu atau mercon, hingga dijadikan sebagai alas kaki.
Penulis mengambil banyak referensi baik non-fiksi maupun fiksi yang disertakan dalam bab akhir buku ini. Dengan riset mendalam selama 12 tahun untuk mengkaji beberapa referensi tersebut penulis mampu mempresentasikan dengan begitu rincinya sejarah penghancuran buku dunia.
Maka tak heran jika penulis terkemuka lainnya, Noam Chomsky terkesan dengan mengatakan ini adalah buku terbaik yang pernah ditulis untuk mengenai tema ini. Baez, kata Chomsky, menuliskan pendahuluan yang tepat untuk memantik rasa penasaran kita sebelum membaca buku ini:
Selama 55 abad buku telah dihancurkan, dan kita sama sekali tidak tahu mengapa. Ada ratusan studi tentang asal-usul buku dan perpustakaan, tetapi tidak ada satu pun sejarah tentang penghancurannya." Tidakkah ini mengherankan?”
Apa yang bisa kita ambil sebagai pelajaran dari buku ini? Bagaimana kita menyelamatkan isi buku dari para penjagalnya? Di mana lokasi sejati yang aman untuk menyimpan ingatan manusia? Kapan waktu yang tepat jika disetiap zaman rasanya tidak aman untuk mengabadikan sebuah ingatan?.
Sebagai penutup saya rasa penggalan kalimat dari bagian pendahuluan sebelum memulai bab pertama perjalanan panjang sejarah dimulai ini sangat cocok untuk direnungkan. “Kenyataannya adalah bahwa pada saat ini, ketika anda sedang membaca kalimat-kalimat ini, paling tidak ada satu buku yang lenyap untuk selamanya”.
Judul Buku : Penghancuran Buku Dari Masa Ke Masa
Penulis : Fernando Baez
Penerbit : Marjin Kiri
Tahun Terbit : 2013
Tebal Buku : 373 Halaman
ISBN 978-979-1260-24-4
