HELVY TIANA ROSA tak sekadar membahas rukun Islam lima. Ia merangkai kisah-kisah tentang hati manusia yang terluka, berharap, dan berusaha tetap setia pada kebaikan di tengah dunia yang sering kali abai pada sesama.
Cerpen yang dijadikan nama buku ini langsung menyentak perasaan dengan caranya yang tenang. Di sana ada Mak Siti, perempuan paruh baya yang setiap hari sibuk merawat kebutuhan rumah tangga majikannya. Suatu hari ia mendengar kabar: Bu Juragan akan kembali berangkat ke Tanah Suci, kali ini untuk keempat kalinya, sementara suaminya sudah menempuh perjalanan itu lima kali.
Padahal saat itu perekonomian negara sedang gonjang-ganjing akibat krisis moneter. Wajah Mak Siti tampak kagum mendengar hal itu, namun di dadanya tersimpan kerinduan yang belum terpenuhi: seumur hidup ia belum pernah sekalipun menjejakkan kaki di Baitullah.
Uang yang dikumpulkannya dari upah bulanan ia ikat rapi dengan tali karet di sudut laci, ditabung perlahan demi perlahan untuk mewujudkan janji pada ibunya yang sudah renta di desa: suatu hari nanti mereka akan bersalaman di depan Ka'bah.
BACA JUGA : #MOCOREK| Mencari Nama Tuhan yang Keseratus
Di sinilah letak keistimewaan cara Helvy bercerita. Ia tak melontarkan makian atau tuduhan pada kelompok kaya. Ia hanya meletakkan dua kenyataan itu berdampingan, membiarkan pembaca merenung sendiri: apakah ukuran diterimanya ibadah terletak pada seberapa sering kita melaksanakannya, atau pada seberapa tulus hati kita berharap meski peluang belum terbuka lebar?
Kritik sosial yang disampaikan begitu halus, ibarat embun pagi yang membasahi daun, namun cukup kuat untuk meluruhkan rasa sombong yang sering tanpa sadar kita pelihara.
Kisah-kisah lain dalam buku ini pun membawa kita menyusuri berbagai penjuru yang menyimpan bekas luka. Penulis mengajak kita berkunjung ke Aceh yang gemetar diterpa badai perang dan gempa tsunami, menyaksikan perpecahan yang membelah hati rakyat Ambon, serta merasakan kepedihan kerusuhan di Sampit.
Tak hanya di dalam negeri, kita pun dibawa melangkah jauh ke Timor Leste yang baru meraih kemerdekaan, tanah Palestina yang terus dijajah, wilayah Bosnia yang pernah hancur akibat perang saudara, hingga Rwanda yang menyimpan kenangan kelam pertikaian etnis. Di setiap tempat itu, yang ditampilkan bukan sekadar darah dan air mata—tetapi juga wajah-wajah yang tetap memeluk asa, meski di sekelilingnya dunia seolah runtuh.
Dalam cerita Cut Vi, kita mengenal sosok perempuan Aceh yang teguh menjaga kehormatan dan kasih sayang meski ancaman senjata selalu mengintai. Cerita Jaring-Jaring Merah membius kita dengan perihnya kehilangan orang tercinta, sekaligus keberanian untuk menyingkirkan dendam demi perdamaian.
Sementara itu, kisah Sebab Aku Cinta, Sebab Aku Angin menyadarkan kita bahwa kasih sayang yang tulus mampu melunakkan kebencian yang sudah mengakar puluhan tahun. Bahkan cerita yang berlatar jauh di Afrika, Kivu Bukavu, terasa begitu dekat dengan hati: karena di dalamnya tertulis keinginan paling dasar setiap manusia—bisa hidup tenang, dihargai, dan tidak dinilai semata dari mana ia berasal.
Gaya tulisan Helvy memiliki ciri khas yang sulit dilupakan. Ia menulis prosa dengan jiwa seorang penyair. Kalimat-kalimatnya tidak kaku atau berbelit, melainkan mengalir tenang seperti aliran sungai pegunungan, diselingi gambaran puitis yang tak terduga.
BACA JUGA : #MOCOREK| Alhambra: Sepotong Surga di Bumi
Ia kerap menggunakan perumpamaan yang membuat suasana terasa hidup: seperti rindu yang merayap pelan di celah tulang, atau suara tawa yang terdengar samar seperti lonceng kendaraan yang lewat di kejauhan. Kadang ia menyisipkan istilah khas daerah tertentu, yang justru membuat tokoh dan latar cerita terasa lebih nyata, seolah kita berdiri tepat di samping mereka.
Buku ini juga mengubah cara pandang kita tentang agama. Helvy menunjukkan bahwa ajaran agama bukan sekadar daftar larangan dan kewajiban yang kaku, melainkan cahaya yang menuntun kita untuk lebih peduli pada sesama. Ia mengingatkan: sempurnanya salat, puasa, atau haji belum berarti utuh jika mata kita masih buta pada penderitaan orang yang tinggal satu atap atau berjalan di jalan yang sama.
Nilai-nilai seperti kesabaran, kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian tertanam begitu alami di setiap alur, sehingga kita tidak merasa sedang diberi kuliah atau nasihat—melainkan seolah mendengar cerita dari seorang teman yang bijak.
Beberapa cerita memang terasa menyayat hati, bahkan berat untuk dicerna. Namun itu adalah keberanian penulis: ia tak lari dari kenyataan pahit yang ada di sekitar kita. Di setiap akhir kisah yang sedih, ia selalu menyisipkan secercah harapan. Ia tak membiarkan pembaca tenggelam dalam kesedihan, melainkan mengajak kita melihat: dari reruntuhan pun bisa tumbuh tunas baru, dan iman yang sejati justru semakin kokoh saat diuji habis-habisan.
Buku ini pantas dibaca oleh siapa saja: pelajar yang sedang belajar memahami sastra, orang tua yang ingin mengajarkan nilai kebaikan pada anak, hingga pekerja kantoran yang kadang lupa berhenti sejenak di tengah kesibukan. Bagi dunia pendidikan, kumpulan cerpen ini bahkan sudah diakui kelayakannya sebagai bahan ajar di sekolah menengah atas, karena kaya akan nilai budaya, tata bahasa yang baik, serta pesan yang membentuk karakter pembaca.
BACA JUGA : #MOCOREK| Timur dari Masa Lalu
Sebagai penutup, Juragan Haji bukan sekadar teman mengisi waktu luang. Ia berfungsi sebagai cermin kecil yang mengajak kita menengok ke dalam diri sendiri: apakah kita sibuk menghias bentuk ibadah di atas kemewahan, atau berusaha mewujudkan makna damai yang sesungguhnya?
Helvy Tiana Rosa mengajak kita kembali pada inti yang paling murni: bahwa rencana Tuhan selalu indah, dan ibadah yang paling diterima adalah yang membuat hati kita lebih lembut terhadap orang lain.
Jika kamu mencari bacaan yang mampu menenangkan jiwa sekaligus mengasah rasa kemanusiaan, buku ini adalah tempat berlabuh yang tepat sebelum kamu kembali melangkah menjalani hari dengan makna yang lebih dalam.
Spesifikasi Buku
- Judul: Juragan Haji
- Penulis: Helvy Tiana Rosa
- Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
- Jumlah halaman: 167
- ISBN: 978-602-06-3703-7
Khairul A. El Maliky, Novelis, cerpenis, dan esais. Bukunya yang telah terbit antara lain berjudul, Akad, Kalam Kalam Cinta, Pintu Tauhid, Sweet Girl, Semesta Cinta Syaikh Abdul Qadir Al Jilani, Cahaya Lentera Cinta, Beda Tapi Cinta, Mahar Cinta untuk Afifah, Kulabuhkan Cintaku di Hatimu, Rasulullah & Pendidikan Hati Anak, dll yang tersedia di toko buku Gramedia, NBS Book Store Malang, dan Imajinasiku Books. Selain menulis, penulis juga aktif sebagai guru Sastra Inggris di salah satu Madrasah Aliyah di Probolinggo.