Skip to main content
Transendental Puasa dan Puisi
Esai / Opini
Transendental Puasa dan Puisi
Pada dasarnya manusia adalah mahluk yang sangat puitis. Karena itu, manusia harus senantiasa menjunjung nilai-nilai estetik dan mengajarkan manusia itu sendiri agar mencapai puncak kebenaran jati dirinya. Manusia itu mamelihara rasa religiusitas yang tinggi, maka makhluk beragama harus memiliki sisi transendensi profetisme dalam dirinya, mampu menuntun arah dirinya agar mencapai puncak religiusitasnya.

Saya selalu teringat kalimat yang dilontarkan sahabat saya, Joko Pinurbo,  “Selamat Menunaikan Ibadah Puasa”, yang ia tulis dalam rentang waku 1989-2012:

Saya sedang mencuci celana yang pernah

saya pakai untuk mencekik leher saya sendiri.

Saya sedang mencuci kata-kata

dengan keringat yang saya tabung setiap hari.

Dari kamar mandi yang jauh dan sunyi

saya ucapkan Selamat Menunaikan Ibadah Puisi.

(2007)

Seperti ada penegasan bahwa menulis puisi itu termasuk ibadah ghoer mahdoh. Saya kok merasa yakin agar kehidupan bathin seseorang (muslim) bisa bepuisi, maka harus berpuasa. Sebab, bagaimanapun orang islam yang beriman diperintahkan Allah untuk berpuasa di bulan Ramadhan, agar manusia mencapai kehidupan memuisi.

“Wahai orang-orang beriman (berarti orang tidak beriman tidak dipanngil wahai), dijawibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang beriman sebelummy, agar kamu bertakwa.” (QS. Albaqoroh ayat 183).

Artinya kita harus memahami, kehidupan puisi adalah kehidupan puasa. Karena puisi selalu dimaknai sebagai rasa atau suasana bathin yang tercipta dalam bentuk kata-kata. Seorang penyair akan berupaya mengekstrak batinnya menjadi serat halus kata-kata, sehingga pembaca dapat merasakan dan terbawa suasana apa yang ada di batin penyair, yang disebut-sebut oleh Acep Zamzam Noor sebagai “Berdiri Bulu Kuduk”.

Manfaat bagi orang berpuasa itu Laallakum Tattaqun, artinya agar orang yang berpuasa menjadi pribadi yang bertakwa, sementara makna lain dari Laallaku Tattaqun bisa agar hati kita lebih bersih, agar jiwa kita menjadi orang yang bageur, cageur tur sabar, agar kita menjadi orang yang tidak suka bertengkar, agar kita menerima kekalahan, agar kepala kita menjadi berpikir jernih, agar apa yang kita miliki disyukuri, agar hati jiwa dan kepala kita bersih seperti puisi.

Kebanyakan orang kaya berpuasa kenyang dengan segala kenikmatan sahur, gule kambing, goreng sosis, sayur mayur yang layak, buah buahan segar serta doa nawaetu sauma godin. Ditambah sholat subuh dan tadarus quran dengan perut aman.

Tapi mereka tak melihat di kolong jembatan sudut kota, anak-anak meringis kedinginan, alas kakinya loreng seperti baju tentara, mereka kelaparan sejak 4 hari tak menemukan sebutir nasi. Orang-orang lalu lalang pergi ke pasar tapi tak menarik kehidupan mereka, bahkan untuk melirik sekalipun. Adzan subuh, kalah oleh dengus perut mereka, angin lirih

Orang-orang banyak berpusa siang hari, asyik dzikir di youtube, membaca solawat di Instagram, beribadah di facebook, berdoa di tiktok seraya memamerkan makanan persiapan buka puasa. Lapar bagi mereka tak terasa. Tapi tengoklah perut orang-orang miskin, di dalamnya ada cacing berdansa, menantikan setitik doa dalam sebutir rasa.

Ketika magrib tiba, ngabuburit bersama rekan kerja, reuni atau pertemuan lainnya, sudah kau siapkan kolak pisang, jus jambu, es teler, sate padang dan nasi liwet. Nikmat benar puasa mereka, sempurna ibadah tiada tara. Lapar seharian terbayar dengan indahnya adzan magrib begitu merdu, semerdu imanmu.

Tapi saksikanlah pengemis berjejer di halaman mesjid agung diusir Satpol PP, saat hendak menikmati sepotong roti sedekah orang kaya. Sayang tak jadi, perut mereka liar berlomba menghentikan adzan dengan tatap mata kosong, memerah; angin senja menusuk jantung magrib.

Dan saat malam, meraka asyik dzikir dalam kesunyian setelah tarwih yang tasbih. Tak ada yang menghalangi tidur nyenyak mereka karena perut kenyang, ibadah senang, malaikat ikut terbang. Tapi dapatkah laallakum taattaqun mereka capai?

Ketika tetanggamu masih memegang perut kosong, ketika teman tak pernah pegang uang THR seumur hidupnya, saat orang-orang tak bisa salat karena tak ada kain penutup ibadah, sedang mereka berlomba dengan isi perut.

Itu semua artinya orang tidak memahami puasa yang memuisi.

Puasa dan Transendental

Manusia akan bertemu dengan hal-hal yang bersifat transendental. Puasa dijalani sangat gampang, tapi untuk menghindari yang membatalkan pahala puasa banyak yang tidak bisa dihindari. Artinya untuk memenuhi jiwa yang memuisi itu sulit, ia harus menjalankan ibadah puasa dengan baik dan benar.

Kita bisa terbebas dan kuat dari makan minum siang hari tapi nulis status di media sosial selalu mengundang orang untuk berbuat dosa, memposting saat buka tanpa memperhatikan orang yang tak mampu berbuka.

Bikin status yang membuat orang berpolemik soal politik, sementara ia sendiri tidak tahu menahu soal status politik. Atau semua tindakan kita yang mengarah pada kelakuan yang tak senonoh; menghina manusia, gibah, tidak baik dengan tetangga, warung atau tukang sayur menjadi muara gosip, sinetron ditonton lebih lama ketimbang ngaji Quran. Itu puasa yang tidak memuisi.

Sementara puasa merupakan penyembahan khusus hanya untuk Allah. Puasa adalah suasana batin dan rasa yang didalamnya ada karsa yang ditujukan khusus hanya untuk Sang Pencipta. Sama dengan puisi, adalah suasana batin yang di dalamnya ada karsa untuk Tuhan. Orang-orang sebelum Nabi Muhammad selalu puasa, dengan berbagai tujuan tentunya. Hewan seperti ayam, gajah, harimau, ikan, ular tentu  saja melaksanakan puasa.

Membaca puisi harus dengan rasa dan hati yang bersih. Jika tidak, meskipun puisi tersebut tersusun dengan kata-kata indah, dan rima yang apik, puisi tersebut akan sulit untuk dipahami dan masuk ke dalam rasa. Dunia puisi adalah dunia batin dan suasana rasa, begitu pula dengan puasa.

Ya, puasa itu sebuah kewajiban dengan aturan yang jelas, memiliki manfaat fisik dan spiritual. Puisi pun punya aturan jelas, bagaimana memilih rima, diksi, dan imajinasi. Pun menahan diri dari kejahatan dan meningkatkan ketaatan serta kebaikan, sedangkan puisi berlari menuju kebaikan diri.

Ibarat memasak, puasa adalah proses memasak yang mencampuradukan berbagi elemen, dari bumbu sampai ke kesabaran tingkat tinggi serta membersihkan jiwa dari nafsu duniawi. Begitu pun inti puisi. Ia melatih kesabaran sebagaimana dalam kitab Talimul Mutalim, bahwa jika seseorang ingin mencapai sesuatu, maka keberhasilan harus disertai sabar. Menulis puisi butuh kesabaran Nabi Nuh, keberanian Nabi Ibrahim, dan santun sepeti Nabi Isa.

Jika kemudian puasa merupakan panggilan mengendalikan nafsu dan menjaga kebersihan diri dalam berbagai aspek, maka puisi bisa menjadi panggilan sunyi bagi kesadaran.

Puisi dan Puasa

Nilai moral dan kejujuran diuji di bulan Ramadhan, pendidikan karakter juga. Pahamilah, kejujuran merupakan satu mata rantai paling berharga untuk puasa dan puisi. Jika tidak, maka puasa akan menjadi percuma. Keringnya nilai-nilai sakral dan kejujuran, harus ditananam di negeri Indonesia agar tanaman akhlak bisa terwujud, tidak saling adu domba dan saling menjatuhkan.

Pada dasarnya manusia adalah mahluk yang sangat puitis. Karena itu, manusia harus senantiasa menjunjung nilai-nilai estetik dan mengajarkan manusia itu sendiri agar mencapai puncak kebenaran jati dirinya. Manusia itu mamelihara rasa religiusitas yang tinggi, maka makhluk beragama harus memiliki sisi transendensi profetisme dalam dirinya, mampu menuntun arah dirinya agar mencapai puncak religiusitasnya.

Makanya puasa itu menahan segala nafsu amarah yang menggelora, sementara puisi juga untuk menahan rasa egois yang berlebihan. Di dalam puisi ada struktur batin seperti tema, rasa, irama, dan isi. Di dalam puasa ada syarat rukun dan itu adalah tema, rasa, irama dan isi. Dalam puisi ada tipografi diksi, imaji, bahasa figuratif, rima.

Dalam puasa juga ada tantangan seperti tipograpi, diksi dan bahasa figuratif karena sekali lagi, puasa merupakan ibadah transendental, sebuah jalan yang harus ditempuh untuk lebih dekat dengan Sang pencipta, demi sebuah pencapaian yang diinginkan.

Ramadan juga adalah kesempatan baik untuk mengembalikan citra buruk seseorang, misalnya mengucapkan selamat lewat spanduk partai politik itu citra yang buruk, artis memakai baju islami hanya di bulan Ramadhan itu adalah citra buruk, dan banyak lagi citra buruk lainya.

Ramadan bukanlah pencitraan apalagi gimick berlebihan, karena rakyat tak perlu gimick, tapi butuh pencerahan, pendidikan, kebahagiaan. Kebahagiaan rakyat tidak dibangun dengan hanya taman indah, tapi keberanian seorang pemimpin ketika bersalah meminta maaf untuk kemudian kembali menata kepemimpinannya agar lebih bagus. Juga dengan merealisasikan janji-janji politik saat kampanye, pelan tapi pasti.

Saya jadi teringat puisi yang ditulis Gus Mus "Nasihat Ramadlan"

Mustofa,

Ramadlan adalah bulanNya yang Ia serahkan padamu dan bulanmu

Serahkanlah semata-mata padaNya. Bersuci lah untukNya. Bersalatlah

UntukNya. Berpuasalah untukNya.

Berjuanglah melawan dirimu sendiri untukNya.

Sucikan kelaminmu. Berpuasalah.

Sucikan tanganmu. Berpuasalah.

Sucikan mulutmu. Berpuasalah.

Sucikan hidungmu. Berpuasalah.

Sucikan wajahmu. Berpuasalah.

Sucikan matamu. Berpuasalah.

Sucikan telingamu. Berpuasalah.

Sucikan rambutmu. Berpuasalah.

Sucikan kepalamu. Berpuasalah.

Sucikan kaki mu. Berpuasalah.

Sucikan tubuhmu. Berpuasalah.

Sucikan hatimu.

Sucikan pikiranmu. Berpuasalah.

Sucikan dirimu.

Atau kita bisa melihat Asbabun nuzul puisi "Malam Lebaran" yang hanya satu larik, "Bulan di atas kuburan" karya Sitor Situmorang yang ia tulis tahun 1954. Berawal dari beberapa hari setelah Lebaran, Sitor Situmorang ingin mengunjungi Pramoedya Ananta Toer namun tidak menjumpainya. Saat pulang, ia tersesat dan menemukan area kuburan yang diterangi sinar bulan di antara pepohonan rimbun

Jadi puisi ini berkaitan dengan puasa yang kontras simbolis, melambangkan suasana meriah, kemenangan setelah berpuasa, dan kebersihan diri. Dan "bulan" bermakna sebagai harapan atau cahaya, sementara "kuburan" menyimbolkan kematian, kesunyian. Ini mengingatkan kita, bahwa di balik hidup ada mati. Di balik mati ada hidup. Sungguh puitis tapi ngeri.

Ramadan belum selesai, menyisahkan sedikit lagi waktu, sebagaimana puisi, merupakan wadah kesadaran kolektif manusia. Agar puasa kita memuisi.

Cag!

 


Kami menerima tulisan opini/esai Anda. Rubrik ini projectarek.id dedikasikan untuk siapa pun yang memiliki minat dan kemauan dalam berpendapat dan berekspresi melalui tulisan. Kami ingin menjadikan rubrik ini sebagai rumah digital untuk bertumbuh bersama merawat demokrasi. Untuk selengkapnya, baca PANDUAN kami.