BANGUNREJO nama yang tak asing bagi sebagian warga Surabaya. Ya, kawasan merah, karena banyak rumah diubah menjadi wisma prostitusi. Belum lagi cap kampung bromocorah. Dekade berlalu, generasi hilang berganti, kampung ini terus berubah dan bertumbuh. Namun, stigma tertinggal tak lekang waktu.
Warga resah. Gundah gulana bagaimana menjawab pertanyaan anak-anak mereka. Mengapa dengan anak BR? Mengapa kalau kami lahir dan tumbuh di sana? Apa yang membedakan kami dengan anak-anak di kampung lain? banyak mengapa yang harus dijawab. Anak-anak menanti jawabannya. Terpojok, warga harus cari jawaban.
Adalah Abdoel Semoet, salah seorang warga yang menolak lari dan memilih menjawab pertanyaan itu. Laki-laki 50 tahun itu, tentu bersama beberapa warga kampungnya, berusaha menjawab pertanyaan tak tak segera terjawab hingga dekade berlalu, dengan pendekatan yang lekat dengan keseharian warga, yaitu seni.
Sebuah sanggar ia dirikan, tempat anak-anak ‘bernapas’. Pada 2014, Pemerintah Kota Surabaya menutup seluruh tempat prostitusi di kawasan ini. Namun penutupan itu tidak serta-merta menghapus stigma yang menempel pada kampung ini. Omah Dhuwur hadir, bukan semata sebagai sanggar seni, melaikan sebagai ruang aman.
“Jejak sejarah itu masih membayangi kehidupan warga, terutama perempuan dan anak-anak yang lahir jauh setelah masa lokalisasi berakhir. Kami ingin anak-anak dan perempuan di Bangunrejo punya ruang untuk bernapas,” tutur Cak Semoet.
Lahir dari Gerakan Kolektif
Di kawasan Dupak, Surabaya Utara, Omah Dhuwur berdiri di tengah kampung yang pernah dilekati stigma eks lokalisasi. Di ruang inilah anak-anak perempuan berkumpul—berlatih, berbagi cerita, dan perlahan membangun rasa percaya diri di lingkungan yang selama bertahun-tahun menempatkan mereka dalam posisi rentan.
Cak Semoet menyebut, Omah Nduwur yang secara harfiah berarti rumah tinggi, yang merujuk pada letak sanggar di bangunan lantai dua. Ya, sanggar ini terletak tepat di tas rumah sekaligus toko pracangan yang dikelola Titie Susma'in, istrinya.
Cak Semoet hanya bisa tersenyum jika ditanya, bagaimana sanggar ini bisa eksis hingga 12 tahun. Ia tak langsung menjawab, diam sejenak. “Kalau saya ingat anak-anak, saya kok kudu (ingin) nangis. Ga menyangka bisa bertahan sampai sejauh ini. Kabeh (semua) diusahakan,” ujarnya sembari menahan tangis.
Operasional Omah Dhuwur diupayakan secara swadaya. Bahkan, terkadang hasil usaha pracangan istri Cak Semoet juga ikut membantu. Sebagai gerakan kolektif, semua yang terlibat dan pedulilah yang menghidupi sanggar ini. Semua diusahakan, kata Cak Semoet, memang dalam arti sebenarnya.
BACA JUGA : Hikayat Pelapak Buku Blauran
Gerakan ini bertumbuh secara organik atas kesadaran menghidupi ruang hidup bersama, yaitu kampung. Mereka yang memiliki ilmu, secara sukarela mengajar anak-anak BR di sanggar Omah Dhuwur. Ada pelajaran tari, teater, ada pula pelajaran bahasa dan menulis aksara Jawa sampai kelas menggambar dan bercerita.
Dana mereka dapatkan dari urunan sebisanya. Kata Cak Semoet, berapa pun yang disumbangkan, bahkan Rp 2000, menunjukkan partisipasi warga yang merasakan Sanggar Omah Dhuwur bagian dari kehidupan mereka. Sekarang, gerakan kolektif ini mulai terbuka dan menyebar ke berbagai kampung di Surabaya.
Sejarah Lahirkan Stigma 'Arek BR'
Tidak mudah merangkul anak-anak Bangunrejo. Sejak masih dalam kandungan, mereka sudah distigma ‘anak BR’ yang kotor, nakal dan nista. Sitgma ini, tidak lahir serta merta. Bangunrejo merupakan kawasan eks lokalisasi yang menjadi bagian penting dari sejarah Surabaya.
Jauh sebelum kawasan Dolly dikenal luas, Bangunrejo atau Mbangunrejo, telah lebih dulu menjadi pusat praktik prostitusi sejak kisaran 1960–1970-an. Kedekatannya dengan Pelabuhan Tanjung Perak membuat kawasan ini ramai didatangi awak kapal yang singgah. Tak jauh dari sana, ada pula kawasan prostitusi Tambak Asri yang disebut Kremil.
Kawasan ini semakin ramai hingga muncul berbagai hiburan, mulai dari karaoke, biliar, bioskop, melengkapi prostitusi yang berlangsung terbuka selama puluhan tahun. Pada 2014, Pemerintah Kota Surabaya menutup seluruh kawasan prostitusi di sana. Hanya saja, stigma terus melekat sekali pun kawasan ini berubah.
Jejak sejarah tersebut masih membayangi kehidupan warga, terutama perempuan dan anak-anak yang lahir jauh setelah masa lokalisasi berakhir. Di tengah realitas inilah Omah Dhuwur hadir. Sanggar ini menjadi ruang bertumbuh warganya melawan stigma itu. Mereka tidak pernah mengelak sejarah kampungnya, namun mereka ingin menuliskan sejarahnya sendiri.
“Omah Dhuwur menjadi ruang yang tidak terus-menerus mengingatkan mereka pada stigma kampung ini, tapi memberi kesempatan untuk tumbuh lewat seni dan kebudayaan,” kata Cak Semoet.
Sejak awal berdiri, Omah Dhuwur memang memfokuskan kegiatannya pada anak-anak perempuan melalui seni tari. Pilihan ini lahir dari kesadaran bahwa perempuan adalah kelompok yang paling rentan. Ya, pada perempuan dan anak-lah stigma ‘Arek BR’ melekat negatif.
“Dulu, banyak perempuan di sini tidak punya pilihan. Mereka dihadapkan pada dua jalan: bekerja di wisma lokalisasi atau menikah,” ujar Cak Semoet.
Tekanan keluarga dan lingkungan membuat perempuan berada pada posisi yang rapuh, baik secara ekonomi, sosial maupun psikologis. Pengalaman itulah yang mendorongnya membangun ruang aman agar perempuan tidak lagi dipaksa mengulang nasib yang tidak mereka pilih.
Hal serupa dituturkan Wiji (57), salah satu pegiat seni Omah Dhuwur yang konsisten mengajar kelas penulisan aksara Jawa.
“Dulu tak ada ruang aman untuk anak-anak di sini. Maka dari itu, Omah Dhuwur jadi wadah bagi mereka menuangkan ekspresi. Kadang, mbak, orang tua sekarang kalau melihat anaknya main tanpa pamit, pasti ngeceknya ke sini. Mereka merasa aman kalau tahu anaknya—oh, lagi di sanggar, ya.”
Perempuan Omah Dhuwur
Di Omah Dhuwur, perhatian turut tertuju pada para pegiat seni remaja perempuan yang sejak sekolah dasar telah menjadi anak didik Cak Semoet. Salah satunya adalah Hening (20), yang kini tidak hanya menjadi anggota sejak duduk di bangku sekolah dasar, tetapi kini juga telah berperan sebagai pelatih.
Bersama Bela (18), Safira (18), Desi (25), dan Risa (32), mereka bercerita tentang upaya mengajak dan mengedukasi anak-anak perempuan lain agar berani bergabung dengan sanggar, sebuah proses yang mereka akui tidak mudah. Mereka mengungkapkan, tidak semua anak perempuan mampu bertahan dalam proses latihan.
BACA JUGA : Lapak Buku Melawan Represi
Beberapa di antaranya kerap terseret ke pergaulan yang dianggap negatif. Menurut mereka, kondisi ini sering berkaitan dengan minimnya perhatian keluarga atau situasi rumah tangga yang rapuh. Mereka tak bisa berbuat banyak ketika teman sebayanya, satu per satu pergi. Yang bisa dilakukan hanyalah konsisten berlatih, hingga teman sebayanya melihat hasil yang mereka capai.
Risa mengungkapkan, sanggar bukan hanya tempat latihan, tetapi juga rumah bagi siapa pun untuk bercerita. Hening, Risa, Bela, Safira, dan Desi tahu betapa rentannya lingkungan mereka, baik dulu maupun hingga saat ini. Rasa “senasib-sepenanggungan” itulah yang mereka rasakan, sehingga saling bercerita dan menguatkan turut menjadi misi Omah Dhuwur.
“Kami di sini selalu membuka ruang diskusi dan bercerita. Kita ini keluarga,” kata Risa. “Kalau punya masalah, jangan cerita ke orang yang tidak bisa dipercaya. Ceritakan ke kami. Omah Dhuwur ini tempat untuk mengeluh dan didengar.”
Melawan Stigma 'Arek BR'
Meski kelima dari mereka tidak berasal dari keluarga dengan riwayat lokalisasi atau prostitusi, label tetap melekat di luar sanggar. Anak-anak Bangunrejo kerap disebut dengan label “Arek BR”—sebutan yang merujuk pada sejarah kampung sebagai kawasan prostitusi. Ini menjadi stigma dan melekat ke mana saja mereka pergi.
Label itu semakin kuat menempel lantaran kampung mereka berdekatan dengan kawasan yang dulu dikenal sebagai Kampung 1001 Malam. Sebuah area yang pernah dicap sebagai “kampung gelap” di utara Tol Dupak yang kerap dikaitkan dengan “pusat kriminal dan sarang penyamun”.
“Haha, kadang label ‘oh kon arek BR yo’ iku ada dua perspektifgawe awak dewe (ada dua perspektif untuk kami) mbak, negatif dan positif. Negatif karena dicap eks lokalisasi atau pusat kriminal, positif karena sering banyak preman di sini, jadi cenderung punya citra ‘sangar’,” ujar Risa sambil tertawa.
Bela dan Safira turut mengisahkan pengalaman diejek saat orang mengetahui asal kampung mereka. Ia kerap merespon dengan candaan, meski di dalam hatinyaterluka.
“Oh, arek BR, piro-piro (berapa harganya),” ujar Bela, menirukan ungkapan yang mereduksi perempuan Bangunrejo sebagai objek.
Hening pun menyimpan kegelisahan serupa. Tinggal di lingkungan eks Kremil membuatnya waswas hingga kini, terutama ketika harus pulang kuliah larut malam. “Katanya (lokalisasinya) ditutup, tapi sebenarnya masih aktif kok, mbak,” ujarnya.
Kerumunan laki-laki dan praktik tersembunyi yang hidup di malam hari, membuatnya kerap merasa tidak aman.Bahkan ia mengaku, mengalami pelecehan seksual non-fisik.
“Kadang sudah terlanjur pulang malam dari kampus, eh ada kerumunan laki-laki bergerombol. Rasanya ragu banget kalau mau lewat langsung. Kalau muter kejauhan, akhirnya enggak jarang kena catcalling,” akunya.
Begitu pula Reza (26), salah satu orang yang memiliki latar belakang keluarga yang bersentuhan langsung dengan eks lokalisasi. Almarhum neneknya diketahui pernah menjadi pemilik wisma di Bangunredjo sekaligus tahanan politik.
Ia juga menceritakan bagaimana ingatan tentang label tersebut sempat melekat pada beberapa anggota keluarganya, salah satunya sang paman. Meski tidak pernah secara langsung melabeli dirinya, jejak stigma itu tetap hadir dalam keseharian.
“Lek guyonan ngunu ke om mbak, mesti ngene: ‘alah kon anake germo’ (Kalau bergurau ke paman, selalu seperti ini, kamu kan anaknya germo). Ya, sebenarnya sekarang sudah enggak ada, tapi punya riwayat ini-itu masih diingat-ingat sama orang-orang sampai sekarang.”
Meski hidup di tengah lingkungan yang belum sepenuhnya pulih, Hening, Bela, Safira, Risa, Desi, dan Reza tetap bertahan di Omah Dhuwur. Mereka memilih konsisten menumbuhkan seni di kampung dengan wajah yang masih suram, sebuah cara bertahan sekaligus melawan stigma.
Aksi nyata mereka tak hanya mendampingi anak-anak dan perempuan di Omah Dhuwur, tetapi juga menghidupkan seluruh RT dan RW lewat gelaran bazar, karang taruna, hingga Mbangunredjo Art Festival—sebuah festival tahunan yang digagas Omah Dhuwur sebagai ruang ekspresi budaya, advokasi sosial, dan pendidikan anak-anak kampung.
“Dulu belum ada karang taruna. Kami datang satu-satu ke RT RW buat mengajak bikin event budaya, mbak,” kata mereka, menandakan bahwa harapan masih terus tumbuh lewat seni.
Dalam Diam dan Tantangan Lain
Label dan stigma masih melekat. Meski pemerintah telah resmi memberhentikan seluruh kegiatan lokalisasi seperti yang ramai diberitakan saat penutupan Dolly, Eks lokalisasi Bangunredjo masih aktif dalam diam. Cara kerjanya tak lagi sama. Praktik prostitusi dari wisma beralih ke jejaring online.
“Masih ada, kok, mbak, wisma-wisma berkedok karaoke atau biliar. Kalau dibilang tinggal orang-orang tua yang menjajakan diri, tapi sebenarnya ada, lho, perempuan-perempuan muda yang masih aktif. Kadang malah makin pesat karena sekarang open BO online pakai aplikasi,” ujar Risa.
Risa menilai, peran pemerintah sebenarnya kurang efektif. Masyarakat eks lokalisasi sempat diberikan keterampilan dan wadah untuk berkegiatan produktif, tetapi hanya bertahan sekitar tiga tahun. Kegiatan itu bubar karena tak lagi mendapatkan pendampingan.
BACA JUGA : Setelah Reset Indonesia Dibedah, Lalu Apa?
“Dulu mereka diajarin jahit, masak/ketering, tapi enggak diajarin marketing dan lain-lain. Akhirnya berhenti sendiri karena enggak ada pendampingan berkelanjutan dan gak tahu harus bagaimana selanjutnya,” imbuhnya.
Tak hanya menghadapi aktivitas prostitusi “diam-diam” yang masih berlangsung, kegiatan seni Omah Dhuwur pun kerap menerima diskriminasi dan pengawasan. Yang membuat mereka mengelus dada, banyak yang menuding aktivitas Omah Dhuwur syirik, sesat dan menyembah berhala.
“Sering dipandang sebelah mata, dikira aliran sesat, dikira syirik, nyembah berhala, dan lain-lain, mbak. Karena suasana sanggar memang agak kejawen. Pernah sampai festival mau dibubarkan, ada ancaman kalau enggak ada laporan ke polsek, acaranya dibubarkan.”
Reza mengaku sering mendapatkan kiriman pesan singkat dari polisi anggota polsek setempat. Isinya pertanyaan-pertanyaan seputar kegiatan Omah Dhuwur. Ia mengaku Lelah harus menjawab dan menjelaskan. Padahal, yang mereka lakukan adalah kegiatan berkesenian, namun diperlakukan layaknya gerakan separatis.
“Sering juga difitnah orang-orang yang katanya paham agama. Katanya diajarin aliran sesat, punya berhala, sampai dibilang diajarin enggak salat.” tambah Risa.
Keterangan ini turut diperkuat dari Wiji pengajar aksara Jawa Omah Dhuwur. Ia pun mengenang bagaimana usaha mereka membuat festival tak jarang menuai kecaman, seperti olokan aliran sesat dan penyembah setan.
“Cemohan sering kami terima. Seperti kemarin saat memakai ogoh-ogoh, ada saja yang melontarkan komentar aneh-aneh. Tapi ya sudah, tidak apa-apa. Kami hanya ingin mendidik anak-anak lewat seni agar mereka punya pandangan yang lebih baik,” katanya sambil tersenyum.
Omah Dhuwur membuktikan, gerakan kolektif menemukan jalannya. Di ruang ini, perempuan dan anak-anak belajar, mereka tidak ditakdirkan untuk mewarisi luka yang bukan pilihan mereka. Melalui seni, kebersamaan, dan pendampingan yang konsisten, Omah Dhuwur menumbuhkan keberanian untuk bertanya, memilih, dan bermimpi.
Ia menjadi bukti bahwa pemulihan tidak selalu hadir lewat kebijakan besar atau perubahan instan ala-ala birokrasi, melainkan lewat ruang-ruang kecil yang setia merawat manusia, terutama perempuan agar dapat tumbuh berdaya, berdaulat atas tubuh dan masa depannya, serta berhak menentukan jalan hidupnya sendiri.
Omah Nduwur sedang mempersiapkan Mbangunredjo Art Festival (MBAF) ke-13 yang direncanakan berlangsung pada pertengahan 2026 dengan mengangkat tema ekologi. Saat ini tercatat sekitar 120 anak terdaftar, dengan sekitar 80 anak yang aktif mengikuti kegiatan. Sanggar terbuka bagi siapa pun, tidak hanya anak-anak dan remaja dari kawasan Bangunrejo.
Di sinilah seni menemukan motif dan coraknya sendiri.