DALAM kondisi hujan yang sangat deras dan represi aparat buntut demonstrasi besar pada Agustus tahun lalu, tak menyurutkan antusias peserta datang. Kurang lebih tujuh ratus orang hadir. Panitia mendatangkan ketiga penulis buku, yakni Dhandy Laksono, Farid Gaban, dan Yusuf Priyambodo.
Sejauh mata memandang yang hadir dari pelbagai jenjang usia, termasuk lansia sampai anak-anak yang dibawa orang tuanya. Ada yang datang sendiri, rombongan sekampus. Ada yang datang dari Surabaya, Sidoarjo, Gresik, bahkan Trenggalek dan Malang.
Tak hanya itu. Keberlangsungan bedah buku semakin lengkap manakala terdapat lapak-lapak baca di beberapa titik. Keberadaan lapak buku menambahkan warna lain di tengah semarak acara. Ini semacam oase di tengah dahaga literasi di Surabaya, khususnya.
Buku-buku dari bermacam genre serta tahun terbit tertata rapi di atas gelaran tikar sederhana. Seorang penjaga lapak buku sibuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dari pengunjung. Ada pula yang tertarik lalu menawarnya. Buku-buku bekas tetapi berkualitas itu diminati banyak mata.
Pelapak buku ini independen. Mereka menciptakan ekosistem baca, sekaligus literasi. Ada yang bergulat dengan isu pergerakan politik dan sejarah, gagasan kiri, sampai dunia kesusastraan. Ada buku orang tua, mahasiswa sampai novel anak-anak. Ya, mereka semacam oase sekaligus pelita dari literasi.
Salah satu pelapak buku itu bernama Kamil dari Sawiji Book, suatu komunitas buku di Surabaya yang turut menebar benih pengetahuan di kota Surabaya. Pelapak sekaligus pegiat literasi itu memboyong buku-bukunya agar bisa dinikmati banyak orang. Gratis dibaca di lokasi bedah buku.
Setahun terakhir banyak kegiatan literasi bermunculan di Kota Surabaya. Ini adalah angin perubahan yang perlu kencang dihembuskan pada lantai-lantai dan ruang-ruang publik yang sudah lama beku dari penyebaran pengetahuan.
Kamil mengatakan, semakin banyak pelapak buku independen, semakin hidup ekosistem literasi. Mereka memaknainya sebagai kolaborasi, alih-alih kompetisi.
Seperti yang dikatakan Kamil, memang lapak baca-lapak baca yang ada di Surabaya terbilang baru. Semua bermula dari acara Pekan Buku Sruntul. Acara ini adalah festival literasi yang mengundang banyak pelapak buku serta pegiat literasi. Meski baru, ekosistem yang mereka bangun mulai hidup dan menghidupi.
Kami menganggap kegiatan itu adalah bentuk dari inovasi baru. Dari situ para pelapak buku jadi sering bertemu. Akhirnya ia semakin sering berkumpul dengan sesama pegiat literasi di klub buku dan lapak baca gratis.
Arus Baru Perbukuan di Surabaya
Belum lama ini aparat kepolisian menyita buku-buku sebagai barang bukti, ketika menangkapi sejumlah aktivis dan pegiat literasi pada September 2025. Rata-rata yang disita adalah buku yang berintisarikan perlawanan rakyat terhadap ketidakadilan penguasa.
Mereka menyimpulkan tanpa memberi penjelasan, mengapa buku dapat memengaruhi motivasi orang untuk berbuat kriminal.
Di mana kaitannya? Namun anehnya, mengapa mereka tidak melakukan tindakan yang sama dengan para pejabat yang berbuat korupsi, pemuka agama yang sudah memerkosa, atau suami yang sudah menganiaya istrinya?
Penyitaan buku jadi bahan tertawaan. Banyak yang beranggapan, buku-buku yang disita justru karena polisi tak pernah membaca isi buku itu. Misalnya, buku karya Romo Franz Magnis-Suseno berjudul Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisioner yang isinya justru mengkritik pemikiran filsuf Jerman itu.
Terakhir adalah bedah buku Reset Indonesia di Kota Madiun, Jawa Timur yang dibubarkan camat dan polisi karena dianggap bisa mengganggu keamanan lingkungan sekitar. Belakangan, ternyata Camat yang memprakarsai pembubaran tersebut mengaku tidak pernah membaca bukunya. Apalagi polisi!
Sekali lagi ini disebabkan sifat ketidaktahuan yang tentunya akan berujung pada pembodohan. Meminjam kata populer Karl Marx bila "ketidaktahuan tidak akan (pernah) menolong siapapun". Masyarakat yang tetap tidak tahu, tidak akan pernah bisa menolong siapapun, termasuk dirinya sendiri.
Oleh karenanya, kehadiran lapak baca yang bertambah banyak di Surabaya, bisa menjadi obat penangkal yang mujarab dari pelbagai atraksi bodoh yang ada.
Memang ironis sekali di masa keterbukaan dan kebebasan berpikir seperti sekarang masih ada buku-buku dilarang, disita sebagai barang bukti, atau tak boleh didiskusikan oleh penguasa. Pengetahuan ternyata masih dianggap berbahaya oleh penguasa. Ini seperti memenjarakan gagasan dan ide.
Kamil tidak hanya memperjualbelikan buku-bukunya. Dalam visinya terdapat suatu bentuk keprihatinan yang lain. Ia juga ingin bersolidaritas atas situasi buruk yang menimpa dinamika literasi di Indonesia. Karena itu, para pelapak buku independen ini turut saweran agar bedah buku Reset Indonesia bisa digelar.
“Kami ingin ikut bersolidaritas. Kami ingin menunjukan bahwa acara buku, kemudian pegiat literasi yang dikriminalisasi, tidak sedang menjajakan barang terlarang.”
Lapak-lapak buku perlu hadir di acara-acara seperti bedah buku atau lainnya sebagai media penyadaran masyarakat. Hal itu dapat melunturkan bias ruang kota yang semakin menyempit oleh gedung kantor, pabrik-pabrik, serta pusat industri yang hanya penuh dengan euforia ilusi kesenangan manusia, yang belum sadar betapa terancamnya masa depan mereka oleh kebijakan-kebijakan pemerintah yang ngawur, tidak manusiawi, dan menindas.
Tak Ada Selain di Buku
Perkembangan teknologi memungkinkan manusia untuk menggamit pengetahuan dari mana saja. Jagad maya memperbaharui cara-cara manusia untuk merengkuh pengetahuan. Tetapi tak jarang, cara-cara baru itu hanya mampu menyediakan informasi parsial. Hal itu disebabkan oleh keterbatasan manusia itu sendiri pada aspek explanatory pengetahuan secara utuh sesuai yang ada di dalam buku. Kamil menerangkannya demikian:
“Mungkin ada orang berpendapat, di era keterbukaan informasi seperti sekarang kita bisa mendapat informasi dari mana saja. Tapi dengan orang membaca buku, dia akan belajar memahami informasi yang lebih utuh. Itu yang saya kira masih sulit di dapatkan di media yang lain. Karena itu, kenapa buku itu bisa membuka pintu kesadaran, atau suatu mimpi kalau kita bisa menjadi lebih baik.”
Kesadaran merupakan bagian penting dari diri manusia yang harus terus dipupuk agar tumbuh dan berbuah. Kesadaran manusia tidak muncul dari ruang hampa. Ia dapat muncul dari proses membaca yang intensif. Kesadaran kritis alih-alih kesadaran baru pada akhirnya terbangun dari mimpi buruknya.
Bagi Kamil, membaca buku sangat penting karena rasa itu adalah awal mula kesadaran. Kita bisa memimpikan suatu kondisi yang lebih baik, suatu negara yang lebih manusiawi itu lewat membuka kesadaran dari membaca buku.
Pemahaman yang setengah-setengah dapat mereduksi suatu pengetahuan kepada kekeliruan pada sisi implementasi. Maka dari itu aktivitas membaca buku secara langsung tak bisa digantikan dengan sarana lain. Sebab dengan membaca buku secara langsung, manusia dapat menyelami dunia pemikiran manusia lain dengan konkrit.
Sekarang, lapak baca adalah sebuah keniscayaan di tengah-tengah kecenderungan tindakan represif aparat terhadap gagasan kritis. Ia harus dilipatgandakan, disebarluaskan, dengan cara apapun untuk membendung laju otoritarianisme yang mulai menunjukan batang hidungnya.
BACA JUGA:
Panduan Terbaik Mereset Diri Sendiri
Kami menerima tulisan opini/esai Anda. Rubrik ini projectarek.id dedikasikan untuk siapa pun yang memiliki minat dan kemauan dalam berpendapat dan berekspresi melalui tulisan. Kami ingin menjadikan rubrik ini sebagai rumah digital untuk bertumbuh bersama merawat demokrasi. Untuk selengkapnya, baca PANDUAN kami.