MEMBACA Buku Reset Indonesia ini saya menjadi berpikir, pilihan untuk menjadi nasionalis itu apakah betul adanya. Menjadi nasionalis di tengah negara yang karut marut apakah menjadi suatu sikap yang bijak dan patut untuk dibanggakan.
Hingga di suatu saat berpikir, perlukah saya turut menyanyikan lagu Indonesia Raya sambil berdiri di saat Negara ini lebih sering merepotkan daripada membantu hidup saya. Mungkin perasaan ini bukan cuma saya rasakan saja, barangkali juga kebanyakan rakyat Indonesia.
Barangkali, saat ini kita memang terlahir bernasib buruk. Kita hidup di Indonesia pada sebuah masa yang antah berantah. Masa lalu kita sepertinya cukup baik diceritakan dengan perjuangan dan segala cerita romantismenya. Masa depan kita dicenayangkan akan hadirnya masa keemasan yang penuh gilang gemilang. Masa kini? Ya seperti ini, segala berita buruk yang hadir di sosial media adalah gambaran suatu waktu yang penuh dengan kesemerawutan.
Ingatan Masa Kecil dan Air
Halaman per halaman buku Reset Indonesia seperti membawa kita pada seabrek permasalahan yang ada di pusat hingga penjuru Negeri. Dari pusat hingga yang terdekat kita sekarang ini tidak ada yang beres. Kita seperti dipertontonkan kesalahan-kesalahan struktural yang dilakukan pemerintah, tapi rakyatnya sendiri juga mengamini kesalahan itu dengan cara yang lebih brutal.
Pada kata pengantarnya saja, Dandhy Dwi Laksono sudah berkisah tentang keruwetan pemerintah mengelola negara ini digambarkan dengan cara mereka mengelola air. Air sebagai sumber utama kehidupan manusia, tidak mampu dikelola dengan baik. Melihat kesuksesan sebuah negara, dalam penjelasan Dandhy, dapat dinilai dari bagaimana negara itu mengelola airnya.
Untuk minum saja, dari 38 provinsi di Indonesia, ada 10 provinsi yang 50 persen penduduknya kini harus membeli air minum. Itu lebih dari separuh populasi nasional. Berbeda dengan negara-negara maju yang sudah bisa minum langsung dari kran yang ada di rumahnya.
Saya menjadi teringat masa kecil yang indah di mana saya dan teman-teman saya masih bisa mandi di sungai. Kenangan tersebut tak bisa diulang sekarang karena permasalahan di Kampung saya, di Lamongan itu airnya sudah tercemar. Bahkan untuk menyentuh airnya saja, kami sekarang sudah wegah. Air yang sekarang warnanya sudah kecoklatan, sudah tercampur banyak sampah dan buangan pupuk kimia dari lahan pertanian.
Berada di daerah yang airnya payau, sedari kecil saya terbiasa minum air dari sungai. Meski harus direbus dahulu dan airnya ada rasa asam-asamnya. Setelah sungai tercemar dan kami mengenal air pegunungan dalam bentuk kemasan, banyak orang dari desa saya tersebut menjadi ogah untuk minum air dari Sungai.
Demikian juga untuk mandi, setelah banyak orang merasa gatal-gatal karena air sungai, kami menjadi memakai air PDAM atau menggunakan sumur bor. Bahkan sungai yang biasa digunakan untuk transportasi perahu pun kadang-kadang masih terkendala karena pendangkalan sungai dan juga banyaknya enceng gondok.
Tinggal di desa yang dikelilingi sungai tapi tidak bisa menikmati airnya memang menyedihkan. Kami jadi perlu mengeluarkan uang lagi untuk hal kecil, seperti untuk minum ataupun mandi. Sungai pun bahkan kadang memberikan bencana ketika musim penghujan dengan membawa banjir.
Banjir yang selain membuat banyak kegiatan masyarakat terganggu, demikian pula menghancurkan pertanian. Hal-hal semacam inilah yang membuat banyak orang dari Desa di sekitaran Bengawan Solo ini memutuskan untuk merantau. Entah untuk berjualan pecel lele atau ke luar negeri menjadi TKI.
Pada bab-bab berikutnya, kita semakin dibuat marah dengan kesalah-kesalahan pemerintah mengelola negara. Sesuatu yang menurut Dandhy Dwi Laksono, Farid Gaban, Yusuf Priambodo, dan Benaya Harobu menjadi perlu di-reset. Reset berarti mengembalikan semuanya dari awal, bukan bermakna mematikan sebuah proses untuk dinyalakan kembali.
Keindahan Tak Bisa Menutupi Kebobrokan
Buku setebal hampir 500 halaman ini merupakan catatan perjalanan dari mereka berempat selama berkeliling Indonesia mengendarai motor. Sebuah pengalaman yang tidak hanya berbicara tentang betapa eksotiknya Indonesia, namun betapa muramnya negeri ini.
Indonesia memiliki beragam masalah kompleks yang sudah struktural hingga sulit untuk dibenahi. Segala keindahan yang ada di Indonesia seperti terbenam dengan kebobrokan tingkah polah manusia yang mengelola negara ini.
Perjalanan mereka memang seperti Ernesto Guevara de la Serna dalam "The Motorcycle Diaries" atau Christopher McCandless dalam "Into the Wild". Namun perjalanan ini dijalani dengan sangat kampungan, norak, dan penuh keterbatasan jika dilihat dari sisi kebarat-baratan. Mereka mungkin bisa memilih motor yang lebih keren dan sangar untuk mengarungi puluhan ribu kilometer. Tapi yang mereka pilih justru hanya Supra Geter.
Mereka terlalu nekat dan gila, seperti tidak mempedulikan ada bencana apa yang bisa terjadi di depan mereka. Tapi mungkin dari keterbatasan itulah sebetulnya yang membuat perjalanan ini menjadi menarik. Yang paling berkesan dari sebuah perjalanan adalah tentang membukukannya. Apalagi sebagai jurnalis, tentu banyak cerita yang tidak bisa disajikan lewat visual tapi masih ingin mereka ceritakan lewat cara lain.
Buku ini menyajikan catatan-catatan yang tidak bisa mereka ungkapkan dalam video-video dokumenter Watchdoc, Ekspedisi Indonesia Biru, dan segala turunannya. Enam bab yang disajikan dalam buku ini jika bisa digaris bawahi, isinya berkisar tentang: krisis demokrasi, kerusakan alam, ketimpangan ekonomi, konflik masyarakat, reforma kebijakan, dan masa depan Indonesia.
Ketimpangan ekonomi dalam tulisan berjudul Kecil Itu Indah seperti memberi gambaran betapa rakusnya orang Indonesia kebanyakan. Manusia yang selalu merasa tidak cukup dengan satu rumah, satu mobil, atau bahkan satu istri. Kesenjangan ekonomi dan pendidikan ini saya rasakan sendiri sebagai sesuatu yang menjengkelkan.
Menonton dan menyaksikan karya-karya Watchdoc dengan segala macam project-nya, kita akan menjadi sadar bahwa yang menyedihkan dari kita sebetulnya adalah jika kita tidak pernah ke mana-mana. Kita yang tidak pernah kemana-mana dan melihat realita masyarakat sesungguhnya, suka sesumbar bahwa Indonesia dalam keadaan baik-baik saja.
Padahal Indonesia ini begitu luas hingga susah untuk dijelaskan dalam satu hari. Indonesia terbentuk dari beragam pulau dan memiliki beragam budaya dan bahasa yang sebetulnya sulit untuk disatukan. Cukup menyedihkannya, dengan luas daerah semacam itu, seluruh masalah di Negara ini hanya diselesaikan lewat sudut pandang Jakarta.
Belum lagi budaya korupsi di Indonesia sepertinya sudah mengalir juga dalam DNA kita, seperti yang ditulis dengan sangat ciamik dalam bab Republik Drakula. Yang menyedihkan, ketika Rakyat ingin menyampaikan kebenaran dan suaranya selalu dihalang-halangi.
Dalam bab itu ditulis dalam demo berminggu-minggu tolak UU Cipta Kerja di seluruh Indonesia, tercatat sedikitnya 400 orang menjadi korban kekerasan polisi dan 5.200 orang sempat ditangkap, menurut catatan Amnesty International. Peristiwa Malari pada 1974 yang cukup melegenda seperti tidak menjadi pelajaran berharga bagi para pemangku kebijakan untuk memandang bagaimana arah perekonomian kita.
Wacana Negera Federasi sepertinya menjadi jawaban yang cukup menarik. Dalam bab Federasi Siapa Takut, menjelaskan pemerintah rasanya masih terlalu kolot dengan menganggap bahwa konsep federalisme adalah bawaan kolonial sehingga membayangkannya saja sudah dibilang subversif bahkan tidak nasionalis.
Wacana Negara Federal semacam itu tentu seperti jauh dari angan karena keputusan Politik. Ditulis dalam bab itu, kenapa ekonomi Indonesia masih relatif terbelakang dan tidak berkeadilan adalah karena Indonesia terlalu luas. Pemilu sebagai upaya memberi perubahan pun ditulis dalam Mencoblos Murah Meriah bahwa pemilu kita memang salah arah.
"Tak hanya kurang aspiratif, sistem pemilu kita sekarang merupakan sumber konflik dan polarisasi," halaman 355. Yang menyenangkan dalam membaca buku ini, menurut saya adalah menjadikan orang-orang kecil di akar rumput sebagai subyek yang dikaji. Mereka adalah orang yang setiap hari turut menghidupi Indonesia, namun jarang menjadi perhatian pemerintah.
Dari Suku Badui, Suku Dayak, orang-orang Papua, para nelayan di Mamuju, lalu petani di Pakel atau di Wadas. Dalam buku ini mereka adalah sosok yang suaranya musti didengar untuk memperbaiki Indonesia, bukan orang-orang yang diambil suaranya saja pada saat pemilu berlangsung.
Buku hampir 500 halaman ini tebal untuk membaca keruwetan Indonesia tapi terlalu tipis untuk segala kekarutmarutan yang ada di sekitar kita. Kita menjadi diberi kesadaran bahwa hidup di negara yang amburadul, kita tetap harus menjadi manusia yang berani bersuara melihat kesewenang-wenangan.
Kita seperti diberi suntikan agar mampu memperkuat barisan di sekitar kita, saat kebatilan datang. Menjadi seperti disampaikan Gandhi, motor pendorong utama produksi massal adalah pemujaan kepada individualisme. "Sebaliknya, ekonomi yang berbasis kepada masyarakat desa memupuk semangat gotong-royong menuju kesejahteraan bersama,". halaman 391.
"Gagasan tentang Indonesia Baru" sebagai sub judul, rasanya adalah upaya yang ciamik untuk: jika ada Indonesia yang baru, seperti inilah yang semestinya menjadi kajian. Masyarakat yang suaranya jarang didengar ini mestinya menjadi bahana untuk menentukan arah kebijakan.
Masyarakat yang acapkali disebut termarjinalkan ini mestinya diberi ruang agar Indonesia, yang katanya demokrasi ini menjalankan sebenar-benarnya demokrasi. Membaca buku ini seperti membuat saya merenung. Benarkah didikan sejak kecil untuk mencintai Negara ini adalah dengan mengiyakan semua yang dilakukan pemerintah dengan tidak memberikan bantahan sedikitpun.
Padahal jika ditelaah lebih jauh, banyak kebijakan dari pengelola Negara ini yang jelek perlu sekali untuk disangkal. Banyaknya tokoh politik yang memiliki perilaku buruk seperti tidak perlu untuk diteladani. Bahkan dengan kasar sepertinya perlu untuk dicaci maki.
Syahdan, setelah membaca buku Reset Indonesia ini gerakan yang paling bijak dilakukan adalah dengan me-reset diri sendiri. Toh, sebetulnya sebelum mencontohkan kebaikan, bijaknya kita memang harus sudah baik dulu. Kita tidak perlu menjadi korup, ketika lingkungan korup.
Kita tidak harus membuang sampah sembarangan meski di depan kita ada selokan yang penuh dengan tumpukan sampah. Yah, jika membaca buku ini dan kita tidak mencoba untuk membenahi hidup kita sendiri, sepertinya kita adalah Bangsa yang tidak pernah belajar.
-- -- --
Kami menerima tulisan opini/esai Anda. Rubrik ini projectarek.id dedikasikan untuk siapa pun yang memiliki minat dan kemauan dalam berpendapat dan berekspresi melalui tulisan. Kami ingin menjadikan rubrik ini sebagai rumah digital untuk bertumbuh bersama merawat demokrasi. Untuk selengkapnya, baca PANDUAN kami.