Skip to main content
Foto: Robertus Risky/Project Arek
Reportase
#SENI | Puncak Amarah Kasih Ibu Kepada Negara
Kata penggalih mengingatkan bahwa manusia tidak hanya hidup dengan pikiran rasional, tetapi juga dengan suara batin yang menuntun keberanian. Pada sosok Sumarsih, Wiwin, dan para ibu dari tapol demonstrasi Agustus, penggalih itu terasa nyata.

Di sore yang mendung ratusan peserta Aksi Kamisan memenuhi pelataran Taman Apsari. Langit begitu kelabu, seakan bersiap mengucurkan air bagi semua orang. Gelisah sempat bernaung sebentar, tetapi ia lekas pudar oleh karena semangat peserta Aksi Kamisan, Kamis (5/3/2026).

Aksi Kamisan sudah ke-900 kalinya. Kuping penguasa tak juga mendengar aksi damai tersebut. Mereka terus berpura-pura tuli terhadap suara rakyat yang menginginkan keadilan bagi pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang sudah negara lakukan selama ini.

Dalam kondisi berpuasa, suara lantang dari para peserta aksi mengaum bergantian. Mereka mengecam, mengutuki kekerasan demi kekerasan yang terus dilakukan aparat negara terhadap masyarakat, polisi menjadi institusi yang berulang mereka sebut.

Teatrikal Kotak Merah

Menjelang berbuka puasa, langit kian bertambah gelap. Peserta aksi duduk melingkar, menandai akan dimulainya pementasan teater. Mereka menatap sebuah kotak kardus yang diletakan di mimbar dan menunggu dengan sabar.

Warna merah darah dan untaian kata-kata perlawanan tertoreh pada setiap bagian sisi kardus berukuran satu kali satu meter. Kalimat “Anakku Pejuang Demokrasi” seolah sedang menghantam langsung ke arah Gedung Grahadi.

Lalu, berjalanlah seorang pemuda berpakaian sederhana ke mimbar bebas. Pemuda itu berhenti lantas mematung, menatap kekosongan di atas langit. Peserta aksi turut menjadi hening seakan menebak-nebak apa yang sedang dipikirkan pemuda yang hanya membisu itu.

Pria berbadan tegap dan berjaket hitam melangkah lambat dari arah depan dan membentak dengan penuh amarah. Ia memerintahkan pemuda sipil itu untuk bubar. Tetapi si pemuda bergeming. Ia menolak. Sebab, ia yakin apa yang dilakukannya adalah suatu kewajibannya sebagai warga negara.

Adegan kekerasan pun dimulai. Sipil berpakaian putih itu dipukul dan ditendang hingga tubuhnya bersimbah darah. Sebagian peserta aksi dikagetkan suara pentungan yang menghujam kepala pemuda itu. Pria yang digambarkan sebagai polisi itu menyeret pemuda sembari terus memukulinya.

Sosok ibu menjadi vocal point dalam aksi teatrikal Kotak Merah. Ibu dalam aksi teatrikal ini menggambarkan perjuangan Sumarsih dan ibu-ibu lain yang anaknya menjadi korban kekerasan oleh aparat negara. (Robertus Risky/Project Arek) 

Pemuda sipil dituduh telah melawan Aparat. Ia terlempar ke dalam kardus dalam keadaan setengah sadar. Ia meringkih ibarat sapi yang hendak disembelih. Sesekali ia menertawakan kekerasan yang telah menimpanya—sesekali tawanya bercampur tangis yang memekik.

Tak tahan dengan kebisingan, aparat mengikatnya dengan tali. Pemuda itu tak bisa bergerak sama sekali. Namun, dengan luka yang semakin parah, ia justru tetap bersuara lantang.

Suara derita itu dirasakan seorang perempuan yang berdiri tak jauh dari mereka. Perempuan itu adalah si pemuda. Ia membawa lampu minyak dengan api yang begitu kecil di tangan kirinya. Itu lentera untuk perjalanannya yang gelap oleh bayang-bayang kekerasan.

Api yang menyala kecil adalah gambaran dari harapan dan tekad yang tak akan padam. Api menjadi pijar yang terus terjaga sekali pun dihantam bandai kekerasan negara.

Dengan gaun merah, perempuan tua itu berjalan penuh kesabaran mencari anaknya. Namun aparat terus menghalangi langkah kakinya. Ibu itu lantas mendorongnya, memaksanya jatuh tersungkur. Ia berhasil menghampiri dan memeluk anaknya erat.

BACA JUGA : Luka Hati Ibu Para Tapol

Setelah adegan pamungkas, hujan benar-benar turun. Seakan-akan langit berkehendak membasuh luka di tubuh pemuda dan butiran airnya membabtis jiwa seorang ibu dengan kasih yang melimpah.

Kebengisan aparat meninggalkan luka batin yang menyakitkan bagi keluarga korban. Luka yang tidak dapat sembuh hanya dengan permintaan maaf dan uang santunan. Luka yang abadi bagi setiap ibu yang ditinggalkan.

Hadirnya seorang ibu demikian emosional dalam pementasan kala itu. Kita seakan diajak melihat secara langsung sosok Bu Sumarsih dan para ibu lain yang hingga sekarang masih tetap tegar dalam menuntut keadilan bagi anaknya.

Para Ibu “Penggalih”

Pentas itu dipersembahkan Teater Penggalih. Kata penggalih sering dipakai untuk menyebut isi hati atau pertimbangan batin seseorang. Penggalih tidak hanya berarti pikiran rasional, tetapi juga rasa batin, pertimbangan hati, dan kesadaran dalam diri.

Suatu kebetulan jika kata penggalih juga menandai betapa kehadiran seorang ibu begitu penting untuk memberi dukungan terhadap kekerasan yang menimpa anak-anak mereka. Dalam setiap tragedi, ibu menjadi sosok yang paling depan merasakan kepedihan sekaligus pembela korban.

Perjuangan para ibu itu masih bisa kita lihat hingga sekarang pada sosok ibu Maria Katarina Sumarsih (73) atau yang akrab disapa Bu Sumarsih. Setiap hari Kamis ia berdiri di depan Istana Merdeka menuntut keadilan bagi anaknya, Wawan ditembak mati aparat pada Tragedi Semanggi 1, 13 November 1998.

Seorang Ibu lain, Wiwin Suryadinata (73) memberanikan diri untuk pertama kalinya hadir di depan para Hakim untuk turut menggugat penyangkalan perkosaan Mei 1998 oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon. Wiwin adalah ibu kandung dari perempuan 17 tahun yang menjadi korban perkosaan dan pembunuhan tragedi Mei 1998, Ita Martadinata.

BACA JUGA : Ibu Korban Pemerkosaan Mei 1998 Menolak Diam

Pada demonstrasi Agustus silam di Surabaya total 50-an anak muda yang dijebloskan ke penjara. Sedangkan 10-an anak muda telah mendapat kekerasan fisik oleh aparat polisi. “Saya dihajar habis-habisan. Dikeroyok. Dipukul mulai dari badan, punggung sampai kepala,” ujar salah satu tahanan politik usai bebas dari Rutan Medaeng.

 

Salah satu adegan dalam aksi teatrikal Kotak Merah menunjukkan arogansi aparat kepada masyarakat sipil yang bersuara kritis. (Robertus Risky/Project Arek)

Dua ibu dari tapol di Surabaya, Siti Mumaiyizah dan Maria Witdyaningsih merasakan betul bagaimana getirnya mendampingi anak-anak mereka, Ali Arasy dan Rizky Amanah menjalani proses hukum. Kondisi mental anak-anak inilah yang selalu menjadi beban pikiran mereka.

Pada akhirnya, Majelis Hakim Pengadilan Negeri Surabaya pada hari Senin (2/3/2026) menjatuhkan putusan bebas terhadap Terdakwa Ali Arasy dan Rizky Amanah Putra dalam perkara Nomor 2499/Pid.B/2025/PN Sby. Putusan dibacakan Ketua Majelis Hakim Safruddin.

Peluk haru dari keluarga untuk Ali dan Rizky usai vonis bebas dijatuhkan majelis hakim PN Surabaya kepada keduanya. (Robertus Risky/Project Arek)

"Alhamdulillah wa Syukurillah, dengan kebebasan anak saya. Saya senang, bahagia. Meski ada rasa kecewa, karena sidangnya dulu sering ditunda-tunda dan lama gak ada ujungnya," ujar Siti Mumaiyizah, penuh rasa haru, Senin (2/3/2026) lalu.

BACA JUGA : Tiga Tapol Surabaya Divonis Bebas

Kata penggalih mengingatkan bahwa manusia tidak hanya hidup dengan pikiran rasional, tetapi juga dengan suara batin yang menuntun keberanian. Pada sosok Sumarsih, Wiwin, dan para ibu dari tapol demonstrasi Agustus, penggalih itu terasa nyata.

“Mereka (para ibu) memahami risiko, hukum, dan kekuasaan yang dihadapi; tetapi rasa batin mereka menolak untuk diam,” ujar Fifin Maidarina, pemeran ibu dari pemuda sipil dalam teatrikal Kotak Merah. 

Dari pertimbangan hati lahir keteguhan untuk tetap berdiri, dan dari kesadaran dalam diri tumbuh keyakinan bahwa memperjuangkan kebenaran bagi anak-anak mereka, bukan sekadar tindakan emosional, melainkan panggilan nurani. Di titik itulah aksi teatarikal berjudul Kotak Merah menjadi ruang pertemuan antara akal, rasa, dan keberanian seorang ibu.

Fifin mengaku, merasakan betul kesedihan dan amarah yang hampir serupa dengan pengalaman para ibu yang anaknya menjadi korban dari kekerasan polisi. “Peran itu bukan sekadar peran yang ditampilkan, melainkan semacam recall memory—sebuah panggilan ingatan atas berbagai kejadian kelam yang pernah terjadi dan melekat dalam ingatan masyarakat,” ujarnya.

Para pemeran aksi teatrikal Kotak Merah dari Penggalih usai tampil dalam Aksi Kamisan ke-900 di Surabaya. (Robertus Risky/Project Arek)

Panggung, bagi Fifin, semacam ruang untuk merawat ingatan itu dan menghidupkannya kembali agar publik tidak lupa, bahwa peristiwa-peristiwa kelam semacam itu bisa saja terulang dan terjadi pada siapa saja. Dari pengalaman itu pula, Fifin melihat, kisah para ibu tersebut memperlihatkan bagaimana relasi kuasa bekerja.

Menurutnya, ada kekuasaan yang begitu besar di satu sisi, dan di sisi lain ada warga sipil yang harus menanggung akibatnya. Ia merasa teatrikal seperti ini penting karena menghadirkan kembali pertanyaan tentang ketimpangan tersebut. Baginya, relasi kuasa yang demikian, harus segera dihapuskan.

Kekerasan Berulang

Rasa penasaran mulanya singgah di benak Yusuf Firdaus yang memerankan aparat. Kini ia jadi tahu bagaimana rasa kepemilikan kuasa dan dominasi ternyata berdampak besar terhadap bagaimana aparat negara dalam hal ini polisi berperilaku di tempat umum.

Setiap polisi yang menjadi pelaku tidak mendapat konsekuensi hukum yang berarti, khususnya bagi keluarga korban. MerTidak ada penjara bagi mereka. Sampai di sini, “keadilan” seolah tersesat di antara monopoli kekuasaan negara.

“Mereka menggunakan kuasa tersebut untuk melegitimasi apa yang tidak seharusnya mereka lakukan,” tambah Yusuf.

Dominikus Riko yang berperan sebagai Sipil sempat takut karena menurutnya peran yang diembannya cukup sulit. Tetapi rasa penasaran mendorongnya tetap berani merepresentasikan seorang anak muda yang sedang teraniaya. Ia lantas menyimpulkan bahwa tindak kekerasan yang terus dilakukan oleh polisi merupakan suatu bentuk penyimpangan dari fungsi sebenarnya.

BACA JUGA : Alat Kelamin Kami Diolesi Balsam

“Tugasnya untuk melindungi dan mengayomi masyarakat, ini malah justru sebaliknya,” jawabnya. Tetap segar di ingatan kita bahwa kekerasan polisi acapkali berulang tanpa ada solusi dari negara. Penganiayan hingga pembunuhan dipertontonkan langsung di mata publik demi delusi keamanan belaka.

Cuplikan salah satu adegan aksi teatrikal Kotak Merah yang memperlihatkan represi aparat negara kepada pemuda sipil. Adegan ini menunjukkan relasi kuasa aparat yang digunakan untuk bertindak sewenang-wenang kepada masyarakat. (Robertus Risky/Project Arek)

135 nyawa melayang dalam tragedi Kanjuruhan, Malang. Tak cukup di situ, satu anak pelajar tewas ditembak polisi di Semarang, pengemudi ojol dilindas rantis Brimob saat Demonstrasi Agustus, pelajar kembali meregang naywa setelah dikepruk helm besi oleh Brimob di Tual, Maluku. Terbaru, lagi-lagi remaja tewas ditembak polisi di Makassar.

Mengutip Kontras, sepanjang Juli 2024 – Juni 2025 saja, terdapat 602 kekerasan yang dilakukan polisi. Tren ini terus meningkat. Provinsi yang menempati urutan pertama sebagai tempat terjadinya kasus kekerasan terbanyak oleh polisi adalah Sumatera Utara dengan 127 peristiwa. Urutan kedua ditempati Jawa Timur dengan 79 kasus, lalu ketiga Jawa Barat dengan 50 kasus.

Reformasi polri yang sempat digadang-gadang sebagai solusi seolah lenyap ditelan waktu. Hingga Aksi Kamisan yang ke 900, belum juga ada kebijakan yang menetas dari tim bentukan Presiden Prabowo maupun kapolri. Konflik kepentingan dinilai menjadi sebab langgengnya praktik impunitas.