Skip to main content
Foto: Robertus Risky/Project Arek
Reportase
Tahlil 100 Hari Alfarisi & Abainya Negara
Tiga bulan lamanya, tak ada kejelasan penyebab kematian Alfarisi bin Rikosen akhir tahun lalu. Semua kejadian ini saling berkelindan. Kuat dugaan kematian ini karena kekerasan yang dialami Alfarisi saat ditangkap dan ditahan kepolisian. Nyawa manusia terasa murah hingga layak diabaikan begitu saja.

LANTUNAN tahlil merambat lirih di udara, Rabu (8/4/2026). Jalanan kampung Dupak Masigit yang sempit menjadi ladang doa bagi almarhum Alfarisi bin Rikosen. Puluhan orang yang hadir memejamkan mata, berharap doa-doa yang terucap sampai menembus langit malam itu. 

Bagi mereka yang datang, saat ini hanya Tuhan yang bisa menghadirkan keadilan bagi Alfarisi dan keluarganya. Seratus hari berlalu sejak pemuda berusia 21 tahun mengembuskan napas terakhirnya di Rumah Tahanan (Rutan) Kelas I Medaeng pada akhir tahun lalu, keluarga masih bertanya-tanya apa sebab kematian Alfarisi. 

Bagi Rizqi Huseini (21), ingatan tentang temannya itu tidak pernah lekang, sebelum atau saat keduanya mendekam di penjara. Sebagai sesama tahanan politik (tapol) Agustus 2025 yang merasakan kerasnya hidup di dalam bui, ingatan Rizqi terlempar kembali pada masa perburuan aktivis.

Di Surabaya, Alfarisi menjadi korban penangkapan pada 9 September 2025 karena dituduh membakar Gedung Grahadi. Keduanya, Rizqi dan Alfarisi, ditetapkan sebagai terdakwa atas keterlibatan dengan senjata api atau bahan peledak.

Sejumlah warga memanjatkan doa tahlil, untuk mengenang kepergian Alfarisi bin Rikosen di rumahnya. Hingga saat ini keluarga menantikan keadilan bagi mendiang almarhum yang meregang nyawa di Rutan Medaeng, Surabaya pada akhir Desember 2025 lalu. (Robertus Risky/Project Arek) 

Rizqi yakin, polisi diduga melakukan banyak salah tangkap saat itu. Massa aksi yang sebenarnya tidak terlibat dalam pengrusakan atau pembakaran Gedung Grahadi, pos dan kantor aparat, justru ikut digelandang ke markas polisi. Bahkan, orang yang sama sekali tidak ikut unjuk rasa, dituduh berbagai tuntutan dan turut dijebloskan ke penjara.

Banyak refleksi 100 hari kasus Alfarisi yang perlu menjadi sorotan. Salah satunya, aparat kepolisian diduga banyak melakukan salah tangkap,” ujar Rizqi, usai doa tahlil 100 hari Alfarisi.

Penderitaan Rizqi dan Alfarisi dimulai sejak mereka menginjakkan kaki di Polrestabes Surabaya. Selama masa penahanan, kekerasan fisik menjadi menu harian bagi para tapol. Rizqi mengungkapkan, keduanya kerap dipukul dan ditendang hingga bagian tubuh mereka mengalami memar yang cukup parah. Rasa sakit hanya bisa mereka tahan sejadi-jadinya. 

“Bola mata saya (selama di tahanan), sampai tidak kelihatan warna putihnya, warnanya berubah merah setelah dipukul polisi di bagian wajah,” imbuhnya, sambil menunjuk bagian yang sempat mendapatkan kekerasan aparat.

Menurut Rizqi, almarhum tidak luput dari penyiksaan semacam itu. Kekerasan fisik yang dialami Alfarisi selama di Polrestabes Surabaya ia duga menjadi faktor utama menurunnya kondisi kesehatan pemuda itu secara drastis.

BACA JUGA : Di Bawah Payung Hitam Kita Alfarisi

“Saat ditahan di Polrestabes Surabaya, Alfarisi juga mengalami penyiksaan, dipukul dan ditendang hingga tubuhnya memar. Kondisi tersebut diduga membuat kesehatannya menurun, hingga akhirnya meninggal dunia di Rutan Medaeng,” tutur Rizqi mengingat kejadian kelam itu.

Rizqi Huseini (21), hadir dalam acara tahlil 100 hari kematian Alfarisi. Ia mengaku terus terngiang temannya itu. Alfarisi dan Rizqi, sama-sama ditangkap polisi dan merasakan kerasnya hidup di dalam bui. (Robertus Risky/Project Arek)

Penderitaan tidak berhenti saat mereka dipindahkan ke Rutan Kelas I Medaeng Surabaya. Di sana, mereka justru dihadapkan pada perlakuan yang dianggap jauh dari nilai kemanusiaan. Rizqi menyoroti masalah makanan yang diberikan kepada para tahanan, yang ia sebut sebagai nasi dengan kualitas yang tidak layak konsumsi.

Selain masalah makan, Rizqi juga mengungkap adanya praktik pungutan liar yang menyasar para tahanan di dalam rutan. Hal ini menambah beban psikologis dan finansial bagi mereka yang sudah kehilangan kebebasannya.

“Pengalaman pertama kami berdua di Rutan Kelas I Medaeng Surabaya juga menjadi catatan penting. Saat itu, kami mendapatkan makanan berupa nasi yang tidak layak konsumsi,” ungkapnya.

Di tengah penderitaan tersebut, Rizqi menyimpan satu kenangan personal yang terus membekas tentang sosok Alfarisi. Ia mengingat Alfarisi sebagai pribadi yang santun dan sangat suka bertegur sapa dengannya selama di dalam tahanan.

Namun, sebuah firasat janggal dirasakan Rizqi sesaat sebelum Alfarisi tutup usia. Pada suatu sore, Rizqi mencoba mengajak Alfarisi berbicara, namun tidak ada respons seperti biasanya. Temannya itu banyak diam. Tak seperti biasanya Alfarisi bersikap seperti itu. Entah apa yang dipikirkan Alfarisi, kata Rizqi.

“Suatu waktu saya berkata kepadanya, ‘Besok kita beli gorengan bareng, ya.’ Namun, sore itu ia tidak menjawab. Tidak seperti biasanya. Dalam hati saya merasa ada yang janggal. Biasanya, setiap saya berkata seperti itu, ia akan menjawab,” kenang Rizqi.

Waktu berlalu, Alfarisi meninggal dunia pada 30 Desember 2025 pukul 06.00 WIB di Rutan Medaeng. Malam sebelumnya, ia sempat salat Isya berjamaah dan bercakap-cakap hingga pukul 01.00 dini hari. Menjelang Subuh, ia tidur dan berpesan agar dibangunkan untuk menunaikan salat, namun pada pukul 04.00 ia hanya terdengar mendengkur keras.

Saat dicoba dibangunkan kembali, tubuhnya sudah mendingin dan tidak merespons. Dokter menyatakan ia meninggal sebelum tiba di klinik. Pihak rutan mendiagnosis gagal pernapasan, namun keluarga mencurigai kejanggalan karena adanya laporan penganiayaan di bagian dada dan penurunan berat badan drastis selama penahanan.

Rizqi sendiri divonis enam bulan penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Surabaya pada 22 Januari 2026. Ia dinyatakan melanggar Pasal 187 dan 53 (1) KUHP, dengan hukuman dipotong masa tahanan sejak September 2025. Saat ini, Rizqi telah bebas.

Peserta Aksi Kamisan Surabaya menuntut tanggung jawab negara atas kematian Alfarisi di Rutan Medaeng, 30 Desembr 2025. Mereka menganggap negara lepas tangan atas kematian warga negaranya itu. (Robertus Risky/Project Arek)

 

Kini, 100 hari usai kepergian Alfarisi, Rizqi menuntut agar ada pertanggungjawaban dari pihak kepolisian maupun rutan. Ia menilai keduanya terkesan lepas tangan atas kematian salah satu tahanannya. Rizqi berharap agar kasus ini tidak menguap begitu saja, supaya tragedi serupa tidak menimpa tahanan lainnya.

Kasus kematian Alfarisi dan tahanan lainnya perlu ditindaklanjuti secara serius agar kejadian serupa tidak terulang. Ada tahanan politik yang meninggal, sementara pihak rutan dinilai tidak bertanggung jawab,” tegas Rizqi.

Di sisi lain, warung kopi Alfarisi yang biasa ramai, kini tampak mati suri. Papan kayu yang menjadi meja bagi para pemuda kampung untuk bercengkerama hingga Subuh, kini lebih sering tutup. Ini pengingat akan absennya sosok yang dulunya menjadi motor dari aktivitas di sana.

Sebelum mendekap di dalam sel, Alfarisi bekerja di warung kopi yang ada di tempat tinggal kakaknya, Khosia. Perempuan itu mengatakan, sejak adiknya berpulang, suasana rumahnya tampak berbeda. Terasa lebih sepi dari biasanya, semua canda gurau yang ada di warung kopi kini hanya datang sebagai kenangan.

Zaman Alfarisi, warung ini bisa buka sampai subuh. Sekarang sudah jarang sekali buka. Kadang kami merasa malas dan tidak bersemangat untuk membukanya lagi," tuturnya mengenang.

Kata Khosia, rutinitas Alfarisi yang biasanya setia menunggu warung kopi sambil menonton TV bersama teman-temannya. Tempat itu kini menyisakan tumpukan sisa stok minuman sachet yang sudah berbulan-bulan tidak tersentuh.

Perempuan itu bercerita, semua bermula dari solidaritas terhadap insiden kekerasan polisi yang menimpa pengemudi ojek online, Affan Kurniawan, yang meninggal dilindas kendaraan taktis saat mencari nafkah.

Tersulut emosi melihat video kekerasan tersebut, Rizqi dan Alfarisi ikut turun ke jalan dalam aksi unjuk rasa, yang kemudian berujung pada penangkapannya atas tuduhan perakitan molotov. Penderitaan Alfarisi memuncak selama masa penahanan di Polrestabes Surabaya.

Di Polrestabes dia dipukuli. Pokoknya setiap hari, dia dipanggil oleh polisi untuk diperiksa. Dia sampai tidak kuat lagi menahan siksaan itu," kata Khosia, usai doa tahlil 100 hari Alfarisi.

Keadilan Masih Buram

Koordinator Badan Pekerja KontraS Surabaya, Fatkhul Khoir, menyampaikan keprihatinan mendalam atas 100 hari meninggalnya Alfarisi. Menurutnya, rentang waktu tiga bulan lebih ini belum memberikan jawaban yang memuaskan bagi pencarian keadilan Alfarisi.

BACA JUGA : Tujuh Hari Tanpa Alfarisi

Baginya, tragedi ini bukan sekadar kasus kematian biasa, melainkan cerminan kegagalan negara dalam memberikan jaminan keamanan bagi warganya yang berada dalam otoritas hukum. Nyawa manusia, kata Fatkhul, dianggap murah oleh negara sehingga mereka abaikan.

Fatkhul menegaskan, peristiwa yang menimpa Alfarisi adalah potret buram penegakan hukum yang sering kali terabaikan. Ia melihat ada kecenderungan negara untuk mendiamkan kasus-kasus kekerasan yang melibatkan aparat, sehingga kasus ini terancam hanya menjadi tumpukan berkas masa lalu tanpa penyelesaian hukum yang konkret.

Kematian Alfarisi merupakan peristiwa kelam yang tidak pernah diselesaikan secara tuntas oleh negara. Peristiwa ini jelas, terjadi di depan mata, tapi negara memilih mengabaikannya," ujar Fatkhul.

Dugaan penyiksaan yang dialami Alfarisi selama di tahanan menunjukkan ruang-ruang yang dikuasai negara menjadi tempat yang rawan terhadap praktik tidak manusiawi. KontraS Surabaya menilai, pengabaian kasus ini semakin memperpanjang daftar impunitas di Indonesia.

Mengenang sosok Alfarisi bukan sekadar mengingat akhir hidupnya yang tragis, tetapi juga memahami alasan di balik keterlibatannya dalam aksi demonstrasi hingga akhirnya ia ditangkap.

Kematian Alfarisi juga membekas bagi tim pendamping hukumnya. Fatkhul Khoir salah satu penasihat hukum Alfarisi mengenang, pemuda 21 tahun itu memiliki solidaritas tinggi. (dok KontraS Surabaya)

Fatkhul mengingat Alfarisi sebagai pribadi yang memiliki kepedulian tinggi terhadap ketimpangan sosial. Alfarisi turun ke jalan bukan karena motif kriminal, melainkan dorongan hati untuk memprotes kekerasan yang banyak terjadi belakangan, termasuk masalah kesejahteraan dan ketidakadilan ekonomi.

Selama masa pendampingan, ada satu hal yang paling diingat oleh Fatkhul mengenai motivasi Alfarisi. Bagi mendiang, risiko yang ia hadapi, termasuk jeruji besi, adalah bagian dari proses belajar dalam sebuah perjuangan yang lebih besar.

Dia pernah mengatakan, Keterlibatan dia itu berangkat dari rasa ketidakadilan ekonomi yang dialami oleh orang-orang di lingkungannya. Itulah mengapa dia memilih hadir dan berjuang bersama para demonstran lainnya," kenang Fatkhul.

Afarisi juga mengatakan kepadanya, ditangkap dan dipenjarakan menjadi pembelajaran dan pengalaman buatnya ketika memilih berjuang di jalanan. Namun, yang membuat hati Fatkhul remuk, Afarisi tak pernah benar-benar bisa belajar karena nyawanya direnggut paksa.

BACA JUGA : Catatan Psikologi Kematian Alfarisi

Ia menuntut transparansi penuh dari kepolisian. Rahasia di balik dinding tahanan yang menyebabkan nyawa Alfarisi melayang harus dibuka selebar-lebarnya kepada publik. Tanpa adanya keterbukaan, kepercayaan masyarakat terhadap institusi penegak hukum akan terus merosot.

Hal yang perlu dilakukan, ujar Fatkhul, adalah negara harus menghentikan segala bentuk represi atau kekerasan terhadap para demonstran. Ia mengingatkan, negara seharusnya belajar agar jangan sampai peristiwa kekerasan seperti ini terulang kembali di masa depan.

“Untuk memastikan itu, kepolisian harus berani mengungkap secara jujur kepada publik terkait peristiwa kekerasan yang dialami oleh para tahanan politik atau demonstran," tegas Fatkhul.