BERHARI-HARI aku tidak bisa melupakan peristiwa itu. Peristiwa itu betul-betul mengguncang pedalamanku. Aku tidak bisa hidup dengan benar. Dan aku kadang-kadang jadi sedih sendiri, sakit sendiri, marah sendiri, dan takut sendiri. Aku jadi mengingatnya lagi, aku jadi terkenang ia kembali. Aku masih belum sembuh benar dari luka itu. Dari kehilangan itu. Tapi tetap harus ada seseorang yang menulis kisah ini, cerita ini. Jika tidak pasti ia akan dilupakan, jika tidak dilupakan pasti dihilangkan.
Aku jadi teringat dengan novel yang beberapa minggu lalu aku baca, The Memory Police, dari Yoko Ogawa (kalau kau belum membacanya, kau harus membacanya, setidaknya ia masih relevan dengan keadaan di negeri kita ini). Menceritakan tentang sebuah pulau yang memiliki aparat Polisi Kenangan yang bertugas untuk menghapus konsep benda dan ingatan penduduknya.
Konsepnya sama seperti sebuah negara yang ingin menghapus ingatan para penduduknya, dari sejarah yang ingin pihak penguasa lupakan, dan tidak ingin seorang pun mengingatnya. Polisi Kenangan ini bisa menghilangkan sejarah sebuah benda, orang, bahkan peradaban. Dan tentu saja aku tidak ingin melupakan kisah yang akan kuceritakan kepadamu ini. Aku tidak ingin menjadi para penduduk yang dikekang ingatannya, yang diatur apa yang boleh diingat dan apa yang harus dilupakan.
Tapi kemudian tiba-tiba saja muncul sebuah pertanyaan di dalam diriku sendiri “Memangnya setelah kau menuliskannya dan berhasil menyelesaikan kisah itu, lalu apa? Apakah negeri yang dikelola oleh pemerintahan bobrok ini akan menjadi lebih baik? Apakah pejabat korup itu akan langsung dihukum mati? Ataukah aparat-aparat yang banyak oknum keparatnya itu akan dihukum dengan kesalahannya? Dengan dosa-dosanya?” dan aku tidak bisa menjawabnya.
BACA JUGA : A & T
Aku hanya terpekur dan merenung. Sehingga aku hampir lupa untuk menyelesaikan kisah itu. Sampai kemudian suara dari seseorang yang sangat kukenal menyadarkanku untuk menyelesaikannya, untuk menuliskannya apapun yang terjadi. “Kau harus menuliskannya, kau harus menyelesaikannya, berjanji padaku, kau akan menyelesaikannya” lalu entah mengapa aku mengangguk, lalu menangis, sebelum kemudian aku menulis kisah ini, cerita ini.
***
“Fan, beras di rumah sudah habis, nanti pulangnya mampir ke warung dulu ya, beli beras” terdengar suara Mak Lina dari dapur kepada Affan, anak lelakinya yang sedang memanaskan mesin motor di halaman rumah.
“Iya Mak, ada nitip yang lain lagi ngga?” tanya Affan setengah teriak.
“Itu aja”
“Ok, Affan narik dulu Mak, assalamualaikum” ucap Affan sambil bergegas pergi.
“Walaikumussalam, ya hati-hati” kata Mak Lina melepas anaknya pergi ngojol. Sore menjelang petang itu Affan memacu sepeda motornya menuju ke pangkalan, tempat ia biasa dan kawan-kawannya sesama ojol nongkrong dan menunggu orderan.
“Lu ngga ikut demo, Fan?” tanya Rohman kawan seperjuangannya, yang juga sesama ojol.
“Kagak Man. Ada orderan ini, mau nganter ayam geprek,” jawab Affan
“Di mana?”
“Benhil”
“Wah ati-ati, di situ sekitar situ lagi ada demo gede”
“Masa?”
“Eh diomongin kaga percaya”
“Tapi bismillah lah berangkat gua, Man”
“Ya gas aja, tapi sampai di lokasi mendingan lo turun dari motor, biar ngga kejebak macet”
“Oh oke makasih, Man, Gua ambil orderan dulu ya”
“Ok hati-hati,” ujar Rohman.
Dan sedetik kemudian Affan telah memacu motornya ke warung ayam geprek untuk mengambil orderan. Ia segera memacu motornya lagi ke Jalan Penjernihan, di sekitaran Rusun Bendungan Hilir.
Sesampai di lokasi, ia melihat begitu banyak kerumunan masa, sedang berdemonstrasi. Ia parkirkan motornya di sebuah swalayan yang tidak jauh dari tempat demo. Ia mengikuti saran kawannya, untuk berjalan kaki mengantarkan pesanan. Affan dengan cekatan melewati satu persatu demonstran, dan mengantar makanan kepada seorang perempuan dengan wajah dipenuhi polesan pasta gigi. Teriakan dan yel-yel bergema dari ujung jalan satu ke ujung jalan lain.
“Ikut demo Kak?” tanya Affan sambil memberikan pesanan Si perempuan.
“Iya, ngga ikut demo Bang?” Si perempuan balik bertanya
“Ngga, Kak. Mau narik lagi ini”
“Owh ok, lunas ya Bang,” kata perempuan sambil menunjukkan Smartphone-nya kepada Affan.
“Siap, makasih Kak, tetap hati-hati, tetap saling jaga, jangan terprovokasi,” kata Affan, ia kemudian mundur dan mencoba untuk keluar dari kerumunan demonstran.
“Iya makasih Bang, Abang juga hati-hati” kata Si perempuan.
Belum sepuluh langkah Affan berjalan, tiba-tiba suara dentuman memecah langit malam, gas air mata ditembakkan ke berbagai arah. Suara-suara gemuruh demonstran makin menjadi, dan Affan yang mendengar itu segera berlari. Orang-orang pun mulai berlarian dan mencoba membubarkan diri.
Affan terus berlari mencoba untuk mencari jalan keluar, batu-batu, kayu, sampah botol berserakan di jalanan. Ia terus berlari sambil memegang gawainya. Tapi sedetik kemudian, gawainya terjatuh ke tengah jalan. Ia mencoba menggapai dan mengambinya. Affan berhasil mendapatkannya.
Namun nahas, kelegaan itu sirna seketika. Tiba-tiba entah datang dari mana, kendaraan taktis (Rantis) Brimob, barracuda melaju begitu kencang di hadapan Affan dan tiba-tiba menghantam tubuhnya. Sopir barracuda itu berhenti sejenak, karena ia merasa menabrak sesuatu, tapi kemudian sang sopir malah menginjak pedal gasnya, dan melindas tubuh Affan.
BACA JUGA : Carik Absori Khalifah di Muka Bumi
Tubuh Affan dilindas hingga remuk, kepala Affan bersimbah darah. Orang-orang yang melihat peristiwa itu kemudian menjerit ngeri, marah, dan memaki sejadi-jadinya.
“Woy diinjek woy!!!”
“Ya Allah dilindes, ya Allah”
“Polisi taik!!!”
Suara-suara kutukan dan makian kemudian memenuhi seantero langit di Jalan Penjernihan yang sudah tidak lagi jernih.
“Turun babi!!!”
“Bangsat! Turun lom, pembunuh! Tanggung jawab, bajingan!!!” suara makian dan bentakan, terus bersaut-sautan. Suasana begitu mencekam. Demonstran beramai-ramai mulai mengerumuni dan mengadang mobil lapis baja yang dikendarai aparat. Mereka memukul dan menendangnya, menyangka tangan dan kaki mereka lebih kuat dari baja. Entah karena panik, takut, atau memang tolol. Sopir barracuda malah terus menginjak pedal gas kendaraannya. Mencoba untuk kabur.
“Terus aja terus! Kalau berhenti di sini habis kita,” kata salah satu penumpang di dalam mobil. Dan mobil rantis keparat itu benar-benar melaju pergi meninggalkan demonstran. Tubuh Affan telah remuk, dengan kepala bersimbah darah. Ia segera dilarikan ke RSCM. Namun sayang, nyawanya tidak tertolong. Affan mati. Baru saja seorang lelaki mati dilindas barracuda.
Video ketika Affan dilindas Rantis Barracuda segera tersebar luas di media sosial, dan viral. Hal ini memicu kemarahan publik. Gelombang demonstran segera membesar, dan menyebar. Rasa frustrasi, dan rasa marah demonstran tak terbendung lagi. Marah pada anggota dewan bermulut comberan, pejabat korup yang gemagus, dan kebijakan ngawur yang makin mencekik, ditambah lagi peristiwa Affan yang mati dilindas rantis menambah akumulasi rasa marah, frustrasi, kebencian, dan kekecewaan para demonstran yang kemudian meledak.
“Hidup ditindas!!! Mati dilindas!!!” pekik suara perempuan sambil melempar batu sebesar kepala bayi ke arah Mako Brimob.
“Kacung yang digaji rakyat, tapi ngatain tuannya tolol, goblok!!!” pekik suara seorang Bapak yang kehilangan anaknya, sambil melempar plastik berisi taik dan air kencing ke gedung DPR.
“Sini kalian, biar ibu ajarin apa itu artinya sopan santun” kata seorang Ibu-ibu paruh baya berjilbab pink, sambil menghantamkan batang bambu ke arah barikade polisi. Hujan turun membasahi seluruh jalanan yang tengah marah dan penuh darah. Tak ada satu apa pun yang lebih berharga dari nyawa. Benar-benar tak ada satu apa pun yang lebih berharga dari nyawa.
Kematiannya seorang lelaki yang dilindas Barracuda, menciptakan prahara. Ya, yang mengenang kematiannya menyebutnya sebagai, Prahara Agustus.
***
Dan pada akhirnya aku berhasil menyelesaikan cerita itu, meskipun mungkin cerita itu tidak sempurna, meskipun ia penuh kekurangan dan cacat di sana-sini, atau dengan kata lain jelek. Tapi hanya itu yang bisa aku tuliskan. Kehilangan, kesedihan, dan tragedi, entah mengapa selalu bisa mendapatkan tempat untuk dikisahkan dan diceritakan. Tapi tentu saja, ada harga yang harus aku bayar setelah semua ini.
Setelah menyelesaikan cerita itu, aku seperti mengalami disorientasi, seperti mengalami kemunduran, seperti mengalami writers block, seperti mengalami ketakutan-ketakutan, seperti mengalami mimpi buruk, seperti mengalami jalan buntu, mungkin ini bukan sebentuk jalan buntu, tapi memang ceritanya hanya bisa kuselesaikan hanya sampai di situ, hanya sebatas itu, aku hanya bisa menyelesaikannya pada titik itu.
Aku tidak bisa lagi menuliskannya lebih jauh, lebih dalam lebih detail atau lebih tragis lagi. Aku tidak bisa meneruskannya, aku tidak sanggup. Aku tidak bisa menuliskannya dengan kedalaman dan kesubliman semacam itu. Aku hanya tidak ingin peristiwa itu terulang kembali. Aku tidak ingin peristiwa itu terjadi lagi di depan mata kepalaku sendiri. Aku tidak mau.
BACA JUGA : Hidup di Negeri Omong-omong
Dan hanya karena janjiku kepada dirinyalah, sehingga aku memaksakan diri untuk menuliskannya, untuk menyelesaikannya. Aku menuliskan cerita itu dengan perasaan yang entah, perasaan yang begitu menyedihkan dan menyakitkan. Rasa sakit dan tidak nyaman itu bahkan masih ada hingga sekarang, bahkan tertinggal di ujung jariku saat aku mengetiknya. Perasaan tak mengenakan, rasa sakit, dan rasa pedih, menyatu sepekat darah. Ah aku lupa mengatakannya, ada amarah juga di sana.
Di titik akhir, saat aku ingin menyelesaikan kisah itu, aku mengalami kebingungan dan kebimbangan. Atau mungkin semacam ketakutan katakanlah, tapi pada akhirnya semua itu bisa kulewati, karena sekali lagi aku harus menunaikan janjiku. Janji kepada seseorang yang sangat penting dalam hidupku, salah satu orang kalau bukan satu-satunya orang yang mengerti dengan segala kekurangan dan kelemahanku.
Aku tidak tahu apakah cerita ini akan dibaca atau tidak. Aku tidak tahu apakah akan ada hal-hal baik di depan sana, setelah aku menyelesaikan cerita ini, aku tidak tahu apakah pembaca yang akan membacanya kelak akan mendapatkan sesuatu dari cerita ini. Aku tidak tahu. Tapi yang jelas, aku sudah menepati janjiku, janji kepada kekasihku yang telah mati dalam sebuah demonstrasi.
Banyumas, Agustus-September 2025-2026
Juli Prasetya
*Artikel ini adalah bagian ketiga dari seri 'Prahara Agustus belum Tuntas!' yang kami kemas dalam bentuk artikel liputan, opini dan cerita pendek di projectarek.id.
Kami menerima tulisan cerpenmu di rubrik AREK BERCERITA. Rubrik ini projectarek.id dedikasikan untuk siapa pun yang memiliki minat di dunia sastra khususnya cerpen. Kami ingin menjadikan rubrik ini sebagai rumah digital untuk bertumbuh bersama menghidupi dunia cerpen. Kirimkan karyamu dengan membaca PANDUAN kami.
