Skip to main content
Ilustrasi: Nano Banana 2
Arek Kampus
Publikasi Melejit, Integritas Terjepit
Tiga orang asal Indonesia, Prihantini, Rifaldy Fajar, dan Rini Winarti, menghebohkan dunia riset internasional setelah diduga melakukan pemalsuan data dan identitas dalam konferensi ISPPD di Denmark, Mei 2026. Skandal fabrikasi riset ini kini dalam investigasi mendalam pemerintah karena dinilai merusak kredibilitas ekosistem penelitian nasional di mata dunia.

DUNIA PENELITIAN internasional dihebohkan dengan kelakuan peneliti asal Indonesia yang sangat memalukan dan tidak etis dalam dunia riset, mereka melakukan kecurangan saat konferensi International Symposium on Pneumococci and Pneumococcal Diseases (ISPPD) di Denmark, pada 17-21 Mei 2026. Terdapat tiga terduga pelaku dalam pemalsuan riset pada konferensi tersebut, yakni Prihantini, Rifaldy Fajar, dan Rini Winarti, dengan dugaan riset yang benar-benar tidak dilakukan, hasil fabrikasi, hingga pemalsuan identitas saat melakukan konferensi.

Kabar mengenai konferensi yang menghadirkan riset palsu tersebut berawal dari sebuah postingan milik Ida Bagus Mandhara Brasika melalui akun Instagram dengan nama pengguna @mandharabrasika, yang dikolaborasikan dengan Wa Ode Dwi Daningrat dengan nama pengguna @w.o.o.d, yang mendapatkan like sebanyak 236 ribu dan komentar sebanyak 7,185 per 1 Juni 2026.

Dalam postingan tersebut, @mandharabrasika menyoroti adanya dugaan praktik “nakal” dari peneliti asal Indonesia dalam konferensi ISPPD yang dilakukan di Denmark, yang mana praktik kecurangannya berupa mengganti identitas saat melakukan konferensi dengan mengubah hijab, kemudian lokasi riset yang tidak masuk akal tanpa kolaborator negara yang diteliti, hingga afiliasi organisasi yang dicantumkan palsu, seperti IMCDS-BioMed Research Foundation, Jakarta.

BACA JUGA : Hegemoni Pasar Industri Menutup Prodi

Reaksi dari masyarakat beragam, salah satunya komentar dari akun Instagram dengan nama pengguna @hendrianusthe yang mendapatkan 4.454 like dan 42 balasan. Ia menyatakan bahwa data yang dilampirkan palsu karena terkesan aneh ketika ditanyai mengenai data.

“Saya pernah bertemu salah satu dari mereka, yang tidak satu pun berlatar belakang dokter, di sebuah konferensi ilmiah di Korea. Saat itu, ia mempresentasikan data 700 tindakan TEVAR. Saya lalu bertanya dari mana data tersebut berasal. Ia menjawab bahwa datanya berasal dari satu rumah sakit swasta di Bandung, kemudian buru-buru pergi,” tulisnya, yang sudah saya rapikan.

“FYI, bahkan rumah sakit jantung terbesar di Indonesia pun tidak memiliki data sebanyak 700 tindakan advanced seperti TEVAR. Data yang dipresentasikan tersebut 100 persen palsu,” imbuhnya.

Selain itu, komentar dari @fuschiaapprentice24 yang mendapatkan 5.248 like dan 53 balasan, berterima kasih kepada @mandharabrasika, karena telah membongkar perilaku tidak etis mereka yang sudah bergerak lama menampilkan riset palsunya di konferensi internasional, salah satunya adalah Korea.

Kabar panas tersebut mendapatkan perhatian dari berbagai kalangan. Brian Yuliarto selaku Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendikti Ristek) menyatakan, kasus tersebut menjadi perhatian khusus karena menyangkut ekosistem dan persepsi mengenai dunia riset Indonesia. Ia juga menyatakan, ketiga pelaku bukan peneliti maupun dosen aktif dan pihaknya terus melakukan investigasi secara mendalam.

Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) juga ikut bersuara karena Prihantini menjadi alumni penerima beasiswa LPDP dan pihaknya terus melakukan investigasi untuk memberi sanksi sesuai dengan ketentuan LPDP, berdasarkan pernyataan M Lukmanul Hakim selaku Kepala Divisi Hukum dan Komunikasi LPDP.

Bahkan skandal tersebut sampai ditanggapi oleh Lalu Hadrian Irfani selaku Wakil Komisi X DPR RI. Ia turut prihatin karena skandal konferensi menggunakan AI secara penuh, melakukan manipulasi data, hingga melakukan pemalsuan identitas saat melakukan konferensi, sehingga pihaknya meminta untuk melakukan investigasi mengenai skandal tersebut.

Tidak berhenti pada lingkup pemerintahan semata, instansi pendidikan yang pernah dienyam oleh pelaku juga melakukan klarifikasi, mulai dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) hingga Institut Teknologi Bandung (ITB). Pihak UNY, Nur Hidayanto Pancoro Setyo Putro, selaku Wakil Rektor Bidang Akademik menyatakan, kedua pelaku, yakni Prihantini dan Rifaldy Fajar masuk database sebagai alumni Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UNY.

Sementara itu, pihak ITB membenarkan, Prihantini terdata sebagai alumni Magister Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ITB. Aep Patah selaku Dekan FMIPA ITB menjelaskan, hasil riset yang dilakukan Prihantini tidak ada hubungannya dengan hasil tesis yang dilaksanakan selama masa studi di Magister Matematika FMIPA ITB.

Fenomena ini sangat memalukan bagi dunia riset Indonesia. Sebab, hal semacam ini justru menurunkan kredibilitas riset yang terjadi di Indonesia, mengingat tahun lalu sempat dihebohkan banyak universitas dinilai merah karena hasil riset yang di publikasi di jurnal predator atau sudah produktif.

Namun, permasalahan ini tidak sekadar pemalsuan riset di dunia internasional semata, tetapi terdapat krisis identitas riset yang dilakukan akademisi Indonesia dan terdapat relasi kuasa akan pengetahuan yang membuat ia mampu melakukan segalanya dengan dasar ilmu dan pengetahuan yang ia punya. Selain itu, budaya kampus-kampus di Indonesia yang mendukung hal tersebut terjadi, kewajiban publikasi di tingkat sarjana, baik pada setiap mata kuliah hingga kewajiban syarat kelulusan.

Penjajahan Baru Dunia Pendidikan

Michel Foucault (1975) dalam bukunya Discipline & Punish: The Birth of The Prison menyebutkan, pengetahuan dan kekuasaan tidak dapat dipisahkan dari dua variabel tersebut, membuat dua variabel saling menguatkan. Fenomena riset palsu yang terjadi di konferensi internasional tidak sekadar riset palsu semata, ada relasi kuasa yang terbentuk disana.

Dalam hal relasi kuasa yang terjadi pada fenomena tersebut, mereka sebagai orang yang berpengetahuan mampu mengakali sistem konferensi internasional tersebut.

Bahkan, dalam pengakuan Brian Yulianto, para pelaku melakukan tindakan non-etis tersebut demi mendapatkan travel grant atau bantuan bepergian ke luar negeri secara gratis, yang mana hadiah semacam ini banyak diidolakan oleh masyarakat Indonesia untuk berwisata ke luar negeri.

Secara tidak langsung, mereka membuktikan, dengan pengetahuan yang mereka punya mampu menciptakan kekuasaan dan sistem tunduk kepada mereka. Maka tidak mengherankan para pelaku memanfaatkan celah sistem yang ada dengan pengetahuan yang ia punya, sehingga mampu melakukan tindakan non etis dalam dunia riset dan relasi kuasa terbentuk.

Krisis kepercayaan para akademisi di Indonesia ikut menyumbang alasan terjadinya riset palsu dalam konferensi internasional di Denmark. Mengapa krisis kepercayaan ikut menyumbang permasalahan semacam ini? Sepertinya kita perlu merenungi perkataan netizen-netizen yang seringkali terjadi apabila terdapat penganugerahan internasional seperti Nobel Prize.

Ketika terjadi ajang Nobel Prize atau terdapat penemuan orang luar negeri yang diakui, seringkali dimenangkan oleh akademisi Barat, selalu terdapat satu komentar yang “nyempil” yakni “kapan akademisi Indonesia mendapatkan penghargaan internasional” atau “kapan ya penemuan orang Indonesia diakui oleh orang luar negeri”.

Pandangan semacam ini justru memicu krisis identitas para akademisi, seolah para akademisi untuk diakui bahwa ia kompeten harus mendapatkan pengakuan dari pihak luar negeri, khususnya negara barat, yang mana pemikiran banal semacam ini sangat berbahaya bagi ekosistem pendidikan dan riset di Indonesia. Para akademisi akhirnya berusaha menunjukkan bahwa mereka hebat dan diakui oleh akademisi luar negeri, walau dengan menghalalkan segala cara.

Krisis kepercayaan yang dialami para akademisi saat ini merupakan salah satu bentuk neokolonialisme pada pendidikan. Saat akademisi mendapatkan penghargaan dari luar negeri atau penemuannya diakui di luar negeri, komentar semacam, “Keren ya mereka, kapan orang Indonesia mendapatkan akuan orang negeri? Semoga lainnya menyusul.”

Hal semacam ini juga menunjukkan, neokolonialisme masih tumbuh subur dan menyebabkan beban moral yang diterima oleh para akademisi semakin berat karena harus membuktikan bahwa mereka ahli dan layak untuk diakui kompeten melalui skema “validasi” oleh negara barat.

Publikasi Dini sebagai Bom Waktu

Pernyataan saya mengenai kewajiban publikasi pada tingkat sarjana mungkin menjadi kontroversi, karena publikasi ilmiah di tingkat sarjana menunjukkan bahwa mahasiswa yang keren dan pintar, itu muncul sebab tingkat kesulitan dalam menembus jurnal bereputasi nasional maupun internasional, seperti SINTA dan Scopus.

Tidak dapat dipungkiri memang untuk menembus hal tersebut sangatlah sulit. Namun, kita sepertinya perlu memahami batasan-batasan pada tiap tingkat di perguruan tinggi. Pada tingkat sarjana, para mahasiswa masih dalam tahap belajar dalam memahami segala teori yang didapat di bangku kuliah dan tingkat kepenulisan masih dalam tahap dasar.

BACA JUGA : Pabrik itu Bernama Sekolah

Di sini, level mereka dalam menulis artikel ilmiah masih rendah, sehingga tugas akhir mereka adalah skripsi supaya mereka belajar menulis secara baik dan diuji oleh dosennya, serta ke depannya ketika ia menempuh tingkat magister, ia tidak perlu terkejut mengenai kepenulisan artikel ilmiah yang siap untuk terbit di jurnal-jurnal bereputasi.

Permasalahannya adalah masih banyak dosen di tingkat sarjana justru egois dengan memaksa mereka untuk melakukan publikasi artikel ilmiah ke jurnal bereputasi sebagai tugas akhir atau UAS, baik tahun pertama sebagai mahasiswa hingga mahasiswa tahun terakhir.

Bahkan, banyak oknum dosen tidak memiliki rasa malu untuk mencantumkan namanya sebagai penulis kedua dalam artikel ilmiah yang dikerjakan oleh mahasiswanya dengan dalih pendamping, tetapi kebanyakan hanya sekadar numpang nama semata.

Budaya publikasi dini selain sekadar adanya perilaku numpang nama dosen, banyak dari mahasiswa sendiri takut untuk jujur dalam hasil penelitian yang mereka lakukan, terutama dalam penelitian dengan metode kuantitatif. Hal ini disebabkan banyak oknum dosen menuntut supaya hipotesis yang dibangun harus sesuai dengan hasil penelitian yang dilaksanakan.

Maka dari itu, banyak mahasiswa akhirnya melakukan manipulasi data, baik secara mandiri maupun dengan bantuan joki demi memenuhi keinginan dosen dan cepat lulus. Banyaknya stigma yang menyatakan publikasi artikel ilmiah di jurnal terakreditasi SINTA dan Scopus, baik yang selalu digaungkan beberapa oknum dosen dan konten-konten di media sosial justru menjadikan penelitian bukan untuk kebutuhan kemaslahatan masyarakat, tetapi sekadar branding semata.

Banyak sekali di media sosial, para mahasiswa melakukan konten jedag-jedug yang berisi keberhasilannya dalam melakukan publikasi di jurnal berakreditasi. Perilaku publikasi dini, tuntutan penelitian yang harus sesuai hipotesis (misalnya, hasilnya harus berdampak), hingga penelitian digunakan sebagai branding semata perlu diperhatikan secara seksama.

Berawal dari budaya-budaya kecil semacam ini justru akan memunculkan perilaku seperti ketiga pelaku riset palsu dalam konferensi internasional di Denmark, yang mana dengan banyaknya konten bisa jalan-jalan ke luar negeri bermodalkan melakukan riset, riset harus sesuai dengan hipotesis, hingga menjadikan artikel ilmiah yang terpublikasi sebagai brandingnya.

Meminjam konsep habitus milik Bourdieu, perilaku nir-etika para pelaku tidak muncul secara tiba-tiba, tetapi juga terdapat budaya dan pengetahuan mereka cara mengakali sistem konferensi internasional.

Perlu Adanya “Tobat Pendidikan”

Ketika melihat fenomena riset palsu yang terjadi di Denmark, sebagai akademisi, baik mahasiswa, dosen, maupun peneliti harus menyadari bahwa budaya riset kita bermasalah, terutama publikasi dini yang selalu menjadi syarat untuk kelulusan di tingkat sarjana. Sebab ketiga pelaku semacam mereka tidak langsung muncul tanpa adanya budaya atau habitus riset yang rusak.

Mengutip judul buku Tobat Pedagogi karya Alfian Bahri, kita sudah seharusnya tobat pendidikan karena telah melakukan dosa-dosa semacam itu dalam dunia pendidikan. Bahkan, riset yang dilaksanakan rasanya juga semakin jauh dari masyarakat demi jalan-jalan dan branding semata.

Para akademisi harusnya sadar, pengetahuan yang mereka punya bisa membentuk kekuasaan atas dirinya, seperti yang diingatkan oleh Foucault. Imam Ghazali memperingatkan akademisi semacam ini dalam Kitab Ihya ‘Ulumuddin, “Ulama yang tidak menjaga hati, mereka sudah berilmu dan bersedia mengamalkannya dan meninggalkan maksiat dzahir. Akan tetapi mereka tertipu dengan penyakit hati (batin) seperti: riya', sombong, dengki, mencari pangkat, ingin dipuji, didengar, dan terkenal”.

Ketika mempunyai pengetahuan, orang seharusnya bertambah bijak, dalam artian mereka menghindari perilaku yang buruk dan curang, dan mereka harus berbuat adil kepada orang-orang awam khususnya.

Bahkan kutipan Pramoedya Ananta Toer berupa, “seorang terpelajar harus berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan”.  Kedua ucapan tokoh tersebut harus menjadi renungan bahwa akademisi harus memberi manfaat ilmu pada masyarakat awam dan berlaku adil kepada siapapun, baik dalam pikiran maupun perbuatan.

Sebagai mahasiswa yang hampir memasuki semester lima, saya telah merasakan tuntutan publikasi sejak semester dua hingga semester empat. Karena itu, saya memohon kepada para dosen agar tidak terus memaksakan ego dengan mewajibkan mahasiswa jenjang sarjana menerbitkan artikel di jurnal-jurnal terakreditasi, baik nasional maupun internasional.

BACA JUGA : Babak Belur Sarjana Seni Dihantam Realita

Kepada teman-teman mahasiswa, banggalah secukupnya ketika artikel ilmiah berhasil dipublikasikan. Publikasi memang merupakan sebuah pencapaian, tetapi jangan sampai menjadi tujuan utama yang mengorbankan kualitas, integritas, dan kejujuran akademik. Sebab, budaya yang hari ini tampak sepele justru dapat menjadi bom waktu bagi dunia riset di masa depan.

Masalahnya, ketika fenomena semacam ini terjadi lagi, yang terkena imbas bukan sekadar pelaku, tetapi seluruh akademisi dan instansi reputasinya dipertanyakan karena bisa kecolongan orang-orang menjengkelkan semacam itu.

Tidak berhenti di situ, pemerintah yang masih melakukan proses penyelidikan terus melakukan secara teliti, mengingat Indonesia memiliki rapor merah yang dikeluarkan oleh RI2 Index. Bagaimanapun, fenomena hari ini tidak lahir secara tiba-tiba, tetapi ada budaya buruk yang turut membentuknya.

*Penulis adalah mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya

 

Daftar Pustaka

Dinda Shabrina. (2026, June 2). Mendikti Bentuk Tim Usut Dugaan Pemalsuan Riset demi Travel Grant | tempo.co. Tempo. https://www.tempo.co/politik/mendikti-bentuk-tim-usut-dugaan-pemalsuan-riset-demi-travel-grant-2139581

George Ritzer & Douglas J. Goodman. (2019). Teori Sosiologi Dari Teori Sosiologi Klasik Sampai Perkembangan Mutakhir Teori Sosial Postmodern. Kreasi Wacana.

Ida Bagus Mandhara Brasika. (2026, May 25). Ida Bagus Mandhara Brasika (@mandharabrasika) • Kabar buruk akademisi Indonesia.. https://www.instagram.com/mandharabrasika/

ITB, W. T., Direktorat Teknologi Informasi. (n.d.). ITB Tegaskan Komitmen Menjaga Integritas Akademik dan Etika Penelitian. Institut Teknologi Bandung. Retrieved June 1, 2026, from https://itb.ac.id/berita/itb-tegaskan-komitmen-menjaga-integritas-akademik-dan-etika-penelitian/63499

Koesumawardani, N. W. (n.d.). Prihantini Terseret Dugaan Riset Palsu di Konferensi Dunia, ITB-LPDP Buka Suara. detikedu. Retrieved June 1, 2026, from https://www.detik.com/edu/perguruan-tinggi/d-8508157/prihantini-terseret-dugaan-riset-palsu-di-konferensi-dunia-itb-lpdp-buka-suara

Meho, L. I. (2025). Gaming the metrics: Bibliometric anomalies in global university rankings and the research integrity risk index (RI2). Scientometrics, 130(11), 6683–6726. https://doi.org/10.1007/s11192-025-05480-2

Michel Foucault & Alan Sheridan. (1977). Discipline and Punish The Birth of the Prison. Vintage Books. (Original work published 1975, Editions Gallimard)

Nasywa Athifah. (n.d.). UNY Buka Suara soal Dugaan Keterlibatan Alumni dalam Pemalsuan Riset di Denmark. kumparan. Retrieved June 1, 2026, from https://kumparan.com/kumparannews/uny-buka-suara-soal-dugaan-keterlibatan-alumni-dalam-pemalsuan-riset-di-denmark-27TpLdlGQOM

Tim detiknews. (n.d.). Dugaan WNI Palsukan Riset di Konferensi Global Jadi Sorotan Menteri-DPR. detiknews. Retrieved June 1, 2026, from https://news.detik.com/berita/d-8507818/dugaan-wni-palsukan-riset-di-konferensi-global-jadi-sorotan-menteri-dpr