DALAM satu ruang digital, host live shopping memperkenalkan produk secara langsung. Mereka menjadi tenaga penjual, penghibur, dan layanan pelanggan sekaligus. Konsumen pun dapat berinteraksi langsung, mengajukan pertanyaan seputar produk, mendapatkan diskon terbatas waktu, hingga akhirnya terdorong membeli. Hal ini bukan hanya tren sesaat.
Secara global, precedence research memproyeksikan live commerce tumbuh pesat menjadi lebih dari USD 250 miliar pada 2034, jauh meningkat dari sebelumnya yang berkisar USD 14,9 miliar di tahun 2024. Pertumbuhan ini didorong oleh integrasi media sosial dan e-commerce, serta strategi pemasaran yang menekankan interaksi emosional antara host dan audiens.
Di Indonesia, live shopping juga menjadi bagian penting ekosistem e-commerce. Berdasarkan jajak pendapat survey report 2024, Shopee Live dan TikTok Live tercatat sebagai platform yang paling banyak digunakan masyarakat untuk transaksi berbasis video.
Interaksi dalam live shopping, seperti respons host, komentar audiens, dan elemen hiburan, secara signifikan meningkatkan niat membeli. Artinya, keputusan konsumsi tidak lagi rasional, tetapi dipengaruhi relasi sosial digital dan afeksi terhadap host. Live shopping sukses menciptakan manusia konsumerisme baru pendorong kapitalisme.
Gaya Hidup Konsumerisme
Konsumerisme merujuk pada pola konsumsi di mana pembelian barang tidak berdasarkan kebutuhan, melainkan nilai simbolik dan makna sosial. Kapitalisme sengaja menciptakan standar estetika sosial untuk memberikan tekanan agar konsumen terus membeli. Branding gencar dilakukan tidak hanya untuk membentuk loyalitas konsumen, tapi juga membentuk kebutuhan itu sendiri.
Kondisi ini pada akhirnya, menciptakan masyarakat yang memiliki kebutuhan dan keinginan baru yang sebelumnya tidak disadari. Gaya hidup, identitas, dan rasa takut tertinggal (fear of missing out) biasanya jadi pendorong utama.
Live shopping, dengan mekanisme diskon waktu terbatas, stok terbatas, dan interaksi real time, menjadi infrastruktur baru yang mendorong konsumerisme. Bahkan meskipun kebutuhan tidak mendesak, konsumen tetap terdorong untuk membeli, karena harga yang dianggap terjangkau sekaligus janji simbolik untuk tampil relevan secara sosial.
Masalahnya, di balik layar live shopping yang penuh tawa dan diskon separuh harga, ada ekonomi yang digerakkan oleh konsumsi cepat dan produksi masif. Baju murah yang terjual dalam hitungan detik berarti pabrik akan memproduksi tanpa henti, pengiriman barang ke seluruh penjuru negeri menambah emisi karbon, dan berarti akan semakin banyak pula limbah tekstil yang menumpuk.
Belum bahan-bahan lain yang turut serta dalam rantai produksi, bahan bakar, air, listrik, berapa banyak yang dihabiskan? Itu hanya satu sektor pakaian, kalikan dengan sektor lain seperti elektronik, kosmetik, furniture, farmasi, dan lain-lain. Akumulasi dari semua sektor itu, menghasilkan emisi karbon yang akumulatif pula.
Dampak Konsumerisme terhadap Krisis Iklim
Sejak tahun 2000, produk tekstil global meningkat dua kali lipat (WEF, 2024). Pola konsumsi digital mempercepat siklus produksi dan pembuangan. Industri fashion menyumbang 8-10% emisi karbon global (UNEP, 2024). Indonesia sendiri menghasilkan lebih dari 2,3 juta ton limbah tekstil per tahun (Kemenperin, 2023).
Lonjakan transaksi daring juga memperluas jejak karbon sektor logistik, yang secara global menyumbang sekitar 14 persen emisi (IPCC, 2022), dengan setiap pengiriman paket online diperkirakan menghasilkan 0,5 hingga 1 Kg CO2 (IEA, 2022).
Sementara itu, ekosistem ekonomi digital yang menopang live shopping, dari smartphone hingga pusat data bergantung pada ekstraksi mineral seperti nikel, kobalt, dan litium, yang banyak ditambang di Indonesia dengan konsekuensi deforestasi dan konflik sosial (WRI, 2023).
Konsumerisme yang didorong oleh live shopping membawa ancaman serius bagi kelestarian lingkungan, khususnya terkait eksploitasi sumber daya alam dan limbah industri. Keduanya dapat mencemari lingkungan dan merusak keseimbangan alam. Banyak dari kita yang masih melihat ekonomi secara parsial. Ketika terjadi transaksi seolah yang terlibat hanyalah produsen dan konsumen. Seller dan buyer. Host dan audiens.
Kita tidak bisa melihat secara utuh bahwa faktanya, pakaian yang kita beli di marketplace juga melibatkan orang-orang yang tinggal di sekitar lokasi produksi tekstil, dari perkebunan kapas, pabrik kimia, hingga tambang mineral untuk serat sintetis. Ketika tanah mereka tercemar limbah pewarna tekstil, air mereka habis untuk irigasi kapas, atau hutan mereka dibuka untuk bahan baku serat, merekalah yang menjadi korban utama.
Tak hanya itu, sejatinya kita semua turut menjadi korban. Ketika alam tidak lagi seimbang akibat produksi tadi, ia berhenti “mencukupi” kebutuhan kita sehari-hari. Udara bersih, air yang cukup, tanah yang subur, dan seterusnya. Sisanya, kita tinggal menanggung akibatnya, cuaca yang tidak menentu, panas ekstrim, banjir, longsor, dan berbagai bencana yang kita alami saat ini. Diskon dan gratis ongkir yang kita nikmati, dibayar mahal dengan krisis ekologis.
Host Live Shopping sebagai Pekerjaan Baru
Ketergantungan kita pada ekonomi ekstraktif (pengambilan langsung sumber daya alam seperti tambang, lahan, minyak, gas, dan hasil hutan), selain merusak lingkungan juga berimbas pada sektor ketenagakerjaan. Pasalnya sektor ini cenderung padat modal (capital-intensive) daripada padat karya (labour-intensive).
Sektor tambang misal, ia membutuhkan modal besar tetapi sedikit menyerap tenaga kerja. Sudah lahannya dirusak, menghilangkan penghidupan warga dari alam, tidak dapat kerja pula. Hal inilah yang akhirnya menciptakan lapangan kerja informal dan kelas pekerja baru. Salah satunya host live shopping.
Sepanjang tahun 2025, host live shopping masuk dalam lowongan kerja yang banyak diiklankan. Kepala Pusat Kerja Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker), Surya Lukita Warman menyampaikan “Dari 10 lowongan kerja yang diiklankan, host live shopping ada di urutan ketujuh” ujarnya dikutip dari Kompas.id.
Pekerjaan ini juga terkesan fleksibel dan gampang dilakukan. Hanya mengenalkan produk secara live, berinteraksi dengan pelanggan sehingga tertarik dan yakin untuk membeli. Tapi realita di lapangan selalu tak semanis yang dibayangkan.
Dalam Magdalene, Rira, mahasiswa berusia 21 tahun, diceritakan bekerja enam hari seminggu dengan durasi siaran hingga enam jam per hari. Namun hanya menerima gaji sekitar Rp3 juta, bahkan tidak cukup menutup ongkos transportasi dari Cibubur ke Bekasi dengan jarak 40 kilometer.
Saat tanggal kembar, makin banyak beban kerja yang diterima. Masifnya tawaran diskon dan orang yang bertanya di live untuk membeli membuat dia kewalahan. Belum lagi tidak disediakan tempat istirahat yang layak untuk menunggu giliran shift live di jam berikutnya. Dari 500 transaksi sekali live itu penjual meraup Rp 40 Juta dan dia hanya mendapat komisi Rp30 Ribu.
Dia dan rekan-rekannya juga di-PHK sebelum satu tahun bekerja agar perusahaan tidak perlu membayar tunjangan hari raya. Status sebagai pekerja lepas atau talent juga membuatnya tidak memperoleh jaminan sosial, perlindungan kerja, maupun kepastian karier. Sudah lelah fisik dan pendapatan tidak pasti, dia juga menghadapi risiko kekerasan berbasis gender online (KBGO) dan kerentanan keamanan ketika harus bekerja larut malam.
Fenomena ini menunjukkan bahwa ekonomi digital tidak hanya menciptakan jenis pekerjaan baru, tetapi juga menciptakan kelas pekerja baru yang hidup dalam kondisi precarious, terjebak di antara ilusi fleksibilitas dan realitas eksploitasi akibat regulasi ketenagakerjaan yang lemah.
Kemunculan Kelas Pekerja Baru
Istilah precarious generation sendiri merujuk pada kelompok sosial-ekonomi baru yang hidup dalam ketidakpastian kerja dan masa depan, terutama generasi muda yang masuk ke pasar tenaga kerja fleksibel. Konsep ini diperkenalkan pertama kali oleh Guy Standing pada tahun 2014 untuk menggambarkan kelas pekerja yang terjebak dalam kontrak jangka pendek, pekerja lepas, magang, dan kerja paruh waktu tanpa jaminan sosial serta perlindungan hukum yang memadai.
Fenomena pekerjaan host live shopping mencerminkan kondisi ini. Pekerjaan terlihat modern, fleksibel, dan menjanjikan, tetapi pada dasarnya memindahkan risiko ekonomi perusahaan ke individu. Tanpa kontrak tetap, tanpa jaminan kesehatan, tanpa kepastian karier, pekerja platform digital hidup dalam kondisi ketidakpastian yang memprihatinkan.
Dalam konteks Indonesia, pertumbuhan ekonomi digital tidak otomatis berarti perbaikan kualitas kerja. Sebaliknya, ia menciptakan kelas pekerja baru yang seolah-olah aktif, tetapi secara sosial dan institusional rapuh. Generasi precarious ini tidak hanya rentan secara ekonomi, tetapi juga hidup di tengah model ekonomi yang merugikan mereka.
Paradoksnya lagi, host live shopping tidak hanya menjual barang, tetapi juga menjadi wajah ekonomi yang mempercepat krisis iklim. Tanpa sadar mereka mendorong percepatan siklus produksi-konsumsi.
Sementara pada saat yang sama, hidup dalam ketidakpastian ekonomi yang diciptakan oleh sistem tersebut. Dengan kata lain, generasi pekerja ini berada di posisi ganda, sebagai subjek yang menggerakkan ekonomi ekstraktif dan sebagai kelompok yang paling rentan terhadap dampak sosial-ekologisnya.
Take Away
Ada banyak ironi dalam kondisi sosial dan lingkungan hari ini, terutama ketika berlindung dibalik nama pertumbuhan ekonomi. Ilusi “semakin besar kue ekonomi semakin banyak orang sejahtera” terus dipertahankan, meskipun korbannya nyata dan meluas. Ada pekerja yang kehilangan pekerjaan, lingkungan yang terendam banjir, serta biaya hidup yang terus naik.
Host live shopping adalah satu dari sekian banyak bentuk kerja yang lahir dari keterpaksaan struktural, yaitu pekerjaan yang dijalani bukan karena pilihan, melainkan bentuk pertahanan di tengah pasar kerja yang kian rapuh.
Kita mungkin juga tidak akan pernah berhenti berbelanja. Konsumsi sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, sekaligus sumber penghidupan bagi banyak orang. Tetapi kesadaran bahwa setiap barang membawa jejak ekologis, memberi kita ruang untuk bersikap lebih etis.
Gaya hidup tidak konsumtif, memilih hidup sederhana, dan membeli barang yang benar-benar dibutuhkan bukan sekadar soal moral, melainkan bentuk perlawanan kecil terhadap sistem produksi yang eksploitatif. Menerapkan gaya hidup hijau tidak selalu berarti hidup serba kekurangan, tetapi justru hidup dengan penuh kesadaran atas dampak pilihan.
Barangkali kita juga perlu membuka pekerjaan host live climate change, seseorang yang menerjemahkan bahasa promosi menjadi bahasa ekologis. Jadi ketika host berkata “Tinggal 3 pcs lagi ajaaa” maka akan ada yang menerjemahkan “pohon di bumi tinggal 3 batang aja”.
Atau, “Kita ready stock 2-3 bulan lagi yaa kak, yuk digercepin belanja sekarang” diterjemahkan menjadi “Energi fosil kita akan habis 50-100 tahun lagi, yuk digunakan sebijak mungkin dari sekarang”.
Kalau ada yang mengingatkan hal ini secara live setiap hari, mungkin akhirnya kita sadar, bahwa regenerasi alam membutuhkan waktu jauh lebih lama daripada siklus promosi e-commerce yang diskonnya tinggal tiga menit saja.
Kami menerima tulisan opini/esai Anda. Rubrik ini projectarek.id dedikasikan untuk siapa pun yang memiliki minat dan kemauan dalam berpendapat dan berekspresi melalui tulisan. Kami ingin menjadikan rubrik ini sebagai rumah digital untuk bertumbuh bersama merawat demokrasi. Untuk selengkapnya, baca PANDUAN kami.