RAHAYU mengembuskan napas kasar. Ia sedang menatap panci nasi yang isinya tak sampai separuh. “Ya sabar, Ndis. Kita buat makan saja susah. Kamu lihat sendiri kan, beras kita tinggal secanting.”
“Bapakmu, loh. Sudah dua minggu tidak ngasih uang. Minta bapakmu sana,” ucapnya lagi dengan nada ketus yang sebenarnya ditujukan untuk menutupi rasa sesak di dadanya sendiri.
Ghendis tidak menjawab. Ia hanya membanting tasnya ke kursi kayu yang catnya sudah mengelupas. “Ya sudah, hari ini aku malas berangkat. Toh nanti aku yang malu, ditagih guruku terus! Guru-guru di sana tidak mau tahu kalau Bapak dipecat, Buk. Mereka cuma tahu kalau namaku selalu ada di daftar yang selalu telat bayar uang buku!”
Suara mesin cuci tetangga yang meraung di balik dinding triplek terdengar seperti geraman perut kelaparan bagi Rahayu. Getarannya merambat ke lantai semen yang lembap, membuat kakinya terasa dingin. Di atas meja kayu yang sudah ringkih, tiga lembar uang sepuluh ribuan tampak menyedihkan di samping tumpukan tagihan berwarna merah. Listrik, air, dan yang paling mengerikan buku kecil bersampul plastik milik “Bank Mencit”.
BACA JUGA : Pilihan
Aroma selokan yang mampet menguap bersama panas siang yang memanggang atap seng, menciptakan udara pengap seolah sengaja mencekik kewarasannya pelan-pelan. Rahayu memutar otak, menghitung setiap butir beras, mencoba mengelola sisa-sisa hartanya untuk bertahan hidup, sampai suaminya, Parjo, mendapat pekerjaan baru usai dipecat dari pabrik tekstil dua minggu lalu.
Namun Parjo lebih sering menghilang, pulang larut malam dengan bau rokok murahan dan wajah yang kian kusam, tanpa membawa sepeser pun. Bagi Rahayu, tagihan utang bukan satu-satunya yang mencekik. Ada rahasia yang ia simpan rapat-rapat di balik lipatan daster lusuhnya.
Setiap kali Parjo pulang dengan tangan hampa dan Ghendis menangis kelaparan, Rahayu terpaksa menjajakan satu-satunya aset yang tersisa dari dirinya: tubuhnya. Ia melakukannya di sebuah losmen murah di pinggir kota, saat Parjo mabuk dan Ghendis sudah terlelap. Ia membenci setiap sentuhan tangan asing yang kasar, setiap tetes keringat yang jatuh ke kulitnya, tapi uang seratus ribu yang ia bawa pulang adalah nyawa bagi panci nasinya.
Setiap kali ada bunyi deru motor yang berhenti di depan gang, jantung Rahayu mencelos. Ia hafal bunyi mesin itu. Mesin motor yang knalpotnya sengaja dibuat bising, sebuah tanda peringatan bagi mereka yang gagal membayar upeti. Ketakutan itu lebih tajam dari sembilu. Ia ingin sekali berteriak, atau setidaknya menangis kencang hingga dadanya lapang. Namun di kampung ini, air mata adalah kemewahan yang tidak bisa melunasi bunga bank keliling yang terus membengkak setiap hari.
Rahayu hanya bisa meremas jemarinya yang gemetar, menatap pintu rumah yang tertutup rapat dan jendela yang dipaku mati. Ia merasa pintu dan jendela itu adalah benteng terakhirnya. Seolah-olah kayu rapuh yang mulai dimakan rayap itu sanggup melindunginya dari dunia luar yang mulai menganggap kemiskinannya sebagai aib yang menular. Baginya, jendela yang tertutup adalah cara untuk mengatakan pada dunia: “Tolong jangan lihat betapa hancurnya aku.”
BACA JUGA : Lilitan Sembilan Senar
“Heh Parjo! Keluar Pak, jangan ngilang terus! Saya tahu kamu di dalam!”
Hantaman keras di pintu membuat engselnya berderit pilu, seolah memohon ampun. Suara berat itu menggelegar, memantul di antara dinding gang yang sempit. Setiap tetangga dalam radius sepuluh meter seketika menghentikan aktivitas mereka. Ibu-ibu yang sedang menjemur baju menoleh dengan mata lapar akan drama.
Rahayu mematung di sudut dapur, memegang erat gagang panci yang kosong. Napasnya pendek-pendek, hampir menyerupai serangan panik. Di balik gorden lusuh yang tersingkap sedikit, ia bisa melihat kerumunan mulai terbentuk. Ada Bu RT yang sedang menyapu, berhenti dengan sapu menggantung di udara, wajahnya menunjukkan campuran antara kasihan dan ketidaksukaan karena wilayahnya jadi gaduh.
“Pantes jarang keluar, dikejar bank mencit!” bisikan itu tak terdengar langsung ke telinga Rahayu, tapi ia bisa merasakannya merayap di kulitnya seperti semut api. Stigma itu lebih panas dari tagihan utangnya. Di kampung ini, kesulitan finansial seringkali dianggap sebagai penyakit moral. Orang miskin dianggap malas, atau dianggap tukang utang yang tidak bertanggung jawab. Kemiskinan bukan lagi nasib, tapi dianggap dosa yang sengaja dipelihara.
Tapi ada bisikan lain yang lebih tajam. Bisikan yang sudah lama beredar di gang itu tentang Rahayu. Tentang bagaimana dia sering terlihat keluar malam-malam dengan dandanan yang sedikit terlalu menor untuk sekadar membeli martabak. Tentang bau parfum murah yang menyengat saat ia pulang dini hari. Stigma itu lebih panas dari tagihan utangnya. Di kampung ini, kesulitan finansial dianggap penyakit moral, dan bagi wanita seperti Rahayu, dosanya dianggap berlipat ganda.
“Saya tahu bapak di dalam! Jangan sampai saya dobrak ini pintu!” teriak lelaki penagih itu lagi, kali ini sambil menendang bagian bawah pintu hingga debu-debu berjatuhan dari langit-langit.
Rahayu merasa dunianya runtuh. Ia membayangkan dirinya akan diseret keluar, dipermalukan di depan Ghendis, atau barang-barang yang tersisa televisi tabung tua dan kipas angin berisik akan diangkut paksa. Air matanya pecah, jatuh ke lantai semen, tapi suaranya tertahan di tenggorokan. Ia merasa sendirian, terisolasi di tengah kerumunan manusia yang hanya menonton kehancurannya seolah itu adalah tontonan siang hari yang menghibur.
Namun, tepat saat pintu itu hampir menyerah pada tendangan ketiga, sebuah suara parau memecah ketegangan. “Heh, kurang ajar kamu sama pintu orang! Itu pintu dibeli pakai uang, bukan pakai daun! Memangnya pintu ini bersalah apa sampai kamu tendang-tendang begitu?”
Itu suara Mak Ijah. Perempuan yang selama ini dikenal paling galak, bermulut pedas, dan sering berteriak-teriak jika ada anak kecil main bola di dekat jemurannya. Ia muncul sambil berkacak pinggang, masih memegang centong nasi di tangan kanannya. Di belakangnya, Bu RT dan dua orang ibu lainnya menyusul dengan wajah yang tidak kalah keras.
BACA JUGA : Lelaki yang Mati Dilindas Barracuda
“Sewajarnya punya hutang ya dibayar!” balas si lelaki penagih, suaranya agak mengecil namun masih mencoba garang.
“Kami tahu dia punya utang! Tapi cara kamu itu tidak manusiawi,” kali ini Bu RT yang bicara, langkahnya tenang namun tegas. “Ini daerah hunian, bukan tempat penagihan nyawa. Sini, catat berapa bunganya. Kami tidak akan biarkan warga kami diperlakukan seperti binatang di rumahnya sendiri. Kalau kamu masih mau menendang pintu, sekalian tendang saya, biar kita urus di kantor polisi sekarang juga.”
Debat itu berlangsung alot. Si penagih utang akhirnya mundur setelah dipelototi oleh sekelompok perempuan yang selama ini dianggap hanya tahu urusan dapur. Lelaki itu pergi dengan gerutu kasar, motornya sengaja digeber kencang sebelum menghilang di belokan gang.
Gang kembali sunyi. Rahayu akhirnya memberanikan diri membuka pintu, sedikit saja. Wajahnya sembab, bahunya layu. Ia bersiap menerima cacian atau ceramah panjang dari Mak Ijah tentang betapa bodohnya meminjam uang pada rentenir.
Namun, Mak Ijah justru menyodorkan centong nasinya ke arah Rahayu.
“Jangan Cuma menangis di dalam gelap. Air mata nggak bikin perut kenyang, Yu. Dan uang dari ‘sana’ juga nggak akan bikin hati tenang,” ucap Mak Ijah pelan, nyaris berbisik. Jantung Rahayu berhenti berdetak sesaat. Mak Ijah tahu. Ternyata semua orang tahu.
“Besok pagi, datang ke rumah saya. Kita kupas bawang bareng. Ada pesanan katering seribu kotak. Saya butuh tangan tambahan yang jujur,” lanjut Mak Ijah.
Rahayu tertegun. “Tapi Mak... saya...”
“Kita semua punya dosa, Yu,” potong salah satu ibu penjual pecel dengan tawa pahit. “Ada yang mencuri listrik, ada yang berbohong demi bansos, ada yang menjual diri demi anak. Kalau kita sembunyi sendirian di dapur yang gelap, rahasia itu jadi raksasa yang makan jantung kita. Kalau kita bagi bebannya, kita bisa pelan-pelan berhenti melakukan hal yang bikin kita malu pada diri sendiri.”
Malam itu, Rahayu tidak pergi ke losmen. Ia duduk di lantai bersama Parjo yang baru pulang. Ia menceritakan segalanya tentang utang, tentang Mak Ijah, dan tentang kejenuhannya berpura-pura. Parjo menangis, memukul kepalanya sendiri karena merasa gagal sebagai lelaki. Parjo hanya terdiam menangis, namun ada binar malu di matanya yang biasanya redup.
Keesokan harinya, Parjo berangkat lebih pagi, bukan untuk menghilang, tapi untuk mencari muatan di pasar induk, tergerak oleh rasa malu melihat istrinya dibela oleh ibu-ibu sekampung.
Sejak hari itu, teras rumah Mak Ijah berubah menjadi markas ekonomi kecil. Rahayu mulai belajar bahwa ia tidak harus menjual tubuhnya untuk memberi makan Ghendis. Tangannya yang biasa memegang sprei losmen, kini mahir memegang pisau kupas bawang dan jarum jahit. Secara bergilir, mereka mulai saling bantu. Jika Mak Ijah dapat katering, Rahayu membantu memasak. Jika Rahayu dapat pesanan jahitan daster, Bu RT membantu memotong pola.
Mereka mulai membuat kesepakatan yang tak tertulis. Mereka menyepakati aturan bahwa tidak boleh ada bank keliling yang masuk ke gang mereka dengan cara kasar. Jika ada yang datang menagih dengan teriakan, mereka semua akan keluar dari rumah masing-masing, membawa centong, sapu, atau sekadar tatapan mata yang tajam. Solidaritas itu menjadi “perisai” yang lebih kuat dari jeruji besi.
Ghendis pun mulai kembali sekolah. Ia tidak lagi merasa menjadi anak paling miskin, karena sekarang ia tahu bahwa ibunya adalah bagian dari sebuah “pasukan” perempuan hebat. Uang buku dicicil dari hasil keringat yang benar-benar bersih. Rahayu mulai bisa tidur tanpa perlu mencuci tubuhnya berkali-kali dengan sabun batangan karena merasa kotor.
Rahayu mulai bisa tidur lebih nyenyak. Kewarasannya bukan kembali karena uangnya tiba-tiba melimpah hidupnya masih sulit tapi karena ia tahu ia memiliki “jangkar”. Di pemukiman padat yang sering dianggap kumuh oleh orang kota, mereka justru sedang menenun sesuatu yang paling mewah: martabat kemanusiaan.
Pagi itu, udara di gang masih beraroma sama perpaduan antara uap nasi yang baru matang dan sisa hujan semalam di selokan. Namun, ada satu pemandangan yang tak biasa. Rahayu melangkah mendekati jendela di bagian depan rumahnya yang selama berbulan-bulan terkunci rapat oleh rantai ketakutan.
Tangannya mendorong daun jendela hingga terbuka lebar-lebar. Engselnya yang berkarat menjerit, tapi Rahayu tidak peduli. Ia membiarkan sinar matahari masuk, menyapu debu dan sisa-sisa kegelapan masa lalunya.
BACA JUGA : Pengumuman, Pengumuman
Dari jendela yang kini terbuka itu, ia melihat Ghendis sedang menyandang tas sekolahnya. Ghendis menoleh sebentar, memberikan senyum kecil yang tulus sebelum menghilang di tikungan gang. Rahayu melambai, napasnya terasa lega seolah paru-parunya baru saja menemukan oksigen yang murni.
“Yu! Kupas bawangnya sudah mulai, loh! Jangan bengong saja melihat matahari!” teriakan Mak Ijah dari seberang rumah memecah lamunan Rahayu.
Rahayu tertawa. Ia meraih jilbabnya, lalu keluar melalui pintu yang kini tak lagi ia takuti. Di pemukiman ini, jendela terbuka adalah tanda bahwa ia telah diterima kembali sebagai manusia. Status sosialnya tak lagi ditentukan oleh pekerjaannya di masa lalu, melainkan oleh keberaniannya untuk membuka diri dan berdiri bersama perempuan lainnya.
Annisa Desfita Hana Mutia Azzahra
Kami menerima tulisan cerpenmu di rubrik AREK BERCERITA. Rubrik ini projectarek.id dedikasikan untuk siapa pun yang memiliki minat di dunia sastra khususnya cerpen. Kami ingin menjadikan rubrik ini sebagai rumah digital untuk bertumbuh bersama menghidupi dunia cerpen. Kirimkan karyamu dengan membaca PANDUAN kami.
