KEMATIANNYA baru disadari pukul tiga sore tadi, tepat enam jam hingga sekarang ini. Tak ada tanda-tanda sayatan, tembakan, memar, atau apa pun yang bisa menyebabkan kematian mendadak. Serangan jantung, misal. Ahli forensik telah bekerja untuk menemukan celah dalam kematian tragis ini dan mengabarkan jika ini terlalu janggal untuk disebut regangan nyawa.
“Atau mungkin ia hanya tahan napas saja?”
“Maria!”
“Ah, maafkan saya, Dokter. Saya hanya…”
“Dia tidak gila.”
Sanatorium itu sedikit lengang. Kebisingan tadi memuncak saat seorang suster yang berjaga tiba-tiba histeris, membangunkan gelagat kejiwaan ruangan-ruangan sebelahnya hingga semuanya berubah menakutkan; teriakan-teriakan, makian-makian, sumpah serapah, bahkan sampah pun dilemparkan ke sana kemari. Mulanya suster itu memijat pelan pergelangan tangan kiri seorang ini. Ditemukannya nadinya berdenyut konstan. Namun, ketika ia merasa lega dan tangannya bebas menjamah leher, nadinya berhenti mendadak. Seolah hilang.
“Orang-orang mengurungnya di sanatorium ini untuk meredam gejolak batinnya. Ia sebenarnya satu-satunya orang waras di sini. Bahkan tidak denganku, tidak denganmu, Maria.” Gerakan tangannya gesit. Penanya menari di atas kertas catatan, meninggalkan goresan-goresan penting sebagai perkembangan penyelidikan. “Meski diagnosisku sebagai seorang psikolog, tapi aku yakin, Maria, dia dibunuh.”
BACA JUGA : Lilitan Sembilan Senar
Maria mengerutkan dahi. Suster jiwa itu mendekati Yesaya. “Maksud Dokter?”
Yesaya tak langsung menjawab. Ada banyak sekali kalimat yang harus ia rangkai sedemikian rupa agar Maria tidak menganggapnya sebagai pihak yang wajib diruangkan di sanatorium ini.
“Dok?”
Yesaya menghela napas. Ia memejamkan matanya sejenak. Mengingat semuanya. Mengingat saat pertama kali ia bertemu seorang ini. Di taman sekolah dasar tiga puluh empat tahun yang lalu. “Waktu itu saya kelas satu.”
“Namamu Yesaya, ya?” Yesaya mengangguk.
“Tolong temani Elang dulu, ya? Bisa, kan? Abang ada keperluan dulu sebentar. Di warung itu loh.” Tunjuk yang lebih tua.
Mukanya berseri dan ramah meski bajunya seperti preman pasar.
“Gak apa, kan?”
Yesaya kecil cukup mengangguk. Ia paham. Wajah pemuda di depannya itu sangat mirip dengan wajah teman sekelasnya yang sedang ia tunggu.
“Nanti Abang ke sini lagi jemput Elang. Nitip es krim, gak?”
Mendengar kata ‘es krim’ disebutkan, Yesaya segera mengenggam tangannya. “Yang nanas ya, Bang, mohon.” Tertawaannya nyaring terdengar. “Hahaha. Iya. Tunggu, ya!”
Dan Yesaya kecil serta temannya, Elang, pulang berjalan kaki dengan pemuda itu. Ia diantarkan sampai depan rumahnya dengan selamat tanpa lecet satu pun. Bahkan yang paling tua juga menjamin, “Kalau ada yang jahatin, bilang Abang aja. Abang kebal seribu jurus begal, Dek.”
“Abangku nyawanya sepuluh, Yes.”
“Lebih dari kucing dong?”
“Iya lah! Mirip ultraman.”
“Ouh, kukira kera sakti.”
“Hey, sembarangan!"
"Abang tau Lutung Kasarung, kan? Itu kan kera.”
“Emang disebutin punya nyawa sepuluh?”
“Enggak, sih.”
“Maria, kamu percaya tidak jika orang baik itu cepat mati?” Maria mengambil kertas dan bolpoin dari tangan Yesaya. Menatanya rapi di meja laporan. Niatnya akan menyimpan catatan itu sebelum diolahnya kembali besok pagi. “Dengar-dengar, itu benar, Dok.”
BACA JUGA : Pengumuman, Pengumuman
Yesaya melepas jas putihnya, menggantungnya di gantungan baju sudut ruang. “Tapi seorang ini berbeda, Maria. Dia seolah punya seribu nyawa. Dulu, dia tidak mati ketika tertabrak mobil saat menyebrangkanku dan Elang di trotoar depan sekolah. Dia juga tidak mati ketika belati tajam menghunus dada kirinya saat bertarung melawan begal kampung. Bahkan dia tidak mati ketika mobil yang ia dan keluarganya kendarai terkena rem blong dan terjun bebas di jurang Puncak.”
Yesaya mengambil dua cangkir kopi yang telah diseduhnya. “Orang baik itu susah mati, Maria.”
Maria menyeruput kopinya pelan. “Tapi itu artinya, dia akan terus celaka dan hidup susah dong, Dok? Dan itu berarti berlawanan dengan stigma ‘orang baik itu dipermudah ditemukan ajal dan dijauhkan dari luka-luka’.”
Yesaya menggeleng. “Sebenarnya saya juga bertanya-tanya, apa yang telah ia perbuat yang tak saya ketahui? Atau ia menanggung karma leluhurnya dahulu?”
Pengkuburan itu sepi. Hujan mengguyur deras dan sukar berhenti. Dan itu menambah kesan kesedihan di benak Elang yang berusia sembilan tahun. “Abang, dingin.”
Kakaknya menunduk, memegang kedua bahu Elang. “Tahan, ya, Lang. Ini bakal seru.”
“Seru dari mana, Abang? Hujan begini.”
“Emang Elang nggak kangen Bapak sama Ibu?”
Elang kecil terdiam. Mengikuti ke mana saja langkah kakaknya pergi. Melewati belasan nisan keramik, juga gundukan basah yang masih bertabur bunga. Kaki telanjang abangnya itu seolah kebal dengan batu-batuan tajam. Meski bekas darah Elang injak setelahnya.
“Sini, Lang.”
“Ada apa, Bang?”
“Bilang sama Bapak-Ibu, Elang abis menang lomba apa?”
“Ouh… Bapak, Ibu, Elang kemarin menang lomba main suling antarkabupaten. Juara satu, dapet duit lima ratus. Tapi sama Abang dibuat beli tahu telor Mbak Aning semua!”
“Hahahaha! Nggak ye! Ngawur, bocah. Tuh masih ada di rekening Abang. Ntar Abang cairin deh buat beli es krim!” Kakaknya itu sedikit berteriak sebab rantai hujan lebih keras dari suaranya yang serak.
“Boong!”
“Serius!”
“Kalau boong ntar kuburannya sempit, Abang!”
“Abang matinya masih lama! Gak mempan!”
“Mereka menari di tengah hujan. Bertelanjang kaki. Di depan nisan keluarga Tuan dan Nyonya Nugroho.” Yesaya menenggak kopinya yang tersisa. Ia bersandar di meja kerjanya. “Saya di sana, menyaksikan mereka sedari mereka datang hingga larut malam. Saya seolah ingin merekam momen terbaik mereka di mana mereka tersenyum lebih lebar.”
“Mereka tahu Dokter ada di sana?”
Yesaya menggeleng. “Tidak sama sekali.”
Maria menggerakkan bibirnya ragu. “Mhm… Jika dilihat dari kacamata orang normal, seorang ini seolah punya cara sendiri untuk mengobati rasa sakit. Tapi jadi sedikit aneh dengan kaki yang berdarah dan pergi ke pengkuburan itu. Bercaknya… Seolah ia tidak merasa sakit sama sekali.”
“Hatinya lebih sakit, Maria.”
“Ah… Karena orang tuanya meninggal?”
“Ya. Itu yang membuatnya mempunyai Post-Traumatic Stress Disorder. Tapi PTSD-nya tidak separah yang dibayangkan. Buktinya ia punya seribu satu cara menenggelamkan penyakit itu hingga ia bisa membesarkan Elang sampai adiknya kuliah.”
BACA JUGA : Kusniati dan Sebelum Berita Pagi itu
“Lalu, yang membuatnya gila—ah, maaf—dianggap gila itu, apa, Dok? Kita semua tahu ia adalah pasien paling tidak waras di sini. Yang keonarannya itu ditiru pasien-pasien lain dengan banyaknya percobaan bunuh diri yang dilakukan. Itu juga yang membuat sanatorium ini selalu penuh kejutan tiap harinya.”
Yesaya tiba-tiba teringat sesuatu. Tangannya lantas bergerak membuka laci mejanya. Mencari sebuah dokumen. “Saya dulu pernah berurusan dengan pihak berwenang sampai saya hampir ditangkap. Sebentar, saya arsipkan kok—”
“Bukti Kecelakaan Rem Blong Puncak Bogor pada Kamis, 16 Mar—Dok?!”
“Ini bukti yang saya selidiki sendiri sampai hampir dikira saya merekayasanya karena saya bukan pihak berwenang. Katanya, bukti-bukti saya terlalu detail dan mengada-ada dan itu jelas berbeda dengan apa yang pihak berwenang paparkan.”
“Tttttapi… Ini semua benar adanya, Dok?”
Yesaya mengerjap dua kali. Helaan napasnya terdengar. “Kemungkinan besar PTSD seorang ini berasal dari kasus ini, Maria. Kasus ini telah ditutup sejak lama. Tanpa keterangan lebih lanjut. Karena bukti-bukti ini bukan kecelakaan biasa itu terlalu kurang. Kamera dashboard tak banyak merekam, atau rekamannya hilang. Lalu di area Puncak itu juga kekurangan CCTV. Di TKP, orang-orang menyaksikan dengan mata telanjang bagaimana mobil itu terjun bebas.
Di rumah mereka, tak ada saksi mata. Jadi, ini cukup bisa dianggap kecelakaan tunggal akibat kesalahan teknis, bukan pembunuhan berencana. Tapi saya bisa beberkan bukti lain. Dan itu memakan waktu dua tahun, Maria, dua tahun.” Yesaya diam sejenak sebelum meneruskan, “Keluarga Nugroho itu dibunuh. Saya yakin. Tapi peristiwa tragis itu tak hanya meregang dua nyawa, namun juga kejiwaan seseorang. Syukur kala itu Elang tidak ikut.”
Maria membaca lembar demi lembar. Mulutnya menganga. “Dok—sungguh, saya terkesima dengan analisis Dokter. Apa Anda tidak yakin sebenarnya Anda kuliah forensik bukan psikologi, Dok?”
Yesaya tersenyum. “Bisa jadi.”
“Ah, ini gila! Lalu, selain PTSD, dia juga mengidap Prolonged Grief Disorder, kan, Dok?”
Yesaya mengangguk. “Dengan tingkat yang parah, dan hampir menginjak lima tahun diagnosa.”
“Itu juga yang membuatnya mencari banyak cara untuk mati?”
“Seperti yang saya bilang di awal, orang baik ini tidak mudah meninggal.”
Air muka Maria nampak frustasi. Penyataan demi pernyataan terus berdatangan di depan wajahnya. Ia perlu waktu untuk mencerna semuanya. Setidaknya sampai berisik-berisik di sepanjang sanatorium ini berhenti terdengar hingga ke kantor.
“PGD-nya disebabkan oleh apa, Dok? Kematian adiknya?”
“Adiknya dibunuh orang tak dikenal.”
“Astaga!”
“Digelantungkan dari atas jembatan oleh seorang oknum saat demo besar-besaran terjadi.”
“Elang?” Suara kakaknya mengalun lirih dari bawah sana. Tak banyak yang kakaknya ingat. Mungkin satu-dua rumus matematika, resep opor Nenek, atau rasa hambar tahu telur Mbak Aning. Kakaknya sebetulnya payah menghafal. Ingatannya seolah dipaksa untuk rusak.
“Elang?!” Itu suara Yesaya—karibnya yang menghafal paras Elang.
“Itu Elang, woy!” Dan suara-suara massa.
“Elang! Itu Elang!”
DOR!
“JANGAN—”
Letusan mesiu itu—setidaknya yang dapat kakaknya dengar dengan jelas. Maniknya menangkap kepayahan pemuda yang digelantungkan itu, terbang turun menuju tanah pertiwinya, tanpa perlawanan sama sekali. Sebab hidupnya telah habis, berhari-hari sebelumnya, dalam cengkeraman rezim.
Dia telah mati.
“Pantas… Ia ingin mengakhiri hidup.”
“Meski dengan menabrakkan dirinya di tembong lorong, mematahkan patelanya-tulang tempurung lutut-, tidak makan dan minum dua minggu, merobek bibirnya hingga ke pipi, meminjam pistol dan pelornya untuk ia tembakkan ke kepala, atau berdiam diri di kamarnya dengan keadaan paling normal.”
BACA JUGA : Lelaki yang Mati Dilindas Barracuda
“Dok—sungguh, sebentar, saya—mengapa ia akhirnya meninggal ketika ia sudah waras?—maksudku selama sebulan terakhir, kan, dia baik-baik saja. Kesehatannya membaik secara progresif dan itu membuat semua orang tenang, bahkan Dokter Noor—kepala sanatorium. di sini.
Yesaya termangu. Menopang kepalanya dengan tangan kanan. “Mungkin karena ia memang sudah baik, Maria. Mungkin stigma ‘orang baik cepat mati’ itu benar adanya. Mungkin ia perlahan baik-baik saja dengan semuanya. Dengan keadaan hidupnya. Dengan gangguannya.”
“Mungkin karena ia sudah ikhlas?”
“Benar.”
Maria masih saja bersungut. “Tapi tetap saja, Dok, ini jelas janggal. Ia mati karena apa? Masa iya ia meninggal dengan sendirinya? Kan, tidak mungkin.”
Dalam lubuk hati, Yesaya mengiyakan. Namun, kepalanya, sedari tadi mendapat celah satu hal. “Kecuali ada racun dalam makanannya.”
“Oh—ayolah, Dokter Yesaya yang terhormat! Pihak forensik tidak menemui ia keracunan makanan!”
“Kalau begitu, jadwalnya mati memang hari ini, Maria.”
“Tidak mungkin… Pasti ada sebabnya.”
“Ah, mengapa kita tidak tanya langsung padanya?”
Selma Neila Frengki
Sedang belajar menulis cerpen dan puisi (meski tidak suka puisi).
Kami menerima tulisan cerpenmu di rubrik AREK BERCERITA. Rubrik ini projectarek.id dedikasikan untuk siapa pun yang memiliki minat di dunia sastra khususnya cerpen. Kami ingin menjadikan rubrik ini sebagai rumah digital untuk bertumbuh bersama menghidupi dunia cerpen. Kirimkan karyamu dengan membaca PANDUAN kami.
