Skip to main content
Ilustrasi: Miftah Faridl/Nano Banana 2
Arek Bercerita
Rumah di Bawah Pesawat
Kepalanya menengadah ke bentangan langit yang diselimuti pijaran bintang-bintang. Duduk di bagian teras depan rumahnya yang sempit, di atas kursi rotan yang dibelinya dua belas tahun silam. Tatapannya khusyuk sekali. Menatap bintang-bintang sembari menunggu satu dua pesawat lewat.

KOPI PANAS diteguk dari cangkirnya. Biasanya, almarhum istrinya—Sukinem, tidak akan pernah absen membuatkan kopi untuknya. Juga terkadang, ia ikut duduk bersama Supardi—begitulah lelaki tua itu biasa dipanggil—untuk menatap langit bersama. Menunggu pesawat bergantian melintas.

Supardi, Sukinem, dan Joko. Sebuah keluarga kecil yang tumbuh di pinggiran sebuah kota besar di pulau Jawa. Rumahnya berada di belusukan di bawah sebuah tol besar yang melintasi bidang dada kota. Tanahnya basah, becek, dan lembap. Aroma selokan bercampur dengan bau asap kendaraan.

Asap rokok turut mengepul dan menari-nari di udara. Musik dangdut dari beberapa warga diputar keras. Merayakan derita kehidupan. Terkadang di malam hari pula, di sudut perkampungan, beberapa warga asyik bermain kartu remi sembari minum-minum. Preman-preman banyak yang lahir dari kampung ini juga.

Sejak Sukinem tiada, hari-harinya menjadi lebih kosong. Sama seperti kursi di sampingnya. Namun ia masih melanjutkan kebiasaan lama yang selalu ia lakukan bersama sang istri tercinta.

Suara pesawat melintas di kejauhan. Mula-mula hanya dengung halus, lalu semakin jelas, semakin berat, sampai akhirnya benar-benar melintas di atas kepalanya. Ia meletakkan secangkir kopi yang barusan ia teguk di atas meja kayu. Matanya berbinar menatap pesawat yang baru saja lewat.

“Bisa jadi yang ini,” gumamnya pelan. Sudah bertahun-tahun ia selalu mengatakan hal yang sama. Kepalanya mengadah ke atas. Matanya menelusuri gelap dan mengikuti arah suara.

“Ah,” pekiknya pelan. Kepalanya tiba-tiba berdenyut. Ia memegangi kepalanya, menyibak rambutnya yang mulai banyak uban.

***

Pikirannya melayang jauh ke beberapa tahun silam. Sebuah tayangan monokrom berputar. Kepalanya semakin sakit. Ia mulai mengingat-ingat kembali kenangan-kenangan lama yang meninggalkan luka begitu dalam di hatinya setiap kali ia mengingatnya.

“BAPAKK, ADA PESAWATTT!” teriak seorang anak laki-laki dengan penuh antusias. Ia memakai baju bergambar kartun favoritnya. Seorang anak laki-laki satu-satunya. Kesayangannya. Ada jutaan harapan yang ia taruh pada matanya yang teduh. Ia begitu ceria tiap kali pesawat melintas.

BACA JUGA : Sore Jelang Tahlil 

“Kapan ya, Pak, kita bisa naik pesawat?” tanyanya lugu. Supardi hanya bisa membalasnya dengan senyuman. Pertanyaan sederhana itu justru membuatnya gundah.

“Nanti kalau kamu sudah besar, ajak kita semua aja naik itu. Hehe.” Supardi tertawa pelan. berusaha mencairkan suasanya yang baginya sedikit canggung.

“Memang biasanya pesawat ke mana, pak?” tanyanya.

“Ke tempat yang jauh. Ke mana saja yang kamu mau. Nanti berhenti di bandara-bandara. Seperti di kota kita, ada bandara. Dekat dari rumah. Nanti pesawat itu terbang atau balik ke bandara kota kita dan mengunjungi bandara-bandara lain di pulau-pulau yang jauh di sana. Tidak bisa kau pandang dengan mata. Tetapi ia terbang sangat jauh membawa ratusan penumpang.”

Joko tertegun. Mulutnya terbuka. Ternganga.

“Wahh, Pak, Joko ingin juga menjadi pengemudi pesawat itu!”

“Pilot namanya.” Supardi mengoreksi.

“Iya, Pak. Joko ingin jadi pilot!” ucapnya mantap yang disusul oleh tawa Supardi.

“Hahaha, nanti ajak ibu dan bapak, ya, Joko,” pinta Supardi. Jujur saja, di lubuk hatinya terdalam, ia ingin mengunjungi tempat-tempat yang selama ini hanya menjadi mimpi-mimpi kandasnya. Atau setidaknya, pergi meninggalkan perkampungan kumuh dan bau ini. Merajut kehidupan baru yang dapat memberinya kepastian dalam hidup.

“Pasti, Pak. Nanti kalau Joko sudah besar, Joko janji akan pulang mengunjungi Ibu dan Bapak. Joko akan pergi bekerja dan belajar, hidup sendiri, lalu kembali dan membawa bapak dan Ibu pergi untuk hidup yang lebih baik.”

Supardi tertawa. Sukinem yang saat itu sedang menyeduh kopi di dapur ikut tersenyum mendengar percakapan mereka.

“Biar bisa lihat rumah kita dari atas?” tanya Supardi.

Joko mengangguk cepat. “Biar nanti aku bisa lewat di atas Bapak. Terus Bapak lihat aku. Nanti aku akan melambaikan tangan dari atas, Pak.”

Kalimat itu sederhana, tapi entah kenapa selalu diingat Supardi dan Sukinem. Mungkin karena cara Joko mengatakannya dengan begitu yakin, tanpa ragu, dan tanpa rasa takut. Kalimat itu lah yang menjadi alasan keduanya kerap menunggu di halaman rumah, menatap langit yang agak terutup oleh beton jalan tol. Tapi setidaknya harapan-harapan itu masih menggantung di udara. Ia menerbangkannya bersama pesawat-pesawat yang lewat tiap harinya.

Supardi yang umurnya semakin tua dan mulai tak terurus itu begitu frustasi. Tiap malam hanya ditemani secangkir kopi dan beberapa puntung rokok. Kerjaannya pun begitu-begitu saja. Kadang kerja, kadang tidak. Ia mulai sakit-sakitan. Tetapi di sisa-sisa umurnya ia masih ingin bertemu dengan putranya yang tak pernah kembali sejak beberapa tahun silam.

Saat itu, Joko sudah tumbuh menjadi pria tangguh. Lulusan sekolah menengah atas negeri terbaik di kota. Lelaki itu berbadan tegap meski sedikit lebih kurus daripada remaja-remaja seusianya. Tingginya hampir menyamai bapak, tetapi lebih tinggi dari Ibu.

“Ke Jakarta, Pak,” katanya singkat.

Supardi tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap anaknya. Hatinya dipenuhi rasa khawatir dan begitu sulit melepaskan anak semata wayangnya. Ia akan begitu merindukannya.

“Mau kerja dulu. Nanti… kalau ada jalan, aku mau coba daftar sekolah penerbangan,” kata Joko. Ia melanjutkan dan mencoba menenangkan bapaknya, “Percaya sama Joko, Pak. Joko akan pulang beberapa bulan sekali. Joko akan mengusahakan yang terbaik.”

BACA JUGA : Kusiati dan Sebelum Berita Pagi Itu

Sukinem yang mendengar dari dalam langsung keluar. “Jakarta itu keras, Jok,” katanya pelan. ia menggigiti bibir bawahnya. Benar-benar khawatir dengan kondisi Joko.

Joko hanya tersenyum tipis. “Aku kuat, Bu. Aku melakukan ini demi kita semua. Demi Ibu, Bapak, pula demi Joko.”

Tidak ada perdebatan panjang di halaman rumah itu. Joko dengan satu tenteng tas yang cukup besar berisi pakaian-pakaian itu beranjak meninggalkan rumah. Sebelumnya ia menyalimi kedua orangtuanya. Supardi memberinya beberapa lembar uang rupiah yang ia taruh di sebuah amplop agar anaknya dapat bertahan hidup di kerasnya ibu kota.

“Jaga diri, Jok,” kata Supardi memeluk anak laki-lakinya. Ia tepuk punggungnya. Ada kepercayaan, harapan, dan kasih sayang yang dibebankan padanya.

Joko mengangguk. Untuk sesaat, ia seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi akhirnya hanya tersenyum dan berbalik. Langkahnya menghilang di ujung gang.

Awalnya, Joko masih memberi kabar. Tidak sering, mungkin sekitar beberapa hari sekali. Tetapi setidaknya cukup membuat Sukinem dan Supardi tenang. Kadang lewat telepon singkat, surat, atau kadang hanya pesan pendek.

“Di sini ramai, Pak,” katanya suatu malam. “Pasti bapak bahagia kalau ikut ke sini. Ramai orang, ramai kendaraan, sering macet pula. Banyak sekali gedung-gedung tinggi, orang-orang dengan pakaian dan tas mahal, duh, banyak sekali, pak. Hahaha.”

“Wah, tapi kamu baik-baik saja, kan, Jok? Kerjaannya gimana?” tanya Supardi.

“Ya …, gitu, Pak. Lumayan. Nanti kalau sudah enak, aku cerita. Masih menyesuaikan diri di sini.”

Mendengar itu, Supardi menjadi sedikit khawatir. Tetapi Sukinem selalu menenangkannya. Ia meyakinkan Supardi bahwa anak semata wayang mereka dapat menjaga dirinya dengan baik.

Lama-lama, kabar itu semakin jarang. Telepon yang dulu beberapa hari sekali berubah menjadi seminggu sekali dan sebulan sekali. Lalu, tidak sama sekali. Cerita-cerita yang Joko janjikan juga belum ia tuntaskan. Ia tak pernah cerita lebih dalam terkait hari-harinya dan pekerjaannya.

Biasanya ia hanya menceritakan tentang kos-kosan kecilnya yang pengap, makan apa ia hari itu, dan teman-teman baru yang ia punya. Sukinem masih sering menunggu di depan rumah setiap sore. Duduk di kursi rotan yang sama, matanya sesekali menatap ke arah gang.

“Siapa tahu hari ini pulang,” katanya pelan. Supardi tidak menjawab. Ia hanya duduk di sampingnya. Menemani istrinya. Ia selalu duduk di depan. Supardi pergi bekerja dan Sukinem akan mengerjakan pekerjaan rumah, lalu balik menunggu di halaman rumah.

“Aku tidak akan berhenti menunggu kecuali aku mati, Pak,” ucap Sukinem yang membuat Supardi terdiam sejenak.

Sampai suatu hari, Sukinem benar-benar membuktikan ucapannya. Ia akhirnya berhenti menunggu. Ia jatuh sakit. Supardi lah yang selama ini merawatnya. Mereka tidak punya uang untuk biaya pengobatan, sehingga Supardi berusaha sendiri untuk menjaga Sukinem.

Tidak lama setelahnya, Sukinem pergi meninggalkan Supardi yang begitu hancur. Ia meninggalkan pesan untuk kerap menunggu sampai Joko kembali. Ia ingin mengetahui kabar Joko agar dapat beristirahat dengan tenang.

Sejak itu, hidup Supardi tak pernah lagi sama. Benar-benar berubah. Supardi mulai menggantikan kebiasaan lama istrinya. Ia duduk di tempat yang sama, pada waktu yang sama.

Ia menatap ke langit. Setiap malam, ia duduk di kursi rotan itu, menunggu suara pesawat. Menunggu sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak yakin akan datang.

“Yang ini,” gumamnya setiap kali suara itu melintas.

Seolah-olah di dalam salah satu pesawat itu, ada seseorang yang sedang dalam perjalanan pulang. Besar harapannya, di antara pesawat-pesawat yang lewat itu ada anaknya di sana. Anak yang berjanji akan mengajaknya berkeliling dunia dengan pesawat yang ditungganginya. Konyolnya pula, Supardi membayangkan jika pesawat anaknya mendarat di jalan tol itu. Ia benar-benar rindu padanya.

Malam semakin larut. Musik dangdut di kejauhan mulai mengecil. Suara orang-orang di gang perlahan hilang satu per satu. Tinggal suara pesawat yang lewat dan napas Supardi yang pelan.

Ia meneguk sisa kopinya yang kini sudah tidak lagi panas. Terbatuk-batuk beberapa kali. tangannya meraih sesuatu di saku bajunya—sebuah kertas kecil yang sudah terlipat berkali-kali.

Ia tidak langsung membukanya. Hanya menggenggamnya sebentar sembari mengumpulkan keberanian.

Di tangannya ada sebuah amplop putih. Ia membukanya dengan hati-hatinya. Rupanya, ada sebuah surat yang ditulis tangan di atas kertas buku tulis ukuran kwarto. Dengan sedikit takut, Supardi membukanya. Membaca kata demi kata. Menelan ludah berkali kali. Jantungnya semakin berdegup kencang. Ia memegangi dada kirinya. Sakit sekali.

Tulisan di dalamnya tidak rapi. Ditulis seadanya.

Pak… maaf. Aku tidak jadi seperti yang bapak bayangkan.

Tangannya berhenti di sana. Tangannya gemetar hebat. Ia meremas kaus oblong yang ia pakai. Air matanya menetes. Di luar, suara pesawat melintas rendah.

Aku sekarang di sini, Pak. Sudah tiga tahun. Aku memang tidak memberi kabar, Pak. Berat sekali hidup ini. Rasanya, Joko sendiri sudah berkali-kali ingin menyerah, Pak. Joko hanya tidak ingin bapak dan ibu tahu. Joko takut mengecewakan kalian semua.

Badannya berguncang. Jantungnya terombak-ambik. Hancur berporak-poranda.

Aku dipenjara, Pak. Karena suatu kasus. Bapak bisa berkunjung kalau bapak mau. Joko akan sangat senang bertemu bapak setelah sekian lama.

BACA JUGA : Pilihan

Ia sungguh tak kuat melanjutkan membaca. Ia mengusap air matanya. Meremas surat itu. Entahlah. Ia tak tahu apakah ia marah, kecewa, atau ada rasa rindu yang membuncah dalam dadanya.

Joko juga rindu Ibu, Pak. Bagaimana kabar ibu? Semoga kalau bapak dan Ibu mengunjungi Joko nanti, bapak dan Ibu tidak membenci Joko. Joko sayang bapak dan Ibu.

Tangisnya pecah. Tak tertahan lagi. Pesawat itu hilang di kejauhan. Supardi menatap surat di tangannya yang kusut dan basah oleh air mata.

Dipenjara. Ia mengulang kata itu dalam hati. Berat. Asing. Anaknya. Anak yang dulu menunjuk langit, berjanji akan terbang tinggi membawa bapak dan ibunya, sekarang malah mendekam di penjara karena suatu kasus.

Supardi menutup mata. Bayangan Joko kecil datang sebentar. Anak laki-laki itu berlari, tertawa, dan menunjuk ke arah langit. Ia memanggil Supardi. Memintanya untuk cepat keluar melihat bahwasannya baru saja sebuah pesawat melintas. Supardi merasa benar-benar ada di sana. Ia yang gemetar berjalan limbung ke arah Joko kecil. berusaha meraihnya. Mendekapnya. Tetapi tiba-tiba Joko kecil hilang dalam dekapannya menjadi serpihan-serpihan putih yang terbang dan Bersatu dengan angin.

Suara pesawat terdengar lagi. Supardi membuka matanya. Tersadarkan. Tetapi ia tak lagi menengadah.

 

 

Syifa Tsabita Wiangga

*Penulis tengah menempuh pendidikan di SMAN 6 Yogyakarta. Ia telah menekuni dunia kepenulisan sejak sekolah dasar dan tercatat telah menuliskan 36 buku sejak kelas 5 SD. Ia pernah memperoleh berbagai penghargaan untuk penulisan cerpen. Karya terbarunya, Sebuah Rumah di Bawah Pesawat, menjadi salah satu bentuk eksplorasi tersebut. Karya dan aktivitasnya dapat diikuti melalui Instagram @syifatsabitaaa_


Kami menerima tulisan cerpenmu di rubrik AREK BERCERITA. Rubrik ini projectarek.id dedikasikan untuk siapa pun yang memiliki minat di dunia sastra khususnya cerpen. Kami ingin menjadikan rubrik ini sebagai rumah digital untuk bertumbuh bersama menghidupi dunia cerpen. Kirimkan karyamu dengan membaca PANDUAN kami.