SUARA itu memantul di dinding-dinding ruang pengajian, meresap ke setiap sudut hati, berputar di mulut setiap orang seperti kaset usang yang tak pernah berhenti diputar—sama, tegas, tak terbantahkan. Di Pondok Pesantren Al-Ghoziniyah, kalimat itu bukan sekadar nasihat; ia adalah hukum yang tak tertulis, arah yang tak boleh dibelokkan, cahaya yang menyinari seluruh kehidupan di sana.
Di sini Pak Kiai adalah matahari yang tak bisa diragukan terbitnya. Ia memegang kendali penuh, hak istimewa yang musti dipatuhi semua tanpa pertanyaan. Siapa yang menurut disebut santri bertawadhu; siapa yang mempertanyakan dicap pembangkang. Begitulah aturannya. Bukan saja di tempat ini, di banyak tempat yang sejenis, keheningan yang kerap disamakan dengan ketaatan.
Pagi itu, pukul delapan jarum jam baru saja menancap di dinding langit. Embun masih menempel di daun-daun keliling halaman, ketika Hanif sudah berdiri tegak di barisan depan. Wajahnya manis, namun kulitnya berwarna cokelat tua yang terbakar matahari, bekas keringat dan sinar yang tak asing baginya. Di balik penampilan sederhana itu, tersimpan hafalan nazhom Imrithy yang mengalir laksana sungai tenang.
Ia adalah santri kesayangan Sang Kiai, dipuji karena ingatannya tajam dan bicaranya lembut, meski hatinya kadang menyimpan tanya yang tak berani ia ucapkan. Ia tidak sendirian. Belasan santri putra lainnya sudah berkumpul di halaman, siap melangkah ke lokasi pembangunan. Ada yang masih memakai sarung dengan ujung dilipat ke atas agar tidak kotor, ada pula yang hanya mengenakan celana pendek dan kemeja lusuh, seolah dunia pagi itu tak menuntut pakaian rapi melainkan tenaga dan kesediaan.
BACA JUGA : Eksil 1965
Hanif melambaikan tangan kepada kawan-kawannya yang berjalan menuju kelas, hari ini bukan giliran mereka duduk di bawah lampu, melainkan berkeringat di bawah sinar matahari. Ini giliran kamarnya. Mereka bekerja tanpa upah, tanpa tanda terima, tanpa janji uang di saku. Bayarannya, kata orang-orang yang lebih tua, adalah pahala. Tenaga mereka, sumbernya dari kata ikhlas. Sekali lagi, lakukan dan jangan mempertanyakan. Sebab itu tanda tak ikhlas.
Nanti di akhirat, seperti yang diingatkan terus-menerus oleh Pak Kiai: melayani di tempat menuntut ilmu itu ibadah terbesar, yang tak bisa diukur dengan kepingan logam. Pahala ganjarannya.
Suara mesin pengaduk semen memecah kesunyian pagi, berdengung berirama membaur dengan suara air yang mengalir. Di dalamnya, semen, kerikil, dan pasir menyatu menjadi adukan kelabu yang basah dan berat. Hanif mendekat, terpaku melihat proses itu, penasaran bagaimana benda sekeras batu bisa menjadi cair lalu mengeras kembali menjadi dinding yang menaungi.
Ia dan kawan-kawannya menerima dua timba penuh adukan itu, memikul beban itu menaiki anak tangga yang kasar, belum dihaluskan, tanpa pagar pengaman sama sekali. Mereka berjalan beriringan, naik turun, naik turun, bagai sekelompok semut yang membawa butiran makanan ke sarang yang terus tumbuh tinggi. Keringat menetes ke pelipis, membasahi kerah baju, namun tak ada yang berhenti—takut dianggap malas, takut dicap tak taat, takut kehilangan tempat di mata Pak Kiai.
Matahari merayap naik, menyinari langit biru yang bersih tanpa selembar awan, tampak damai, seolah tak ada yang keliru di bawahnya. Pak Kiai berdiri di halaman bawah, memperhatikan gerak-gerik mereka, wajahnya tenang, seolah setiap langkah kaki mereka adalah doa yang terwujud dalam bentuk bangunan yang makin hari makin tinggi. Di lantai atas, pekerjaan berlanjut tanpa henti.
Hanif dan kawan-kawannya tertawa, saling menyindir, bercanda tentang hal-hal kecil yang membuat lelah sejenak hilang. Wajah mereka berseri, tak ada yang tahu bahwa cahaya pagi itu adalah cahaya perpisahan.
Di bawah, Pak Kiai dan Gus Sin, orang kepercayaannya, berjalan memeriksa tiap lantai yang baru tumbuh. Wajahnya sumringah, seolah melihat masa depan yang kokoh berdiri. Mandor bangunan mendekat, ragu-ragu namun sungguh-sungguh, menyampaikan apa yang dilihatnya dari sejak awal pengerjaan: susunan besi pengaman lantai dan tiang penyangga belum tersambung dengan benar, saling menguatkan belum, dan jika dibiarkan terus, beban di lantai atas bisa merobohkan seluruh rangkaian di bawahnya.
"Seharusnya kerangka besi menyatu, Pak Kiai," ucap mandor dengan suara rendah. "Fungsinya mengikat semuanya jadi satu, agar kalau satu bagian tertekan, bagian lain ikut menahan."
Gus Sin menatapnya dengan dahi mengernyit. Bibirnya bergerak mengirim sinyal agar si mandor tak banyak bicara. Pak Kiai terlihat tersenyum tipis yang perlahan berubah dingin. "Jangan sok tahu. Sudah biasa begini di tempat lain. Bangunan lainnya di sini juga sama. Aman, tak perlu berlebihan."
BACA JUGA : Bisa Ulangi Caramu Mati?
Mandor tak mundur. Sekali lagi ia berusaha meyakinkan. "Adik sepupu saya arsitek lulusan UGM, beliau pernah ajarkan soal ini, Pak. Kalau tidak disambung, strukturnya lemah di bagian persambungan. Bisa ambruk kapan saja."
Pak Kiai berbalik, tak mau mendengar lebih jauh. "Cukup. Urusan ini saya yang tahu. Sudah banyak bangunan saya yang selesai, tak pernah ada masalah. Jangan mendahului takdir. Itu urusan Allah Ta’ala."
"Pak Kiai..." suara mandor bergetar. "Jangan sampai bangunan ini roboh."
Gus Sin menampis tangan si mandor yang masih saja berusaha mendekat ke tubuh Pak Kiai. Pria yang juga diberi kepercayaan untuk mengurus tetek bengek pembangunan gedung baru itu, seraya mengajak Pak Kiai melangkah pergi. “Wes pokok e sami'na wa atho'na.”
Pak Kiai sudah melangkah pergi, punggungnya tegak, seolah kata-kata itu hanyalah gertakan yang berusaha mengikis keyakinannya. Ada sesuatu yang ia simpan, sesuatu yang ia rahasiakan — mungkin keinginan agar bangunan cepat selesai tepat waktu, mungkin hitungan biaya yang dipangkas di sini dan di sana, mungkin ambisi yang menutup telinga pada peringatan yang tak diinginkan terdengar.
Keesokan paginya, Hanif melihatnya sendiri: retakan halus merambat di lantai dua, lalu di lantai tiga, seperti urat-urat yang sakit pada tubuh yang tak kuat menahan beban. Sebatang besi kerangka menonjol keluar, berkarat di ujungnya, seolah mengeluh tertekan di balik lapisan semen yang tipis. Ia berani melapor kepada Pak Kiai, berharap ada perhatian sungguh-sungguh, perintah untuk menghentikan sementara hingga diperbaiki.
Namun Kiai hanya menepuk bahunya pelan, menatapnya dengan senyum yang menenangkan namun menutup pintu pembicaraan. "Tidak apa-apa, Nak. Retakan biasa yang muncul karena pengeringan semen. Nanti tukang perbaiki. Kerjakan saja tugasmu, jangan dibayangi hal yang tak perlu."
Hanif mundur, tapi hatinya tak tenang. Rasa cemas merayap pelan, tak bisa ia jelaskan dengan kata-kata. Ia melihat kawan-kawannya bercanda, melempar air ke wajah satu sama lain, tertawa lepas di bawah terik matahari—mereka tak tahu apa yang tersembunyi di balik dinding yang baru tumbuh setengah jadi. Rindu pada ayah dan ibunya tiba-tiba datang, padahal biasanya ia tak begini, jarang memikirkan rumah saat di sini.
Ia berusaha meyakinkan diri: tidak akan terjadi apa-apa. Pak Kiai sudah bilang aman. Itulah jaminan dunia, sekaligus akhirat kelak. Apa yang Kiai ucapkan, adalah kebenaran. Meragukan soal bangunan itu, sama halnya mempertanyakan keilmuan Pak Kiai. Ah itu artinya, tidak berkah dan dekat dengan dosa.
Dua hari lalu, ia menyaksikan dua temannya dihukum, dicambuk rotan di hadapan seluruh santri, kakinya bergaris merah basah bekas pukulan, karena kesalahan yang entah seberapa besar, entah seberapa layak dihukum demikian. Itulah sebabnya semua bergerak cepat, patuh, tak menolak—ketakutan menyatu dengan ketaatan, hingga sulit membedakan mana yang taat karena ikhlas dan mana yang taat karena takut.
Saat masuk waktu Zuhur, terdengar suara, samar dulu, seperti orang berbisik di balik dinding, lalu jelas: bunyi seperti tulang yang patah, berasal dari pertemuan tiang dan balok di lantai atas. Para santri berhenti bekerja, menoleh, saling pandang dengan wajah pucat. Tukang-tukang menunjuk ke arah retakan yang kini melebar, memanjang dari lantai ke dinding. Mandor datang lagi, mendesak agar pengerjaan dihentikan sementara, orang-orang diturunkan, diperiksa oleh ahli.
Tapi Pak Kiai tenang. Ia berkata, sudah memanggil seorang arsitek kenalan, semuanya akan baik-baik saja, retakan itu biasa terjadi pada bangunan baru. Salat Zuhur tetap dilaksanakan, Pak Kiai mengimami, suaranya mantap, berwibawa, menenangkan keraguan yang mulai tumbuh di dada para jamaah. Semua aman. Sampai masuk waktu Asar. Pak Kiai tak hadir, ada undangan di tempat kerabat di luar pondok—digantikan ustadz kepercayaannya.
Rakaat pertama tenang, gerakan tubuh serempak, doa menyatu dengan udara sore yang mulai teduh. Lalu rakaat kedua. Saat semua kepala turun bersujud, terdengar bunyi itu lagi—kali ini bukan samar, bukan halus, melainkan dera yang membelah udara, seperti bumi bergumam marah. Retakan dari lantai paling atas meroboh lantai kedua, tiang penyangga tak lagi sanggup menahan beban yang tak seharusnya dipikulnya, dan dalam sekejap mata, bangunan tiga lantai itu luruh ke bumi.
BACA JUGA : Pengumuman, Pengumuman
Hanif mendengarnya duluan. Ia mengangkat kepala sebelum debu menyelimuti segalanya, dan berlari. Di sebelahnya, ada yang ikut lari, selamat dengan luka lecet dan goresan di lengan dan kaki. Tapi mereka yang sudah bersujud sepenuhnya—ustadz imam, kawan-kawannya yang tadi pagi tertawa di tangga, anak-anak yang memikul timba semen, tertimbun. Langit seolah turun ke bumi, menelan mereka di tengah ibadah yang tak sempat selesai.
Ia berdiri terpaku, napasnya tercekat di tenggorokan, melihat tempat yang tadi tegak kini rata dengan tanah, berupa tumpukan beton dan debu yang mengepul tinggi. Jeritan memecah kesunyian sore, memanggil nama-nama yang kini tak menjawab. Ia ingin berlari ke arah tumpukan puing, mencari siapa yang masih bisa ditemukan, tapi ditahan oleh ustadz lain yang gemetar, matanya penuh air mata namun tangannya kuat menahan agar ia tak melangkah ke tempat berbahaya. Matanya basah, air mata turun membasahi pipi yang terbakar matahari. Di antara kepulan debu, terbayang wajah mereka yang pagi tadi melambaikan tangan, kini tak lagi menjawab panggilan siapa pun.
Pak Kiai tiba tak lama kemudian, datang dari luar, wajahnya dipasang sedih, matanya berkaca-kaca yang tak terlihat tulus, seolah ia sedang memerankan peran yang sudah disiapkan sebelumnya. Ia berteriak di antara kerumunan yang gemetar: "Mereka syahid! Syahid di tempat menuntut ilmu! Allah memanggil mereka lebih dulu, di jalan-Nya!"
Tim SAR tiba saat senja mulai turun, dibantu warga dan santri lain, mengangkat puing dengan tangan dan alat, mencari napas yang tersisa di bawah tumpukan berat itu. Hanif duduk di bawah pohon mangga yang daunnya berguguran diterpa angin sore, tubuhnya terasa berat, pikirannya berputar tak tenang di antara nama-nama kawan yang hilang. Ayahnya datang dari jauh, memeluknya erat, memastikan putranya bernapas, memastikan ia ada di sana.
Di hadapan para orang tua yang datang mencari anaknya, Pak Kiai kembali berbicara, meminta maaf dengan nada lembut yang bergetar, menyebut mereka syahid, menyebut kematian mereka kemuliaan yang tak ternilai harganya.
Hanif mendengar dari kejauhan, dan di dadanya kemarahan membara pelan, panas dan pahit. Dasar kiai munafik, batinnya, tak sanggup mengucapkannya keras-keras.
Ia bercerita pada ayahnya—tentang peringatan mandor yang diabaikan, tentang besi yang tak disambung, tentang retakan yang sudah ada sejak kemarin, tentang bahan bangunan yang terlihat murah dan rapuh, tentang bisik-bisik bahwa uang pembangunan digunakan untuk membeli mobil baru yang dikendarai Pak Kiai. Namun ayahnya menggeleng pelan, menatapnya dengan tatapan yang tak yakin. "Mana mungkin, Nak. Pak Kiai orang yang dikenal alim dan saleh. Tak mungkin ia berbuat begitu."
Sore itu, matahari terbenam perlahan, melukis langit di atas Al-Ghoziniyah dengan warna merah pekat, seolah langit sendiri menangis darah. Angin berhembus membawa debu dan aroma kesedihan yang tak terhapus, menembus pakaian hingga ke tulang. Di bawah langit itu, Hanif berdiri diam, memandang puing yang menyimpan rahasia, menyimpan nyawa kawan-kawannya, menyimpan kebenaran yang sebagian orang tak ingin percaya.
BACA JUGA : Hidup di Negeri Omong-omong
Langit berwarna merah bukan karena kemuliaan semata—melainkan karena luka yang tak terobati, karena suara yang dibungkam, karena kebenaran yang terpendam bersama mereka yang tertimbun. Dan ia tahu, warna itu takkan pudar begitu saja. Ia akan tetap membekas di ingatan, di setiap napas yang tersisa, sebagai peringatan abadi: di tempat yang mengajarkan kebenaran paling luhur, kebohongan pun bisa tumbuh subur jika mata dibiarkan tertutup.
Di ujung malam, Hanif semakin larut dengan suara-suara mesin alat berat yang menghancurkan puing-puing bangunan. Pikirannya kalut. “Apakah aku bersalah dan dosa, karena aku selamat sedang kawan-kawanku meregang nyawa? Bagaimana mungkin aku bisa baik-baik saja seolah tak terjadi apa-apa setelah ini? Apa pantas seorang Kiai melibatkan Allah untuk perkara yang seharusnya bisa ia cegah dengan tangannya?
Khairul Azzam El Maliky
Novelis, cerpenis, dan esais. Bukunya yang telah terbit antara lain berjudul, Akad, Kalam Kalam Cinta, Pintu Tauhid, Sweet Girl, Semesta Cinta Syaikh Abdul Qadir Al Jilani, Cahaya Lentera Cinta, Beda Tapi Cinta, Mahar Cinta untuk Afifah, Kulabuhkan Cintaku di Hatimu, Rasulullah & Pendidikan Hati Anak, dll yang tersedia di toko buku Gramedia, NBS Book Store Malang, dan Imajinasiku Books. Selain menulis, penulis juga aktif sebagai guru Sastra Inggris di salah satu Madrasah Aliyah di Probolinggo.
Kami menerima tulisan cerpenmu di rubrik AREK BERCERITA. Rubrik ini projectarek.id dedikasikan untuk siapa pun yang memiliki minat di dunia sastra khususnya cerpen. Kami ingin menjadikan rubrik ini sebagai rumah digital untuk bertumbuh bersama menghidupi dunia cerpen. Kirimkan karyamu dengan membaca PANDUAN kami.
