SEPUCUK surat dari ayahnya, yang ditulis sebelum berita buruk itutiba, terselip di dalam koper yang sedikit berdebu:
Jangan lupakan siapa dirimu, Anakku. Dan, jangan lupa pada tanah yang memberimu napas kehidupan: Indonesia. Pulanglah kelak di masa depan, bangun negeri ini dengan pengetahuan yang kaumiliki.
Kata-kata itu terukir pada secarik kertas putih, terpatri di kepala dan ingatannya, serupa prasasti yang dibangun untuk tetap dikenang. Ia memahami, bahwa menyusun kata-kata bukanlah bagian dari keahlian ayahnya. Hanya tiga kalimat yang terlalu sederhana, diselimuti keheningan yang lebih nyaring dari suara.
Namun, waktu adalah nyala api yang merambat tanpa bisa dicegah. Dekade berlalu sejak ia meninggalkan Indonesia pada siang yang terik itu, menumpangi pesawat yang ukurannya jauh lebih besar daripada balai desa di dekat tempat tinggalnya. Ia mendarat di Praha, Cekoslowakia, terdampar dalam labirin gelap di mana bahasa adalah dinding, dan sejarah merupakan lubang di tanah yang siap mengubur siapa saja.
Ia hanyalah pemuda biasa yang berasal dari sebuah kampung yang nyaris tak pernah menyentuh atau tersentuh buku, seorang mahasiswa yang dikirim ke Eropa Timur untuk mempelajari ilmu teknik sipil. Pada tahun 1965, ia berada di tahun kedua kuliah. Dan, malam itu datang melalui senyap yang tak terkira. Tanpa aba-aba, tanpa tanda-tanda. Dalam sekali kedipan mata, semua yang hal yang telah membersamainya tenggelam bersama gelap.
BACA JUGA : Lelaki yang Mati Dilindas Barracuda
Tak lama setelah operasi pada September itu meledak, ia tak pernah menyangka, hidupnya akan berubah. Pesan pertama yang ia terima tertulis sangat singkat, hanya dua kata: Jangan pulang. Pesan tanpa nama, yang entah dikirim oleh siapa, tertulis pada sobekan kertas yang dilipat kecil, kemudian diselipkan di bawah pintu kamarnya yang sempit.
Pesan berikutnya hanyalah diam yang panjang, semacam jurang tanpa dasar yang enggan memberi jawaban. Teman-temannya yang lain, sesama penerima beasiswa, mencoba mencari kabar lewat koran-koran internasional, siaran stasiun televisi lokal, atau media apa pun yang biasa mereka konsumsi sehari-hari. Namun, berita-berita yang berseliweran itu lebih terasa seperti potongan teka-teki daripada penjelasan yang menjadikan utuh.
Hingga akhirnya, informasi itu hadir dengan membawa luka yang terlalu lebar, menghasilkan terlalu banyak derita yang sulit ditampung oleh siapa pun. Para mahasiswa yang dikirim ke luar negeri mendapat label yang tak pernah mereka pilih dan inginkan, dianggap terpapar paham yang haram untuk disebut sembarangan: KOMUNIS.
Nama mereka dicoret dari daftar warga negara, dihapus seakan tak pernah benar-benar ada. Paspor yang dulu membawa mereka melintasi benua tidak lagi berlaku, hanya lembaran kertas tanpa guna. Jika ingin pulang, mereka dipaksa menandatangi sepucuk surat, persetujuan untuk mengecam pemerintah sebelumnya yang dipimpin oleh Soekarno. Nama yang menjadi alasan mereka bisa berada di titik ini, menerima beasiswa di luar negeri. Kontradiksi itu menciptakan gelombang yang menggantung di udara, berat dan tanpa kata.
Namun, pulang juga bukan pilihan yang mudah. Negeri yang pernah disebut rumah dan dipenuhi keramahan telah beralih rupa, menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar mengerikan. Tersiar kabar, banyak dari mereka yang memutuskan kembali ke Indonesia ditangkap, dipenjara, atau dilenyapkan oleh senyap yang meriuhkan seluruh negeri. Orde Baru, dalam banyak hal, telah melampaui nalar sekaligus imajinasinya.
Pria itu, tanpa surat dan keputusan resmi, dipaksa menerima status eksil. Beasiswanya dicabut, tetapi ia tidak berani kembali. Surat-surat dari keluarganya di Indonesia tak lagi sampai ke tangannya, entah karena dilarang, atau karena keluarganya memang sudah tidak ada, sudah tak tersisa. Teman-temannya, sesama mahasiswa perlahan menghilang, satu per satu seperti hitungan mundur dalam perayaan tahun baru. Beberapa pindah ke negara lain, sisanya entah di mana.
BACA JUGA : Jendela Reot
Di Praha, hari-hari berganti seperti bayangan yang tak bertubuh. Sepi dan tanpa pijakan. Ia menghabiskan waktu dengan bekerja sebagai buruh pabrik sambil tetap melanjutkan pendidikannya. Di sela-sela deru mesin yang bising, ia kerap termenung, berandai-andai tentang nasib jika dulu memutuskan menolak tawaran beasiswa. Akankah lebih baik? Entah.
"Mereka mencabut kewarganegaraan saya," katanya suatu hari kepada seorang perempuan Cekoslowakia yang ia temui secara tak sengaja di sebuah stasiun. Perempuan itu menatapnya dengan sedikit terkesiap, mencoba memahami, dan akhirnya hanya mengangguk sopan. Kata-kata yang hendak meluncur seketika tenggelam oleh derit kereta yang datang.
Di asramanya, pria itu masih menyimpan bendera merah putih, membentangkannya pada dinding kamar yang sebagian telah menguning. Kain dwiwarna itu mengingatkan betapa ia sangat mencintai negerinya, meski tak berbalas dengan cara yang sama. Ketika malam, ia duduk di dekat jendela, memandangi salju yang jatuh rebah seperti takdirnya, berpikir tentang rumah yang menaunginya, dan keluarga yang mencintainya.
Ia membayangkan ibunya sedang duduk di dapur kecil beralas tanah di Karawang, menganyam janur untuk membuat ketupat jelang hari raya. Ia juga membayangkan dirinya, seorang anak laki-laki yang bermain dan berlarian di halaman depan rumahnya sambil tertawa, tanpa tahu bahwa kelak takdir berkhianat pada mimpi-mimpinya.
Ketika reformasi datang, ia sudah terlalu lelah untuk berharap. Banyak politikus yang berbicara tentang amnesti, tentang pulang, tentang rekonsiliasi. Baginya, semua itu terdengar seperti omong kosong yang tak bisa digenggam. Ia bukan lagi bagian dari tanah itu, bukan bagian dari konstitusi. Ia hanya seorang pria tua yang tersesat di antara bahasa dan budaya yang perlahan mengakrabi hari-harinya.
Lalu, suatu sore, ia menerima sepucuk surat dari seseorang yang mengaku jurnalisdari media kenamaan. Surat itu ditulis dalam bahasa Indonesia yang telah lama tidak ditemuinya. Ia membacanya dengan terbata-bata, mengeja setiap huruf dan kata. Kami ingin tahu tentang Anda, tentang apa yang terjadi pada hari-hari setelah operasi September 65, tentang mengapa Anda memutuskan untuk tidak pernah pulang.
BACA JUGA : Kusniati dan Sebelum Berita Pagi itu
Pria itu duduk di kursinya, menatap lembaran surat seakan berupaya memahami. Namun, yang terjadi kemudian, ia ragu harus menulis dan membalas apa. Ada terlalu banyak yang hilang, terlalu banyak yang tidak bisa dijelaskan. Itu adalah pertanyaan yang sama yang terus berputar di kepalanya, berdekade lamanya. Pertanyaan yang ia tahu persis jawabannya, tetapi tak cukup keberanian untuk mengungkapkannya.
Ia akhirnya menulis satu kalimat, tidak terlalu panjang, terlebih puitis:
Saya telah dihapus oleh waktu, tidak untuk menjadi sejarah atau bagian dari apa pun.
Lalu, ia memasukkan surat itu ke dalam amplop, menempelkan perangko dengan motif abstrak, berjalan ke kotak pos terdekat tanpa tergesa-gesa, seolah waktu telah kehilangan urgensinya.
***
Langit Praha mendung pagi itu, seperti wajah yang sedang menahan tangis agar tidak pecah. Seorang perempuan berdiri dengan syal wol berwarna merah yang melilit leher jenjangnya. Udara dingin menusuk, menggigit kulitnya yang berkeriput meski ia sudah mengenakan mantel tebal dan berlapis-lapis. Di tangannya ada sebuket bunga lili putih berbalut kain, sedikit layu di pinggir kelopaknya. Meski demikian, bunga itu masih memancarkan kecantikan yang seharusnya.
Angin membawa aroma dedaunan basah, sementara hujan rintik-rintik menciptakan genangan kecil di tanah yang menggigil. Nama suaminya terukir di sana, susunan huruf yang mulai luntur, tetapi perempuan itu masih mengenalinya. Ia tahu tiap lekuk dan goresan pada batu nisan seperti ia mengingat garis halus di wajah suaminya.
Pria itu, memiliki suara yang rendah bercampur serak. Suara yang kerap bercerita tentang desa yang tak pernah perempuan itu kunjungi, tentang masa muda yang terenggut oleh sesuatu yang tak pernah menampakkan diri. Suaminya adalah seorang eksil, dengan jiwa yang terperangkap di antara tanah yang telah mengusir dan tanah yang belum seutuhnya menerima.
Mereka pertama kali bertemu di sebuah stasiun kecil ketika senja menyapa di atas kepala. Suaminya yang dulu hanya orang asing tiba-tiba duduk di sebelahnya, memandang kosong ke arahnya, lalu berkata dengan ekspresi wajah seperti orang yang baru saja kehilangan akal sehat: "Mereka mencabut kewarganegaraan saya."
Entah bagaimana, ia ingin sekali menghibur pria yang ekspresinya menampakkan begitu banyak beban dan kemalangan itu. Tetapi takdir berkata lain dengan menghadirkan kereta yang hendak ditumpanginya lebih cepat dari perkiraan. Ia terpaksa pergi seraya meninggalkan sebagian kepeduliannya untuk tetap duduk di sana, menemani pria itu hingga entah kapan.
Beberapa pekan setelahnya, takdir juga yang berhasil mempertemukan keduanya, tepat di stasiun dan senja yang sama. Tanpa rencana, tanpa janji temu yang berbisik pelan. Hanya saja, kali itu, ia dengan sengaja melewatkan kereta yang hendak ditumpanginya. Seakan ada dorongan yang terlalu kuat untuk dilawan.
BACA JUGA : Bisa Ulangi Cara Matimu
Kemurungan masih terpancar di wajah suaminya, dan perempuan itu memulai percakapan lebih dulu. Ia berusaha menghiburnya, membicarakan banyak hal, tentang apa saja yang tiba-tiba melintas di kepalanya. Tidak ada perkenalan resmi di antara mereka, semuanya mengalir dengan tenang dan kesan yang dalam. Pertemuan pun berulang, diam-diam menenun ikatan emosional yang tak terbantahkan.
Kini, perempuan itu berdiri di hadapan makam sederhana, di tanah yang bahkan bukan tanah suaminya.
"Apakah kau masih merindukan rumah?" Ia bertanya, kepada nisan yang dingin. Tidak ada jawaban, tentu saja, hanya desir angin yang lebih keras dan menyibak helai-helai rambut panjangnya.
Tapi, perempuan itu tidak butuh jawaban, tak butuh tanggapan. Ia hanya butuh untuk tetap berada di sana, berdiri di antara rintik hujan dan embusan angin, di antara kenangan dan kenyataan. Ia mengusap batu nisan itu dengan lembut, seperti membelai wajah sosok yang dirindukan. Lalu, perempuan itu menghamparkan bendera merah putih beserta buket bunga lili di atas gundukan tanah yang menjadi tempat istirahat terakhir suaminya.
Ia merogoh saku mantelnya, seperti mencari sesuatu yang mungkin saja tidak ada. Rasa hangat dari layar ponsel menjalari telapak tangannya. Lalu, ia membuka pemutar musik, menyetel lagu yang terdengar asing baginya, tetapi akrab di telinga mendiang suaminya: Indonesia Raya.
Perempuan itu kemudian duduk di tanah basah. Ia membiarkan hujan menyelimuti tubuhnya, seolah itu pelukan dari suaminya.
Arie Fajar Rofian
Penulis adalah pegiat literasi yang berdomisili di Karawang, Jawa Barat. Karyanya tersiar di berbagai media massa.
