Skip to main content
Ilustrasi: Nano Banana 2
Arek Kampus
Menunda Kematian dengan Musik Rock
Keinginan untuk mengakhiri hidup sering kali disalahpahami sebagai kehendak untuk mati. Dalam banyak kasus, ia justru lebih tepat dipahami sebagai upaya individu untuk menghentikan intensitas rasa yang tidak lagi dapat dikelola. Bukan kematian yang dicari, melainkan jeda dari kebisingan batin yang terus berlangsung tanpa henti.

SAYA PERNAH berada dalam kondisi tersebut. Sebagai bagian dari generasi muda yang hidup di tengah percepatan sosial dan digital, pengalaman psikologis saya tidak bisa dilepaskan dari konteks yang lebih luas. Ada tekanan yang bersifat personal yang mungkin berakar dari faktor bawaan dan pengalaman masa lalu.

Namun ada pula tekanan yang bersifat struktural, seperti ekspektasi sosial, perbandingan dengan teman sebaya, serta tuntutan untuk menjadi sesuatu dalam waktu yang semakin singkat. Dalam keseharian, saya menyadari adanya kecenderungan emosi yang tidak stabil. Respons terhadap hal-hal yang tampak sepele dapat berkembang menjadi kecemasan yang berlarut-larut.

Hal-hal yang belum terjadi kerap dipersepsikan sebagai ancaman yang nyata. Pikiran saya tidak pernah benar-benar berhenti bekerja. Ia terus memproduksi kemungkinan, skenario, dan kekhawatiran. Pada kerangka psikologis, kondisi ini dapat dibaca sebagai hiperrefleksivitas, yaitu situasi ketika individu terlalu larut dalam proses berpikir hingga kehilangan kemampuan untuk bertindak.

Saya tidak kekurangan niat untuk bergerak, tetapi justru terjebak dalam banyaknya pertimbangan. Setiap langkah terasa harus sempurna dan setiap keputusan harus dipikirkan secara menyeluruh. Akibatnya, tidak ada langkah yang benar-benar diambil.

Di saat yang sama, realitas sosial di sekitar saya terus bergerak. Di Indonesia, khususnya di kota-kota besar seperti Surabaya, narasi tentang kesuksesan sering kali hadir dalam bentuk yang sangat konkret, seperti pekerjaan tetap, penghasilan stabil, pencapaian akademik, atau kemampuan untuk hidup mandiri di usia tertentu. Media sosial memperkuat narasi ini dengan menampilkan fragmen keberhasilan yang tampak utuh dan final.

Teman-teman sebaya saya mulai menempuh jalannya masing-masing. Ada yang telah bekerja, melanjutkan studi, atau membangun usaha. Tanpa disadari, saya mulai membandingkan diri. Bukan dalam kerangka kompetisi yang sehat, melainkan sebagai bentuk evaluasi diri yang cenderung destruktif. Perbandingan tersebut perlahan berubah menjadi tekanan, yaitu perasaan bahwa saya tertinggal, bahwa saya belum cukup, dan bahwa saya gagal memenuhi standar yang tidak pernah secara eksplisit disepakati, tetapi terasa nyata.

BACA JUGA : Paradoks dari Secangkir Kopi

Tekanan ini tidak hadir dalam ruang kosong. Ia bertemu dengan berbagai persoalan personal, baik yang berasal dari dalam diri maupun dari relasi dengan orang lain, yang terus terakumulasi tanpa penyelesaian yang jelas. Dalam konteks masyarakat kita, di mana isu kesehatan mental masih sering dianggap sebagai sesuatu yang privat atau bahkan tabu, ruang untuk membicarakan beban tersebut menjadi sangat terbatas.

Akumulasi dari berbagai faktor tersebut menciptakan kondisi psikis yang padat. Pikiran tidak lagi menjadi ruang refleksi yang produktif, melainkan berubah menjadi ruang yang sesak dan repetitif. Saya tidak hanya memikirkan masalah, tetapi juga memikirkan pikiran saya sendiri tentang masalah tersebut. Siklus ini terus berulang dan menciptakan kelelahan yang bersifat eksistensial.

Pada titik tertentu, muncul satu gagasan yang terasa sederhana sekaligus ekstrem. Bagaimana jika semua ini dihentikan.

Gagasan tersebut tidak muncul sebagai keputusan rasional yang matang. Ia hadir secara perlahan sebagai kemungkinan yang sebelumnya terasa jauh, lalu menjadi semakin dekat, hingga akhirnya tampak sebagai satu-satunya jalan keluar yang tersedia. Dalam kondisi tersebut, kematian tidak lagi dilihat sebagai sesuatu yang menakutkan, melainkan sebagai bentuk keheningan yang diinginkan. Namun, momen tersebut tidak berakhir sebagaimana yang semula saya bayangkan.

Musik sebagai Interupsi Afektif

Dalam kondisi di mana batas antara pikiran dan tindakan menjadi semakin tipis, saya melakukan sesuatu yang tampak sangat biasa, yakni memutar musik. Sebagai seseorang yang memiliki kedekatan dengan musik sejak lama, tindakan ini hampir bersifat refleksif.

Musik selalu hadir dalam keseharian saya, di perjalanan, saat belajar, bahkan saat beristirahat. Ia bukan sekadar hiburan, tetapi bagian dari cara saya berinteraksi dengan dunia.

Lagu yang saya pilih diambang kematian saat itu adalah “Wasted Nights” dari One Ok Rock, sebuah band asal Jepang yang sebelumnya diperkenalkan oleh kakak saya. Pilihan tersebut tidak didasarkan pada pertimbangan khusus, ia lebih merupakan kebiasaan yang terjadi secara otomatis. Namun, dalam konteks yang sangat spesifik tersebut, musik memainkan peran yang tidak terduga.

Alih-alih menjadi latar suara, lagu tersebut justru menciptakan interupsi, sebuah jeda dalam arus kesadaran yang sebelumnya berlangsung tanpa henti. Saya mendengarkannya sekali, lalu mengulanginya. Repetisi ini bukan sekadar kebiasaan, melainkan proses yang secara perlahan mengubah pengalaman emosional saya.

Pada titik ini, saya mulai menangis. Tangisan tersebut tidak lahir dari kesadaran akan solusi, melainkan dari perasaan yang selama ini tidak memiliki ruang untuk diekspresikan. Musik, dalam hal ini, berfungsi sebagai medium yang memungkinkan emosi tersebut muncul ke permukaan tanpa harus disensor. Salah satu bagian lirik yang paling membekas adalah:

Let's live like we're immortal
Maybe just for tonight
We'll think about tomorrow 
when the sun comes up

Lirik tersebut tidak menawarkan jawaban. Ia tidak memberikan solusi konkret atas permasalahan yang saya hadapi. Namun, ia menghadirkan pergeseran perspektif yang signifikan, terutama dalam hal orientasi terhadap waktu. Selama ini, masa depan selalu hadir sebagai sumber kecemasan. Ia dipenuhi dengan kemungkinan kegagalan, ketidakpastian, dan tekanan untuk mencapai sesuatu.

Lirik tersebut, secara sederhana, mengusulkan sesuatu yang berbeda bahwa masa depan tidak harus diselesaikan sekarang. Ia bisa ditunda. Ia bisa dipikirkan nanti, ketika hari baru dimulai.

Pergeseran ini mungkin tampak kecil, tetapi dalam kondisi psikologis yang saya alami saat itu, ia memiliki dampak yang besar. Untuk pertama kalinya, saya mempertimbangkan kemungkinan untuk tidak menyelesaikan semuanya sekaligus. Untuk pertama kalinya, saya memberi ruang bagi diri saya untuk hanya bertahan, tanpa harus langsung menemukan jalan keluar.

BACA JUGA : Balada Negara Anti Kritik

Dalam momen tersebut, keputusan saya berubah. Saya tidak lagi melihat kematian sebagai satu-satunya jalan. Saya mulai melihat kemungkinan lain, kemungkinan untuk bertahan satu hari lagi.

Musik Rock dan Regulasi Afektif

Pengalaman personal dalam merespons musik, khususnya dalam momen krisis, tidak dapat dilepaskan dari temuan empiris dalam kajian psikologi dan neurosains. Dalam beberapa dekade terakhir, musik termasuk genre dengan intensitas tinggi seperti rock dan metal telah menjadi objek studi yang serius dalam memahami bagaimana manusia meregulasi emosi.

Salah satu penelitian yang paling sering dirujuk adalah studi yang dipublikasikan dalam Frontiers in Human Neuroscience pada tahun 2015 oleh Sharman dan Dingle. Penelitian ini secara spesifik menguji hubungan antara musik ekstrem, termasuk rock dan metal, dengan pengalaman kemarahan.

Dalam eksperimen tersebut, partisipan yang mengidentifikasi diri sebagai pendengar musik ekstrem diminta untuk mengingat pengalaman yang memicu kemarahan, kemudian diberi pilihan untuk mendengarkan musik ekstrem atau duduk dalam keheningan.

Hasilnya menunjukkan bahwa kelompok yang mendengarkan musik ekstrem tidak mengalami peningkatan kemarahan. Sebaliknya, mereka menunjukkan peningkatan emosi positif serta penurunan tingkat agitasi. Musik dalam konteks ini berfungsi sebagai medium untuk melakukan penyelarasan dan pemrosesan emosi.

Artinya, kondisi emosional individu diselaraskan dengan stimulus eksternal, lalu secara bertahap diarahkan menuju keadaan yang lebih stabil. Dengan kata lain, musik rock tidak memperburuk emosi negatif, tetapi justru membantu individu memprosesnya secara lebih adaptif.

Temuan ini menjadi penting karena bertentangan dengan stereotip yang telah lama melekat dalam masyarakat. Selama ini, musik dengan tempo cepat, distorsi gitar, dan vokal yang intens kerap diasosiasikan dengan peningkatan agresivitas. Namun secara empiris, asumsi tersebut tidak sepenuhnya terbukti.

BACA JUGA : Ragam Saraf, Ragam Manusia

Laporan yang dirangkum oleh ABC News berdasarkan penelitian yang sama menunjukkan, partisipan yang mendengarkan musik dengan intensitas tinggi justru mengalami penurunan signifikan pada tingkat kemarahan, iritasi, dan stres setelah sesi mendengarkan.

Dalam beberapa kasus, musik bahkan membantu individu mengalihkan perhatian dari stimulus negatif tanpa harus menekan emosi tersebut secara paksa. Dari perspektif neurobiologis, efek ini dapat dijelaskan melalui aktivasi beberapa bagian otak yang berkaitan dengan emosi dan sistem penghargaan.

Musik, terutama yang memiliki keterkaitan emosional dengan pendengar, dapat merangsang pelepasan dopamin di area seperti nucleus accumbens yang berperan dalam menciptakan perasaan senang dan kepuasan. Pada saat yang sama, aktivitas di amygdala yang berperan dalam pemrosesan emosi seperti takut dan marah juga mengalami modulasi.

Dengan demikian, mendengarkan musik rock tidak hanya merupakan pengalaman subjektif, tetapi juga melibatkan proses neurokimia yang konkret.

Selain itu, kajian dari School of Rock menyoroti bahwa musik rock memiliki fungsi penting sebagai mekanisme katarsis emosional. Katarsis dalam konteks psikologi merujuk pada proses pelepasan emosi yang terpendam melalui medium tertentu. Dalam hal ini, musik berfungsi sebagai ruang aman bagi ekspresi emosi yang sulit disalurkan dalam interaksi sosial sehari-hari.

Musik dengan intensitas tinggi seperti rock memiliki karakteristik yang secara inheren mendukung proses ini. Tempo yang cepat, dinamika yang kontras, serta ekspresi vokal yang kuat memungkinkan pendengar untuk mengikuti emosi yang sedang dirasakan, alih-alih menekannya.

Dalam banyak kasus, proses ini menghasilkan perasaan lega setelahnya, bukan karena emosi tersebut hilang, tetapi karena ia telah diakui dan diekspresikan.

Dalam konteks pengalaman personal yang berada di ambang krisis, fungsi-fungsi tersebut menjadi sangat signifikan. Musik tidak menyelesaikan masalah, tetapi ia dapat mengubah cara individu berelasi dengan emosinya sendiri. Dalam situasi tertentu, perubahan tersebut sudah cukup untuk mencegah tindakan yang bersifat final.

Menunda sebagai Praktik Bertahan

Di Indonesia, khususnya di kalangan anak muda, tekanan psikologis sering kali tidak terlihat secara eksplisit. Ia hadir dalam bentuk yang lebih halus seperti ekspektasi keluarga, standar sosial, serta narasi keberhasilan yang terus direproduksi melalui media digital.

Kita hidup dalam masyarakat yang masih canggung membicarakan kesehatan mental secara terbuka. Ekspresi seperti “capek” atau “tidak baik-baik saja” sering kali dianggap sebagai keluhan biasa, bukan sebagai sinyal dari masalah yang lebih dalam. Akibatnya, banyak individu yang memilih untuk menyimpan beban tersebut sendiri.

Di sisi lain, media sosial menciptakan ilusi bahwa kehidupan orang lain berjalan dengan lebih baik. Pencapaian dipublikasikan, sementara kegagalan disembunyikan. Hal ini menciptakan standar yang tidak realistis, yang kemudian diinternalisasi oleh individu sebagai ukuran keberhasilan pribadi. Dalam situasi seperti ini, ruang untuk jeda menjadi sangat terbatas.

BACA JUGA : Pabrik itu Bernama Sekolah

Musik, dalam banyak kasus, menjadi salah satu dari sedikit ruang tersebut. Pengalaman saya menunjukkan bahwa bertahan hidup tidak selalu berkaitan dengan kekuatan besar atau keputusan heroik. Dalam banyak kasus, ia justru hadir dalam bentuk yang sangat sederhana, yakni menunda.

Menunda untuk menyerah. Menunda untuk mengakhiri. Menunda untuk mengambil keputusan yang bersifat final.”

Musik, dalam konteks ini, tidak menyelesaikan masalah saya. Ia tidak menghapus tekanan sosial, tidak menghilangkan kecemasan, dan tidak secara instan memberikan arah hidup. Namun, ia menciptakan ruang kecil, ruang di antara impuls dan tindakan. Dan dalam situasi tertentu, ruang sekecil itu sudah cukup.

Saya tidak keluar dari pengalaman tersebut sebagai individu yang sepenuhnya pulih. Hingga saat ini, saya masih bergulat dengan berbagai bentuk kecemasan dan ketidakpastian. Namun, ada satu hal yang berubah. Cara saya memandang waktu.

Saya tidak lagi berusaha menyelesaikan seluruh hidup saya sekaligus. Saya belajar untuk menjalani hari demi hari, bahkan jam demi jam, jika diperlukan. Dalam kerangka ini, bertahan hidup bukanlah tujuan akhir, melainkan praktik yang terus diulang. Ia tidak selalu spektakuler, tidak selalu terlihat, tetapi tetap berlangsung, dan itu sudah cukup. Sebab jika boleh mengutip lirik lagu dari Senartogok, bertahan adalah bentuk cinta terliar.

 


Catatan Redaksi: Informasi dalam artikel ini ditujukan untuk meningkatkan kesadaran publik. Jika Anda, keluarga, atau teman Anda sedang mengalami masa-masa sulit, merasa putus asa, atau memiliki pikiran untuk menyakiti diri sendiri, jangan ragu untuk mencari bantuan. Hubungi nomor darurat atau layanan konseling terdekat. Anda tidak sendirian.