MENJELANG pukul tujuh malam, pelataran Teater Arena ISI Yogyakarta belum sepenuhnya sunyi. Orang-orang masih bergerak ke sana kemari, menyelesaikan percakapan yang tertunda, memeriksa tiket, atau sekadar menikmati suasana sebelum pintu masuk dibuka. Di sela obrolan yang terdengar samar, beberapa kali nama Emesis muncul. Sebuah judul yang malam itu akan membawa para penontonnya memasuki ruang yang sama, meski dengan harapan dan rasa ingin tahu yang berbeda-beda.
Tidak lama kemudian, pintu ruang pertunjukan dibuka. Penonton mulai memasuki ruangan. Kursi-kursi perlahan terisi. Sambil menunggu pertunjukan dimulai, ruangan masih menyisakan riuh yang khas. Percakapan pendek terdengar dari berbagai arah, bercampur dengan langkah orang-orang yang masih mencari tempat duduknya.
Namun perhatian sebagian penonton tampaknya segera tertuju ke arah panggung. Sebelum pertunjukan dimulai, sebuah proyeksi telah lebih dulu hadir di ruang itu. Seekor ikan tampak bergerak perlahan pada panel-panel yang menggantung di atas panggung. Ia berenang dari satu sisi ke sisi lain, sesekali menghilang di balik lipatan bidang lalu muncul kembali di sudut yang berbeda. Hanya gerakan yang terus berulang, seolah membiarkan dirinya mengitari ruang yang sama.
Di tengah riuh penonton yang masih berlangsung, gambar itu menghadirkan suasana yang berbeda. Ada sesuatu yang tenang, tetapi sekaligus membuat panggung terasa lengang. Beberapa penonton tampak memandangnya cukup lama, sementara yang lain sesekali mengangkat telepon genggam untuk mengabadikan pemandangan yang belum sepenuhnya mereka pahami.
Jika ingatan memiliki tubuh, di mana ia akan tinggal? Jika kehilangan memiliki bentuk, seperti apa wajahnya?” kalimat tersebut terdengar sederhana, tetapi cukup membuat ruangan menjadi lebih tenang. Dan malam itu pun dimulai.
Dipentaskan pada 31 Mei 2026 di Teater Arena ISI Yogyakarta, Emesis merupakan adaptasi dari naskah karya penulis Estonia Heneliis Notton yang di terjemahkan Meyda Besstari dan disutradarai Muhammad Abdurahman Rais. Pertunjukan ini mengikuti perjalanan Sabi sebagai tokoh utama yang diperankan Shalsa Ledi, menceritakan seorang remaja yang tumbuh di tengah situasi yang tidak selalu ramah, mencoba memahami dirinya sendiri sekaligus orang-orang yang berada di sekitarnya.
Sejak awal dimulai pertunjukan Emesis justru bukan bagaimana ia menceritakan peristiwa demi peristiwa, melainkan bagaimana ia membangun suasana. Tidak ada pembukaan yang terburu-buru. Tidak ada keinginan untuk langsung membuat penonton terkejut. Pertunjukan berjalan perlahan, seolah memberi kesempatan kepada setiap orang yang hadir untuk menyesuaikan diri dengan dunia yang sedang dibangun di atas panggung.
BACA JUGA : Rantai Trauma Kemiskinan Anak
Di beberapa bagian, penonton dibuat tertawa atas percakapan-percakapan yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pada bagian lain, suasana berubah menjadi lebih hening. Tidak sedikit yang tampak memusatkan perhatian mereka sepenuhnya kepada para pemain, bagaimana para pemain membangun hubungan antartokoh dengan cukup meyakinkan tidak ada upaya untuk membuat karakter terlihat lebih besar dari kehidupan nyata, sebaliknya, mereka tampil sebagai manusia biasa dengan kebiasaan-kebiasaan kecil yang akrab ditemui sehari-hari.
Sabi hadir seperti remaja pada umumnya. Ia berbicara, bercanda, marah, dan merespons dunia di sekelilingnya dengan cara yang terasa akrab bagi banyak penonton. Tidak ada tanda-tanda yang secara langsung menunjukkan ia sedang membawa beban yang luar biasa besar. Justru karena tampil begitu biasa, Sabi terasa dekat.
Ia tampak seperti anak muda yang mungkin dapat ditemui di ruang kelas, di halte bus, atau duduk diam di meja sebelah sebuah kafe, namun perlahan, melalui monolog-monolog yang disampaikan sepanjang pertunjukan, lapisan demi lapisan kehidupannya mulai terbuka. Penonton tidak lagi melihat seorang remaja yang sekadar kebingungan menghadapi masa depan, melainkan seseorang yang sedang berusaha menyusun kembali pengertian paling dasar tentang keluarga, rasa aman, dan dirinya sendiri.
Dalam salah satu monolognya, Sabi berkata, “Aku nggak ngerti apa itu keluarga. Secara hukum, tentu saja, tapi aku rasa aku nggak paham secara emosional.” Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menjadi salah satu kunci untuk memahami seluruh perjalanan karakternya. Bagi Sabi, keluarga bukanlah tempat yang secara otomatis menghadirkan perlindungan atau rasa memiliki. Keluarga adalah ruang yang penuh pertanyaan, kehilangan, dan hubungan-hubungan yang tidak pernah benar-benar selesai.
Pengalaman yang membentuk cara pandangnya terhadap dunia perlahan muncul dalam kepingan-kepingan cerita yang tidak selalu mudah didengar. Penonton diajak menyaksikan bagaimana kekerasan telah hadir dalam hidupnya sejak usia yang sangat muda. Trauma yang ia alami tidak hanya meninggalkan luka pada tubuh, tetapi juga mengubah caranya memandang orang lain, membangun kedekatan, dan mempercayai dirinya sendiri.
Karena itu, kemarahan Sabi tidak pernah terasa sebagai kemarahan yang muncul begitu saja. Kebingungannya bukan kebingungan yang lahir dari keraguan remaja semata. Di baliknya terdapat pengalaman-pengalaman yang terlalu berat untuk dipikul seorang anak. Ada masa kecil yang terampas, ada rasa aman yang direnggut, dan ada kebutuhan untuk bertahan hidup di tengah keadaan yang terus mengujinya.
Pada titik tertentu, Sabi tidak lagi terasa sebagai representasi satu generasi tertentu. Ia menjadi representasi manusia yang berusaha tetap hidup setelah mengalami sesuatu yang seharusnya tidak pernah ia alami. Dan justru di situlah letak kekuatan karakter ini. Pertunjukan tidak meminta penonton untuk mengasihaninya. Sebaliknya, penonton diajak melihat bagaimana seseorang mencoba bertahan, meskipun dunia yang membentuknya berkali-kali gagal memberikan perlindungan.
Ketika berbagai fragmen masa lalunya akhirnya tersusun menjadi gambaran yang lebih utuh, banyak adegan yang sebelumnya tampak biasa mendadak memperoleh makna yang berbeda. Cara Sabi berbicara, caranya menjaga jarak, caranya merespons orang lain, hingga caranya memahami cinta dan keluarga, semuanya perlahan menemukan konteksnya sendiri. Penonton tidak hanya melihat apa yang dilakukan Sabi, tetapi mulai memahami mengapa ia menjadi Sabi.
BACA JUGA : Menunda Kematian dengan Musik Rock
Kehadiran para karakter lain juga memberi warna tersendiri. Mereka tidak hanya hadir sebagai pelengkap perjalanan Sabi, tetapi memiliki ruang untuk menunjukkan kegelisahan, harapan, dan cara mereka masing-masing menghadapi persoalan. Hubungan di antara mereka terasa seperti hubungan yang benar-benar hidup, dengan kedekatan, konflik, dan jarak yang berubah dari waktu ke waktu.
Selain permainan aktor, salah satu hal yang paling menarik perhatian malam itu adalah penggunaan medium film di dalam pertunjukan. Alih-alih menjadi sekadar latar visual, film justru hadir sebagai bagian dari pengalaman menonton itu sendiri. Beberapa adegan yang muncul melalui layar terasa seperti membuka ruang lain yang tidak bisa sepenuhnya ditampilkan di atas panggung. Tidak ada kesan keduanya sedang saling berebut perhatian. Sebaliknya, film dan teater berjalan beriringan, saling melengkapi dan membangun pengalaman yang berbeda bagi penonton.
Di tengah perkembangan teknologi dan semakin mudahnya orang menikmati hiburan melalui layar gawai, keputusan untuk mempertemukan film dan teater dalam satu ruang pertunjukan terasa menarik. Bukan karena menghadirkan sesuatu yang sepenuhnya baru, tetapi karena memperlihatkan bagaimana kedua medium tersebut dapat saling berbicara. Layar tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap, melainkan seperti ruang lain yang hidup berdampingan dengan panggung.
Tidak semua penonton merespons pertunjukan dengan cara yang sama ketika adegan demi adegan bergerak menuju bagian akhir, tidak terasa dua jam telah berlalu. Waktu seolah berjalan lebih cepat. Dan ketika pertunjukan selesai, tepuk tangan panjang terdengar memenuhi ruangan sebagai penghormatan.
Ketika para pemain memberikan salam penghormatan dan tepuk tangan mulai mereda, tidak semua penonton segera beranjak dari kursinya. Sebagian masih memandang panggung yang selama dua jam telah menjadi tempat hidup bagi kisah-kisah yang baru saja mereka alami, dari tubuh para pemain menuju ingatan masing-masing orang yang hadir malam itu.
Barangkali tidak semua orang akan mengingat adegan yang sama. Ada yang mungkin akan mengingat tawa yang sempat pecah di tengah pertunjukan. Ada yang akan mengingat monolog-monolog Sabi yang perlahan membuka lapisan hidupnya yang paling rapuh. Ada pula yang mungkin hanya akan mengingat sebuah perasaan yang sulit dijelaskan, perasaan yang tetap tinggal bahkan setelah cerita berakhir.
Sebab pada akhirnya, Emesis tidak hanya berbicara tentang apa yang terjadi pada Sabi. Pertunjukan ini juga mengajak penonton berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan dalam kehidupan sehari-hari. Tentang bagaimana seseorang bertahan setelah mengalami kekerasan. Tentang bagaimana luka dapat hidup begitu lama di dalam diri seseorang. Tentang bagaimana keluarga tidak selalu hadir dalam bentuk yang sederhana dan mudah dipahami. Dan tentang bagaimana manusia terus mencari cara untuk merasa dimengerti, bahkan ketika bahasa terasa tidak lagi cukup.
Mungkin karena itulah pertunjukan ini terasa dekat. Bukan karena semua penonton memiliki pengalaman yang sama dengan Sabi, melainkan karena setiap orang pernah berusaha memahami sesuatu yang tidak sepenuhnya bisa dijelaskan.
Pernah kehilangan, pernah merasa asing terhadap dirinya sendiri, atau pernah berdiri di hadapan hidup tanpa benar-benar tahu ke mana harus melangkah. Semua itu telah hadir bahkan sebelum pertunjukan dimulai. Sebelum para aktor memasuki panggung. Sebelum dialog pertama diucapkan. Sebelum penonton mengenal siapa itu Sabi.
Seekor ikan telah lebih dulu berenang perlahan di antara panel-panel yang menggantung di atas panggung. Ia bergerak tanpa tergesa, mengitari ruang yang sama berulang kali, muncul dan menghilang di antara bidang-bidang yang memecah tubuhnya menjadi fragmen-fragmen cahaya. Saat itu, mungkin tidak banyak yang memikirkan maknanya. Ia hanya sebuah gambar yang menemani penonton menunggu pertunjukan dimulai. Namun setelah cerita berakhir, gambar itu terasa berbeda.
BACA JUGA : Semesta Ngepang, Pelestari Seni Cukil
Ia seperti gema dari perjalanan yang baru saja dilalui. Tentang seseorang yang terus bergerak di dalam ruang yang sempit. Tentang upaya untuk menemukan arah di tengah keadaan yang tidak selalu ramah. Tentang keinginan sederhana untuk bertahan hidup, meskipun dunia di sekelilingnya berkali-kali berubah dan mungkin, seperti ikan yang terus berenang itu, sebagian dari penonton akan membawa pulang sesuatu dari Emesis.
Bukan jawaban yang pasti. Bukan pula kesimpulan yang selesai. Melainkan sejumlah pertanyaan, potongan perasaan, dan fragmen-fragmen kecil yang akan terus bergerak di dalam ingatan mereka, sebab beberapa pertunjukan berakhir ketika lampu dipadamkan. Tetapi ada pula pertunjukan yang memilih tinggal sedikit lebih lama. Dan pada malam itu, di Teater Arena ISI Yogyakarta, Emesis tampaknya memilih cara yang kedua.