ASEP KURNIAWAN memilih berhenti sejenak di depan Ruko Palm Spring, Kecamatan Batam Kota. Malam itu (15/2/2026), ia merasa lelah dan memutuskan tak melanjutkan perjalanan. Ia sandarkan kepalanya ke stang motornya. Harapannya, istirahat sebentar membuat tubuhnya kembali bugar dan siap menerima orderan.
Warga yang melintas mengira Asep tertidur. Namun nasib berkata lain. Asep meninggal di atas motor kesayangannya. Tubuhnya tak kuasa lagi menahan lelah dan belakangan diketahui, Asep memiliki riwayat pembengkakan jantung yang dideritanya selama enam bulan terakhir. Meski masih menjalani pengobatan, Asep tetap bekerja hingga empat jam per hari demi menghidupi istri dan ketiga anaknya.
Di tempat lain, tepatnya di Jalan BKR yang lengang, jarum jam baru saja melewati pukul 01.20 WIB, ketika Irwanto (43) masih memacu sepeda motornya menembus dinginnya udara Bandung. Tubuhnya lelah, tetapi daftar pesanan ojek online menuntutnya terus bergerak. Di depan Masjid An-Nur, sebuah mobil lepas kendali dan menghantamnya. Perjalanan mencari nafkah itu terhenti seketika, Sabtu (30/3/2024).
Situasi ini mencerminkan realitas banyak pekerja sektor informal, yang tetap bekerja di tengah kondisi kesehatan dan risiko keselamatan di jalan yang memburuk karena tekanan ekonomi. Situasi ini juga tidak memberi mereka banyak pilihan, tetap mengaspal apa pun kondisinya demi mendapatkan order dengan sistem yang dikuasai sepenuhnya oleh perusahaan aplikasi.
BACA JUGA : Menuju Bencana Ekologis Permanen
Namun, ada faktor lain yang kerap luput dari perhatian, yaitu krisis iklim. Krisis iklim mengubah pola kerja dan hidup manusia, termasuk mereka yang berjibaku di jalanan. Musim tak lagi datang sesuai siklus alami. Sering kali musim hujan disertai badai hadir lebih lama. Kadang kala, di pagi sampai siang matahari terik bersinar, sore sampai malamnya hujan turun deras.
Krisis iklim adalah kondisi darurat yang terjadi secara global akibat pemanasan suhu tubuh dan perubahan pola cuaca yang ekstrem. Penyebabnya, aktivitas manusia, seperti deforestasi, emisi gas buang, dan aktivitas perusakan lingkungan lainnya yang menjadi ancaman serius bagi kelangsungan hidup manusia, ekosistem, ketahanan pangan, dan perekonomian, yang sering ditandai dengan banjir, kekeringan, hingga kenaikan muka air laut.
Di musim kemarau, suhu panas yang semakin ekstrem pada siang hari mendorong banyak pengemudi memilih bekerja pada malam atau dini hari. Risiko pun berubah, dari paparan panas menjadi udara dingin nan lembab di malam hari yang berisiko pada kesehatan. Dan tentu saja, kecelakaan di jalan yang sepi dan minim visibilitas juga menjadi ancaman.
Di sisi lain, panas ekstrem juga memperberat kerja tubuh. Paparan suhu tinggi dalam waktu lama dapat meningkatkan kelelahan dan risiko gangguan jantung, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit.
Dalam konteks ini, kondisi yang dialami Asep dan Irwanto tidak berdiri sendiri. Yang mereka alami menunjukkan satu pola yang sama, yaitu tekanan ekonomi, krisis iklim, sistem kerja tak adil, meningkatkan risiko pekerja jalanan ini. Kombinasi malapetaka itu ditambah tanpa perlindungan memadai, menciptakan kerentanan berlapis, yang sering kali baru disadari setelah hilangnya nyawa.
Berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS), selama periode 2022 hingga 2024, jumlah kecelakaan lalu lintas tetap menunjukkan angka yang tinggi, yakni sebanyak 139.258 kasus (2022), 152.008 kasus (2023), dan 150.906 kasus (2024). Tren ini terjadi di tengah fenomena cuaca ekstrem yang kerap melanda belakangan ini.
Meskipun angka kematian mengalami penurunan dari 28.131 menjadi 26.839 jiwa, risiko cedera justru menunjukkan tren sebaliknya, luka ringan yang melonjak signifikan dari 160.449 orang (2022) menjadi 183.995 orang (2024). Serta, luka berat meningkat dari 13.364 menjadi 16.601 orang.
Data ini mempertegas tingginya tingkat kerentanan pengguna jalan, khususnya pengemudi ojek online, terhadap risiko kecelakaan yang diperparah oleh dampak krisis iklim. Setiap hari, pengemudi ojek online melintasi batas-batas ketahanan tubuh.
Saat kemarau, mereka menghirup polusi, sengatan matahari sampai dehidrasi. Sedangkan, saat hujan deras, mereka memacu motor di atas aspal yang licin, menerjang dingin yang menusuk tulang. Semuanya demi menghindari performa yang anjlok yang berakibat pada hilangnya order.
Pengemudi Lansia Hadapi Risiko Tinggi
Seorang ibu menyalakan mesin motornya saat matahari masih menyelinap di balik punggung gedung perkotaan. Jaket jingga, masker, juga sarung tangan andalan ia kenakan. Meski kulitnya kian berkerut dimakan usia, dirinya menolak untuk sekadar berdiam di rumah.
Titik Sri Hartini (59) memacu kuda besinya menyusuri jalan beraspal di Surabaya. Sejak wabah Covid-19 menumbangkan banyak usaha pada 2020, ia tertarik mencoba peruntungan menjadi pengemudi ojek online untuk mengisi waktu dan menyibukkan diri. Enam tahun sudah ia menjalani pekerjaan jalanan tersebut.
Sejak itu pula, Titik bergelut dengan cuaca yang tak menentu. Panas dan hujan datang silih berganti secara ekstrem. Musim tak lagi sama seperti masa mudanya, enam bulan musim panas, enam bulan musim hujan. Tentu, tantangan berikutnya adalah tubuhnya tak sebugar dulu, dan penghasilannya bergantung pada orderan aplikasi pengirim makanan.
Selama musim panas, pesanan yang masuk bisa disebut lancar. Dalam sehari, ia dapat mengantongi Rp 200 ribu-Rp 250 ribu. Saat musim hujan, penghasilan Titik merosot hingga 50 persen menjadi Rp100 ribu–Rp150 ribu per hari. Penurunan ini terjadi karena ia harus sering mematikan aplikasi atau berteduh demi keselamatan ketika hujan lebat.
Berapa pun yang ia dapatkan, baik panas maupun hujan, masih harus dipotong ongkos bensin dan logistik selama bekerja. Setelah itu, ia baru bisa menghitung sisa uang untuk kebutuhan harian keluarga. Titik masih harus memutar otak untuk membiayai perawatan motor berkala dan pembelian suku cadang kendaraannya.
Namun, hujan deras menjadi situasi yang pelik baginya karena meningkatkan risiko kerusakan motor akibat menerjang banjir atau menambah potensi kecelakaan. Sebab, adanya kubangan air yang menutupi lubang di jalan mengakibatkan pengemudi terperosok dan merusak suspensi motor, bahkan hilang nyawa.
BACA JUGA : Dikepung Racun di Darat, Laut dan Udara
Di kondisi itu, ia memilih untuk menghentikan laju motornya dan menonaktifkan aplikasi sampai hujan berhenti. Titik mengaku tak ingin mengambil risiko, terlebih fisiknya tak sekuat dulu. “Otomatis kami tidak bisa mengaktifkan aplikasi dan harus menunggu hujan berhenti. Kondisi itu juga memengaruhi jumlah pesanan yang masuk, sehingga penghasilan ikut berkurang,” ujarnya, pada Jumat, 16 Januari 2026.
Selain itu, Titik mengatakan, masih mengeluarkan biaya pribadi sekitar Rp150 ribu untuk perlengkapan tambahan, seperti jas hujan penumpang, pelindung ponsel agar tak basah, serta kantong plastik ukuran besar untuk membungkus paket atau tas milik pelanggan supaya selamat dari terjangan hujan.
“Saya juga siap-siap tali, kalau dapat orderan barang. Jika pakai tali rafia, itu tidak mumpuni untuk keselamatan barang. Saya siapkan ban dalam, saya gunting, lalu saya buat jadi tali, karena lebih kuat. Barang tidak bisa goyang ke sana-sini.”
Selama cuaca panas atau hujan deras, dirinya tak lupa memperhatikan kondisi tubuh. Titik rutin mengonsumsi vitamin dan membawa sebotol air minum ukuran 1,5 liter untuk menghindari dehidrasi, terutama saat menghadapi panas menyengat.
Kemarau ekstrem terjadi secara global. Liputan yang dipublikasi Pulitzer Center berjudul Bekerja Berisiko di Hadapan Panas yang Tidak Musiman yang dikerjakan oleh Juliana Quintana, dkk, pada 2023 menjelaskan, Paraguay juga menghadapi krisis iklim yang ditandai dengan meningkatnya frekuensi dan intensitas gelombang panas.
Dalam penelitian itu, selama 40 tahun terakhir, jumlah gelombang panas meningkat hingga tiga kali lipat. Kondisi ini berdampak besar pada ojek online, terutama di Greater Asuncion, salah satu kawasan terpanas di Amerika Latin, di mana suhu udara kerap melampaui 40 derajat Celsius. Di Indonesia, pada 2025 tercatat sebagai tahun terpanas kedua dalam sejarah.
Bekerja di bawah paparan panas ekstrem dapat memicu kondisi medis serius yang dikenal sebagai “stres panas”. Pada kondisi ini, sistem pendinginan alami tubuh melalui keringat mulai tidak berfungsi optimal, sehingga menimbulkan kelelahan, pusing, sakit kepala, hingga risiko kesehatan lain yang bisa berujung kematian.
BACA JUGA :
Asal-usul Pekerja Informal di Indonesia (Bagian I)
Asal-usul Pekerja Informal di Indonesia (Bagian II)
Penelitian itu menunjukkan, suhu internal tubuh ojek online di sana kerap melampaui batas normal 37 derajat Celsius, bahkan mencapai tingkat hipertermia ringan ketika bekerja pada rentang pukul 11.00 hingga 16.00. Jika tidak ditangani segera, “stres panas” dapat berkembang menjadi serangan panas atau heat stroke yang memicu risiko jangka panjang seperti penyakit ginjal dan gangguan jantung.
Kondisi medis berupa “stres panas” yang diulas dalam liputan Pulitzer Center memiliki kaitan erat dengan risiko kecelakaan ojek online. Hal ini dikarenakan “stres panas” memicu kelelahan ekstrem yang menjadi penyebab utama kecelakaan pengemudi ojek online di berbagai belahan dunia.
Titik, dan mungkin jutaan pengemudi ojek online tidak pernah membaca laporan ini. Titik sendiri juga tak memahami apa itu krisis iklim dan segala teorinya. Tapi yang jelas, Titik dan jutaan manusia yang senasib dengannya, menanggung risiko dari situasi ini, krisis iklim dan segala dampak-dampaknya.
Bagi Titik, walaupun dihantam dampak-dampak krisis iklim, dirinya tetap harus menjalani pekerjaan ini karena ketiadaan pilihan. Fleksibilitas waktu, menjadi alasan utamanya. Baginya, menjadi ojek online adalah "jalan-jalan yang menghasilkan uang" sekaligus terapi kesehatan mental agar tidak stress karena berdiam diri di rumah.
“Saya bekerja sebagai ojek online itu ada senang dan tidak senangnya. Tidak senangnya ketika ada masalah, misalnya dari pelanggan atau dari pihak aplikator. Tapi senangnya, saya bisa jalan-jalan sambil menghasilkan uang. Kalau hanya di rumah, malah bisa bikin sakit,” jawabnya.
Menerobos Banjir, Mesin Motor Rusak
Di suatu siang bolong, saya menemui David Agus Siswanto (43) di sebuah tempat kopi di daerah Semolowaru, Surabaya. Banyak pengemudi ojek online yang berkumpul di sana. David duduk sambil mengasuh anaknya, sebelum akhirnya mengobrol dengan saya.
Saat hujan deras, kata David, lokasi pengambilan pesanan sering kali menjadi sangat jauh, dalam istilah ojek online disebut “jebles”. Hujan deras pun berisiko menyebabkan banjir yang dapat merusak mesin motor. Uang hasil orderan seharian, bahkan tak cukup untuk ongkos perbaikan motornya.
Suatu waktu, David berkata, sepeda motor yang mogok dan bermasalah pada bagian mesin akibat menerjang banjir karena harus segera mengantarkan order, biaya servisnya mencapai Rp500 ribu. Sekali lagi, tak ada pilihan buatnya. Kondisi hujan deras semacam itu dapat menurunkan performa akun apabila pengemudi terpaksa membatalkan pesanan.
“Iya, berpengaruh ke pendapatan. Soalnya kalau cuaca ekstrem, rata-rata driver tidak berani ambil risiko. Risikonya kalau banjir, kita harus menerabas. Kalau sampai mogok atau motor rusak, ya harus servis,” katanya.
Itu sejalan dengan pengalaman Titik, hujan deras kerap menimbulkan kubangan air di sepanjang jalan. Genangan ini menutupi lubang jalan, sehingga ojek online berisiko terjatuh, mengalami kerusakan suspensi, bahkan kecelakaan yang tak diinginkan.
BACA JUGA : Live Shopping dan Krisis Iklim
Lain hujan, lain juga panas. Cuaca terik membuat pengemudi ojek online lebih cepat kelelahan, pusing, dan mengalami dehidrasi. Kondisi itu meningkatkan pengeluaran David untuk membeli air minum, yang bisa mencapai 2-3 botol ukuran besar 1,5 liter per hari.
Apabila kita cek di minimarket atau toko kelontong, harga air minum ukuran itu mencapai Rp 5-7 ribuan, jika dikalikan tiga botol sudah Rp 15-21 ribuan per hari. Itu cukup untuk menguras pemasukan hariannya. Lagi-lagi ia tak punya pilihan kecuali berkompromi dengan situasi sekali pun harus mengeluarkan uang lebih banyak.
Ya, pengemudi ojek online juga rentan terserang penyakit seperti masuk angin atau demam, akibat tetap bekerja di tengah cuaca buruk demi memenuhi kebutuhan keluarga di rumah. Sebab, bagi orang-orang seperti mereka, tak ada pilihan lain untuk menjalani ini. Perusahaan aplikasi, memiliki kuasa penuh mengatur sistem dan pengemudi tak memiliki daya tawar apa pun.
“Sering, Mas. Kalau musim hujan itu sering masuk angin, badan terasa tidak enak. Soalnya mau tidak mau kita tetap harus ambil orderan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk beli bensin dan rokok,” katanya.
Tak jauh berbeda dengan ulasan dalam penelitian berjudul Dampak Perubahan Iklim terhadap Aktivitas Kerja Pengemudi Ojek Online di Kota Samarinda yang menjelaskan, perubahan iklim berdampak nyata terhadap kesehatan dan pendapatan pengemudi ojek online. Ini seperti yang dialami oleh Titik dan David di Surabaya.

Dikerjakan oleh Nadya Citra Septia Zena dan Sukapti dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Mulawarman pada 2025, menunjukkan pengemudi full time menghadapi risiko yang lebih besar. Dampak kesehatan yang tercatat antara lain dehidrasi dan kelelahan, disertai penurunan pendapatan akibat berkurangnya jam kerja saat cuaca memburuk.
“Pengemudi dengan status pekerjaan utama lebih rentan secara kesehatan dan ekonomi, sedangkan pengemudi sampingan memiliki fleksibilitas lebih besar dalam mengelola risiko,” tulis peneliti.
Temuan mirip muncul dalam penelitian berjudul Dampak Perubahan Iklim terhadap Gangguan Kesehatan dan Kelelahan pada Pekerja Ojek Online yang disusun oleh Dihartawan, Azizah Zen, Januar Ariyanto, dan Hanifah Fajriah dari Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Jakarta.
Penelitian itu melibatkan 100 pengemudi ojek online yang dipilih melalui purposive sampling. Hasil analisis menunjukkan, suhu lingkungan berpengaruh signifikan terhadap tingkat kelelahan kerja pengemudi.
“Temuan ini menegaskan adanya hubungan linear antara peningkatan suhu lingkungan dan meningkatnya tingkat kelelahan yang dialami pekerja di lapangan,” tulis peneliti.
Dalam laporan tersebut, peneliti mencatat, ada 86 pengemudi ojek online atau 86 persen responden menyatakan suhu dan kondisi cuaca berdampak langsung pada pekerjaan serta kinerja mereka. Sementara itu, 82 persen responden mengakui bahwa kelelahan kerja yang mereka alami dipengaruhi perubahan iklim.
Secara demografis, mayoritas responden berjenis kelamin laki-laki (89 persen) dan berada pada rentang usia produktif 20–39 tahun (79 persen). Dari sisi kebiasaan konsumsi cairan, sebagian besar responden hanya mengonsumsi air minum antara 500 mililiter hingga 1 liter per hari (36 persen), persentase yang sedikit dan berpotensi memperparah risiko kelelahan dan gangguan kesehatan akibat paparan suhu tinggi.
“Semakin tinggi suhu yang dirasakan pengemudi, semakin besar pula tingkat kelelahan kerja yang dialami,” imbuhnya. Temuan yang memperkuat bukti perubahan iklim bukan sekadar isu lingkungan, melainkan persoalan ekonomi, kesehatan, dan keselamatan kerja yang nyata bagi pekerja informal seperti pengemudi ojek online.
Bagi David, selama musim penghujan, libur sekolah, dan libur kuliah, pendapatan ojek online bisa turun drastis hingga 50 persen, mirip yang dialami Titik. Dari pendapatan Rp 200 ribu-Rp 300 ribu per hari, dirinya terkadang hanya membawa pulang Rp 80 ribu-Rp 150 ribu setelah dipotong biaya bensin, makan, air minum, dan rokok.
Di sisi lain, dirinya harus membeli peralatan tambahan dengan uang pribadi, seperti jas hujan untuk penumpang dan pelindung ponsel agar tak basah kuyup, dengan biaya sekitar Rp120 ribu. Itu terjadi karena perusahaan aplikasi tidak menyediakan fasilitas itu secara gratis, ojek online dipaksa modal sendiri.
Ia juga kerap menghadapi komplain pelanggan akibat keterlambatan saat hujan atau kondisi kemasan makanan yang basah, meskipun situasi tersebut sering kali berada di luar kendali pengemudi. Tak jarang, konsumen memberikan nilai buruk kepadanya hingga berakibat pada sanksi dan menurunnya performa akun.
“Kalau sedang hujan, kadang di satu lokasi itu terjadi antrean, apalagi kalau sedang promo. Biasanya harus menunggu sekitar 10 sampai 15 menit. Ada juga (pelanggan) yang jadi rewel karena merasa terlalu lama. Padahal sudah diberi tahu kalau masih antre, tapi tetap ada yang marah-marah,” ujarnya.
Menurutnya, lonjakan pesanan biasanya mengikuti ritme aktivitas kota. Pesanan mulai ramai pada jam berangkat kerja atau sekolah antara pukul 05.00–09.00, kemudian memuncak kembali saat jam istirahat siang pukul 12.00, hingga berlanjut ke malam hari. Kawasan perkantoran, sekolah, dan pusat kota pun menjadi titik utama perburuan pesanan.
“Biasanya memang ramai, tapi hanya di titik-titik tertentu. Termasuk di tengah kota dan kawasan perkantoran,” katanya, “Sekarang mahasiswa libur sampai Februari 2026. Otomatis penghasilan driver berkurang. Makanya, kalau hanya mengandalkan satu aplikasi, hasilnya hampir tidak ada.”
Dari semua kisah itu, krisis iklim bukan sekadar isu lingkungan, melainkan ancaman nyata bagi keselamatan pekerja sektor informal seperti ojek online. Kombinasi antara tekanan ekonomi, kelelahan fisik, dan cuaca ekstrem menciptakan kerentanan berlapis yang membahayakan nyawa.
Ulasan Muhammad Akbar Darojat Restu Putra dalam opininya di projectarek.id menunjukkan, di era yang kerap disebut Gig Economy ini, populasi ini, salah satunya diisi oleh pengendara ojek online. Data dari Government Relations Specialist Maxim Indonesia menyebut bahwa terdapat 7 juta orang yang menggantungkan hidup di pekerjaan ini. Mereka harus rela bekerja dalam kerasnya jalanan selama berjam-jam dengan pendapatan yang tak pasti.
Sehingga, adalah omong kosong bila menyebut mereka sebagai “mitra” dan bukan buruh/pekerja. Pengusaha aplikasi Gojek memang mengakali mereka dengan menggunakan istilah mitra bukan buruh/pekerja.
Dengan ini, pengusaha Gojek lepas tanggung jawab untuk memberikan hak-hak dasar mereka sebagai pekerja. Selain itu, “kepastian upah layak tidak diperoleh pekerja gig, karena dilanggengkannya kontrol yang sangat ketat oleh Gojek. Melalui praktik bintang gaib, order basi, dan melempar order jauh telah membuat pengemudi ojek online menjadi sepi order dan kesulitan mendapat upah yang layak.” (bersambung)