Skip to main content
Foto: Robertus Risky/Project Arek
Cerita Mendalam
Krisis Iklim Dibayar Nyawa Pengemudi Ojol (2)
Krisis iklim menjadi ancaman nyata bagi pengemudi ojek online yang bekerja di tengah cuaca ekstrem. Di Surabaya, pendapatan mereka turun hingga separuh saat musim hujan akibat meningkatnya risiko di jalan, sementara panas ekstrem memicu dehidrasi dan meningkatkan potensi kecelakaan hingga hilangnya nyawa.

KRISIS IKLIM memberi dampak ganda bagi pengemudi ojek online, baik secara ekonomi, kesehatan juga keselamatan. Saat musim hujan, pendapatan merosot karena tingginya risiko di jalan, sementara pada musim kemarau, panas ekstrem yang bisa mengakibatkan heat stress dan berujung pada kematian.

Hasan Basri (53) duduk lesehan sambil menyeruput kopi di sebuah warung kopi di kawasan Kayoon, Surabaya. Ia mengatakan musim hujan membuat pendapatan sebagai pengemudi ojek online turun drastis, bahkan hingga 60 persen, lebih banyak dari kedua narasumber sebelumnya, Titik dan David.

Pada musim kemarau, Hasan bisa memperoleh rata-rata Rp300 ribu per hari. Namun, saat musim hujan, pendapatannya turun menjadi sekitar Rp120 ribu-Rp130 ribu per hari. Baginya, penurunan penghasilan itu sangat besar sekaligus berpengaruh pada urusan rumah tangganya.

BACA JUGA : Krisis Iklim Dibayar Nyawa Pengemudi Ojol (1)

Seperti yang sebelumnya, hujan deras kerap memaksa pengemudi menghentikan aktivitas karena tingginya risiko keselamatan. Hasan memperkirakan hanya 30 persen pengemudi yang tetap bekerja saat hujan, umumnya terbatas pada layanan mengantar makanan saja.

Hasan Basri (53) mengaku semakin berat menjalani pekerjaan sebagai pengemudi ojek online. Sistem aplikasi semakin rumit dan cuaca yang tak menentu menjadi tekanan tambahan untuk ia mencari nafkah. (Rangga Prasetya Aji Widodo/Project Arek)

Hasan pun butuh pasokan air mineral lebih banyak saat musim kemarau. Baginya, pendapatan saat cuaca panas juga relatif stabil karena tidak terdapat hambatan yang berarti. Sebaliknya, musim hujan membuat pengemudi ojek online lebih rentan jatuh sakit. Untuk menyiasati itu, ia mengonsumsi vitamin, minuman herbal, atau susu untuk menjaga daya tahan tubuhnya.

Kepala Laboratorium “Manusia, Budaya, dan Ragawi" di Departemen Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Airlangga, Prof. Muhammad Adib menjelaskan, dalam antropologi ekologi, manusia dipandang sebagai aktor yang terus melakukan negosiasi dengan lingkungan hidupnya.

Di kota pesisir atau dataran rendah seperti Surabaya, peningkatan suhu ekstrem dan banjir rob bukan sekadar fenomena alam, melainkan "tekanan lingkungan" yang memaksa pengemudi ojek online melakukan adaptasi fisik yang berat, minimal dalam suhu ekstrem, dan banjir rob.

“Suhu ekstrem, meningkatkan risiko kelelahan panas (heat exhaustion) karena ojek online bekerja di ruang terbuka umumnya tanpa proteksi termal yang memadai,” katanya, pada Selasa, 27 Januari 2026.

Dalam pidato pengukuhannya, ia menungkapkan, deforestasi di Indonesia menyumbang 85 persen emisi tahunan dari aktivitas manusia sehingga menjadikannya sumber utama gas rumah kaca. Dampak dari efek gas rumah kaca ini, salah satunya ditanggung jutaan pengemudi ojek online. 

Dari sudut pandang kesehatan lingkungan, lanjut Prof. Adib, pengemudi ojek online menghadapi risiko ganda: paparan panas ekstrem dan polusi udara. Dirinya, menekankan pentingnya keadilan lingkungan.

Di situasi apapun, pengemudi ojek online tetap harus menerima order jika ingin mendapatkan penghasilan. Tidak ada pilihan lain, karena berhenti menerima, sama halnya menurunkan performa akun dan berpotensi tidak mendapatkan order, bahkan bonus. Mereka tidak memiliki nilai tawar apapun di hadapan perusahaan aplikasi. (Robertus Risky/Project Arek)

Di sisi lain, isu kesehatan kerja ikut serta di dalamnya. Sayangnya, kata Prof. Adib, risiko ini sering kali dianggap sebagai "risiko individual" dan bukan isu kesehatan kerja kolektif-sistemik. Padahal, paparan polusi dan suhu panas yang terus-menerus dapat menyebabkan gangguan pernapasan dan kelelahan kronis yang menurunkan kualitas hidup jangka pendek dan panjang.

Apa yang disampaikan Prof. Adib, sesuai apa yang dikatakan Hasan, si pengemudi ojek online. Ia merasakan kerentanan, khususnya kecelakaan saat musim hujan, juga terjadi di musim kemarau. Paparan polusi dan cuaca panas, membuatnya dehidrasi, yang menyebabkan hilang fokus dan lebih cepat lelah hingga tingginya potensi alami kecelakaan.

“Dehidrasi saja, kebanyakan (kecelakaan disebabkan oleh) dehidrasi. Fokus bisa hilang, itu yang menyebabkan banyak pengemudi mengalami kecelakaan.”

Ia mengakui, dan mungkin sudah menjadi hal umum di kalangan pengemudi ojek online, mereka terkadang ‘menolak’ lelah. Alasannya, tidak ada pilihan lain kecuali terus menerima order. Berhenti menerima, sama halnya menurunkan performa akun dan berpotensi tidak mendapatkan order, bahkan bonus.

Dalam penelitian berjudul Persepsi Pengguna Ojek Online Terhadap Keselamatan Penumpang yang dikerjakan oleh Resta Putri Mayesa, dkk, dari Universitas Andalas pada 2024. Terdapat “Faktor Manusia” dan “Faktor Lingkungan dan Jalan” menjadi penyebab terjadinya kecelakaan ojek online.

Dalam penelitian ini, tingkat persetujuan responden diukur menggunakan skala numerik, di mana angka 1 menunjukkan “Tidak Setuju” dan angka 5 menyatakan “Sangat Setuju”. Selain perilaku berkendara, faktor internal seperti menurunnya konsentrasi, kelelahan, kondisi emosional, dan tingkat kecakapan pengemudi, juga berpengaruh signifikan terhadap meningkatnya risiko kecelakaan.

 

Faktor “Kelelahan” tercatat memiliki skala numerik 3,3, yang mengonfirmasi kelelahan adalah pemicu nyata kecelakaan ojek online. Penelitian tersebut juga menyoroti kondisi "Tidak Fokus" sebagai konsekuensi langsung yang dialami pengemudi di jalan, yang pada akhirnya berujung pada insiden kecelakaan.

Hal ini divalidasi oleh pengalaman Hasan, pengemudi ojek online di Surabaya. Dirinya menceritakan bagaimana cuaca panas memicu dehidrasi yang bila diabaikan, berujung pada hilangnya konsentrasi dan berakhir fatal dalam kecelakaan. Apalagi, suhu udara di Surabaya sering kali terasa lebih panas dari suhu udara yang tercatat. 

 

Setelah “Faktor Manusia”, “Faktor Lingkungan dan Jalan” seperti adanya “Hujan/Kabut” dengan skala numerik 3.3, “Jalan Berlubang” dengan skala numerik 3.5, hingga “Jalan Licin” dengan skala numerik 3.5. Ketiga faktor tersebut berkaitan erat dengan krisis iklim atau hujan deras, yang lagi-lagi menjadi penyebab kecelakaan ojek online.

Cuaca hujan tidak hanya membuat jalanan menjadi licin, tetapi juga memicu perilaku berkendara yang terburu-buru. Kombinasi kedua faktor ini secara signifikan meningkatkan risiko kecelakaan bagi para pengemudi ojek online, sebagaimana telah dibahas dalam berbagai penelitian sebelumnya.

“Kita sebenarnya sudah berhati-hati, tapi pengendara lain yang panik dan terburu-buru akhirnya bisa menabrak kita sebagai pengemudi yang memang sudah berusaha selalu berhati-hati, sesuai SOP dan pelatihan safety riding,” kata Hasan.

Krisis iklim menambah tekanan bagi pengemudi ojek online. Di satu sisi mereka harus berpacu dengan waktu untuk memastikan pesanan diantar secepat mungkin, di sisi lain cuaca yang tak menentu sering kali mengharuskan laju motor mereka terhenti. Tidak ada pilihan kecuali tetap menerima orderan. Faktor kesehatan terkadang tak begitu diperhatikan. (Robertus Risky/Project Arek)

Sama seperti Titik dan David, Hasan perlu menyiapkan perlengkapan perlindungan hujan secara mandiri. Tanpa adanya subsidi dari platform, biaya untuk jas hujan dan pelindung ponsel ini menambah beban pengeluaran hingga Rp300 ribu selama musim hujan.

Selain itu, saat hujan banyak pengemudi memilih mematikan aplikasi. Akibatnya, pesanan dari jarak jauh kerap dialokasikan kepada pengemudi yang masih aktif karena keterbatasan armada di lokasi terdekat. Itu dialami oleh narasumber sebelumnya juga.

Pemasukan Rp50 ribu Sebulan

Saya juga berbincang dengan Generasi Z yang menjadi pengemudi ojek online bernama Fahrul Nurrohman (21), di sebuah kedai kopi dan toko buku di Surabaya. Baginya, cuaca ekstrem sangat memengaruhi pekerjaannya sebagai pengemudi ojek online.

Saat hujan deras, dirinya juga mematikan aplikasi demi keselamatan. Kondisi jalan yang licin serta jarak pandang yang terbatas menjadi alasan utama, agar terhindar dari hal-hal tak diinginkan. Hampir semua ojek online memiliki sikap dan alasan serupa ini.

BACA JUGA :

Asal-usul Pekerja Informal di Indonesia (Bagian I)

Asal-usul Pekerja Informal di Indonesia (Bagian II)

Akibatnya, pendapatannya turun dan kian mengharukan, menjadi Rp50 ribu per bulan, karena lebih sering meliburkan diri ketika hujan turun secara terus-menerus. Pemasukannya jauh lebih rendah dibanding narasumber lainnya. Irul hanya aktif mengirim orderan saat malam hari selepas kuliah.

“Saat musim kemarau, penghasilannya cenderung lebih besar karena bisa menyesuaikan waktu luang untuk mengambil pesanan. Dalam sepekan, biasanya aktif dua hingga tiga kali,” katanya.

Ia memanfaatkan Fitur Skema Hub di aplikasi oranye yang memberikan jaminan jumlah pesanan tertentu, minimal 6 order per malam, bahkan dapat mencapai sembilan hingga sepuluh pesanan. Menurutnya, waktu paling ramai orderan ialah pukul 22.00-23.00.

Untuk meminimalkan komplain akibat keterlambatan, terutama saat hujan, dirinya melakukan komunikasi dengan pelanggan. Pesan dikirim untuk menjelaskan kondisi cuaca di lapangan sekaligus meminta pengertian agar proses pengantaran tetap berlangsung dengan aman.

“Atau kalau misalnya hujan, saya bilang, ‘Maaf ya, Kak, kalau lama karena kondisi hujan, jadi saya bawa sepedanya hati-hati dan pelan-pelan.’ Jadi, saya komunikasi dulu ke pelanggan supaya tidak kena komplain. Biasanya pelanggan pasti paham dan memaklumi,” tegasnya.

Di saat hujan hingga banjir, mengutip penjelasan Prof. Adib, itu menciptakan hambatan mobilitas yang memaksa ojek online mengambil rute mungkin lebih jauh atau risiko kerusakan kendaraan. Tentu ada pengemudi harus mengeluarkan biaya lebih banyak untuk konsumsi bahan bakar (BBM), yang dalam logika ekonomi subsisten, merupakan beban modal yang sangat besar bagi mereka. Soal ini, baik pelanggan maupun perusahaan aplikasi tidak mau tahu.

Temuan Prof. Adib, dalam kajian jaringan sosial menunjukkan, individu bertindak berdasarkan rasionalitas untuk bertahan hidup. Krisis iklim secara langsung mengganggu minimal dalam pola penurunan produktivitas dan erosi pendapatan. Misalnya, hujan deras dan panas ekstrem memaksa ojek online untuk berteduh atau beristirahat lebih lama, yang secara otomatis memangkas jam kerja efektif.

“Erosi pendapatan, setara dengan petani yang terdampak degradasi lahan, ojol kehilangan potensi pendapatan harian saat cuaca ekstrem melanda. Krisis iklim bertindak sebagai ‘pengganggu’ stabilitas ekonomi yang membuat strategi bertahan hidup mereka menjadi semakin rentan,” ujarnya.

Fahrul dan rekan senasibnya sering kali menolak orderan ketika hujan deras. Satu sisi masyarakat tidak bisa mendapatkan layanan yang mereka butuhkan, di sisi lain pengemudi ojek online kehilangan pendapatan. Berhenti menerima order, itu berarti mereka tak akan mendapatkan pemasukan apapun. Dalam sistem aplikasi jasa antar, pengemudi tidak memiliki skema upah seperti pekerja di sektor formal.

“Kebanyakan pengemudi menolak pesanan ketika hujan seperti itu. Kondisi ini memperburuk situasi karena pelanggan tidak mendapat layanan, sementara pengemudi juga tidak memperoleh orderan, dan akhirnya kehilangan pendapatan,” pungkas Irul.

Apapun kondisinya, entah sakit, panas terik, hujan deras, pilihan-pilihan pengemudi untuk tetap mengambil order atau tidak, berdampak pada pendapatan mereka. Perusahaan aplikasi menyebut mereka 'mitra', bukan pekerja. Sebutan 'mitra' dinilai sejumlah pegamat sebagai pengalihan makna 'eksploitasi' karena posisi pengemudi sangat lemah dan tidak memiliki daya tawar apapun untuk mengubah sistem kerja di aplikasi. 

Kebijakan dan Perlindungan Ojek Online

Kepala Laboratorium “Manusia, Budaya, dan Ragawi" di Departemen Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Airlangga, Prof. Muhammad Adib sangat setuju jika ojek online dikategorikan sebagai kelompok rentan.

Minimal ada dua alasan, yaitu informalitas dan hidden transcript. Yang dimaksud informalitas, seperti halnya masyarakat di sekitar hutan yang sering diposisikan di pinggiran kebijakan formal, ojek online berada dalam status mitra yang tidak memiliki jaminan perlindungan sosial yang kuat.

“Sedangkan Hidden Transcript, kelompok ini sering kali memiliki ‘suara yang tidak terdengar’ dalam perancangan kebijakan mitigasi iklim kota. Kebijakan publik sering kali lebih fokus pada infrastruktur makro daripada perlindungan mikro bagi pekerja jalanan,” tegasnya.

Perubahan lingkungan yang masif bukanlah produk "budaya" individu, melainkan hasil dari kebijakan negara dan struktur ekonomi. Maka, tanggung jawab harus didistribusikan secara kolaboratif minimal pada perusahaan platform, pemerintah pusat dan daerah, dan kebijakan di surabaya.

Ya, perusahaan platform, sebagai pemilik ekosistem digital, mereka wajib menyediakan fitur "peringatan cuaca ekstrem" dan menyesuaikan skema insentif saat kondisi lingkungan membahayakan mitra. Kata Prof. Adib, pemerintah pusat dan daerah harus hadir memberikan payung hukum yang mengakui risiko iklim sebagai risiko kerja.

Selama musim panas, pengemudi ojek online rata-rata mengkonsumsi 1,5 sampai 2 liter air setiap kali bekerja. Mereka mengakui, kebutuhan air minum meningkat dan wajib dipenuhi untuk menghindari dehidrasi akibat panas tinggi. (Robertus Risky/Project Arek)

"(Contohnya) kebijakan di Surabaya, mendesak untuk membangun lebih banyak Ruang Terbuka Hijau (RTH) sebagai cooling station (titik pendinginan) bagi pekerja," tuturnya.

Di sisi lain, Direktur Eksekutif Daerah Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jawa Timur, Pradipta Indra Ariono menjelaskan, dampak krisis iklim di Surabaya dirasakan oleh semua elemen, khususnya ojek online yang sehari-hari beraktivitas di jalan.

“Mereka (pengemudi ojek online) menjadi salah satu kelompok pekerja informal yang terdampak langsung oleh krisis iklim,” katanya, Senin, 26 Januari 2026.

Dalam konteks ini, cuaca ekstrem, banjir rob, serta kebijakan tata kelola yang tidak mendukung, turut memengaruhi kondisi kerja pengemudi ojek online. Dampak tersebut berpengaruh terhadap pendapatan, kata Indra, belum lagi persoalan kesehatan dan keselamatan.

Dampak-dampak ini merupakan konsekuensi langsung dari tata kelola lingkungan yang buruk, seperti drainase yang tidak mencukupi, minimnya RTH, serta ketiadaan trotoar yang layak. Kondisi ini secara nyata memengaruhi keselamatan, kesehatan, dan keberlanjutan kerja pengemudi ojek online.

BACA JUGA : Menuju Bencana Ekologis Permanen

Bagi Indra, pemerintah daerah perlu mengubah pola pandang pembangunan yang selama ini cenderung berfokus pada infrastruktur semata. Ke depan, pembangunan dapat diarahkan menggunakan pendekatan berbasis alam atau nature-based solutions sebagai upaya menekan krisis iklim dan pemanasan global.

Upaya tersebut perlu diimplementasikan secara menyeluruh dalam seluruh kebijakan daerah, mulai dari tata kelola lingkungan, pengendalian aktivitas pertambangan, pemilihan sumber energi bersih, hingga pengelolaan sampah. Langkah-langkah ini merupakan upaya umum yang dapat dilakukan untuk menekan krisis iklim dan pemanasan global.

“Pemerintah daerah perlu menyiapkan sistem pengelolaan sampah yang baik, menerapkan pola pembangunan berbasis pendekatan alam, serta memastikan tata kelola lingkungan yang sehat dan berkelanjutan dengan mengedepankan nilai-nilai ekologis.”

Mauris Ibrahimba (28), menjadi pengemudi ojek online sejak 2 tahun lalu. Panas terik Surabaya membuatnya sering mengalami dehidrasi, sehingga konsumsi air mineral pun meningkat. Sehari ia bisa menghabiskan 2 liter air mineral. Ia membawa bekal air mineral dari rumah yang diberi es batu. Bila airnya habis ia berhenti di warung untuk membeli air mineral botol. (Robertus Risky/Project Arek)

Upaya tersebut bertujuan untuk memastikan semua makhluk hidup dapat beraktivitas dengan aman, terutama manusia. Ketika ruang hidup menjadi baik dan sehat, maka aktivitas ekonomi dan produktivitas dapat berjalan dengan lancar. Dalam konteks ini, kawan-kawan ojek online dapat beraktivitas dengan lebih aman dan nyaman.

Selain pemerintah daerah, dukungan dari perusahaan aplikasi juga menjadi penting. Kepastian pendapatan dari konsumen perlu diperkuat melalui jaminan hak-hak pengemudi ojek online, termasuk perlindungan kesehatan dan perbaikan sistem upah, mengingat biaya produksi atau operasional berpotensi meningkat akibat dampak krisis iklim. Perlindungan terhadap pengemudi juga harus dipastikan secara menyeluruh.

Di sisi lain, perusahaan aplikasi juga perlu didorong untuk menjalankan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang berorientasi pada upaya penurunan krisis iklim dan pemanasan global. Dengan demikian, peran pemerintah daerah dan perusahaan aplikasi dapat berjalan selaras dan linier dalam fokus menekan krisis iklim serta melindungi keberlanjutan kerja pengemudi ojek online.

Kata Indra, rekomendasi Walhi Jawa Timur dalam penanganan krisis iklim di Surabaya bagi kawan-kawan ojek online adalah agar pemerintah kota/kabupaten menata tata kelola lingkungan secara menyeluruh dan berkelanjutan.

“Penataan tersebut mencakup penguatan ruang terbuka hijau (RTH), perbaikan dan penyediaan trotoar yang layak, serta perbaikan sistem pengupahan pengemudi ojol agar tarif yang diterima lebih layak.”

Ya, pemerintah perlu memastikan seluruh pengemudi ojek online mendapatkan jaminan kesehatan sebagai hak dasar yang wajib dipenuhi. Perlindungan kesehatan menjadi penting mengingat tingginya kerentanan ojek online terhadap dampak krisis iklim dan kondisi kerja di jalan.

Seluruh model pendekatan pembangunan ke depan harus berbasis alam atau nature-based solutions sebagai upaya menekan pemanasan global dan krisis iklim.

Dengan komitmen itu, Surabaya memiliki peran penting untuk menjadi pelopor bagi daerah lain, termasuk dalam ruang-ruang kebijakan, sehingga arah pembangunan dan kebijakan benar-benar berpihak pada lingkungan dan berorientasi hijau.

Berikutnya, Driver Ojek Online dan URC ShopeeFood Surabaya, Abdul Azis menjelaskan, untuk proteksi kesehatan dari pihak aplikator seperti Gojek, tersedia asuransi Sinar Mas dengan premi Rp2.000/hari dan BPJS Kesehatan Mandiri khusus untuk mitra driver.

“Untuk mengambil penawaran tersebut, Anda bisa langsung mengisi formulir melalui tautan di aplikasi Gojek Driver. Nantinya, premi asuransi Sinar Mas akan dipotong secara harian dari saldo driver, sedangkan iuran BPJS Kesehatan Mandiri khusus driver akan dibayarkan oleh pihak aplikator,” katanya, pada Jumat 6 Februari 2026.

Di sisi lain, tersedia pilihan perlindungan berupa BPJS Ketenagakerjaan BPU, BPJS Kesehatan Mandiri, Asuransi Sinar Mas, dan Asuransi AdMedika untuk ShopeeFood.

Untuk mendapatkan asuransi tersebut, kata Azis, mitra Gojek harus mendaftar secara mandiri melalui aplikasi Gojek Driver. Sementara itu, untuk mitra ShopeeFood, pendaftaran dilakukan secara otomatis saat pertama kali bergabung. “Langkah selanjutnya bagi mitra ShopeeFood hanyalah mengunduh aplikasi My AdMedika dan melengkapi data sesuai dengan profil pada aplikasi driver,” ujarnya.

Besaran manfaat asuransi My AdMedika dari ShopeeFood meliputi santunan kecelakaan kerja sebesar Rp25 juta dan santunan kematian sebesar Rp50 juta. Sementara itu, asuransi Sinar Mas dari Gojek memberikan perlindungan yang mencakup santunan kecelakaan, kesehatan, serta perlindungan terhadap perangkat HP dan kendaraan. “Klaim manfaat berlaku apabila mitra driver mengalami kecelakaan kerja,” tegas Azis.

Prosedur klaim manfaat BPJS Ketenagakerjaan (TK) BPU dilakukan dengan melampirkan formulir kecelakaan dari rumah sakit atau pihak BPJS. Sementara itu, lanjut Azis, untuk klaim Asuransi AdMedika, mitra harus melampirkan nomor polis sesuai dengan ID driver ShopeeFood serta bukti-bukti kejadian pada saat kecelakaan kerja.

Untuk BPJS Kesehatan Mandiri pada Gojek, subsidi iuran hanya diberikan khusus kepada mitra driver. Sementara itu, iuran untuk anggota keluarga tetap menjadi tanggungan mandiri oleh driver tersebut.

Adapun untuk perlindungan BPJS TK BPU, kepesertaannya hanya mencakup mitra driver karena bersifat perlindungan individu bagi ojek online. Manfaat minimal yang diperoleh meliputi JKK (Jaminan Kecelakaan Kerja) dan JKM (Jaminan Kematian) dengan iuran sebesar Rp16.800/bulan.

Abdul Rachman (57) mencari ekonomi tambahan dengan menjadi pengemudi ojek online. Ia memacu kuda besinya mulai dari pukul 07.00 WIB hingga 18.00 WIB. Ia merasakan panasnya Surabaya dan perubahan cuaca tak menentu yang mengakibatkan kulit tangannya belang. Selama beraktivitas di luar, ia bisa mengahabiskan 2,5 liter air mineral. (Robertus Risky/Project Arek)

Perlindungan kesehatan yang tersedia saat ini hanya mencakup mitra driver saja, sehingga belum maksimal bagi anggota keluarga. Sementara itu, untuk BPJS Ketenagakerjaan (TK), manfaatnya dinilai sudah mencukupi dan sesuai dengan risiko harian yang dihadapi oleh driver saat menjalankan aktivitas kerja di jalan raya.

“Terdapat beberapa kasus kecelakaan kerja di jalan yang melibatkan pihak lawan, di mana pendamping driver harus melakukan mediasi bersama pihak kepolisian. Oleh karena itu, proses klaim manfaat JKK (Jaminan Kecelakaan Kerja) di rumah sakit harus menunggu terbitnya Surat Kuning dari pihak Satlantas Polri,” pungkasnya.

BACA JUGA : Live Shopping dan Krisis Iklim

Dari semua keterangan ini, krisis iklim bukan lagi sekadar fenomena alam, melainkan ancaman nyata bagi keberlangsungan hidup pengemudi ojek online. Dampaknya terlihat dari penurunan pendapatan hingga meningkatnya risiko kesehatan, seperti dehidrasi dan kelelahan kronis.

Selama ini, risiko kerja kerap dianggap sebagai tanggung jawab individu. Padahal, ancaman yang muncul bersifat kolektif dan sistemik, terutama akibat sistem kerja yang tidak adil dan krisis iklim yang semakin memperparah situasi. Di sisi yang sama, para pengemudi ojek online tidak memiliki kuasa atau posisi tawar untuk mengubah kebijakan agar lebih baik dan adil.

Karena itu, diperlukan perubahan cara pandang dalam melihat keselamatan kerja di sektor informal. Isu ini harus diakui sebagai persoalan kesehatan kerja yang membutuhkan perlindungan nyata. Tanpa langkah tersebut, pengemudi akan terus menanggung beban krisis iklim sendirian di tengah tekanan ekonomi dan risiko tinggi di jalan. (habis)