TINI MENGATAKAN ITU agar Tono segera bisa memenuhi janji yang telah diucapkan tiga setengah semester lalu: mengajak pelesir ke Gembira Loka. Walakin, dengan kekeraskepalaan Jose Arcadio Buendia dalam menerabas hutan belantara hingga menemukan tanah rawa-rawa yang di atasnya kelak berdiri perkampungan Macondo, Tono menegaskan bahwa objek formal penelitiannya—lima jilid novel tentang Arya Penangsang, sebut saja Serial Penangsang, karangan NasSirun PurwOkartun—tak akan berubah.
Masalah yang Tono temukan sudah jelas: Adipati Jipang dalam serial tersebut diubah menjadi tokoh sentral-protagonis. Yang ingin Tono bahas pun sama terangnya: Membandingkan narasi penokohan Adipati Jipang tersebut dalam Serial Penangsang dengan narasi dalam babad-babad, semisal Babad Tanah Jawi terjemahan W.L. Olthoff, Serat Babad Tanah Jawi, Babad Tanah Jawa gubahan Wirjopanitro, Babad Dipanegara, dan Babad Jaka Tingkir.
Serial Penangsang sendiri ingin Tono pilih karena keberanian pengarangnya dalam menantang narasi dalam babad-babad di atas. Sebab, alih-alih melakukan hal serupa, pengarang lain lebih banyak yang mengamini narasi mainstream tersebut.
Sebut saja Maulana Syamsuri dalam Penangsang Balela (tanpa tahun terbit), S. Trisasongko Hutomo dalam Keris Setan Kober: Perang Niskala Tanah Jawa (2016), Wawan Susetya dalam Pajang: Memudarnya Senyuman Dewan Wali Sanga (2011), SH. Mintardja dalam Suramnya Bayang-bayang (tanpa tahun terbit), dan Gamal Komandoko dalam Jaka Tingkir: Jalan Berliku Mendapat Wahyu (2011).
BACA JUGA : Madrasah Hebat, Madrasah Bejat
Pada Tini, Tono juga sampaikan pengarang-pengarang yang melakukan hal tersebut bisa dimaklumi karena narasi dalam babad-babad memang sudah terbangun dengan kokoh dan mapan selama berabad-abad. Itu kenapa, sependek pengetahuan Tono, selain PurwOkartun, hanya Joko Santoso, dalam Penangsang Memanah Rembulan (2016), dan Budhi Sardjono, dalam Ledhek dari Blora (2018), yang melakukan hal yang mirip.
Meski demikian, tidak seperti PurwOkartun, kedua pengarang tersebut mendekonstruksi sosok penunggang Gagak Rimang itu terlepas konteks historisnya. Penokohan Arya Penangsang dalam novel Joko Santosa dan Budhi Sardjono tidaklah berkelindan dengan tokoh-tokoh lain sezamannya, seperti Sunan Prawoto, Pangeran Hadiri, Ratu Kalinyamat, bahkan Hadiwijaya dan Patih Matahun. Putra Pangeran Sekar Seda Lepen tersebut jadi seakan-akan hadir dalam dunianya sendiri.
PurwOkartun, sepembacaan Tono, sangat berbeda. Lima jilid novelnya merombak karakter dan kisah Arya Penangsang serta tokoh-tokoh sezaman lainnya dengan tetap mengaitkannya dengan konteks intrik ekonomi-politik Demak-Jipang-Pajang kala itu. Sehingga, dekonstruksi yang tersaji dalam Serial Penangsang menjadi menyeluruh dan kontekstual.
“Lebih dari itu, Tin,” ucap Tono bersemangat, “lewat Serial Penangsang, PurwOkartun telah menggugat babad.”
Menerima nasi orak-arik pesanannya, Tini lalu menatap Tono yang langsung menyantap makanan di depannya. Dan, ketika sekali lagi pandangannya tertuju kepada buku bersampul merah di samping lengan kiri Tono itu, Tini menghela napas.
II
Di hadapan nasi orak-arik yang tinggal empat suapan, saat pikirannya masih terpaku pada apa yang diingat Kolonel Aureliano Buendia ketika menghadapi regu tembak, Tono tersedak ketika Tini bertanya, “Emang apa yang bikin Mas berpikir kalau Serial Penangsang udah menggugat babad?”
Menyelesaikan kunyahan nasi orak-ariknya, Tono berkata: “Kau sungguh ingin tahu?”
Tini bergeming dan hanya memandangi kekasihnya, satu hal yang kemudian Tono tafsirkan sebagai: Ya.
“Karena Serial Penangsang tidak seperti babad-babad yang, menurut Benedict Anderson dan Bambang Purwanto, bertendensi membangun legitimasi, Tin.”
Tono kemudian menyampaikan bahwa babad-babad ingin menyajikan sejarah yang dianggap sebagai “yang benar” tanpa batasan waktu. Dalam bukunya yang diterbitkan Bentang Pustaka tahun 2003, dengan indah Nancy K. Florida menyebut kecongkakan babad-babad tersebut: menghadirkan masa lalu bagi masa depan! Karena tendensi itu, tidak aneh jika kemudian babad-babad dipenuhi penceritaan yang sangat legitimatif.
“Itu kelihatan banget, Tin," sambung Tono, "pas narasiin Hadiwijaya sebagai pemenang. Ketika bertapa di Bukit Telamaya, misalnya, ia bermimpi kejatuhan bulan. Ketika pulang ke desanya, ia disabda Sunan Kalijaga bahwa kelak akan menjadi raja. Ketika nyantrik kepada Ki Ageng Selo, gurunya itu bermimpi melihat muridnya membabad alas dalam sekali ayunan kapak. Ketika dalam perjalanan menuju pesanggrahan Prawoto, Ki Ageng Butuh menyaksikan wahyu keprabon jatuh di kepalanya. Itu semua, Tin, tentu merupakan pondasi yang sangat kuat bagi terbangunnya sebuah legitimasi.”
Dengan ketulusan Kolonel Gerineldo Marquez membantu perjuangan Kolonel Aurelio Buendia, Tono melanjutkan keterangannya bahwa pemunculan laku tapa itu sangat penting. Sebab, sebagaimana Soemarsaid Moertono sampaikan di bukunya yang KPG terbitkan di 2017 lalu, laku tapa itulah yang menentukan sifat adil seorang raja sehingga penyalahgunaan kekuasaan dapat dicegah. Alhasil, pada akhirnya khalayak akan terpengaruh untuk memandang seorang raja sebagai “wakil Tuhan” di bumi.
Laku tapa tersebut, lanjut Tono sembari kembali bersiap menyendok nasi orak-arik, sangat penting dimunculkan karena dengannya seseorang menjadi berpotensi mendapatkan wahyu. Wahyu itu sendiri tentu adalah kunci karena melaluinya akses menuju asosiasi diri dengan Tata Alam Raya, tempat para dewa mempunyai kekuasaan mutlak, menjadi terbuka.
BACA JUGA : Sibuk Perang, Krisis Iklim Dilupakan
“Dengan semua itu, Tin,” terang Tono, “naiknya Hadiwijaya menjadi raja pun terkesan sudah pinesthi, sudah bagian dari rencana Gusti. Sehingga, kecuali menerimanya, tak ada pilihan lain lagi. Hal itu bahkan masih diperkuat lagi dengan diposisikannya babad sebagai pusaka baik secara implisit maupun eksplisit, seperti yang terjadi padaBabad Jaka Tingkir, misalnya. Pemosisian babad sebagai pusaka ini sangat penting bagi seorang raja untuk melegitimasi diri dan kekuasaannya.”
Tono menyendokkan nasi orak-arik ke dalam mulut dan Tini menghela napas untuk yang kesekian kali mendapati lelaki di depannya tak kunjung memahami maksud dari pertanyaan-pertanyaannya.
“Singkatnya, Tin,” sambung Tono sembari mengunyah, “penulisan babad-babad—seperti yang Okky Madasari sampaikan di tesisnya di halaman 13—memperlihatkan hubungan kaum elit-intelektual, yakni para pujangga, dalam melanggengkan kekuasaan dengan menciptakan hegemoni. Dengannya, dalam kasus konflik Jipang-Pajang, masyarakat luas dipaksa untuk dengan suka rela mendukung Hadiwijaya karena digambarkan sebagai yang memang sudah sepantasnya menjadi raja.”
“Emang Serial Penangsang enggak gitu, Mas?” tanya Tini, masih berusaha menahan diri.
“Enggaklah!” tukas Tono tegas.
Mengusap bibirnya dengan lengan kanan, Tono melanjutkan penjelasannya dengan mengatakan bahwa penulisan Serial Penangsang tidak bertendensi membangun legitimasi, hegemoni, atau menyuguhkan sejarah resmi yang mesti dipercayai. Penulisnya sendiri bahkan mengatakan bahwa apa yang disusunnya itu sekadar dongeng pengantar tidur bagi anaknya. Pengakuan tersebut bisa dibaca sebagai alamat bahwa PurwOkartun memosisikan Serial Penangsang-nya sebagai teks yang sadar diri dan terbuka dalam mengakui kefiksiannya.
Kesadaran diri sebagai teks fiksi tersebut, lanjut Tono masih bersemangat, tampak pula dari banyaknya penyematan teks-teks lain yang jelas tidak berhubungan dengan kisah Arya Penangsang secara historis. Penyaduran baris pertama puisinya Chairil yamg berjudul “Nisan”, misalnya, adalah salah satu contoh menarik: Bukan kematian benar menikam jiwa!
“Kalau penulisnya pengen ngebangun semacam wacana tandingan, tentu caranya nggak bakalan kayak gitu to, Tin?”
Tini ingin menyela, tapi tidak jadi sebab tahu bahwa itu bukan waktu yang tepat untuk melakukannya. Di antara keduanya, senyap perlahan menyergap.
III
Tini, yang sedari tadi lebih banyak menyimak Tono dengan ketulusan Ursula merawat anak-anaknya, tak tahan dengan keheningan tersebut dan memutuskan untuk memecahkannya. Tanyanya, “Selain yang tadi itu, apa yang membuat Mas berpikir bahwa Serial Penangsang udah menggugat babad?”
“Mitos!”
Tanpa diminta, Tono langsung menerangkan bahwa dalam bukunya di halaman 2 dan 95, Bambang Purwanto menjelaskan bahwa babad pun juga merupakan karya sastra. Terjadilah kemudian pengaburan divisi antara fakta dan fiksi—sebagaimanayang disampaikan Wijaya Herlambang dalam disertasinya yang diterbitkan oleh MarjinKiri—yang kemudian melebur dalam mitos. Tono pun cepat menyambung keterangannya itu dengan menyampaikan penjelasan Umar Junus dalam Mitos dan Komunikasi di halaman 94 bahwa karya sastra adalah, untuk tidak mengatakan hanyalah, mitos.
“Karena itu, Tin,” ucap Tono, “apa yang muncul dari babad-babad dan Serial Penangsang ini adalah dua versi mitos yang saling berseberangan. Mitos versi keraton sebagai pengukuhan (myth of concern) dan mitos versi pesisiran sebagai pembebasan (myth of freedom) sekaligus kontramitos.Sebagai pengukuhan, mitos versi keraton tentu berkepentingan untuk mempertahankan kekuasaan yang telah wujud. Di sisi lain, sebagai pembebasan sekaligus kontramitos, mitos versi pesisiranberupaya untuk melepaskan diri darinya dan menginginkan sesuatu yang baru.”
“Lagi pula, Goenawan Mohamad dalam 'Paradigma Pengging' juga bilang gitu, Tin. Melalui legitimasi dan hegemoni dalam babad-babad, keraton sebagai ‘pusat’ menolak untuk mengakui apa yang ‘pesisiran’.
Karena itu, apa yang sesungguhnya terjadi antara Arya Penangsang dan Jaka Tingkir dalam babad-babad dan Serial Penangsang adalah pertarungan antara mitos dan kontramitos yang saling meniadakan. Apa yang keraton anggap ‘sejarah’ tak lebih dari sekadar ‘dongeng’ di pesisiran, pun sebaliknya.”
Tono melihat Tini yang menyimak sampai lupa pada orak-ariknya yang masih setengah. Dengan sigap, Tono mengeluarkan Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan dari dalam tas dan dengan kegilaan Melquiades akan manuskrip-manuskrip yang tulisannya mirip cacing goreng membacakan pandangan Karl Popper tentang kebenaran di halaman 414:
BACA JUGA : Drupadi di Ujung Jari 16 Kurawal
“…kebenaran merupakan sesuatu yang tak akan pernah tergapai. Apa yang dapat dilakukan adalah mendekati kebenaran tanpa dapat mencapainya, sementara pendekatan itu terlaksana bukan karena orang menemukan lebih banyak pengetahuan yang benar, melainkan karena orang menyingkirkan lebih banyak pengetahuan yang salah.
“Begitu, Tin, yang kumaksud dengan menggugat babad. Membaca Serial Penangsang dan mengaitkannya dengan yang kusampaikan tadi membuatku berpikir bahwa baik babad-babad atau pun Serial Penangsang sama-sama tidak dapat menyentuh kebenaran atau realitas, dalam hal ini realitas sejarah. Keduanya memiliki posisi yang sama. Yang membedakan keduanya hanyalah kesadaran dalam memandang diri masing-masing sebagai teks.”
“Apalagi, jika dikaitkan dengan gagasan posmodern bahwa bahasa bekerja melalui metafora, jelas tidak ada teks yang dapat mendaku diri sebagai yang paling benar atau paling mendekati realitas. Karena itu, gugurlah tendensi penulisan babad-babad dalam membangun legitimasi kekuasaan. Babad, sebagaimana teks-teks lain, hanyalah fiksi. Persoalannya, babad-babad tidak sadar diri akan kefiksiannya sendiri itu. Begitu.”
Tini membiarkan Tono mengambil napas dan menyeruput es teh yang tinggal es batunya saja. Sembari mengamati itu, Tini kian yakin bahwa Tono telah benar-benar lupa pada apa yang pernah dijanjikan padanya.
“Terakhir, Tin, aku akan kembali merujuk pada keterangan Okky Madasari dalam tesisnya di halaman 17-18, tepatnya tentang gagasan Foucault mengenai limited experience dan book experience. Bahwasanya, beberapa buku mempunyai kekuatan untuk menggugat segala yang sudah mapan dengan menampilkan pengalaman yang berbeda dari yang telah diketahui umum. Sehingga, dengan itu, muncullah rasa asing pada pembaca yang mampu menampilkan nilai-nilai yang sengaja disembunyikan oleh ide dan kebudayaan yang mendominasi pada masa tertentu karena dikategorikan tidak lazim, di luar pakem, tidak masuk akal, atau bahkan gila.”
“Tapi justru dengan sifat yang seperti itu, Tin, fiksi mampu menghadirkan hal-hal yang tidak dapat dihadirkan oleh realitas atau karya nonfiksi. Sifat fiksi yang seperti itu juga yang membuka peluang untuk melihat sesuatu yang sebelumnya tidak dapat dilihat karena kungkungan dari apa pun yang dianggap benar. Dan menurutku, Serial Penangsang memiliki 'ruh' semacam itu. Itulah yang ingin akutulis dalam tugas akhirku nanti. Sekarang emang baru bab satu, sih. Makanya, habis ini temenin aku bimbingan, ya.”
Mendengar paparan panjang x lebar x tinggi Tono, Tini menghela napas dan tahu bahwa keinginannya diajak pelesir tinggal angan belaka. Tini telah menyadari bahwa tak ada yang lebih mengecewakan tinimbang berharap pada lelaki yang gila pada karya sastra. Tanpa mengatakan apa-apa, Tini melangkah pergi, tak menggubris permintaan Tono agar ditemani ke ruangan Prof. Suminto A. Sayuti untuk konsultasi soal skripsi.
Mlangi, 2019-2023
*Pengajar Bahasa Indonesia di MA Sunan Pandanaran, pengajar manthiq dan balaghoh di PP. Assalafiyyah Mlangi, dan pengajar bahasa Inggris di Rumah Inggris Jogja III. Ia senang mendengarkan musik, menonton film, menulis, dan membaca, serta aktif di Komunitas Susastra dan Sindikat Muda, Liar, Ngantukan. Beberapa tulisannya tersiar di Koran Tempo, kompas.id, Jurnal Kalam Sastra,bacapetra.co, basabasi.co, Suara Merdeka, Minggu Pagi, Koran Radar Selatan, Majalah Sastra Kandaga, dan lain-lain. Ia dapat dihubungi melalui surel: syafiq.addarisiy@gmail.com dan Instagram: @syafiqaddarisiy.
Kami menerima tulisan opini/esai Anda. Rubrik ini projectarek.id dedikasikan untuk siapa pun yang memiliki minat dan kemauan dalam berpendapat dan berekspresi melalui tulisan. Kami ingin menjadikan rubrik ini sebagai rumah digital untuk bertumbuh bersama merawat demokrasi. Untuk selengkapnya, baca PANDUAN kami.