SUDAH SEPATUTNYA orang percaya satu-satunya raja sepak bola yang layak diakui adalah Manchester United (MU). Karena “King” sesungguhnya adalah MU. Sebagai penggemar Real Madrid, dukungan pada MU bukan sebab semakin bapuknya performa Los Blancos, tetapi lebih dari sekedar skor kemenangan sebuah laga: ini tentang kemanusiaan. Oleh karena itu, kita akan memulai ulasan ini melalui Eric Cantona.
Siapapun yang menyukai sepak bola tak akan asing dengan nama tersebut. Pemain besar MU kurun waktu 90-an. Eric Cantona, si pemilik “kaki multifungsi”, saya menjulukinya. Berkat kaki kerasnya, Eric Cantona membawa MU meraih 4 gelar Liga Inggris dan 2 Piala FA. Bekat kaki kerasnya pula, namanya tersemat dalam 100 pemain terbaik sepanjang masa. Serta, berkat kaki kerasnya, disematkan gelar padanya “The King” oleh penggemar MU.
Hanya Eric Cantona, The King yang mampu menendang batas dunia. Bahkan, lagi-lagi kaki kerasnya, sampai pada kepala seorang penggemar pada tahun 1995 dan membawanya digelandang ke dalam sel penjara. Tetapi Eric Cantona, setahun terakhir, sejak 2025-2026 kembali menggunakan tendangan kerasnya. Bukan tendangan kungfu untuk penggemar, tetapi untuk mulut ngawur Donald Trump dan bokong tentara Amerika Serikat dan FIFA.
BACA JUGA : Krisis Iklim dan Hancurnya Sungai Brantas
Orang ramai bicara Erling Halland, sosok tegar besar yang bernazar akan “membunuh” pemain Israel dalam lapangan kala laga Norwegia vs Israel. Tetapi Eric Cantona menendang FIFA dalam perjamuan laga amal Palestina di Wembley, April 2025. “Kenapa di sana (tubuh federasi sepak bola, FIFA) ada standar ganda?” ucapnya sambil terkekeh.
Tak berhenti sampai situ, Eric Cantona juga menyerukan agar melakukan boikot terhadap seluruh aktivitas sepak bola Israel. Mulai tak menjalani laga pada klub Israel, sampai melakukan aktivitas boikot total.
Kata beberapa orang, “Raja” akan selalu lahir. Demkian The King Eric Cantona. Usai menyerukan boikot Israel, akhir Maret 2026, kala Amerika Serikat dilanda gelombang aksi besar “No Kings”, Eric Cantona justru tampil sebagai The King lantaran mengkritik raja jadi-jadian bernama Donald Trump, akibat perilaku serampangan dan buruk yang membawa jutaan kematian di Timur Tengah. Seolah ia ingin menegaskan, beginilah cara Raja seharusnya bertindak.
"Saya ingin menciptakan hukum internasional... Jika seorang presiden memutuskan untuk memulai perang, dia harus jadi yang pertama di garis depan,” kata Eric Cantona dalam podcast Canal + Prancis.
Lebih dari itu, bahkan Eric Cantona mengomentari, mengapa orang yang memutuskan berperang selalu berada di dalam kantor, duduk aman dan menandatangi kematian orang lain, kematian anak muda usia 18 tahun untuk pergi ke garda depan peperangan.
Dengan tegas, ia juga menambahkan lagi pula untuk siapa perang-perang itu. Sementara para politisi tua duduk di kantor, aman dari konsekuensi tanda tangan mereka, mereka mengirim anak-anak berusia 18 tahun untuk dihancurkan di garis depan
Pernyataan Eric Cantona, adalah gambar sesungguhnya di balik perang Amerika-Israel melawan Iran. Pernyataan yang bukan hanya membuat saya merasa MU adalah The King. Pernyataan yang mengisahkan dosa perang akan ditanggung oleh generasi muda, mereka yang saat ini berusia 18 dan akan menghadapinya tahun 2050.
Yang Muda Garda Depan “Perang”?
Mereka, hari ini yang berada di garda depan medan perang di wilayah manapun di bumi ini, adalah anak muda yang memiliki rentang umur 20 sampai 30-an. Mereka tak mengerti, mengapa perang hadir, mengapa ada yang menang dan ada yang kalah. Mereka tak memahami perang, tapi generasi ini jauh lebih memahami masalah besar masa mendatang mereka. Tahun 2050, tahun ketakutan mereka diuji, mewujud dalam kenyataan. Apakah bumi layak huni?
Tentu saja, narasi ini redup, setidak-tidaknya sejak pandemi Covid-19 mengubah infrastruktur perekenomian dunia. Sejak 2020, fokus global terhadap penanganan krisis iklim mengalami pergeseran signifikan akibat munculnya krisis berlapis yang menyita perhatian dunia.
BACA JUGA : Live Shopping dan Krisis Iklim
Pandemi Covid-19 menjadi titik awal ketika negara-negara memprioritaskan pemulihan kesehatan dan ekonomi, sehingga agenda iklim yang sebelumnya menguat pasca Paris Agreement mulai terpinggirkan. Kondisi ini berlanjut dengan meningkatnya ketegangan geopolitik seperti perang Rusia-Ukraina serta ketidakstabilan ekonomi global, yang mendorong negara kembali pada kebijakan pragmatis berbasis kepentingan nasional, termasuk peningkatan penggunaan energi fosil.
Akibatnya, terjadi paradoks global: ketika ancaman krisis iklim semakin nyata, komitmen politik dan implementasi kebijakan justru cenderung stagnan atau melemah.
Sementara perang terjadi, kabut menebal di hadapan generasi muda. Kabut yang menutup jarak pandang masa mendatang. Seperti ujar Eric Cantona yang mengingatkan kita, sebagian perang diputuskan segelintir orang, dan segelintir orang ini adalah manusia lanjut usia.
Yang menua, mulai renta, dan barangkali masa mendatang tak lagi susah payah mencari cara memelihara “bumi layak huni”. Masalahnya, tiap kebijakan yang datang dari golongan ini adalah sumber “kabut” tebal ini pula. Alih-alih menyisir kabut, mereka memutus untuk menebalkannya. Kabut ini diperparah dengan sumber informasi yang runyam.
Alih-alih informasi, pengetahuan, dan perputaran uang dunia dialihkan untuk mencari siasat agar pada tahun 2050 ambang batas yang ditentukan dalam Konferensi Iklim tercapai, justru semakin bertambahnya tahun kebijakan-kebijakan dan dinamika geopolitik terus mengarah pada peperangan. Dan, kabut itu menebal. Mari kita lihat bagaimana kemelut informasi ini diputar dalam runyamnya perang Amerika-Israel vs Iran.
Kabut Amerika-Israel Vs Iran
Ketika tuts papan ketik ini ditekan, ada puluhan, ratusan, ribuan bahkan jutaan anak muda tewas di Timur Tengah, sebagian kecil Afrika, dan Papua. Ketika huruf “A” tuts papan ketik ini ditekan, perang belum juga berhenti. Sementara, di pinggir jalan harga bahan pangan naik bersamaan dengan banjir bah.
Sayangnya, ketika perang berlangsung, meski orang berkeinginan segera berakhir, benak awam bekerja siapa menang siapa kalah. Sayangnya lagi, kenaikan muka air laut, tenggelam seolah tak terekam menjadi masalah. Sehinnga, paradoks informasi dan benturan kepentingan mana yang perlu didahulukan mudah tenggelam dalam bah berita perang. Selidik punya periksa, saya sempat merekam bagaimana berita perang diproduksi di antara kemelut masalah lain yang hadir.
Berkat rasa penasaran, saya pilah data-data berita setengah bulan terakhir di laman Detik.com. Saya ketik pada kolom pencarian, “Perang Amerika-Israel dan Iran”. Kurang lebih, saya peroleh sebanyak 196 judul berita naik unggah sepanjang tanggal 1-16 April 2026.
Temuan menariknya, muncul kesimpulan bahwa bingkai berita Detik.com dalam rentang tersebut, seolah memisahkan dampak perang pada trajektori masalah bersama orang-orang di dunia, yakni krisis iklim. Yang mana ini menentukan percakapan 2050 terkait kelayakan huni bumi.
Metode pengumpulan data yang saya pakai ialah web scraping pemberitaan Detik.com berdasarkan rentang waktu di atas. Sedangkan, tools yang saya gunakan untuk menganalisis pemberitaan tersebut ialah bahasa pemrograman Python dengan BeautifulSoup dan Requests.
Kata pepatah yang sedikit saya sesuaikan, dunia hanya milik Amerika-Israel, yang lain ngontrak. Secara definitif, pepatah ini berlaku pada bingkai berita Detik.com. Mula-mula, saya cari melalui variabel berikut:
Tiap-tiap kata kunci atau keyword, memuat indeks kata apa saja yang muncul dalam pemberitaan Detik.com tentang perang Amerika-Israel dan Iran. Selain variabel perang, seperti kata: konflik, militer, perang, ancaman (hal-hal yang merujuk ekspresi perasaan siaga) dan variabel damai, seperti: diplomasi dan ekonomi, saya menambahkan variabel lain, yakni: pemuda, keadilan generasi, dan krisis iklim. Adapun, konteks variabel diluar perang-damai digunakan untuk melihat, mungkinkah dalam pemberitaan perang, dampak lingkungan disorot dengan baik?
Hasil penelitian menunjukkan, dari 196 berita, sejumlah 58 berita isi mengisahkan tema konflik militer, disusul lebih tinggi berikutnya kata diplomasi berjumlah 32 dan ekonomi sejumlah 14-18. Dalam prosentase rinci, jumlah berita perang yang mengisahkan konflik militer memiliki tinggi jumlah 30 persen dan disusul sekitar 11-20 persen variabel Perang-Damai.
BACA JUGA : Andai Saja Dunia Tanpa Tentara
Dalam kata lain, variabel kecil seperti pemuda, krisis iklim, hanya berjumlah kurang lebih 1 persen. Sehingga, temuan ini menunjukkan, informasi lain selain Perang-Damai dalam Perang Amerika-Israel pada Detik.com belum dianggap penting. Dalam grafik yang lebih sederhana, tema persentase pemberitaan tercangkup dalam gambar berikut:

Porsi pemberitaan dan tema isu berada pada 5 variabel besar, sementara tentang krisis iklim dan dampak emisi dari bom, misalnya tak bisa digambar karena hanya memiliki persentase kurang dari 1 persen. Sementara keseluruhan bingkainya, tercermin dalam grafik berikut:

Rata-rata bingkai atau framing pemberitaan, dari 196 berita mencakup persentase demikian. Secara sederhana, grafik di atas menunjukkan variabel positif (ke arah damai) yang dirangkum dalam kata: ["damai", "negosiasi", "kerja sama", "stabil", "kesepakatan"], dan variabel negatif (ke arah perang) yang dirangkum dalam kata: ["serang", "perang", "konflik", "tegang", "ledakan", "militer", "ancaman"] masih jauh lebih besar skala pemberitaannya dibanding sosial dan campuran.
Ini alasan tebalnya infomasi kabut peperangan, sehingga bingkai berita seperti krisis iklim, keadilan generasi, korban perang, dampak lingkungan akibat perang memiliki porsi minim, karena narasumber kisah perang Amerika-Israel dan Iran masih terbatas pada militer, aktor negara, dan sejenisnya. Sehingga opini publik melulu bekutat pada, mana yang akan kalah, mana yang akan menguasai dunia, dan sejenisnya. Berikut adalah grafik narasumber dari 196 berita selama setengah bulan terakhir:

Narasumber, atawa sumber berita dalam kasus Detik.com, masih banyak menggunakan cakupan otoritas. Adapun jumlah kategori lainnya sejumlah 10 persen adalah tebaran informasi yang berada di luar itu secara kumulatif. Hasil penelitian macam ini menandakan, kabut tebal informasi belum dibangun oleh elemen penting yang mencakup kehidupan pemuda yang hidup dalam tantangan krisis iklim.
Diburu Waktu, Sekuel 2050
Benar betulan kata sesepuh King MU, Eric Cantona. Sepatutnya mungkin layak apabila tiap pemimpin yang memutuskan kebijakan hajat hidup orang banyak berada di garda terdepan. Mereka, anak-anak muda usia 20-30 akan memasuki masa lanjut usia, menua di tahun 2050.
Tahun yang ditengarai menjadi tolok ukur bumi masih layak huni. Yang muda inilah, yang diburu waktu. Jika cara pandang komunitas manusia masih berputar pada siapa kuat, siapa lemah, maka sekuel buruk 2050 sangat mungkin terjadi. Informasi yang beredar di Detik.com hanya gambar kecil, bagaimana cara kerjasama struktur politik manusia hari ini menurun kualitasnya. Begitu pula cara pandang terhadap resiko hidup di masa mendatang.
Tahun 2050 sering dibayangkan sebagai masa depan yang jauh, padahal ia lebih mirip cermin—pelan-pelan mendekat, memantulkan keputusan yang kita buat hari ini. Krisis iklim di titik itu bukan lagi sekadar isu lingkungan, melainkan ujian menyeluruh terhadap cara manusia mengelola hidupnya sendiri.
Ketika suhu global mendekati atau bahkan melampaui ambang 1,5 sampai 2 derajat Celsius, kita tidak hanya berbicara tentang angka, tetapi tentang dunia yang berubah wataknya: musim yang tak lagi bisa ditebak, panas ekstrem yang menjadi rutinitas, dan ekosistem yang kehilangan kemampuan untuk pulih.
Dalam kerangka tipping point iklim, 2050 adalah garis batas antara dunia yang masih bisa diperbaiki dan dunia yang mulai berjalan tanpa kendali manusia. Pertanyaannya bukan lagi “Apakah kita tahu?”, melainkan “Mengapa kita tetap berjalan lambat?”.
Di sisi lain, laut yang naik beberapa sentimeter setiap tahun bukan sekadar fenomena fisik—ia adalah proses diam yang menghapus ruang hidup. Kota pesisir, desa nelayan, hingga pulau kecil akan menjadi penanda paling jujur dari krisis ini. Ketika tanah hilang, manusia bergerak. Migrasi iklim bukan skenario fiksi, melainkan konsekuensi logis.
Di saat yang sama, pangan menjadi semakin rapuh: cuaca ekstrem merusak panen, irigasi air menyusut, dan ketergantungan antarnegara semakin dalam. Dunia yang dulu terhubung oleh perdagangan bisa berubah menjadi dunia yang tegang karena rebutan sumber daya.
Bahkan air, yang selama ini dianggap dasar kehidupan, berpotensi berubah menjadi sumber konflik baru. Dalam situasi seperti ini, krisis iklim tidak berdiri sendiri—ia menjalar ke ekonomi, politik, hingga stabilitas sosial.
Lebih jauh lagi, 2050 juga akan dikenang sebagai masa di mana manusia kehilangan banyak bentuk kehidupan lain. Kepunahan spesies tidak terjadi dalam ledakan besar, tetapi dalam keheningan yang terus berlangsung. Terumbu karang memutih, hutan menyusut, dan rantai makanan terganggu secara perlahan.
Apa yang disebut sebagai kepunahan massal keenam bukan lagi peringatan ilmiah, melainkan realitas yang kita hidupi. Kehilangan ini bukan hanya masalah moral, tetapi juga ancaman langsung bagi keberlanjutan hidup manusia sendiri. Tanpa biodiversitas, sistem penopang kehidupan menjadi rapuh—dan, dalilnya adalah: ketika satu bagian runtuh, yang lain akan mengikuti.
Namun inti dari 2050 sebenarnya terletak pada satu hal yang lebih mendasar: apakah manusia mampu bekerja sama. Kesepakatan global seperti Paris Agreement akan diuji bukan di ruang konferensi, tetapi di lapangan nyata—pada kebijakan energi, pada keberanian mengurangi emisi, dan pada kesediaan negara-negara untuk tidak hanya memikirkan diri sendiri.
Jika kerja sama gagal, maka krisis iklim akan berubah menjadi krisis kemanusiaan yang lebih luas: konflik sumber daya, ketimpangan ekstrem, dan instabilitas global. Bahkan bayangan menuju 2060 menjadi semakin gelap—di mana krisis iklim tidak lagi hanya memicu bencana, tetapi juga memperbesar potensi konflik antarnegara.
Pada akhirnya, 2050 bukan sekadar “tolok ukur teknis”, melainkan momen reflektif: apakah peradaban manusia memilih untuk berubah atau tetap bertahan dalam kenyamanan yang justru mempercepat kehancuran.
Kita sering mengira waktu masih panjang, padahal yang tersisa mungkin hanya cukup untuk menentukan arah, bukan memperbaiki semuanya. Jadi, ketika 2050 benar-benar tiba, dunia tidak akan bertanya apakah krisis ini nyata—melainkan: apakah kita pernah benar-benar mencoba mencegahnya? Dan, rata-rata penghuni bumi di tahun 2050 adalah kita, adalah kamu, adalah mereka yang saat ini menginjak usia 20 sampai 30 tahunan.
Kami menerima tulisan opini/esai Anda. Rubrik ini projectarek.id dedikasikan untuk siapa pun yang memiliki minat dan kemauan dalam berpendapat dan berekspresi melalui tulisan. Kami ingin menjadikan rubrik ini sebagai rumah digital untuk bertumbuh bersama merawat demokrasi. Untuk selengkapnya, baca PANDUAN kami.