SOSOK di baliknya, Eduard Douwes Dekker, adalah seorang pegawai kolonial pada awalnya, lalu menjadi penulis dengan keterbatasan finansial. Karena menyangkut penderitaan rakyat di Lebak, tak ayal Max Havelaar muncul dalam pelajaran sejarah di sekolah, terutama di bab tentang kolonialisme Belanda.
Bonnie Triyana—sejarawan cum anggota DPR RI—memberikan pengantar dalam buku Lebak Kota Multatuli: Terjebak Antara Kolonialisme Belanda dan Feodalisme Lokal dengan kisah upaya pendirian Museum Multatuli. Multatuli sudah terlalu familiar dengan Lebak, dan begitu pula sebaliknya.
Ia salah satu inisiator Museum Multatuli. Pun keduanya bertemu di acara peresmiannya. Demikian, buku ini lalu dibuka dengan kisah perjalanan Arjan sebagai jurnalis, tim dokumenter, dan kontributor radio menelusuri Lebak pertama kali pada 1987.
Rekaman dan data yang dikumpulkan Arjan menjadi “paket Sjaalman”-nya sendiri. Sebagian menjadi bahan untuk film dokumenter berjudul Setelah Multatuli Pergi (2020; After Multatuli Left/Nadat Multatuli Vertrok) dan sebagian lain menjadi bahan untuk penulisan buku ini.
Akan kubuka Paket Sjaalmanku. Akan kuajak anda menyusuri waktu dan melewati Lebak, dengan Multatuli sebagai pemandunya dan Max Havelaar sebagai panduannya. (Hlm. 7).
Max Havelaar terbit pada 17 Mei 1860 dengan judul cukup panjang, yakni Max Havelaar of de Koffiveilingen der Nederlandsche Handelsmaatschappij. Kira-kira bila diterjemahkan ke bahasa Indonesia menjadi Max Havelaar atau Pelelangan Kopi Maskapai Dagang Belanda. Sebetulnya Nederlandsche Handelsmaatschappij (NHM) adalah nama perusahaan, jadi seharusnya tidak diterjemahkan langsung.
BACA JUGA : #MOCOREK| Manusia Politik
Penulisnya adalah Multatuli. Sosok asli di baliknya adalah Eduard Douwes Dekker (perlu dibedakan dengan Ernest Douwes Dekker, pendiri Indische Partij). Eduard pertama kali bekerja sebagai pegawai kolonial di Natal, Sumatra Barat, pada 1842. Karena masalah defisit anggaran, ia dihukum selama dua tahun dan didepak ke Batavia tanpa uang sepeser pun.
Karirnya berangsur pulih setelah ia menerima pekerjaan dengan jabatan lebih rendah di Purworejo dan Karawang. Lalu, dipulihkan secara penuh pada 1848, sekaligus dipindahkan ke Manado. Ia sempat cuti bersama istrinya ke Belanda. Pada 1855, ia kembali ke Hindia, sekaligus mendapat penempatan baru di Lebak.
Ia diangkat sebagai Asisten Residen Lebak pada 22 Januari 1856. Itulah yang jadi awal mula “Kasus Lebak.” Sebab, saat pesta pengangkatan dan penyambutan itulah, ia berhadapan dengan kondisi riil rakyat Lebak. Kisah Max Havelaar, termasuk di dalamnya kisah Saidjah dan Adinda, bersumber dari pengalaman Eduard di Lebak.
Tak butuh waktu lama agar karyanya dikagumi. Belum lama setelah Max Havelaar terbit di Amsterdam. Pujian dan kritik bermunculan. Pujian mengarah pada bagaimana roman tersebut membongkar praktik feodalisme lokal sebagai perpanjangan tangan kolonialisme Belanda.
Di lain sisi, kritik meluncur, terutama tuduhan kebohongan bombastis dan seputar perdebatan: fakta atau fiksi? Selang dua sampai tiga bulan setelah penerbitan, banyak diskusi, sanjungan, cacian, dan kritik bermunculan seputar Max Havelaar di koran-koran yang terbit di Hindia.
BACA JUGA : #MOCOREK| Menelusuri Jejak Sejarah Bibliosida
Perdebatan tentang Multatuli pernah diutarakan sejarawan Rob Nieuwenhuys dalam Mitos dari Lebak: Telaah Kritis Peran Revolusioner Multatuli (2019) dan penyair Saut Situmorang dalam artikel berjudul Max Havelaar: Buku yang Membunuh Kolonialisme? (2022). Dengan menggunakan judul artikel Pramoedya Ananta Toer (dan ditambah tanda tanya) yang dimuat di New York Times Magazine pada 1999, Saut menulis:
Multatuli/Eduard Douwes Dekker tidak pernah mengkritik kolonialisme Belanda tapi justru mendukungnya makanya dia berkali-kali bekerja untuk pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Kalau dia memang benar anti kolonialisme, dia pasti akan menolak untuk bekerja bagi kepentingan pemerintah kolonial Belanda di Hindia Belanda. Dia bukan saja tidak menolak tapi bahkan menjadi salah satu pejabat pemerintah kolonial Belanda tersebut sebagai Asisten Residen!
Multatuli dan Lebak punya pesonanya sendiri. Itulah yang membuat Arjan mengunjungi Lebak pada 1987 sembari mengambil rekaman. Saat kunjungan itulah, ia menemukan dan merekam Saidjah dan Adinda versinya sendiri. Bertahun-tahun setelahnya, ia kembali untuk merekam materi untuk film dokumenter tadi pada 2019.
Baginya, tak banyak yang berubah dari Lebak. Pada 1987, ia harus turun dari ojek motor tatkala terjebak lumpur. Pada masa Havelaar, kereta kuda yang ditumpanginya terjebak lumpur. Kini, lumpur sudah berganti jalan rusak yang tak dapat perawatan dan perbaikan tangkas serta memadai.
Sebetulnya, buku ini mencoba mengajak kita untuk membuka mata. Dari penelusuran Arjan ke Lebak yang tak banyak berubah secara signifikan, yang masih didera kemiskinan. Kini, Lebak mungkin telah terentaskan dari “kemiskinan ekstrem,” namun masih tertinggal dengan daerah lain di pinggiran Jakarta. Bahwa ada sistem yang salah, dalam pengelolaan politik dan administratif.
BACA JUGA : #MOCOREK| Timur dari Masa Lalu
Di bagian akhir pada Bab 15, terdapat sorotan terhadap praktik dinasti politik di Banten, yang hingga kini dikuasai oleh tiga keluarga politik. Kondisi yang mirip ketika Havelaar/ Multatuli/ Eduard melihat Bupati Lebak Karta Nata Negara yang relasinya dengan pejabat daerah tetangga masih satu keluarga dan berkerabat. Kondisi yang mirip dengan hari ini.
Seharusnya, kita yang menghidupi masa kini dapat membandingkan Lebak saat diawasi Havelaar pada 1856, dalam catatan perjalanan Van Putten pada 1903, saat Arjan pertama kali menjejakinya pada 1987, saat Arjan menghadiri pembukaan Museum Multatuli pada 2016, saat mencari lagi Saidjah dan Adinda versinya ada 2019, dan di masa kini, barangkali tak jauh berbeda. Bukan perkara teknologi, namun kondisi rakyatnya.
Berdasarkan saran Arjan, Anda bisa membaca buku ini setelah membaca habis Max Havelaar, seperti ketika dia menjadikan Multatuli sebagai pemandu dan Max Havelaar sebagai panduan. Atau seperti saya, yang menjadikan buku ini sebagai gerbang masuk menjelajahi Lebak, berkenalan dengan Multatuli, dan membaca telaah-telaah kritis tentangnya.
Ringkasan
Judul
Lebak Kota Multatuli: Terjebak antara Feodalisme Lokal dan Kolonialisme Belanda
Penulis : Arjan Onderdenwijgaard
Penerjemah : Annayu Maharani & Hawe Setiawan
Pengantar : Bonnie Triyana
Penerbit : Marjin Kiri
Jumlah Halaman : xiv+288
Tahun Terbit : 2026
QRCBN : 62-6771-0810-286
Muhammad Rizky Pradana, sejarawan (muda) partikelir. Minat kajian seputar sejarah umum, pergerakan buruh dan pers kolonial, etnoastronomi, dan sejarah astronomi. Saat ini sedang membangun Insulinde Sejarah, sila kunjungi di @insulindesejarah.
