Skip to main content
Foto: Octaviana Salma/Project Arek
Reportase
Jadikan Gereja Rumah Kelas Pekerja
Buruh/pekerja bukan sekadar roda kecil yang menunggu belas kasih pemodal. Kita adalah ladang yang hanya akan subur jika saling menguatkan. Kekuatan itu tumbuh dari solidaritas terbentuk dengan tangan yang saling menggenggam, bukan saling menekan. Dalam Injil, kita adalah para pekerja di kebun anggur. Berserikat bukan pilihan, melainkan hak akar yang membuat kita tetap berdiri dan tidak mudah dicabut.”

BERANGKAT dari realitas buruh hari ini, persoalan tak lagi sekadar soal upah, melainkan tentang martabat yang kerap tergerus, relasi kuasa yang menekan, sekaligus iman yang ditantang untuk tak tinggal diam. Sarasehan Hari Buruh bertajuk “Martabat Kerja: Meneladani Santo Yusuf dalam Perjuangan Keadilan Sosial”, mengajak iman turun dari altar, menyatu dengan peluh dan luka para buruh.

Kegiatan ini digelar pada Sabtu (2/5/2026) di Gereja Katolik Paroki Santo Stefanus, ruang di mana doa bertemu kenyataan dan keadilan diperjuangkan bersama sebagai bentuk kehadiran iman. Para Imam yang hadir menegaskan, gereja tidak hanya berdiri di mimbar, tetapi hadir di tengah kehidupan buruh dengan mendampingi, menguatkan, dan membela hak-hak mereka.

BACA JUGA : MAYDAY| Nasib Pekerja Mal Suroboyo

Uskup Surabaya, Mgr Agustinus Tri Budi Utomo menegaskan pentingnya peran gereja dalam isu ketenagakerjaan. Ia menyoroti, gereja tidak boleh abai terhadap persoalan martabat buruh, hak-hak pekerja seperti untuk berserikat, hingga krisis pengangguran. Semua itu, menurutnya, bukan sekadar isu sosial, melainkan medan perjuangan iman yang menuntut keberpihakan nyata.

Umat diajak memahami bagaimana hidup dan perjuangan kaum buruh yang sering kali sekedar muncul dalam mimbar-mimbar doa semata. Uskup Surabaya, Mgr Agustinus Tri Budi Utomo menegaskan, membela hak-hak buruh adalah cerminan dan tanggung jawab iman. (Octaviana Salma/Project Arek)

Ia menambahkan, gereja dipanggil untuk tidak hanya hadir dalam doa, tetapi juga dalam tindakan yang konkret dalam mendampingi, mengadvokasi, dan membuka ruang dialog antara buruh, pengusaha, dan pemangku kebijakan. Dalam situasi di mana buruh sering berada pada posisi rentan, gereja diharapkan menjadi suara yang menguatkan sekaligus jembatan yang memperjuangkan keadilan bagi kelas pekerja.

Dua Tugas Pastoral

Mgr Agustinus Tri Budi Utomo atau akrab disapa Mgr Didik itu mengatakan, setidaknya ada dua tugas Pastoral dalam dunia perburuhan. Tugas itu bisa dijalankan gereja dan umat yang mau terlibat dalam gerakan perjuangan buruh. Dengan begitu, kata dia, geraja dan umat mengetahui kehidupan buruh dan bagaimana mereka memperjuangkan hak-haknya.

“Apa saja isu yang perlu diperhatikan? Jawabannya setidaknya ada dua tugas pastoral yang tidak bisa diabaikan. memperhatikan secara sungguh-sungguh realitas yang terjadi di tengah kehidupan buruh; mendengar, melihat, dan merasakan langsung apa yang mereka alami,” ungkap Mgr Agustinus Tri Budi Utomo atau akrab disapa Mgr Didik.

Pertama, gereja memiliki peluang dalam pengorganisasian. Demikian dapat dipahami sebagai proses membangun jejaring yang hidup dan saling terhubung. Mgr Didik mengatakan, pertemuan seperti ini bukan sekadar ruang diskusi, tetapi menjadi embrio titik awal yang menumbuhkan kesadaran bersama.

Berjejaring saja tidak cukup tanpa penyadaran visi dan misi. Karena itu, bidang pelayanan paroki gereja, Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) perlu membawa pengetahuan tentang dunia perburuhan dan diperkuat hingga ke tingkat paroki sebagai basis solidaritas.

Mgr Agustinus Tri Budi Utomo atau akrab disapa Mgr Didik meminta umat dan gereja berpihak pada kaum yang lemah, termasuk buruh. Keberpihakan harus diterjemahkan dalam langkah nyata melalui gerakan solidaritas dan advokasi. (Octaviana Salma/Project Arek)

Tidak hanya bagi buruh, tetapi juga bagi para pemberi kerja, agar relasi yang terbangun tidak lagi sekadar hubungan produksi, melainkan ruang dialog yang saling memahami. Dari sinilah diharapkan lahir kesadaran kolektif, bahwa keadilan kerja bukan hanya tuntutan satu pihak, melainkan tanggung jawab bersama yang harus dirawat dan diperjuangkan.

BACA JUGA :

Asal-usul Pekerja Informal di Indonesia (Bagian I)

Asal-usul Pekerja Informal di Indonesia (Bagian II)

Kedua, literasi keluarga menjadi perhatian penting. Keprihatinan paling banyak muncul dari keluarga buruh muda, pasangan suami istri yang sama-sama bekerja sambil mengasuh bayi. Dalam dunia ketenagakerjaan, isu seperti cuti kehamilan dan hak menyusui bukan sekadar kebijakan, melainkan bagian dari hak dasar dalam kehidupan keluarga yang harus diperjuangkan dan dilindungi.

Ia mencontohkan, penitipan anak bagi buruh tidak bisa dipandang sekadar sebagai tempat “menitipkan” anak selama orang tua bekerja. Lebih dari itu, perlu ada pendekatan parenting yang sehat dan sadar tumbuh kembang. Anak-anak buruh berhak mendapatkan ruang yang aman, perhatian yang cukup, serta stimulasi yang mendukung perkembangan fisik, emosional, dan sosial mereka.

Negara belum memikirkan dengan baik tentang pentingnya Daycare tetapi terakhir sudah mengeluarkan aturan tentang Daycare, sehingga belum adanya pelayanan yang baik justru sudah keluar peraturannya,” tegas Mgr Didik

Karena itu, sistem penitipan anak harus dirancang bukan hanya untuk menjaga, tetapi juga mendampingi dan memastikan kebutuhan dasar anak terpenuhi dengan baik. Ini menjadi bagian penting dari perlindungan keluarga buruh, agar orang tua bisa bekerja tanpa mengorbankan masa depan dan perkembangan anak-anak mereka.

Realitas Buruh dan Teladan Santo Yusuf

Mgr Didik menegaskan, sikap Vatikan menekankan agar gereja terus mendorong kepedulian terhadap hak-hak buruh sebagai bagian dari panggilan iman. Tuduhan bahwa gereja “berada di belakang buruh” sejatinya bukan hal yang perlu dihindari, melainkan bentuk keberpihakan yang lahir dari solidaritas.

“Ada tiga pilar yakni; pekerja, pengusaha, negara. Gereja di tengah maka bagaimana kepeduliannya dengan para pekerja tidak sekedar hanya memecah masalah harian melainkan masalah struktural,” Ucap Mgr Didik.

Namun, keberpihakan itu tidak boleh berhenti pada simbol atau pernyataan semata. Menurutnya, keberpihakan harus diterjemahkan dalam langkah nyata, dimulai dari membangun komunikasi yang jujur dan berbasis pada persoalan konkret yang dihadapi buruh sehari-hari.

Lebih jauh, ia menekankan pentingnya tata kelola gerakan yang lebih sistematis. Tidak hanya soal dana bergulir, tetapi juga bagaimana membangun sistem manajemen data yang rapi dan berkelanjutan. Jejaring yang sudah terbentuk perlu diperkuat dengan mekanisme monitoring dan evaluasi (monev), agar setiap langkah bisa diukur dan diperbaiki.

Menurutnya, jika berbicara dalam kerangka keselamatan dan nilai hidup, menjadikan Santo Yusuf sebagai teladan tentu sangat relevan. Sosoknya mencerminkan tanggung jawab, ketekunan, dan kesetiaan dalam menjalani panggilan hidup sebagai pekerja sekaligus kepala keluarga. Nilai-nilai ini penting sebagai inspirasi moral dan spiritual bagi buruh.

Mgr Agustinus Tri Budi Utomo meminta umat harus memahami bahwa buruh hidup dalam ketimpangan dan jerat ekonomi yang membuat mereka sulit berkembang. Di sanalah umat diharuskan setia membersamai buruh atau pekerja dalam kehidupan mereka sehari-hari. 

Namun, jika ditarik ke konteks ekonomi, situasinya tidak sepenuhnya sebanding. Santo Yusuf adalah seorang tukang kayu yang bekerja dalam lingkup sederhana, dengan relasi kerja yang relatif langsung, serta tanggung jawab utama pada keluarganya. Pekerjaannya tidak berada dalam sistem industri besar yang penuh dengan struktur dan tekanan berlapis seperti yang dihadapi buruh saat ini.

Sementara itu, realitas buruh hari ini jauh lebih kompleks. Mereka tidak hanya berhadapan dengan urusan upah, tetapi juga dengan sistem kerja, relasi kuasa yang timpang, serta ketidakpastian ekonomi yang terus menghantui. Buruh sering kali tidak memiliki kendali penuh atas pekerjaannya, bahkan terhadap waktu dan tenaga yang mereka curahkan setiap hari.

Dalam situasi seperti ini, membandingkan secara langsung kehidupan Santo Yusuf dengan kondisi buruh modern tentu memiliki keterbatasan. Ada jarak konteks yang cukup jauh, baik dari segi struktur ekonomi maupun dinamika sosial yang melingkupinya. Karena itu, pendekatan yang digunakan tidak bisa sekadar menyalin, melainkan perlu membaca ulang maknanya.

Sebagai spiritual Santo Yusuf sangat teladan bagi kaum pekerja terutama hubungan keluarga pekerja apakah menumpuk modal sebagai kapitalis apakah untuk mewujudkan keselamatan dalam keluarga pekerja,” tutupnya.

Iman Diwujudkan Dalam Tindakan

Antonius Alfredo Poa, CM mengatakan, sarasehan menjadi penegasan semua pekerja atau buruh di mana pun mereka, baik di industri, perkebunan sampai rumah tangga, wajib dibela hak-haknya. Komitmen itu dijalankan melalui Wadah Asas Solidaritas (WADAS). Ini menjadi ruang di mana iman diterjemahkan menjadi keberpihakan nyata bagi mereka yang lemah.

WADAS adalah divisi di bawah Yayasan Kasih Bangsa Surabaya (YKBS). Dibentuk pada 11 Agustus 2007 sebagai akar Kerukunan Pekerja Katolik (KPK), sebuah gerakan kecil yang setia menemani buruh. Dari akar itu, WADAS terus merentang seperti cabang yang memberi tempat dan menguatkan langkah buruh agar tetap tegak mempertahankan martabatnya.

BACA JUGA :

Krisis Iklim Dibayar Nyawa Pengemudi Ojol (1)

Krisis Iklim Dibayar Nyawa Pengemudi Ojol (2)

Antonius Alfredo Poa, CM menegaskan, berserikat adalah jalan penting untuk merawat dan memperkuat solidaritas buruh, tempat di mana suara yang tercecer disatukan menjadi kekuatan. Dalam semangat itu, WADAS hadir sebagai simbol keberpihakan gereja terhadap isu perburuhan, menghadirkan iman yang tidak diam, tetapi berpihak dan bergerak bersama buruh.

Kami tidak membentuk kelompok buruh. Kami mendampingi, berjalan, berkembang, dan tumbuh bersama mereka. Harapannya, inisiatif utama lahir dari kita semua, tanpa ketergantungan, sebagai umat beriman yang saling menguatkan,” tutur Antonius

WADAS tidak hanya bergerak di ranah pendidikan kognitif, tetapi juga membekali buruh dengan pemahaman hukum ketenagakerjaan, keterampilan jurnalistik, serta penguatan kampanye advokasi. Selain itu, WADAS turut mengembangkan peran paralegal, mendampingi dan memperjuangkan hak-hak buruh di tengah berbagai persoalan hukum yang mereka hadapi.

Antonius Alfredo Poa, CM menegaskan bahwa berserikat adalah jalan penting untuk merawat dan memperkuat solidaritas buruh, tempat di mana suara yang tercecer disatukan menjadi kekuatan. Dalam semangat itu, WADAS hadir sebagai simbol keberpihakan gereja terhadap isu perburuhan, menghadirkan iman yang tidak diam, tetapi berpihak dan bergerak bersama buruh. (Octaviana Salma/Project Arek)

Salah satu tujuan Antonius adalah mendorong keterlibatan aktif dalam WADAS sebagai ruang bersama. Keterlibatan itu diwujudkan melalui forum diskusi lintas sektor mempertemukan buruh dan mahasiswa untuk saling bertukar gagasan dan pengalaman.

Selain itu, WADAS juga membuka pendampingan yang inklusif, tidak terbatas pada latar belakang agama. Buruh non-Katolik pun diajak duduk bersama, membangun dialog, dan merumuskan keprihatinan bersama, sehingga solidaritas yang tumbuh tidak eksklusif, melainkan benar-benar merangkul semua.

BACA JUGA :

Asal-usul Pekerja Informal di Indonesia (Bagian I)

Asal-usul Pekerja Informal di Indonesia (Bagian II)

Program lain WADAS juga menyasar penguatan literasi buruh melalui pendidikan keuangan berbasis Credit Union (CU). Inisiatif ini menjadi bekal agar para buruh tak hanya bertahan, tetapi mampu mengelola keuangan secara lebih sadar, mandiri, dan berkelanjutan di tengah tekanan ekonomi yang terus menghimpit.

“Melalui pendidikan literasi keuangan, teman-teman buruh dapat memahami pos-pos pengeluaran yang perlu diatur dari gaji mereka, sehingga cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sekaligus mempersiapkan masa depan anak. Salah satunya dengan cara memutar uang melalui usaha kecil,”  imbuh Antonius.