Skip to main content
ilustrasi: Darius Tri/Project Arek
Arek Bercerita
Hantu Digital Korporasi Congkak
Ia lantas mengumumkan akan adanya PHK beberapa karyawan. Namun, di penghujung penjelasannya, ia memastikan jika setiap orang yang ada di ruangan ini bebas dari PHK.

LANGIT sudah gelap sempurna ketika Adri menatap layar laptopnya untuk terakhir kali. Kasihan. Hari itu laptop satu-satunya sudah bekerja keras tanpa istirahat. Meski pemiliknya jemu, perangkat keras itu tetap menyala.

Di layar ponsel, deretan pesan cepat belum terbaca. Satu di antaranya datang dari Katas atau Kepala Tugas, Pak Kabul, setingkat koordinator desk liputan, berisi pesan peringatan: ”Besok jangan telat, jangan malam-malam kirim naskahnya!” Begitu pesan yang muncul di notifikasi yang membuat Adri mendesah berat. Padahal, terakhir pengiriman naskah tertulis 15.29 WIB. Dalam hatinya berkecamuk. Sejak kapan 15.29 itu disebut malam. Anak taman kanak-kanak pun juga tahu. Kalau itu adalah sore.

Kondisi itu bukan pertama kalinya. Sejak bergabung dengan perusahaan media delapan tahun lalu, kehidupan pribadi Ardi hampir lenyap. Jam kerja yang tak menentu, berita yang harus selalu cepat tayang, padahal koran itu terbit di hari esoknya. Belum lagi, revisi bergulir membuatnya merasa seperti mesin, bukan manusia.

Kondisi itu semakin kacau, setelah tampuk pimpinan redaksi berganti. Semua mendadak berubah. Pemberlakuan jam kerja nine to five menggelinding buta. Artinya, perubahan deadline kerja yang semula pukul 20.00 WIB menjadi 17.00 WIB.

Semua serba cepat. Pun perubahan perilaku rekan kerja, pimpinan redaksi dan turunannya yang tiba-tiba menjadi toxic; tingkah teman-teman mendadak berubah menjadi kacang lupa kulitnya. Semua mendadak micromanage. Apalagi koordinator desk yang sudah abuse of power dan mendarah daging—mulai Ingin mengetahui semua aktivitas bawahannya. Pergi kemana, menulis berita menggunakan apa, mau tau apa saja dan ingin menjadi pertama untuk mengetahui segalanya yang terjadi di luar sana.

”Ini 2045, lho, masih saja pakai cara lama. Dasar kolot!” hardik Ardi.

”Tenang. Vincit Qui Patitur,” ujar Tata sambil menyodorkan segelas arak tradisional dari pulau Dewata. ”Yang sabar itu yang akan menang, artikan sendiri bagaimana menang itu, ya! Sudah habiskan!”

Seteguk. Dua teguk. Pikiran Adri melayang ke kabar burung yang belakangan beredar di kantor bahwa akan ada PHK bertahap. Desas-desus itu membuat suasana semakin tegang. Karyawan di timnya, termasuk dirinya, kini merasa terjebak antara mempertahankan pekerjaan atau mempertahankan kewarasan.

Malam pun semakin larut. Di kamar kos itu, Tata sudah teler dengan arak. Dia tertidur dengan rokok yang masih menyala di sela jari tengah. Sementara Adri, duduk menerawang keluar jendela yang sudah gulita.

”Dasar! Kebiasaan!” Gerutunya sembari mengambil rokok milik Tata yang masih menyala lalu menghisapnya hingga hisapan yang terakhir.

*

Sore harinya, suasana kantor terasa lebih sunyi dari biasanya. Banyak wajah tegang berseliweran di koridor lounge. Apalagi, muncul pesan di grup percakapan untuk undangan rapat malam harinya. Bagi Adri, rapat itu menjadi rapat pekanan yang membosankan. Topik pembicaraan dan pembahasan begitu mudah ditebak.

Pak Kabul memimpin rapat dengan topik yang sama. Apa kendala dilapangan? Ada masalah apa selama bekerja? Kenapa tidak bisa on time? Ada ide peliputan apa? Begitu seterusnya. Pertanyaan itu ditujukan ke semua peserta rapat. Digilir satu persatu, hingga semua harus berbicara.

Tapi hanya sebatas pertanyaan. Tidak ada sedikitpun ide yang muncul dari kepala Pak Kabul. Bahkan, tidak ada sedikitpun pengambilan keputusan dari dirinya. Semua keputusan dikembalikan ke reporter peserta rapat atau kalau tidak dilimpahkan pada senior atau redaktur lainnya. Seolah-olah demokratis, tapi omong-kosong.

Tiba-tiba, Tata datang dan membuyarkan lamunannya, menghampiri Adri dengan wajah kusut. ”Sudah dengar nggak? Tiga orang dari tim editorial, dan dua reporter udah dipanggil HR kemarin,” bisik Tata.

Adri mengangguk lesu. Dia mengaku kabar itu justru didapat dari mbak-mbak kantin kantor di basement. Memang, kalau hendak mencari kabar terbaru dari kondisi kantor tak perlu jauh-jauh. Cukup datang ke kantin bawah tanah, semua misteri terjawab gamblang. Termasuk giliran siapa dipanggil HR. Cukup datang dan pesan kopi, semua informasi hadir dengan sendirinya. Bahkan, asbak dan daun pintu pun berbicara di kantin bawah tanah.

”Bisa-bisanya dua reporter kena PHK. Ini kocak. Jumlah kita sedikit, mau dikurangi lagi. Apa mau mereka?” sergah Adri.

”Kamu ingat? Rapat pekan lalu mereka melucu? Katanya, kita tidak perlu reporter banyak-banyak karena bisa diganti dengan AI. Itu bangsat, Dri!” timpal Tata.

Adri tahu betul tekanan itu makin nyata. Namun, beban kerja yang terus bertambah membuatnya mulai merasa jengah. Dia berencana protes atas isu yang beredar saat rapat malam nanti, tapi Tata mencegahnya. Upaya itu konyol, sebab yang vokal sudah pasti tak dianggap.

30 menit sebelum rapat dimulai, Adri menerima sebuah pesan email aneh. Pengirimnya tak dikenal, dan subjeknya hanya bertuliskan: “Jangan Sampai Terlambat Menyadari.” Isi email itu sederhana tapi mengusik pikirannya: “Ardi, kalau terus begini, kamu akan kehilangan segalanya. Ini adalah peringatan dari masa depanmu. Mulailah melindungi dirimu sendiri sebelum terlambat.”

Ardi terdiam, bingung. Ia mencoba membalas email itu, tapi pesan error muncul: Alamat tidak ditemukan.

Suasana rapat begitu dingin. Masing-masing tertunduk; berselancar di dunia maya, bolak-balik tumbler, dan memainkan korek. Bahkan jalan mondar-mandir seperti setrika.

Saat itu Pak Kabul belum datang. Padahal ia sendiri yang meminta agar rapat dimulai ontime. Tiba-tiba ia masuk ruangan diikuti dengan Pimpinan Redaksi, Pak Eka. Suasana semakin tegang. Rapat pun dimulai dengan pembahasan seperti biasanya. Usulan berita mingguan hingga liputan khusus. Polanya sama. Tidak ada usulan dari pimpinan.

Namun, kali ini berjalan cepat. Tidak lebih dari 60 menit sudah selesai. Lalu, dilanjut dengan paparan Pak Eka. Semua tegang. Ia pun membuka paparan dengan optimisme dan rencana bisnis bak hidup di menara gading.

Hampir 30 menit paparan berlangsung dan akhir pembahasan pun dapat ditebak. Ia lantas mengumumkan akan adanya PHK beberapa karyawan. Namun, di penghujung penjelasannya, ia memastikan jika setiap orang yang ada di ruangan ini bebas dari PHK.

**

Mentari perlahan menyembul di atas kepala, menandai lembaran baru yang terbentang di hadapan. Namun, terik matahari menambah amarah yang masih berkecamuk dan bergejolak seperti ombak yang tak kunjung surut.

Ingatan tentang Pak Kabul terus mengusik. Sikapnya yang kaku, kata-katanya yang tak tersaring, serta keputusannya yang kerap terburu-buru, seakan enggan memberi ruang bagi kebijaksanaan.

”Kenapa harus berbohong, ngomong langsung saja dan terus terang, jelas, lugas, kan bisa,” gerutuku panjang lebar.

Cara berkomunikasi Pak Kabul sangat buruk. Keputusan yang diambilnya bukan sekadar keliru, melainkan sebuah nahas yang menyeret semua pada nestapa tanpa ujung. Rancu berkepanjangan.

Tidak sedikit dari karyawan yang memilih diam dan mengambil hikmahnya. Tapi, Adri tidak seperti itu. Diam-diam, amarahnya telah membara menjadi api yang tak terkendali, bukan lagi ombak yang surut. Malam itu, setelah rapat usai dan Pak Eka meninggalkan ruangan dengan senyum palsu, Adri kembali ke kamar kosannya.

Tata sudah menunggu dengan botol arak baru tapi Adri menolaknya. ”Aku nggak butuh ini lagi,” katanya dingin. Matanya menyala seperti layar laptop yang tak pernah padam.

Dia duduk di depan komputer. Jarinya menari di keyboard dengan kecepatan yang tak biasa. Bukan menulis berita, tapi menembus dinding digital perusahaan. Sepuluh tahun bekerja di sana tidak sia-sia; dia tahu celah-celah jaringan mereka, password lama yang tak pernah diganti, firewall yang rapuh karena anggaran dipangkas untuk "efisiensi".

Dari siapa email aneh itu? Mungkinkah dari masa depannya sendiri? Atau mungkin hanya ilusi? Tapi sekarang itu tak penting. Dia harus bertindak. Adri bukan peretas profesional, tapi ia cukup pintar untuk belajar dari forum gelap yang dikunjunginya diam-diam.

Malam itu dia menyusup ke server utama perusahaan media itu. Situs web mereka, portal berita nasional yang sombong itu, tiba-tiba lumpuh. Pada layar hitam hanya muncul pesan sederhana: “Kebenaran Tak Bisa Dibeli, Tapi Kebohongan Bisa Dicuri.”

Setelah itu dia mengalihkan dana dari rekening korporat: miliaran rupiah yang seharusnya untuk bonus pimpinan dialirkan ke akun anonimnya melalui cryptocurrency. Adri melakukannya bukan untuk dendam semata, tapi untuk kebebasannya. Uang itu cukup untuk tiket satu arah dan hidup di Norwegia, di desa kecil di Fjord Utara, di mana adat Viking masih hidup. Api unggun, kapak besi, dan cerita tentang para pejuang yang tak pernah tunduk pada tiran.

Pagi harinya, kantor gempar. Situs web down. Berita tak tayang dan dana hilang tanpa jejak. Polisi sibuk mencari pelaku, tapi Adri sudah hilang. Dia tak ikut berserikat seperti yang direncanakan Tata dan yang lain untuk protes bersama, mogok kerja, atau menuntut hak. Bagi dia, semuanya palsu, termasuk yang mengaku sahabat yang juga bisa tega menusuk dari belakang. Dia memilih jalan sendirian, jalan yang tak terpikirkan: menjadi hantu digital yang menghancurkan kerajaan dari dalam.

Di Norwegia, di bawah langit aurora yang menari, Adri (sekarang dengan nama baru Rubenio) duduk di pondok kayu, minum mjöd dari tanduk sapi. Tak ada deadline, tak ada Pak Kabul. Hanya angin Fjord yang berbisik Vincit Qui Patitur; yang sabar menang–tapi menangnya adalah dengan pedang, bukan sabar semata. Dan di sana, dia akhirnya bebas seperti Viking yang tak pernah kalah.

 

Wulandari P


Kami menerima tulisan cerpenmu di rubrik AREK BERCERITA. Rubrik ini projectarek.id dedikasikan untuk siapa pun yang memiliki minat di dunia sastra khususnya cerpen. Kami ingin menjadikan rubrik ini sebagai rumah digital untuk bertumbuh bersama menghidupi dunia cerpen. Kirimkan karyamu dengan membaca PANDUAN kami.