“Apakah bapak akan menjadi burung?” Aku tahu dari dulu bapak merupakan pecinta burung nomor satu. Ia jadi ketua komunitas pecinta burung di daerah kami. Mungkin, kecintaannya terhadap burung dimulai ketika bapak baru sunat. Atau… Mungkin sebelum itu. Kecintaannya terhadap burung pasti dimulai dari burung peliharaannya sendiri. Bukan hewan, maksudku.
“Kalau bapak akan menjadi burung, kenapa pohon-pohon itu harus ditebang? Bukankah burung bersarang di pohon?” Hampir saja aku tertawa. Aku tahu burung peliharaan bapak tidak bersarang di atas pohon.
“Tidak, sayang…” Bapak meletakkan gawainya, selepas memotret-motret sesuatu yang ditutupi oleh kain hijau dan ukurannya cukup besar sehingga tadi pagi sebelum aku berangkat sekolah—satu mobil hitam SUV mengantarkan benda itu dengan kondisinya yang tertutup rapat. Dan, ketika aku pulang, benda itu masih tertutup rapat. Ada apa gerangan?
“Bapak tidak akan menjadi burung.” Ia lalu merenggangkan tangannya yang keriput laiknya tomat busuk dan urat-uratnya yang menyembul seperti akar pohon beringin—bersiap-siap menyingkap kain beludru berwarna zamrud di hadapan kami. Apa-apa yang berada di baliknya, pasti adalah jawaban dari pertanyaanku sebelumnya: apakah bapak akan menjadi burung? “Tidak. Tidak. Bapak akan menjadi lebih daripada itu.”
“Bapak akan menjadi lebih dari sekadar burung.”
Di balik kain itu, kulihat sebuah mahkluk berwarna putih bertubuh gagah terlukis dengan catnya yang berwarna legam dan melintang ke sana-kemari. Sama halnya seperti burung, mahkluk itu memiliki sayap. Dan, aku jadi semakin yakin, bahwa bapak akan memiliki sayap. Bukan sayap burung, untungnya.
Bapak akan menjadi kuda sembrani. Begitulah katanya.
***
Hal itu mengingatkan aku pada waktu sebelum kami pindah karena katanya bapak ada urusan di Jawa Barat, Gunung Salak tepatnya, tempat di mana aku melihat satu per satu pohon bertumbangan dan langit tidak lagi memiliki atap. Aku bisa melihat segala jenis mahkluk bersayap dan beterbangan di sana. Diterpa terik matahari. Mencari-cari tempat tinggal.
Di Magelang, bapak sering mengunjungi lereng Gunung Merbabu untuk pergi ke Sungai Gendu, jaraknya cukup jauh dari tempat kami berada, berkilo-kilo meter. Biasanya, bapak berangkat pada hari Minggu. Ketika ditanya mau ke mana oleh ibu, biasanya pula bapak akan menjawab, “Ingin bertemu leluhur. Agar kita bisa naik haji!” katanya. Hal itu membuatku bingung. Apakah leluhur kami adalah seekor hewan?
Kata ibu, bukan begitu maksudnya. Leluhur kami, atau lebih tepatnya leluhur bapak, diperkirakan adalah keturunan dari Sultan Agung yang memerintah kerajaan Mataram. Konon, Sultan Agung memiliki karomah yang sungguh mukjizat. Bisa pergi ke Makkah dari Jawa Tengah dalam waktu yang sungguh cepat. Atas saran abdi kerajaannya, Ki Bodo, Sultan Agung jadi memiliki tunggangan yang begitu dahsyat. Tunggangan itu diambil dari Makkah, selepas Sultan Agung salat Jumat. Cerita ibu membuatku tercekat. Walau sebenarnya, ibu merunut perkataan bapak, yang didapatnya dari bunga tidur yang tiba-tiba mencelat.
Sultan Agung memelihara kuda sembrani. Pakannya hanya berada di Makkah berupa rumput-rumputan. Menurut bapak, kuda sembrani peliharaan Sultan Agung telah datang dari masa lalu, beribu-ribu tahun jauh sebelum bapak bahkan dilahirkan atau ada, lalu memilihnya. Entah untuk apa. Mungkin, semacam khodam. Pertama kali bapak mengetahui hal itu ketika kuda sembrani menampakkan wujudnya dalam mimpi bapak.
Setelah bapak bekerja di hutan dan pulang membawa gergaji sensonya, bapak mendapatkan ilham itu di atas karpet kami yang sudah robek setengah dan warnanya memudar. Hewan itu hanya bergeming menatap bapak, sayapnya terbentang sangat luas, mencakup segala ruang di dalam mimpi bapak. Lepasnya, hewan itu tersenyum lekas mengudara. Mengawang-awang. Dan ibu menggampar bapak memakai sapu lidi karena lupa memberinya uang belanja. Mimpi itu serta-merta buyar.
Hari-hari berikutnya, mimpi yang sama terus berulang-ulang dan berkelanjutan, seperti tayangan televisi yang memundurkan sedikit beberapa adegan dan melanjutkan adegan tersebut dalam tayangan berikutnya. Hewan itu tersenyum, merengkuh bapak menggunakan sayapnya, mengajak bapak terbang. Mengajaknya mengudara di langit lepas. “Itu artinya sebentar lagi kau akan memiliki kebebasan, Joko.” Wak Sumar, dukun penafsir mimpi di kampung kami mengangguk-angguk ketika bapak bercerita. Sesekali menghirup dan menyembur asap kreteknya ke sudut ruangan. “Kebebasan itu didapat karena kuda sembrani telah memilihmu untuk menjadi penunggang selanjutnya. Datanglah ke lereng Gunung Merbabu, pujilah ia.”
Maka dari itu, bapak mulai sering melakukan ritual di salah satu petilasan kuda sembrani. Sebutannya Tapak Jaran Sembrani. Legokan atau cekungan yang berada di dekat air Seklarak dipercaya merupakan bekas kaki kuda sembrani yang mengantar bidadari turun dan naik dari langit ketika mandi di situ. Cekungan tersebut selalu terisi air, konon bisa menyembuhkan segala penyakit.
Aku tahu kuda sembrani tidak hanya dimiliki oleh Sultan Agung, ia memiliki banyak versi. Ada yang menyebutnya kuda akhirat, kendaraan para bidadari, tunggangan Prabu Layang Kusuma dan Permaisuri Layang Sair atau Batara Wisnu dalam cerita pewayangan. Mengapa bapak mengait-ngaitkannya dengan Sultan Agung ketika bercerita pada ibu menurutku karena salah satu mimpi ibu yang tertunda dari dahulu: naik haji ke Makkah. Yang pasti, kuda itu memiliki simbolik sebagai hewan yang suci. Hewan yang baik dan putih.
Dan, aku kira bapak sama sekali tidak seperti itu.
***
Bapak adalah perambah kayu. Kadang ia yang menebang, kadang ia menjadi tukang sapu serbuk kayu. Kerjanya memakai gergaji senso atau tiga unit mesin chainsaw merek STIHL dengan tali tambang sepanjang dua puluh meter. Kalau memakai gergaji senso, bapak akan memasang peredam suara. Malam-malam, ia bekerja demi mencari nafkah agar ibu bisa naik haji ke Makkah.
Bersama teman-temannya, mereka melakukan pembalakan liar. Setelah membabat habis hutan di sekitar pegunungan Magelang, kami berpindah ke Gunung Salak, dekat blok Citorek. Di sana banyak kayu gelondongan dan tanaman-tanaman yang berumur ratusan tahun seperti rasamala, meranti, puspa, serta kayu-kayuan putih yang dibawanya keluar dari kawasan hutan.
Aku tahu itu semua karena setiap malam, aku menyelidiki apa yang bapak lakukan. Satu per satu pohon bertumbangan. Habis. Tiada. Banjir dan longsor lalu datang bergantian. Kulihat langit jadi telanjang, menyisakan hewan-hewan yang beterbangan seperti burung-burung kertas yang kehilangan arah. Hewan-hewan pegunungan mungkin turun dengan bimbang. Aku melihat banyak burung, bermacam-macam warnanya, bermacam-macam bulu dan bentuk paruhnya. Sampai suatu malam, aku mendengar suara. Bukan suara burung, agaknya. Tampak, suara itu sangat terdengar lain.
“A…Hool!” Suara itu berteriak. Lengking sekali. “A…Hool!” Aku dan ibu terbangun. Serempak, kami membuka jendela, menjulurkan-julurkan leher. Melihat ke angkasa. “A…Hool!” Sekeliling kami berubah menjadi hitam. Redup. Sinar lampu-lampu tidak lagi ada. Segalanya berubah gelap gulita.
“A…Hool!”
“Halah, paling itu hanya pesawat lewat.” Bapak memakai jam tangannya, menyisir rambutnya yang kelimis. Gelagatnya tampak bergegas-gegas. “Bapak mau berangkat ke Magelang, bertemu Wak Sumar.” Kulihat mata bapak diperban, kainnya lumayan banyak. Kata ibu, bapak terkena ranting. Ujungnya yang selancip belati mencolok mata bapak ketika tengah menebang.
“Tapi ada teriakan, Pak. Keras sekali!” Aku bersikukuh. Walaupun aku sambil mengambil jaketku, mengekori bapak: kepingin ikut ke Magelang. “Masak ada pesawat yang bunyinya ‘A… Huuul!’ Begitu sih, Pak?”
Bapak memasang sabuk pengaman, menyalakan mobil, menginjak pedal, dan sibuk menatap jalan raya. Semalam, bapak bermimpi kembali. Tentu bertemu kuda sembrani. Namun, terbilang bukan mimpi indah, sebab ketika bapak sedang terbang bersama hewan itu, sekonyong-konyong mereka nyangkut di sebuah pohon. Pohon itu tumbuh ke bawah dari dasar langit mimpinya. Akarnya berbelit-belit. Menjerat bapak dan kuda sembrani. Sayap hewan kesayangannya itu jadi robek.
“Saya kurang yakin apa maksudnya, Jok. Tapi…” Wak Sumar mengulum kereteknya, lalu menyemprotnya ke sembarang arah. “Saya tahu itu pertanda buruk.”
Bapak menginjak pedalnya. Mengunjungi Sungai Gendu, melakukan ritualnya sejenak, membuka perbannya, mengambil air dari legokan, kemudian mengusapnya perlahan-lahan. Tiga jam bapak melakukan hal tersebut, malamnya, mata bapak sembuh. Tanpa luka. Tanpa bekas. Dan, pada malamnya pula, ketika kami masih dalam perjalanan dari Magelang, ibu meneleponku. Ia mendengar teriakan itu kembali.
Namun, teriakannya makin membesar. Tiga kali lipat lebih besar. Bayangannya mampu menutupi rumah kami. Ibu melihat, dari balik jendela, sebuah mahkluk hitam berbulu lebat dan bermata merah melintasi pohon demi pohon yang masih tersisa. Jengkal tiap jengkal tanah yang gundul dan kekeringan. Lekas, mahkluk itu berteriak, “A…Hooool!” dengan bunyinya yang melengking. Menjerit-jerit.
Mahkluk itu memiliki sayap.
Pagi, selepas mendengar pernyataan Wak Sumar, bapak membeli lukisan kuda sembrani. Ditaruhnya di ruang tamu. Dipasangnya lilin-lilin. Dilingkarinya dengan bunga-bunga. Belum cukup, bapak membeli patung kuda sembrani, keramik bermotif kuda sembrani, pajangan kuda sembrani, baju bergambar kuda sembrani. Dipuja-pujanya itu semua. Kami pula diikutkan serta.
“Pohon-pohon ini harus ditebang! Supaya kita terbebas dari kemiskinan!” Bapak berteriak hari itu pada teman-temannya dengan penuh semangat. Nadanya membara-bara. Gergaji senso dinyalakan, digundulkannya hampir sepertiga hutan. Karena mimpi itu, bapak dan teman-temannya jadi bergabung dalam sindikat pembalakan liar yang lebih besar, yang lebih berkuasa. Tentu, semua aktivitas itu usulan dari bapak.
Dan, satu hari sebelum kematiannya, bapak berkata padaku, “Bapak akan menjadi kuda sembrani.”
“Tak akan lama lagi.”
***
Bapak melompat dari rumah. Tepatnya dari lantai dua lewat jendela. Sebenarnya, bapak bisa saja hanya mengalami luka ringan jika terantuk tanah. Rumah kami tidak setinggi itu. Namun, naas, kayu gelondongan yang bapak curi belum sempat ia bawa masuk ke dalam rumah. Kepala bapak hancur. Kakinya patah. Lengannya juga. Darah mengalir.
Kaus bergambar kuda sembraninya itu ibu temukan robek-robek bersama beberapa kulit dan daging bapak yang tercerai-berai. Hewan itu seketika berubah total. Mulanya putih, jadilah merah. Tiga hari kemudian, darah di kaus itu membusuk. Berubah menjadi hitam.
Tidak ada saksi selainku. Sebelum bapak melompat, ia sempat berteriak, “Bapak telah memiliki sayap!” Dan ia meluncur seperti para perenang ketika lomba sudah dimulai. Ibu bertanya-tanya, ada lagi yang kulihat? Aku menggeleng. Aku memilih tidak memberitahunya. Terutama soal mimpi itu. Mimpi yang datang padaku sebelum hari kematian bapak…
Aku tidak melihat sosok bapak, tapi aku melihat sosok kuda sembrani, ia berseberangan denganku, sayapnya terbuka sangat lebar. Sejenak, aku mendengar teriakan. Jeritan. Melengking-lengking. Lekas dari atas, sebuah mahkluk hitam berbulu lebat dan bermata merah melintang, membuka cakar kakinya yang tajam, dan mencengkeram kuda sembrani. Lalu dibawanya terbang, melambung tinggi.
Di langit itu, aku melihat kuda sembrani yang dicengkeram mahkluk itu tiba-tiba berubah menjadi sebuah mahkluk yang berbulu lebat, sekujur tubuhnya berwarna hitam, bermata merah, bertelinga besar. Mirip kelelawar. Sama persis dengan apa-apa yang mencengkeramnya terbang ke atas sana. Lalu, mereka berdua berteriak. Menjerit-jerit. Melengking-lengking.
***
Malamnya, aku dan ibu mendengar suara itu lagi. “A…Hool!”
Gagah Pranaja Sirat
Sekarang, tengah menempuh pendidikan SMA jenjang ketiga di sekolah Boash Ashokal Hajar. Di satu tahun awal menulisnya, dia sudah mendapat lebih dari 50 juara dan prestasi dalam lomba kepenulisan fiksi serta non-fiksi. Baru-baru ini dia telah memenangkan dua cabang lomba sekaligus dengan sama-sama juara pertama pada cabang lomba cerpen dan cabang lomba puisi dalam rangka Festival Kenduri Sastra Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, serta cerpennya ‘Mondar-Mandir’ memenangkan juara kedua pada Bulan Bahasa Universitas Gadjah Mada. Profil prestasi tentang dirinya sudah diterbitkan dalam Majalah Inspiratif oleh Duta Inovatif Indonesia dan Youth Idea Community. Cerpen terbarunya ‘Sutrisni Menghafal Tubuhnya Sendiri’ terbit di Harian Kompas. Lihat ia lebih lanjut melalui instagramnya: @gahpraja.
Kami menerima tulisan cerpenmu di rubrik AREK BERCERITA. Rubrik ini projectarek.id dedikasikan untuk siapa pun yang memiliki minat di dunia sastra khususnya cerpen. Kami ingin menjadikan rubrik ini sebagai rumah digital untuk bertumbuh bersama menghidupi dunia cerpen. Kirimkan karyamu dengan membaca PANDUAN kami.