PEREMPUAN semampai itu keluar dari pagar rumah Sabdo sembari menuntun sepeda bututnya. Di boncengan, sepasang gerobak bambu teronggok menumpang. Gerobak bambu sebelah kanan penuh gempol dan serabi, sedang gerobak kiri berisi santan dan rebusan gula merah di botol-botol. Sedikit celah antara jejeran botol dan badan gerobak, Sumeleh sisipkan tumpukan daun pisang bakal takir dan sudu.
Sumeleh perempuan yang gigih. Tak ada satu pun lelaki di desa R yang memungkiri pesona penjual gempol terkenal itu. Mereka sangat ingin menyanding Sumeleh. Kecuali Sabdo. Lelaki itu justru kerap membaca mantra: Matilah keinginan, matilah! sambil dia sundutkan bara rokok tepat pada pucuk batang reproduksinya ketika melihat Sumeleh.
Belum lama Sumeleh lenyap dari pandang mata Sabdo, pun belum penuh lelaki itu merasai kesakitan yang menyebar cepat hingga ke seluruh tubuhnya, sebuah suara meninggi dengan khas mengentak disaut suara yang tak kalah menantang terdengar dari ruang gamelan.
“Eling!”
Sabdo berteriak. Dia berlari susah payah. Hilang begitu saja ngilu bekas sundutan rokok ketika dia membayangkan sebentar lagi darah muncrat dari kepala Sembada. Mendengar teriakan Sabdo, tangan Kasman yang sudah mengayun itu tertahan tepat di atas kepala. Padahal dua atau tiga jengkal lagi, bila suara Sabdo kalah cepat dari ayunan tangan Kasman, sebilah kayu menyerupai kipas sate itu sudah tentu menghantam kepala Sembada. Alat musik yang menimbulkan bunyi krek dalam tarian dongkrek itu mudah saja bikin kepala seseorang terbelah dengan sekali hantam jika hantamannya disengaja.
Sabdo memandang keduanya lekat-lekat. Korek di tangan Kasman yang berada di atas kepalanya itu pun dia turunkan. Sabdo tahu Sembada dan Kasman memang telah berselisih lama, hanya saja baru kali ini Sabdo melihat Kasman begitu murka.
“Kasman ini tidak cocok jadi seniman, Bopo, hidupnya terlalu kaku.”
“Bagaimana kalau aku yang bikin lelucon soal pantat istrimu, yakin kau tidak marah?” Kasman makin berang, sementara Sembada tersenyum meremehkan.
“Seniman sejati, dia tahu diri. Bahkan dia tak akan ngaceng meskipun di depan matanya seorang sinden sintal bergoyang.” Mata Kasman yang merah itu membelalak. Diam-diam Kasman melirik Sabdo. Dia harap lelaki sepuh itu membetulkan pendapatnya. Alih-alih sepakat, Sabdo justru memandangi rokok yang digamitnya.
BACA JUGA: Ki Jejer
Tirai penyekat waktu terbuka. Sabdo melihat lagi bagaimana nasibnya dulu sebelum memutuskan membuat sanggar paguyuban dongkrek ini. Bapak Sabdo terlebih dahulu mengenalkan dongkrek sebagai pengendali nafsu dan keserakahan watak manusia. Bagi bapak Sabdo, fungsi tarian dongkrek sangat jauh dari sekadar penangkal bala, wabah, dan semacamnya.
Sabdo kecil memutuskan tidak melanjutkan pendidikan ketika dia tamat sekolah dasar. Selain karena biaya yang tak murah, Sabdo lebih tertarik menghabiskan hari-hari untuk membantu bapaknya—jadi penabuh gong di sebuah paguyuban uyon-uyon—karena Sabdo mudah sekali menghafal laras-laras. Tak jarang juga Sabdo yang menabuh gong ketika di lokasi tanggapan bapaknya lelah. Sesekali pada peringatan tertentu, bapak Sabdo juga mengajak Sabdo menabuh gong pada dongkrek. Kesempatan itu yang akhirnya membawa Sabdo mendalami kesenian dongkrek sampai usianya nyaris menyingsing.
Bapak Sabdo memang seorang seniman biasa. Seorang seniman yang memiliki lebih dari satu istri. Satu dikawin sah dan ketiga istri lainnya dikawin syariat. Ibu Sabdo adalah satu-satunya istri yang melahirkan anak lelaki dari buaiannya. Ibu Sabdo istri keempat. Istri paling muda. Juga paling memendam sengsara.
Bila meniti jejak langkah bapaknya, Sabdo bisa saja beristri semaunya. Namun, melihat para ibu tirinya harus menahan cemburu dan benci tak lekang waktu, ia berpikir harus punya prinsip baru. Salah satunya, membuktikan kalau seniman setia itu ada. Akan tetapi Sumeleh datang, dan Sabdo sadar satu hal, tiada satu orang pun yang tak menerima ujian dari-Nya.
“Manusia itu ya punya keinginan, Man. Wajar. ” ucap Sembada enteng.
Dari arah dapur, Narti dengan semringah menenteng seteko kopi hitam dan sepiring gorengan. Tanpa disadari siapa pun, Sabdo membandingkan Narti dan Sumeleh. Sabdo lihat saat ini, semakin tua Narti semakin enggan memupur wajahnya atau memerahkan bibirnya dengan benges seperti semasa dia muda.
“Sudah, ayo dimakan. Jangan emosi, harus bisa mengendalikan diri, iya, kan, Mas?”
“Benar.”
Hening. Kasman dan Sembada menatap layar hape masing-masing. Tak berselang lama dari keheningan yang berlangsung, Sembada berteriak girang. Baru beberapa hari lalu dia mengunggah postingan tentang sanggar Jagrak Budaya di seluruh media sosial, kini akun baru itu sudah banyak menerima job pentas di berbagai acara. Akun media sosial Jagrak Budaya kebanjiran pesan masuk yang berisi permintaan agar mereka tampil menghibur acara pemintanya. Di waktu dekat ini, kantor kabupaten mengundang mereka sebagai tari penyambutan sang gubernur. Ini serupa tambang emas bagi seluruh anggota sanggar. Mereka akan dikenal di berbagai kalangan daerah dengan jangkauan luas.
Usai menerima undangan job, Sembada buru-buru mengabari seluruh anggota sanggar untuk menggencarkan latihan. Malam itu juga, gong, gendang, dan korek ditabuh.
Narti duduk di sebelah Sabdo yang sedang merokok sambil mengawasi para pemain latihan. Deru napas Narti terasa sekali mengembus di sekitar lubang telinga Sabdo. Meski usia Sabdo kini telah memasuki separuh abad lebih, tapi pendengarannya masih sangat jeli. Narti membuka obrolan dengan sebuah kenangan yang tak sekalipun dia bosan ceritakan. Dongkrek baginya tak hanya kesenian yang mampu mengalahkan bala, tapi juga mengalahkan keinginannya untuk tidak mengenal lelaki lagi kala itu. Sabdo berhasil mengembalikan keinginannya untuk hidup selayaknya perempuan pada umumnya.
“Mas memang seniman, tapi seniman yang baik.”
Rokok yang Sabdo sesap terasa menyedak kerongkongan. Tiga puluh tahun mereka menikah, Narti belum juga bisa membaca diri Sabdo sedalam-dalamnya. Namun, bisa juga untuk lain hal, Narti memang tak ingin berburuk sangka di depan suaminya.
“Lihatlah, Ti, Mbah Palang adalah aku. Empat buto itu keinginanku.”
Narti memandangi tokoh Mbah Palang, sosok orang tua yang dianggap sakti dalam tarian dongkrek itu. Kasman sampai hati melakonkannya. Sabdo tahu, bukan hal baik bila ia harus jujur pada Narti bahwa akhir-akhir ini, Sumeleh mengusik pikirannya. Bisa-bisa jika Narti tahu, Narti akan melarang Sumeleh masuk ke pekarangan rumah mereka untuk meracik sarapan yang akhir-akhir ini diidolakan Sabdo. Gempol, makanan dari tepung beras yang dibentuk bulat dan disajikan dengan serabi persegi. Di atasnya akan disiram kuah rebusan gula merah dan santan.
BACA JUGA: Naskah dan Jelaga
Gempol disajikan dalam takir. Untuk menyendoknya, Sumeleh menumpangkan sudu di atasnya. Sabdo begitu menyukai makanan itu. Lebih-lebih sebelum menikmati gempol, dia juga dapat menikmati nada ramah Sumeleh mempersembahkan gempol untuknya. Sabdo mengaku pada dirinya sendiri kalau dia keberatan bila sehari saja tak melihat punggung sintal Sumeleh.
Sabdo sebetulnya tidak pernah mengira, di usia yang senja begini, dia masih bisa jatuh cinta kepada perempuan tak bersuami yang usianya lebih tua sedikit dari Narti. Kalau dirunut lagi peristiwanya, semua ini bermula dari dirinya yang terserang flu. Waktu itu lidahnya terasa pahit. Sebab tak doyan nasi, Narti membelikannya setakir gempol. Setelah itu, ketika dia sembuh, Sabdo justru ketagihan gempol. Dia sendiri yang membeli gempol pada Sumeleh. Selebih dari itu, tubuhnya tak bisa dia kendalikan lagi. Apalagi saat Sumeleh berbicara sangat lembut padanya. Sabdo merasakan perasaan menggebu yang merambati tubuhnya, sama dengan perasaannya pada Narti yang melendehi lengannya saat mereka masih pengantin baru. “Kalau mengendalikan keinginan itu menyiksamu, tak ada salahnya keinginanmu itu dibiarkan saja,” ucap Narti di dekat telinga Sabdo.
“Mas, beri kesempatan istrimu menjadi istri yang benar-benar membahagiakanmu.” Narti menelusuri mata suaminya.
Sabdo beranjak mendekati para pemain, meninggalkan Narti. Kidung wahyu kalaseba yang mengiringi tarian, sudah berganti jadi selawat thibil qulub. Sabdo menirukan liriknya, berusaha membawanya ke kedalaman batinnya yang gemuruh. Merenung begitu, membuatnya merasa sang rama berada di sisinya. Melihat iba dirinya. Bisikan lembut pun dirasakan Sabdo. Tentang apa sejatinya yang seorang manusia cari di dunia.
Apa yang dia cari lagi ketika keinginan meminang Narti kala itu telah berhasil. Manusia harus memerangi sifat tamak dalam dirinya sampai titik penghabisan sekalipun. Masih duduk di tempat yang sama, Narti melihat keanehan saat Sabdo berjalan. Jauh dalam hatinya, sebagai seorang istri, Narti tentu tahu bahwa suaminya menyembunyikan sesuatu.
BACA JUGA: Panggilan Dewi Laut
***
Pagi itu, Sabdo menatap Sumeleh yang tengah mesem kepadanya. Itu luar biasa menyiksa. Dia sundutkan lebih lama lagi rokok pada kelaminnya. Sambil membawa gempol, Sumeleh mendekat padanya. Ucapan Sumeleh pagi itu tak pernah sekalipun Sabdo duga. “Buat apa Bopo melukai diri seperti itu. Saya tahu ini salah, tapi Bopo seorang seniman. Jiwa seniman lumrah saja menyalahi aturan. Setahu saya, hidup seniman selalu bebas aturan.”
Motor Kasman masuk pelataran, wajahnya cerah sekali. Situasi itu mengaburkan obrolan Sabdo dan Sumeleh.
“Dari kabupaten meminta data alat dongkrek yang perlu diganti, Bopo. Jadi saya ke sini.”
“Bagus. Pasti sebab kita akan menyambut gubernur, makanya mereka peduli dan memastikan alat-alat kita bagus.”
Kasman mengangguk-angguk. Kali ini, Sumeleh turut menanggapi, “Wah, jan elok, Rek!”
“Yu Sum dagang gempol di acara itu saja, siapa tahu gubernur mau beli. Terkenal gempolmu, Yu!”
Sambil memegang tangan Sabdo, Sum menyetujui. Sepeninggal Kasman dengan data yang diperoleh dari hadapan mereka, Sabdo menarik tangannya. “Bagi Narti, aku seniman yang baik, Sum.” Mendengar jawaban Sabdo, Sumeleh salah tingkah dan pamit pergi. Selang beberapa saat, dari kejauhan tampak Narti turun dari sepeda dan menuntunnya. Dia baru saja memborong belanjaan untuk memberi hidangan anggota sanggar yang akan latihan. Senyumnya ramah menyapa Sumeleh.
Sabdo menghela napas. Kejadian itu menganggu pikiran Sabdo hingga malam hari. Apalagi kecurigaan Narti makin menggila, mengapa celana Sabdo pada bagian tengahnya kaku semacam tertimpa sundutan api. Sudah terhitung empat celana ini. Mengapa juga ada yang berbeda dengan cara berjalan suaminya. Malam itu juga, Narti mendesak Sabdo untuk mengaku apa yang sebenarnya terjadi.
“Jika Mbah Palang menumpas buto dengan tongkat saktinya, maka aku berusaha menumpas buto dalam diriku dengan sundutan rokokku, Ti.” Sabdo merendahkan suaranya hingga tak terdengar jelas oleh Narti.
Solu Erika Herwanda
Pengarang merupakan tutor bahasa Indonesia di 5 bimbel Madiun. Beberapa cerpennya bisa dibaca di Lensasastra.id, Matamata.co, Cerpen_Sastra, Ngewiyak.com, Janang.id, Omongomong.com, Kompas.id, Ruang Literasip, dan Kurungbuka.com.
Kami menerima tulisan cerpenmu di rubrik AREK BERCERITA. Rubrik ini projectarek.id dedikasikan untuk siapa pun yang memiliki minat di dunia sastra khususnya cerpen. Kami ingin menjadikan rubrik ini sebagai rumah digital untuk bertumbuh bersama menghidupi dunia cerpen. Kirimkan karyamu dengan membaca PANDUAN kami.