Skip to main content
ilustrasi: Darius Tri/Project Arek
Arek Bercerita
Pemanggil Dewi Laut
Tuan, mungkin dalam benak Anda ini terasa risih, berkisah tentang asmara pedesaan. Kolot karena mitosnya juga, ya? Namun, percayalah Tuan, daripadanya itu tersingkap makna saling tunggu yang menghilangkan udara.

Bersama desau angin,

guruh gelombang.

Jiwanya tersauh,

dalam azan Subuh.

Bila Tuan ada waktu, bisalah singgah sebentar di kampung kami. Letaknya cukup terpencil, di pinggiran laut Sulawesi. Pasirnya yang putih seolah bersaksi, di sini ada yang unik, Tuanku. Bukan pemandangan yang biasa orang cari untuk cuci mata.

Bukan pula tentang hasil laut tempat harga murah terpaut, tapi tentang langgar tua yang berdiri di ujung dermaga itu. Umurnya 50 tahunan. Bisa Tuan lihat pada catnya yang mengelupas dimakan garam, atau kusen pintu yang lapuk. Ah, mungkin mata Tuan malah tertarik mengintip tiang bawahnya? Benar, dikikis terintip.

Subuh Tuan ke sana. Akan Tuan dengar azan yang merayu merdu. Setiap pukul 04.30, suara itu keluar menggetarkan kampung kami. Syahdunya membuat angin lebih tenang, ombak menjadi riak, serta kelam awan menjelma perawan. Dan kami yang nelayan ini percaya, roh lautan menggiring ikan ke tepian karena azan itu.

Berlebihan, ya? Tidak. Itulah keistimewaannya. Dan Tuan tahu? Yang punya suara itu bukan ustaz, kiai apalagi. Dia Laode sahabatku, preman penjaga warung remang-remang di ujung kampung.

Setiap malam di warung itu botol-botol bir berjejer di rak. Musik berdentuman dengan gemulai para biduan duduk bersila menunggu pelanggan. Sementara Laode duduk di kursi plastik hitam. Tugasnya jelas: mengawasi semuanya dengan tatapan tajam. Tangannya yang penuh tato naga berarti keberanian. Dan badik lumpo batang yang terselip dipinggangnya tentu bukan hiasan.

"Kau punya keistimewaan. Sayang tabiatmu masih mencekik anggur di sini," kataku kepadanya satu malam.

Laode mengusap rambutnya yang ikal. Mungkin desau angin mengangkut pasir. Dan butiran kecil itu menyusup di rambut, mengganggu kepalanya.

"Sekarang tempatku di sini. "

"Harusnya ada peningkatan untuk kumpulkan pahala. Bisa zuhur sampai isa."

Laode tenggak anggurnya. Melenguh dan mampu kucium aroma pekat alkohol dari fermentasi buah itu.

"Subuh saja. Toh pahala tak mengembalikan Dewi Laut itu, bukan? "

Aku gagapi sarungku, mengencangkan budalannya. Aku tertekan! Jelas kalimat itu mengendap di dasar gelasnya. Lalu menguap bersama asap rokok yang meliuk ke langit-langit warung. Dan warna putih kebiruan dari asap rokok itu seolah menarikku pada kisah setahun lalu.

BACA JUGA : Naskah dan Jelaga

Bermula pada seorang gadis yang duduk di dermaga, tepat di depan langgar saat subuh. Setiap kali Laode usai menjaga warung, gadis itu masih ada di sana. Salasiah, namanya. Aku dan Laode mengenalnya sebab memang teman masa kecil. Rambut Salasiah basah oleh embun. Sarungnya digulung sampai lutut dengan kaki menjuntai ke air. Laode perhatikan. Aku yakin keistimewaan memaut di hatinya.

"Sala, pulanglah. Tunggu di rumah saja, " tegur sahabatku itu.

"Sudahlah, cepat azan biar ayahku pulang."

"Azanku bagus, ya?"

"Halah… bagus lagi jika tiap hari."

"Pemabuk sepertiku tentu kotor saat itu."

"Memang sekarang, nggak?"

"Khusus subuh, aku sudah mandi ketika ke sini."

"Mengapa hanya subuh?"

Dan kudapati rayuan itu menumbangkan mata Laode ke tanah. Begundal itu? Malu.

"Katanya kau ingin ayahmu datang."

Memang tak salah apa yang Laode bilang. Dan panggilan azan Laode secara ajaib mengundang perahu itu. Pak Hasan, ayah Salasiah akan membawa berkilo-kilo ikan dari melautnya.

Fajar merekah di ujung samudera. Kilau jingganya menyinari pesisir. Saat itu, aku pastikan Laode telah terkapar di rumahnya. Sementara aku sendiri akan membantu Pak Hasan menurunkan dan menimbang hasil tangkapan ikan.

Di sanalah aku tahu, Salasiah pun menaruh harap pada preman aneh itu. Dasar asmara, kadang aku geli mendengar Salasiah bertanya konyol hanya untuk mengaitkan sesuatu tentang Laode.

"Tak perlulah kau kaku kepadanya. Suka bilanglah suka. Toh, gelagat Laode telah berarti jawaban."

"Jadi, aku yang harus duluan?" katanya sambil memilih ikan tongkol yang gemuk.

"Gengsi?"

"Bukan, " kilahnya, "hanya itu ganjil saja."

"Daripada dia disambar jablay warung."

Segera dia berhenti. Matanya mendarat tajam ke arahku. Dan aku sendiri terbahak oleh jeratku yang berhasil menangkap cemburunya.

Tuan, mungkin dalam benak Anda ini terasa risih, berkisah tentang asmara pedesaan. Kolot karena mitosnya juga, ya? Namun, percayalah Tuan, daripadanya itu tersingkap makna saling tunggu yang menghilangkan udara.

Hal selanjutnya ialah pesan Salasiah kepadaku.

"Sampaikan kepadanya, seyogyanya pria datanglah ke rumah."

Dan apa respon Laode?

"Dengan pekerjaanku sekarang. Mana orang tuanya akan terima?"

"Jika demikian, ikutlah melaut saja."

Mulai dari sana, Laode bergerak mencari pekerjaan yang layak. Namun ibarat nila setitik rusak susu sebelanga, tiada satupun warga yang berani memberinya kesempatan. Yah, memang wajar mengingat asal usul Laode yang biasa lepaskan umpatan ketimbang kesantunan saat bekerja. Kepala dan perutnya terbiasa diisi alkohol. 

Untuk azan? Yah, itu keistimewaan suaranya. Dan memang kala itu warga dan aku tak cukup mengerti bahwa panggilan tauhid darinya seolah jalan menuju rezeki. Sungguh, Tuan, kurasa aku sebagai sahabat dekatnya tak bisa berbuat apa.

BACA JUGA : Jali Dipenjara

Namun begitu, hubungan keduanya tetap terjalin tanpa ada yang berani memulai. Saat itu dengan keyakinan seorang lelaki Bugis, pantang bagi sahabatku akan berucap sebelum kehidupan layak melekat. Dan ini terjadi berbulan-bulan sampai pada masa peluang itu datang. Laode berhenti bekerja di warung remang. Ia diterima sebagai ABK sebuah kapal tugboat batu bara. Luar biasa untuk ukuran pemuda tanpa pendidikan setingkat SMA.

Mulai dari itu ia melaut dengan keberanian sauhkan janji kepada Salasiah. Ia yang memberitahukannya kepadaku.

"Enam bulan, Madar. Kuberitahukannya begitu, aku akan pulang melamarnya. Jaga dia untukku."

Kepergian Laode akhirnya serupa tulah. Azan subuhnya tak lagi terdengar yang membuat ikan di lautan seolah menjauh. Para nelayan menemukan kesulitan ekonomi terkhusus dalam pembayaran kru perahu. Itu jua yang terjadi kepada Pak Hasan. Dengan terpaksa semua ABK ia pangkas. Demi tetap bertahan, Salasiah harus menggantikannya.

Begitulah selama perantauan Laode di laut. Keadaan kami tiadalah mudah. Percaya tak percaya, Tuan, badai menerjang tiada musiman. Aku yang merasa ini sebuah kaitan, mencoba meneleponnya. Namun, apa guna? Bisa kutebak samudera memutus jalan hubungku.

Hingga tragedi itu datang. Pada malam pertengahan bulan Safar, tetangga bilang kepadaku bahwa perahu Pak Hasan dan putrinya tergulung gelombang. Terbalik dan tenggelam.

Aku yang mendengar musibah itu sungguh tiada percaya. Namun tepat memasuki tengah hari, hatiku segera poranda menyaksikan puluhan nelayan berkerumun di tepian pesisir. Dan benar yang tetangga itu bilang, dalam serpihan kayu, jala, dan selimut pasir, jasad beku Pak Hasan terbaring.

Kutanyakan kepada mereka yang pertama melihat tentang keberadaan Salasiah.

"Tak ada, Madar. Namun kami akan susuri terus!"

Seminggu lebih proses pencarian itu tiada berbuah hasil. Sampai pada kedatangan Laode yang begitu girang menemuiku.

Senja itu dengan pakaian bagus dan senyum penuh harap, Laode ke rumah. Aku takut, sedih, dan kacau. Semua yang ia mula adalah cerita tentang keteguhan dan keberhasilan. Uang panai telah ia kumpulkan dan dengan keadaannya sekarang, Laode telah siap meminang.

"Hilang di laut!" protesnya.

Aku tak berani menatapnya. Tapi suara berikutnya kudengar sebagai sebuah pengingkaran. Sore itu Laode mengamuk apa saja. Aku menenangkan, tapi percuma! Ia terus berontak dengan tudingan pembohongan kepadaku. Hingga kelebatnya hilang tersapu rangkakan malam.

Aku tentu cemas kepadanya. Dari tempat terukur, aku mengikutinya. Arah kaki Laode mengarah ke rumah Pak Hasan. Tak lama dia keluar. Kepedihan yang kian dalam bersemayam dalam roman mukanya. Laode berjalan lagi. Terus melangkah sampai ujung kampung. Ia lewati warung remang-remang tanpa tolehan.

Para biduan menggodanya, menyuruhnya untuk singgah. Namun tiada Laode hiraukan. Ia terus menepi dan aku tahu ke mana tujuan kakinya itu.

Dan di depan pusara Pak Hasan ia terduduk lemah. Aku tak mampu mendengar apa yang ia katakan. Akan tetapi aku mampu merasakan kehancuran jiwanya. Tubuhnya bergetar, dia menangis.

***

"Kau masih di situ? Ini sudah naik malam," tegur Laode kepadaku. Sementara aku hanya memicing kepada satu tempat di bawah meja. Koper perantauannya tampak teronggok di sana. Penasaran, kutanyakan saja:

"Kopermu? " tunjukku.

Dia mengangguk.

"Hasil melaut dulu? "

Laode tersenyum. Ia bentangkan tangannya yang masih mencekik anggur merah. Dari geraknya aku telah peroleh jawaban. Kemudian dia menyahut:

"Orang percaya benda-benda macam itu mampu raih segalanya. Nyatanya tidak, bukan? Berupaya mengubah sesuatu, faktanya tiada yang lebih baik selain kembali ke dasar. "

Pria yang malang dengan kehancuran jiwa. Kupautkan alasan kepadanya bahwa sikapnya sekarang tiada lebih dari lari. Mabuk dan sikap urakan ini bukanlah jawaban. Mungkin bias pikirnya merasakan ketenangan dari alkohol-alkohol ini. Tidak, sahabatku. Kini kau yang menjelma kapal itu. Kau yang pergi dari pesisir, batinku. Namun mengapa pemabuk ini masih rutin azan subuh? Padahal jelas jiwanya tertambat kecewa.

"Aku tak paham, kawan? Hatimu begitu remuk sedemikian rupa. Sikap ini jelas membuatmu tiada nilai seperti dulu. Katamu jua 'pahala tak menjanjikan dewi laut itu pulang?’”

Laode tak mendengar. Dia kini asyik berjoget. Dua biduan mengelilingi. Laode girang dengan sawerannya.

Merasa dia kian larut, aku tinggalkan saja.

***

Aku keluar dari rumahku. Azan subuh Laode telah berkumandang. Aku siapkan diri dan menuju langgar. Langkah kakiku pelan sebelum akhirnya berhenti. Dia ada di pinggir dermaga. Bajunya ganti meski tetap bergaya preman. 

Laode tatap ombak yang menggemuruh. Berkepulan asap rokok di wajahnya itu. Dan desau angin cepat mengibasnya. Mungkin karena gemerisik batu yang kupijak-pijak ini, dia menengok ke belakang merasakan kehadiranku.

BACA JUGA : Pemberontakan Seratus Tahun

Di ujung laut kilau malu memantul ke awan kelabu. Jam setengah lima begini, cakrawalanya pudar keemasan. Di bawah, kilau cahaya itu berombak laksana perasaan yang tiada tetap pada keadaan.

"Azanku merdu, bukan?"

"Bagus, seperti biasa," jawabku tanpa melihat punggungnya. Aku lebih merekatkan diri pada pelukan lenganku sendiri. Entah hanya perasaanku, angin subuh ini terasa beku.

"Meski enggan berucap, warga pesisir di sini akan berterima kasih kepadaku. Aku akan bantu datangkan hasil ikan yang banyak pada mereka."

"Pujian warga buatmu takabur," telisikku.

"Aku tak sombong. Aku dan yang lain percaya rahmat ilahi itu perlu perantara. Seperti berkah ilahi dalam obat atau air. Jika aku jadi perantara, tentu wajar perkataanku tadi."

"Kau hirup udara dingin ini terlalu lama," ucapku yang seolah ingkar kepadanya. Faktanya aku juga meyakini kata-katanya.

Mendadak Laode tertawa.

"Orang-orang yang tak beri tempat kepadaku. Mereka larung aku ke lautan, sendiri! Terasing di sana. Sekarang mereka berharap roh laut membawa ikan. Kunyatakan mimpi itu, Madar! Meskipun mereka tak mampu menjaga Dewi Lautku."

Aku lihat kalimat terakhirnya membidik kepadaku. Aku gantian terpekur ke tanah. Pasir yang kupijak serupa cermin. Dan pasir itu mencibirku.

"Sala, tak menyukai hal ini kawan."

Mendadak ia garang.

"Mengerti apa kau tentangnya!"

"Paling tidak, aku memahami arti merdu azan darimu yang ia inginkan."

Laode membalik badannya kembali ke laut. Bahunya naik turun.

Begitulah Tuan. Sampai kisah ini kusampaikan, luka satu tahunnya masih menganga. Laode tetap pada rutinan subuhnya. Namun dibalik egois sikapnya itu aku ragu hatinya sama. Mata yang menatap ke arah laut kala subuh itu penuh harap. Kuyakini, ia menunggu satu waktu Dewi Lautnya sendiri yang menggiring ikan kepada kami.

 

 

Heri Haliling

Merupakan nama pena dari Heri Surahman. Dia seorang guru di SMAN 2 Jorong. Selain mengajar, Heri Haliling juga aktif menulis. Beberapa karyanya meliputi novel, novelet, dan kumpulan cerpen telah terbit baik di media/majalah cetak atau online. Untuk berdiskusi dengan Heri Haliling pembaca dapat berkunjung ke akun IG heri_haliling, email heri.surahman17@gmail.com

 


Kami menerima tulisan cerpenmu di rubrik AREK BERCERITA. Rubrik ini projectarek.id dedikasikan untuk siapa pun yang memiliki minat di dunia sastra khususnya cerpen. Kami ingin menjadikan rubrik ini sebagai rumah digital untuk bertumbuh bersama menghidupi dunia cerpen. Kirimkan karyamu dengan membaca PANDUAN kami.