Skip to main content
-
Cerita Foto
Sampah Mengalir Sampai Laut
Pagi itu lebih dari biasanya. Lima orang hilir mudik dari trashboom ke bibir Kali Tebu dengan membawa berjaring-jaring sampah. Trashboom adalah alat yang dipasang melintang di sungai. Alat ini sebagai penghalang terapung untuk menahan sampah. Tujuannya satu, agar sampah-sampah itu tak berakhir di laut dan mencemarinya.

Penulis: Robertus Risky
Fotografer: Robertus Risky
Editor: Miftah Faridl
Lokasi: Surabaya

Muhammad Nor Alim (staf kebersihan Ecoton), Dialan, dan Johan Sambara. Ketiganya memiliki peran untuk mengevakuasi sampah di Kali Tebu. Ecoton bertujuan meminimalisir kebocoran sampah yang mencemari laut dengan memasang trashboom di beberapa titik sungai. (Robertus Risky/Project Arek)

PARA RELAWAN ini menggunakan pakaian dan alat pelindung diri. Mereka harus sangat berhati-hati agar sampah yang mereka angkut tidak membuat jaring pengangkut robek, atau bahkan melukai diri mereka. Soal bau dan kotor, sudah tak jadi soal bagi mereka.

“Tujuan kita satu, bagaimana sampah ini tidak sampai menembus laut. Kita cegat di sini. Harus hati-hati sekali. Soal bau, ya sudah biasa kami, Mas,” ujar Muhammad Nor Alim (25), salah satu relawan.

Para relawan dan staf Ecoton mengevakuasi sampah di atas trashboom Kali Tebu. (Robertus Risky/Project Arek)

Kali Tebu dulunya banyak dimanfaatkan warga. Airnya jernih dan biasa dimanfaatkan untuk mandi. Itu terjadi pada 1980-an. Memasuki era 2000-an, sungai ini berubah kotor dan tercemar. Dari sungai yang bisa dimanfaatkan, anak Sungai Kalimas itu berubah menjadi penyumbang pencemaran sampah plastik di laut Surabaya.

Kali Tebu mengalir dari kawasan Utara Surabaya hingga Timur sampai menembus laut. Sungai ini melintas dari daerah Rangkah, melewati Kapasmadya Baru, Simokerto, Sidotopo Wetan, Tanah Kali Kedinding, hingga bermuara di kawasan Bulak Banteng dan Tambak Wedi di Kecamatan Kenjeran sebelum menembus laut.

Dari sungai ini kita menjadi tahu, apa sebenarnya yang dihadapi Surabaya. Pelik, kata para relawan yang setiap hari mengangkut sampah-sampah di sana. Sungai sepanjang 5 kilometer ini, kata mereka, lebih mirip bak sampah terpanjang dan mengalir setiap waktu. Sampahnya beragam rupa. Popok bayi, pakaian, perabotan rumah tangga, dan yang paling banyak adalah plastik.

Dampaknya adalah, sungai menjadi sangat tercemar sehingga mengakibatkan ekosistem menjadi rusak parah. Kerusakan ekosistem sungai ini merembet ke pesisir Surabaya. Sungai tercemar, begitu juga laut. Para relawan, setiap hari berjibaku menghalau sampah itu menembus laut. Dalam satu hari, rata-rata mereka mengangkat 1,2 ton sampah.

Para relawan dan staf Ecoton mengevakuasi sampah di atas trashboom Kali Tebu. Dalam satu hari, rata-rata mereka mengangkat 1,2 ton sampah. (Robertus Risky/Project Arek)

Aktivitas menghalau sampah ini diinisiasi Ecological Observation and Westlands Conservation (Ecoton). "Tujuan utama dari program ini adalah mencegah kebocoran sampah ke laut. Ecoton sendiri berfokus pada konservasi sungai dan mitigasi kebocoran sampah ke perairan,” ungkap Alaika Rahmatullah, Manajer Data dari program Mozaik Ecoton

Alex, begitu Alaika Rahmatullah biasa disapa, mengungkapkan 1,2 ton sampah per hari itu menumpuk di atas permukaan sungai sepanjang 20 meter. Komposisi sampah terdiri dari 89,7% sampah residu, 5,1% sampah daur ulang, dan 5,2% sampah organik. Data ini menunjukkan, Kali Tebu didominasi sampah residu, seperti popok bayi, kantong plastik bekas, kertas minyak, dan styrofoam.

Hingga akhir Agustus 2026, sampah yang berhasil dihalau masuk laut mencapai 94 ton. Ya, nyaris menembus 100 ton hanya dalam 86 hari. Juni menjadi bulan yang paling tinggi menyumbang tonase sampah, yakni lebih dari 41 ton, disusul Juli 22 ton, Agustus 15 ton dan 13 ton sampah terkumpul pada Mei. 

Sultonul Adzim (18) menunjukkan limbah popok saat membersihkan sampah di kali. (Robertus Risky/Project Arek)

Proses penimbangan sampah hasil evakuasi dari trashboom, untuk kemudian dikirim menuju TPS 3R. (Robertus Risky/Project Arek)

Setelah melakukan pengangkutan, sampah dikelompokkan untuk dilakukan pemilahan di Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R). Sampah yang telah dipilah kemudian melalui tahap pengolahan. Ecoton melibatkan institusi yang memiliki kapasitas untuk melakukan pengolahan sampah karena pertimbangan aspek keselamatan dan kesehatan lingkungan.

Rusaknya ekosistem sungai di Surabaya seiring kepadatan penduduk dan laju industrialisasi yang masif di wilayah bantaran sungai. Hingga kini, praktik mencemari sungai masih dilakukan oleh kelompok industri, mulai dari skala kecil hingga besar. Sungai, kata Alex, bak toilet raksasa.

“Kami ingin mengembalikan keasrian Kali Tebu agar terbebas dari sampah plastik. Mengingat saat ini data menunjukkan, Indonesia adalah negara penyumbang sampah plastik terbesar ketiga di lautan. Kondisi ini sangat memprihatinkan, dan kami berharap upaya ini dapat menekan angka tersebut," ujarnya.

Relawan yang terlibat operasi penyelamatan sungai dan laut ini didominasi perempuan dan anak muda. Mereka terlibat di proses pemilahan sampah. Sampah-sampah itu mereka tiriskan dan memasukkannya ke karung untuk nantinya didaur ulang. Mereka melakukannya dengan cermat dan hati-hati, memastikan sampah yang dipilah sesuai jenisnya.

(Dari kiri ke kanan) Wiwin Renita, Umiatul, Juaria, Arif Rachman Hakim, dan Agustina Dwi Indasari, para relawan yang melakukan proses pemilahan di TPS 3R, Surabaya. Mereka sering menemukan sampah plastik dan popok. (Robertus Risky/Project Arek)

Para relawan ini juga mendapatkan edukasi langsung soal bagaimana memperlakukan sampah rumah tangga, alih-alih membuangnya ke sungai. Dari aktivitas ini mereka memahami, setiap sampah yang bisa dimanfaatkan kembali, memiliki nilai ekonomi. Mulai dari tutup botol, botol, hingga sampah-sampah plastik lain dengan kode tertentu.

"Memilah sampah harus dilakukan dari rumah. Saya sendiri jualan makanan. Jadi setelah pakai plastik untuk kemasan. Saya pilah sendiri sampahnya. Seperti sendok plastik dan lain-lain. Terus saya jual sendiri atau saya kasih ke pemulung. Ternyata (sampah) juga punya nilai ekonomi,” ungkap Agustina Dwi Indasari, salah satu relawan.

Agustina Dwi Indasari memilah sampah plastik hasil dari evakuasi di Kali Tebu, Surabaya. Sampah yang ditemukan juga termasuk limbah medis, yang bisa mengancam ekosistem sungai. (Robertus Risky/Project Arek)

Sampah yang sudah dipilah kemudian didata dan dicatat secara harian. Sepanjang Bulan Mei- Agustus, Ecoton telah mengevakuasi kurang lebih 94 Ton. (Robertus Risky/Project Arek)

Keprihatinan terhadap rusaknya ekosistem sungai menjadi alasannya bergabung dengan ibu-ibu lainnya sebagai relawan. Dari aktivitas menjadi relawan ini, ia menjadi tahu apa saja sampah yang warga buang ke sungai.

“Saya sering menemui plastik dan popok, Mas. Sama waktu itu juga limbah obat-obatan dan peralatan medis. Saya prihatin. Semoga lingkungan kita bisa pulih lagi seperti dulu," harapnya.

Agustina menuturkan kerusakan Sungai Kali Tebu merupakan tanggung jawab bersama. Tidak hanya pemerintah, masyarakat pun harus peduli. Ia berharap fasilitas pemilahan sampah seperti TPS 3R diperbanyak hingga ke kampung-kampung. Fasilitas itu dinilainya bukan semata lokasi pemilahan sampah, melainkan ruang edukasi bagi masyarakat.

Selain itu, sinergi yang kuat antara edukasi masyarakat dan penyediaan fasilitas ini akan menjadi kunci utama dalam memutus rantai pencemaran lingkungan secara berkelanjutan. Ketika warga mulai terbiasa memilah sampah dari rumah dan memanfaatkannya di TPS 3R, beban limbah yang mengalir ke Sungai Kali Tebu dapat berkurang secara drastis. Dengan demikian, pemulihan ekosistem sungai bukan lagi sekadar wacana, melainkan aksi nyata yang lahir dari kesadaran bersama.