SERANGAN terhadap Andrie Yunus mengguncang seantero negeri. Pelaku menyiram wajah dan tubuh Andrie dengan cairan asam, air keras. Mereka mencoba membunuh Andrie, aktivis yang berani mengkritisi praktik militer yang semakin kuat mencengkram ruang sipil. Bahkan serangan itu terjadi selepas Andrie menghadiri diskusi tentang bahaya miiterisme.
Si pelaku ingin efek luka akibat siraman itu menjadi peringatan buat siapa saja, agar mereka takut dan tak lagi bicara tentang apa yang Andrie selalu bicarakan. Nyatanya, apa yang dimau pelaku tak mampu menimbulkan rasa takut sedikit pun di kalangan masyarakat sipil.
Di Surabaya, para seniman jalanan menuangkan ketangguhan masyarakat sipil dalam sapuan kuas dan cat pada sebidang tembok beton yang memagari sepetak tanah kosong di tepi Jalan Ngagel, Surabaya, entah siapa pemiliknya. Tujuannya, menjadi pesan kepada pelaku kekerasan, bahwa mereka tidak pernah takut!

Karya tersebut menampilkan lukisan wajah Andrie Yunus dalam bingkai kertas foto polaroid berlatar merah. Judulnya ditulis besar-besar: Kisah Klasik untuk Masa Depan Suram. Di bawahnya, tertera bait-bait yang seolah meramalkan ujung dari pengusutan kasus teror ini oleh aparat penegak hukum:
Lagu lama akan diputar ulang. Suara akan dibungkam.
Pelaku tidak ditemukan. Bukti-bukti hilang. Aktor intelektual tetap aman.
Jika wajah kebenaran disiram asam. Kita siram balik dengan ingatan.
Mural itu adalah hasil kerja empat seniman yang lebih suka dikenal dengan nama jalanannya: Revolt, Smock, Sin, dan Deadnow. Mereka tergabung dalam Serikat Mural yang punya gerakan bernama Street Art Melawan. Tujuannya adalah menyuarakan berbagai isu politik serta mengekspresikan solidaritas bagi sesama warga sipil, termasuk apa yang dialami Andrie Yunus.
Bagi mereka, serangan itu juga menyasar pada siapa pun yang berjuang melawan ketidakadilan. Malam itu, saya menemui Revolt di studionya yang terletak di daerah Ngagelrejo pada Rabu, 18 Maret 2026. Ia ditemani Smock, seniman jalanan lainnya. Mereka tak takut dan malah terdorong untuk berkarya sebagai bentuk protes dan solidaritas atas apa yang menimpa Andrie Yunus lewat jalur seni jalanan (street art).
“Mungkin istilahe, kalau demonstran itu langsung orasi, turun ke jalan, (kami) memilih jalur senyap, di jalur street art itu,” kata Revolt.
Revolt adalah seniman waktu penuh yang merintis Bunuhdiri Studio sejak 2003. Ia aktif bergerak di jalur seni urban kontemporer, terutama dalam bentuk grafiti. Medianya dapat berupa kanvas, digital, maupun tembok. Mural solidartitas bagi Andrie Yunus mereka buat di tembok jalanan agar siapa saja yang melintas, membaca pesan sekaligus mengingatnya.
BACA JUGA : Melawan Parade Kekerasan Negara
Sebagai penyusun konsep, Revolt menyebut banyak simbol bermuatan filosofi di mural yang mereka buat. Pertama, potret Andrie dilukiskan dalam bingkai polaroid untuk menyatakan harapan agar serangan air keras tidak terjadi lagi, layaknya kertas polaroid yang hanya bisa dipakai sekali untuk mencetak satu foto.
Judul mural diadaptasi dari album kedua Sheila on 7 yang dirilis tahun 2000, Kisah Klasik untuk Masa Depan, sedangkan bait-baitnya menggambarkan pola penyelesaian kasus dengan modus operandi yang Revolt sebut “teror klasik”. Kasus yang ia maksud adalah serangan air keras terhadap penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi, Novel Baswedan, pada 2017. Kala itu, ia menangani beberapa kasus besar, termasuk korupsi KTP elektronik.
Serangan tersebut menyebabkan Novel kehilangan pengelihatan pada mata kirinya, sama seperti Andrie yang mengalami cedera di mata kanan. Dua polisi yang menjadi eksekutor di lapangan sudah ditangkap, tetapi aktor intelektual serangan tak pernah terungkap. Negara selalu punya modus membonsai kasus ini hanya pada pelaku lapangan, sedang aktor intelektualnya masih melenggang aman.
Lukisan kaset yang pitanya putus dan menjulur di belakang potret Andrie juga merepresentasikan penggunaan kembali air keras sebagi senjata untuk menebar rasa takut. Ini tak ubahnya kaset rusak yang akan mengulang-ulang rekamannya.
“Kita melawan lupa. Kasus Munir (2004), kasus Marsinah (1993), sampai sekarang pun pentolane nggak ketahuan siapa. Ya, aku sangsi juga, kasusnya si Andri Yunus ini aktor utamanya [akan tertangkap],” ujarnya.
Selain potret, kaset, dan tulisan, mural hasil patungan Serikat Mural itu juga dihiasi kaligrafi berbentuk lingkaran yang dibuat oleh Smock. Tulisannya tak mudah dibaca, tetapi laki-laki gondrong dan ikal berusia 23 tahun itu menyatakan, tulisannya adalah Kisah Klasik Disiram Air Keras.
“Ibaratnya doa, lah, jangan terulang lagi,” kata Smock yang berasal dari daerah Jagir, tepatnya di salah satu kampung dalam jajaran Stren Kali yang selama hampir dua dekade berada di bawah ancaman penggusuran.
Mural tentang Andrie bukan karya pertama Revolt, Smock, dan seniman mural lainnya dalam Serikat Mural di bawah rezim Prabowo. Pada Agustus 2025, mereka melukis wajah almarhum Affan Kurniawan yang meninggal dunia dilindas polisi dalam kendaraan taktis dalam gelombang demonstrasi penolakan kenaikan tunjangan DPR RI.
Revolt bilang, mereka juga sempat membuat mural yang menampilkan sosok anggota Brigadir Mobil (Brimob) Polri serta kritik terhadap dwifungsi militer, tetapi segera ditimpa cat baru. “Aparat itu, kan, sangat sensitif dengan simbol. Ketika ada simbol-simbol tertentu, pasti dia reaktif,” ujarnya.
Hingga kini mural yang menampilkan wajah Andrie masih tampak di Jalan Ngagel. Revolt dan Smock bilang, mereka yakin mural itu punya potensi untuk bertahan lama sebelum ditimpa cat, entah oleh aparat, pemilik properti, atau muralis lain. “Minimal setahun, lah, awet,” ujar Smock.
Mural Sebagai Medium Perlawanan
Menurut Revolt, mural termasuk media yang efektif untuk mengarahkan perhatian publik pada suatu isu, layaknya koran dengan headline di halaman depan. Soalnya, tak seperti baliho dan papan reklame besar yang secara invasif memajang iklan produk-produk konsumen di ruang publik, seni jalanan dalam wujud mural justru bisa menjadi sarana “pembebasan”.
“Street art itu salah satu media propaganda, metode buat penyampaian pesan yang lebih masif,” ujar Revolt. Ia menambahkan, publik tak harus setuju dengan apa yang mereka suarakan, tetapi yakin bahwa mural yang mereka buat dapat membuat setidaknya segelintir orang untuk memikirkannya dan mencari tahu.
“Akarnya kesenian, apalagi seni rupa, itu kan ya mengajak orang untuk berpikir. Ada satire di [dalamnya], ada sarkasme di sana,” kata dia.
Pada saat yang sama, terdapat perkembangan baru dalam kasus Andrie. Pada Rabu, 18 Maret 2026, Polri dan TNI secara serentak namun terpisah menggelar konferensi pers untuk mengumumkan penangkapan para tersangka yang menyerang Andrie. Uniknya, Polri menyatakan ada dua pelaku, yaitu BHC dan MAK, sedangkan TNI menangkap empat orang, yaitu NDP, SL, BWH, dan ES.
BACA JUGA : Teror Tak Bikin Kami Takut
Menurut versi TNI, keempat pelaku adalah anggota Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI, tiga di antaranya berpangkat perwira. Merespons hal ini, berbagai organisasi masyarakat sipil pun mendesak para tersangka diadili di pengadilan umum alih-alih militer, sebagaimana disampaikan Tim Advokasi Untuk Demokrasi (TAUD) yang beranggotakan, antara lain, LBH, KontraS, YLBHI, dan Greenpeace.
Dalam pernyataan tertulis, TAUD mendesak “Presiden Republik Indonesia untuk segera memerintahkan Panglima TNI untuk menyerahkan agar pelaku diadili di peradilan umum karena tindak pidana percobaan pembunuhan berencana merupakan tindak pidana umum serta korbannya adalah masyarakat sipil. Soal ini, Revolt dan Smock tetap skeptis. “[Pasti] mentok empat. Dalange gak akan ditemukan,” ujar Smock.
Sebagai seniman, Revolt mengaku tak berharap banyak.
“Karena, lagi-lagi, kesenian gak bisa mengubah dunia. Cuma, dengan kesenian, paling enggak bisa mengajak masyarakat untuk sadar dan mengingat masih ada isu-isu seperti ini,” kata dia.
Dalam beberapa hari ke depan, kedua muralis ini akan berfokus untuk membuat mural baru pada sebidang dinding lain. Rencananya, kata Revolt, mural itu akan menampilkan massa aksi kamisan yang berkabung atas kematian demokrasi, sementara seorang badut akan digambarkan sedang menyanyikan pelesetan lirik lagu Idulfitri karya Ismail Marzuki.
“Badut ini simbol dari kekuasaan, entah itu pemerintahan, entah itu aparat,” kata Revolt.
Ia menambahkan, “Badute nanti gemoy.”
Serangan Air Keras Andrie Yunus
Teror itu menimpa Andrie Yunus, wakil koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), pada Kamis, 12 Maret 2026, jelang tengah malam. Ketika melintasi Jalan Salemba I dalam perjalanan pulang dengan sepeda motor, tiba-tiba dua pria yang datang dari arah berlawanan menyiram wajahnya dengan air keras.
Andrie sontak melompat dari sepeda motornya dan menjerit dalam rasa sakit yang tak terperikan. Mata kanan, kulit wajah hingga dada, serta kedua tangannya melepuh. Ia dilarikan ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, di mana 22 dokter yang menanganinya menyimpulkan ia menderita luka bakar di 24 persen permukaan tubuhnya.
BACA JUGA : Lebaran Pilu Korban Pengusiran Tentara
Keesokan harinya, ratusan aktivis pro-demokrasi dan hak asasi manusia dalam Koalisi Masyarakat Sipil mengecam serangan terhadap Andrie sebagai percobaan pembunuhan terencana. Menurut mereka, kejahatan itu “tidak dapat dilepaskan dari konteks kerja-kerja korban sebagai pembela HAM yang selama ini secara konsisten mengungkap penyalahgunaan kekuasaan, pelanggaran HAM, serta penyempitan ruang sipil di Indonesia.”
Koordinator KontraS, Dimas Bagus Arya, mengatakan teror ini bukan hanya ditujukan kepada organisasinya, tetapi juga semua pihak yang tak kenal lelah mempertahankan demokrasi. “Situasi ini sudah bukan alarm lagi. Inilah jurang demokrasi, inilah titik nadir demokrasi,” ujarnya.
Andrie memang lantang bersuara menolak dwifungsi militer. Pada Maret 2025, ia dan rekan-rekannya mendobrak sebuah aula di Hotel Fairmont Jakarta yang berisi panitia kerja DPR untuk revisi Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Sayangnya, tujuan utama aksi mereka tak tercapai. Revisi tetap disahkan oleh DPR menjadi UU No 3/2025 yang secara praktis memberi kewenangan kepada tentara untuk menggelar operasi non-perang hanya seizin presiden, memegang jabatan sipil sebelum pensiun, dan memperpanjang masa tugas mereka.
Meski begitu, Andrie dan kawan-kawan berhasil mengirimkan sinyal bahaya kepada publik tentang dampak yang mungkin ditimbulkan oleh menguatnya cengkeraman militer dalam kehidupan sipil. Dwifungsi militer di bawah rezim Prabowo Subianto, mantan komandan jenderal Komando Pasukan Khusus (Kopassus), pun menjadi isu yang terus dibicarakan.
Andrie tak berhenti di situ. Baru-baru ini dia berkolaborasi dengan rekan-rekannya di Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) untuk membuat siniar (podcast) berjudul “Remiliterisasi dan Judicial Review UU TNI”. Ia diserang dengan air keras dalam perjalanan pulang setelah rekaman di kantor YLBHI.
Andrie juga terlibat dalam Komisi Pencari Fakta (KPF) yang selama lima bulan terakhir melakukan investigasi independen terhadap rangkaian demonstrasi dan kerusuhan Agustus 2025. Hasilnya, tim ini mengungkap berbagai temuan serius, termasuk penggunaan kekuatan yang tidak proporsional oleh aparat, penangkapan massal, dugaan penyiksaan, serta kriminalisasi aktivis dan warga sipil dalam skala yang luas.
Setidaknya 13 orang meninggal dalam peristiwa Agustus 2025. Ratusan warga sipil dikriminalisasi dan perburuan aktivis, serta menandai salah satu gelombang represi terbesar terhadap gerakan sipil sejak Reformasi.