DUDUK bersimpuh di atas tanah berumput bantaran Sungai Winong, kedua pergelangan tangan dan kakiku diikat kencang dengan tali rami. Ratusan pasang mata warga Desa Margosari melihatku dengan tatapan nanar penuh kebencian. Raut muka mereka seakan sedang melihat iblis yang hina dan terlaknat.
Di belakangku, kurang lebih dua jengkal jaraknya dari ujung jari kaki, lubang galian sedalam sembilan meter sudah disiapkan sejak kemarin. Katanya, belasan warga menggali lubang berdiamater satu setengah meter itu dengan penuh semangat untuk menguburku: Ketua Ranting Partai Komunis Indonesia (PKI) Desa Margosari.
Setelah belasan penghakiman, puluhan sumpah-serapah, ratusan umpatan, dan ribuan makian dihujamkan kepadaku, seorang berbadan tegap mendekat dan berdiri di depanku—tak sampai satu meter. Pria berbaju loreng yang dipanggil massa dengan sebutan “Komandan” itu mengambil sepucuk pistol dari pinggangnya.
BACA JUGA : Eksil 65
Besar kemungkinan, dia adalah anggota Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib), yang komando pusatnya dipegang Sarwo Edhie Wibowo, pikirku. Tangan kanannya memegang pistol dengan erat, lalu dia mengokang pistol itu dengan bantuan tangan kirinya.
Ceklek. Bunyi itu terdengar bersamaan dengan detak jantungku yang serasa berhenti lalu copot.
Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, jempol dan telunjuk kiri pria itu menjepit kedua pipiku dengan keras, berusaha membuka mulutku. Tapi mulut ini kurapatkan kuat-kuat, hingga dia meminta bantuan dua orang warga untuk membukanya.
Setengah mati aku mempertahankan mulut agar tetap terkatup. Hingga kemudian, satu orang memegangi badanku dengan kuat dan seorang lagi mengepalkan tangan sekencang-kencangnya. Sejurus kemudian, kepalan tangan kanannya menghantam pipi kiriku. Dia melancarkan pukulan itu sekuat tenaga, membuatku sesaat tak sadar dan pandanganku berubah serba hitam.
Itu hanya berlangsung beberapa detik. Ketika membuka mata, aku merasa sedang menggigit benda keras dan dingin seperti besi. Bukan main kagetnya, orang ini telah memasukkan ujung pistolnya ke dalam mulutku! Jantungku berdebar begitu kencangnya dan keringat dingin membasahi sekujur tubuh.
Dia lantas menegakkan badannya dan dengan lantangnya berteriak, “Ini hukuman dari rakyat atas pengkhianatanmu kepada negara.”
DOR! Suara pistol itu memekakkan telinga. Muntahan pelurunya merobek dan tembus hingga bagian belakang kepalaku. Aku terdorong ke belakang. Terhuyung, terjatuh ke dalam lubang, terjerembab di dasarnya. Tulang-tulangku patah, remuk. Kepala serasa telah meledak: pecah dan buyar. Ngilu, perih, linu, dan sakit teramat sangat di kepala dan sekujur badan.
BACA JUGA : Lelaki yang Mati Dilindas Barracuda
Dari bawah, aku melihat seorang warga berdiri mengangkang di tubir lubang. Dia membuka celananya, lalu mengencingiku dari atas tanpa ragu-ragu. Usai air kencing di kandung kemihnya terkuras habis, warga terlihat beramai-ramai memenuhi lubang ini dengan tanah.
Aku terkubur, tidak bisa melihat apapun, semua serba hitam, tidak bisa bernafas, pengap, gerah; lalu aku mati.
****
Malam Sabtu Pahing, 1 Oktober 1965, itu tidak pernah bisa kulupakan. Suasana Dusun Ketapang—kampung tempat tinggalku—serba mencekam. Bapak menyuruhku tetap diam di rumah, menjaga Ibu dan tiga adikku yang masing-masing berumur 10, 7, dan 3; laki-laki semua kecuali yang terakhir. Kata Bapak, dia hendak pergi untuk berjaga malam bersama bapak-bapak lain. Aneh, pikirku, karena hari-hari sebelumnya tidak pernah ada jaga malam.
Dari balik jendela rumah, aku dan adik-adikku melihat puluhan bapak-bapak berlalu lalang, beberapa sambil membawa lampu petromaks, sebagian menggenggam obor, menenteng pentungan dan aneka benda tajam: celurit, golok, garpu rumput. Mereka tampak cemas setengah takut. Kulihat banyak dari mereka yang sedikit-sedikit mengisap rokok klobot dan lintingan tembakau, mengembuskan asapnya secara terburu-buru. Aroma klembak menyan-nya terbawa angin sampai ke dalam rumah.
Aku ingat itu malam Sabtu Pahing, karena siang harinya, lepas jamaah salat Jumat, di rumahku ada pengajian rutin tiap selapan, yang digelar saban Jumat Legi. Bapakku sendiri yang menjadi penceramah sekaligus menjadi tuan rumah. Orang-orang di Desa Ketapang secara umum memanggilnya “Kiai Jupri”, satu dari dua manusia yang bergiliran menjadi imam masjid dan mengajar anak-anak mengaji di masjid kampung kami.
Lepas salat Jumat, puluhan orang memang ramai-ramai datang ke rumahku. Tetapi bukan untuk mengikuti pengajian—karena sudah dibatalkan; melainkan mendengar siaran Radio Republik Indonesia (RRI). Entah apa yang mereka bicarakan waktu itu. Aku yang baru berusia 14 tahun tidak begitu paham. Mereka menyebut-nyebut “Letkol Untung”, “Dewan Revolusi”, “Dewan Jenderal”.
Aku beberapa kali menanyakan siapa mereka dan apa arti istilah-istilah yang tak kupahami itu. Namun, kata mereka, “Nasir, kamu masih kecil, gak bakal paham. Ini urusan orang dewasa.” Bahkan, seorang tetangga bernama Pak Toyo membungkam mulutku dengan tangannya ketika mereka tengah serius menyimak suatu pengumuman dari radio itu.
BACA JUGA : Carik Absori Khalifah di Muka Bumi
Tiga minggu berlalu dan suasana mencekam di kampungku belum juga sirna. Tapi malam Senin keempat pasca digiatkannya jaga malam, suasana agak berbeda. Aku dan adik-adikku menemani ibu di musala depan rumah. Tiap malam Senin mereka memang rutin membaca Maulid Barzanji bersama-sama, setelah salat maghrib berjamaah. Tiba-tiba saja, majelis itu terhenti demi melihat belasan bapak-bapak jaga malam yang berjalan tergesa-gesa ke arah barat dengan wajah marah.
Ke Krajan. Menangkap Kayat. Ketua PKI bajingan,” teriak salah seorang di antara mereka, menjawab pertanyaan ibu-ibu.
“Kayat, PKI,” batinku sambil merenung. Di kampungku ada berapa orang, mungkin belasan, yang disebut PKI. Yang aku tahu, mereka jarang salat dan kerap digosipkan meniduri istri orang lain. Itu cerita yang kudapat dari para orang tua. Sementara Kayat? Aku ingat nasib Bapak. Kayat adalah orang yang pernah merebut paksa dua ekor sapi miliknya. Bukan mencuri, tapi merampas.
Waktu itu, Bapak hanya bisa pasrah. Kata Bapak, mungkin orang PKI di dusun ini hanya belasan. Tapi, di Desa Margosari secara keseluruhan, jumlahnya lebih dari separuh dari total warga desa, dan Kayat adalah Ketua Ranting PKI di desa ini. Itu yang membuat Bapak tidak berani melawan ketika sapinya dirampas.
****
“PAK Komandan, Kayat sudah kami tangkap,” teriak seorang pemuda, mendatangiku bersama, ah, mungkin seratus orang? Atau kurang? Malam terlalu gelap untuk mengkira-kira jumlah mereka. Bulan sudah tidak terlihat, purnama telah berlangsung dua minggu lalu ketika aku diberangkatkan dari Jakarta; sementara listrik masih menjadi barang mewah di pedalaman Kabupaten Semarang seperti Desa Margosari ini.
Kulihat, orang yang disebut Ketua Ranting PKI itu tampak menyedihkan. Kaos putih oblongnya sobek-sobek penuh koyakan. Muka dan sekujur tubuhnya penuh dengan lumpur. Barangkali dia bersembunyi di areal persawahan, ketahuan, lari, terjungkal, lalu tertangkap di sana. Tapi aneh, di tubuhnya aku tidak melihat sedikitpun luka. Lazimnya warga langsung main hajar kalau sudah menangkap kriminal semacam dia.
“Kenapa tidak langsung dihabisi?” tanyaku dengan suara yang sengaja kuperberat dan nada yang sengaja agak kutinggikan, agar terkesan gagah di hadapan warga.
“Dia ternyata punya ilmu kebal, Ndan,” jawab pemuda tadi.
“Saya sudah berusaha menggorok lehernya, ada yang menusuk lehernya, ada yang berupaya menyayat-nyayatnya dengan silet, tapi tidak ada yang mempan,” ucap seorang warga lain, dari belakang. Disusul dengan celotehan mereka yang menceritakan segala rupa cara untuk membunuh Kayat, tapi hasilnya nihil.
Aku percaya dan tidak kaget. Orang kebal macam Kayat bukan barang baru bagiku. Ketika ikut perang kemerdekaan sebagai laskar pemuda, aku menyaksikan sendiri bagaimana sejumlah anggota laskar lain tetap berdiri tegak meskipun diberondong peluru dari jarak tidak sampai tujuh meter.
Bungkus rokok kretek merek Minak Djinggo kukeluarkan dari saku celana. Isinya tinggal satu, kuambil. Aku meremas bungkus itu dan membuangnya sembarangan. Rokok kubakar, dan di tengah hembusan pertama, aku langsung memerintahkan tiga orang anak buahku. “Panggil Kiai Jupri ke sini!”
Sejak pertama kali tiba di Margosari, aku sudah memetakan siapa saja tokoh masyarakat yang bisa memobilisasi massa, untuk membantu kami melakukan operasi pembersihan PKI.
Kiai Jupri adalah pendukung Partai NU yang militan dan fanatik, dan dikenal menguasai apa yang disebut oleh kalangan santri desa ini sebagai “ilmu hikmah”.
Rokokku baru habis setengah, mobil jib berisi tiga anak buah datang bersama Kiai Jupri. Aku menyundutkan rokokku ke tanah dan kuinjak. Aku menghampirinya, mengajaknya melihat Kayat, lalu berbincang di dalam rumah yang kutempati bersama para anak buah. Sekilas, aku melihat Kiai Jupri memandang wajah Kayat dengan tatapan tajam.
“Begini, Pak Bagio. Yang saya tahu, ilmu kebal itu ada banyak macamnya. Ada yang kebalnya dari hasil riyalat sesuai sarengat, ada yang didapat dari sihir, ilmu hitam Ada yang kebal di sekujur tubuh, ada yang hanya kebal di kulit tubuh bagian luar saja,” ucap Kiai Jupri.
Aku mengangguk. Dia mengisap dalam-dalam rokok lintingan tembakau dengan campuran klembak menyan yang baunya menyengat betul.
BACA JUGA : Jendela Reot
“Ada yang kebal dari senjata tajam saja, ada yang kebal dari apapun. Yang kebal sejata saja ini, dia bisa terluka kalau misalkan dibakar, dilindas mobil besar, atau dipukul benda tumpul sampai memar,” jelasnya.
Aku mengangguk lagi.
“Tapi, Pak Bagio, sesakti apapun orang, dia tetap bakal mati kalau kelaparan dan kehabisan napas,” tambahnya, dengan gestur yang tampak tidak akan melanjutkan penjelasan.
Dia lantas buru-buru minta diri untuk pulang. Kata dia, anaknya yang paling kecil sedang demam tinggi. Aku curiga dia berbohong. Itu alasan saja, supaya tidak melihat langsung eksekusi dan pemakaman, yang sangat mungkin akan kita lakukan dengan tidak sesuai sarengat itu. Lalu dia bergegas pulang berjalan laki dengan tergesa-gesa. Berkali-kali kutawari agar diantar anak buahku, tetapi berkali-kali pula dia menolak dengan halus.
Usai Kiai Jupri sudah tidak nampak dari pandanganku, di hadapan warga dan anak buah, aku perintahkan mereka untuk menggali lubang sedalam sumur di bantaran Sungai Winong. Esoknya, jelang tengah hari, lubang eksekusi itu selesai digali.
Faiz Alfa
Lahir pada 2001, merupakan seorang mahasiswa sejarah peradaban Islam semester akhir. Cukup terampil dalam penelitian, kepenulisan dan kerja-kerja jurnalistik. Kini sedang mendalami dan mengembangkan kemampuan saya di tiga bidang itu. Semua publikasi tulisan saya dapat diakses di https://linktr.ee/bacaduluaja.
Kami menerima tulisan cerpenmu di rubrik AREK BERCERITA. Rubrik ini projectarek.id dedikasikan untuk siapa pun yang memiliki minat di dunia sastra khususnya cerpen. Kami ingin menjadikan rubrik ini sebagai rumah digital untuk bertumbuh bersama menghidupi dunia cerpen. Kirimkan karyamu dengan membaca PANDUAN kami.
