SELALU ada ruang bagi kalian untuk membenahi sudut pandang intimidatif—bukan karena apapun, tapi karena dirimu adalah dirimu, dengan segala potensimu. Ini bukan merupakan kali pertama, melihat bagaimana hari ini negara dan instrumennya membenturkan keragaman tiap individu demi mengaburkan banyak fakta berdarah.
Isu komunisme dan pandangan kiri yang diberangus habis pada awal kemerdekaan, gerakan pembebasan yang dilabeli sebagai ancaman besar pada era awal reformasi, hingga akhirnya anarkisme, ide-ide alternatif, dan kelompok marjinal menjadi versi terbaru dari definisi “ancaman” menurut negara.
Nyatanya, “hantu-hantu” tersebut selalu diperlukan negara demi melanggengkan kekuasaannya—kala masyarakat menyibukkan diri untuk bertarung satu sama lain. Hardcore, subkultur yang kerap kita dengar hari ini, memiliki titik berangkat yang menarik.
Salah satu api pertama di skena ini berangkat dari Amerika, lahir sebagai reaksi kejenuhan musik punk akhir 70-an yang dianggap hanya bualan. Anak-anak muda menginginkan musik yang lebih cepat, jujur, dan mentah untuk menyampaikan keterasingan mereka terhadap politik konservatif yang menindas dari rezim Ronald Reagan.
BACA JUGA : Yang Tak Pernah Benar-benar Pergi
Hardcore lahir dari dampak kegagalan negara menjamin kesejahteraan rakyatnya. Sebagai manusia yang tersingkirkan bagaimana kejamnya roda kapitalisme dan kesewenang-wenangan negara memanjangkan tangan kekuasaannya, rekan-rekan yang terlibat dalam lingkup subkultur ini melindungi, menghargai, dan merawat satu sama lain.
Pada dasarnya hardcore lahir secara independen, tanpa izin, mandiri, dan menjadi rumah bagi siapapun yang terasingkan, tak terkecuali bagi queer.
Minor Threat dan Ian MacKaye merupakan dua hal yang berkaitan. Ian MacKaye adalah salah satu figur vokal dalam melawan homofobia di skena ini. Ketika grup musik rastafari fundamentalis, Bad Brains, melakukan kekerasan verbal terhadap Randy Turner (vokalis band punk gay, Big Boys) di Austin pada tahun 1982, Ian MacKaye justru berada di pihak yang mengkritik keras sikap homofobik tersebut—meskipun Bad Brains adalah teman dekatnya.
Dalam wawancara retrospektif tentang band-band yang ia hormati, Ian MacKaye menyatakan:
"When Ian MacKaye was busy holding forth with great lectures about gay bashing not being acceptable, it was already like 1990... For me with a band like the Bad Brains... Later on you find out they have these flaws that you figure out. Well, you know them and you know how important their work is for me... So I'm aware of it."
Selanjutnya, Black Flag melalui vokalisnya, Henry Rollins, selalu memiliki posisi yang sangat keras dan jelas mendukung hak kebebasan berekspresi pada masyarakat sipil, termasuk hak komunitas gay. Ia menggunakan spoken word dan tulisan untuk mengulas para homofobik yang bersembunyi di balik dalih agama atau budaya.
Dari buku dan kompilasi spoken word-nya, Talk is Cheap Volume 1:
"Don't hide behind the Constitution or the Bible. If you're against gay marriage, just be honest, put a scarlet 'H' on your shirt, and say, 'I am a homophobe!' ... If I was gay, there would be no closet, you would never see the closet I came out of. Why? I would have burned it for kindling by the time I was 12. Because I know with all certainty in my mind, there is nothing wrong with being gay, and you know it."
Beberapa hal tersebut dibarengi dengan peristiwa lahirnya Fanzine J.D.s (1985) di Toronto sebagai tonggak awal queercore—komunitas hardcore queer yang berkolaborasi dengan organisasi aktivis radikal seperti ACT UP dan Queer Nation pada demonstrasi krisis AIDS pada tahun 90-an akhir. Di sisi lain, masifnya pendistribusian zine serta diskusi mengenai isu LGBT pada skena hardcore menjadi penanda berangkatnya ide inklusivitas yang lebih luas pada hardcore.
Penerimaan queer di skena hardcore menemui dinamikanya pada awal tahun 90-an ketika subkultur hardcore merebak luas, ditandai dengan lahirnya New York hardcore atau yang selanjutnya kerap disingkat menjadi “NYHC”. Pada periode ini, hardcore dianggap menempatkan dirinya pada bagaimana budaya jalanan, kekerasan, dan sikap “macho” mengakar. Estetika tough guy NYHC dan munculnya gelombang militansi straight edge menguasai lanskap, membuat ruang aman seolah kabur dari hardcore.
BACA JUGA : Rantai Trauma Kemiskinan Anak
Pada era ini, isu politis menemui titik jenuhnya kala pemuda sedang asyik membahas bagaimana unity dan brotherhood mengisi lirik-lirik mereka. Menyikapi tantangan zaman pada kala itu, Lou Koller (Sick Of It All), Karl Buechner (Earth Crisis), Scott Vogel (Terror/Triple-B Records), Walter Schreifels (Gorilla Biscuits/Youth of Today), Jordan Cooper (Revelation Records), dan Chris Wrenn (Bridge Nine Records) memberi pernyataan-pernyataan pemantik lahirnya kembali kesadaran akan inklusivitas diantara laju cepat sikap macho, apolitis, dan membudayanya kekerasan yang melingkari hardcore.
Sick Of It All, dengan vokalisnya, Lou Koller, berulang kali menegaskan dalam berbagai wawancara dan di penampilan atas panggung citra "macho" NYHC sering kali disalahartikan. SOIA secara aktif menyatakan dukungan mereka agar skena menjadi ruang aman bagi komunitas LGBT.
Pernyataan Lou Koller saat sesi wawancara dengan Invisible Oranges:
"People think New York hardcore is just a bunch of tough guys wanting to beat each other up. It’s not. We’ve always been about unity. We have gay fans, trans fans, and they are part of our family. If someone has a problem with a queer kid in the pit, they have a problem with us."
Earth Crisis, band yang menjadi titik awal bagaimana straight edge merebak di kalangan pegiat hardcore hingga akhirnya melahirkan militansi-militansi gagasan straight edge itu sendiri, turut serta menyatakan beberapa gagasan. Karl Buechner sebagai vokalis meluruskan kesalahpahaman atas anggapan toxic masculinity yang dilekatkan padanya serta mempertegas posisi politisnya pada isu ini dengan tidak mendiskriminasi seksualitas tiap-tiap individu.
Karl Buechner di dalam buku Straight Edge: A Clear-Headed hardcore Punk History karya Tony Rettman (2017), pada bab yang membahas skena Syracuse dan hubungannya dengan gerakan Hardline:
"People from the Hardline movement came to Syracuse to hang out. They were trying to see if we were into what they were doing. We liked some of the bands, but their ideology was too extreme for us. We were into veganism and straight edge from a standpoint of compassion for animals and self-respect. We didn't want to get into judging people's personal lives or their sexuality. That wasn't what Earth Crisis was about."
Sam Yarmuth dari Triple B Records berupaya melakukan pembersihan elemen toksik atas stigma-stigma yang berkembang. Triple B Records, bersama entitas kolektif lainnya di skena East Coast, sering kali terlibat dalam pengorganisasian festival hardcore besar yang pada selebaran digital, deskripsi tiket, atau regulasi acara secara konsisten menyertakan klausul anti-diskriminasi.
BACA JUGA : Menunda Kematian dengan Musik Rock
Mereka tidak akan memberikan kontrak rekaman atau panggung bagi band mana pun yang personelnya terbukti melakukan tindakan homofobik, rasis, atau kekerasan seksual. Sikap tanpa toleransi dari label besar mampu memotong jalur logistik band-band homofobik. Mereka mengubah ekosistem hardcore menjadi industri yang secara sistematis berpihak pada ruang aman komunitas queer.
Walter Schreifels (Youth of Today dan Gorilla Biscuits) adalah salah satu arsitek penting dalam sejarah NYHC dan Youth Crew ada dan terbentuk. Di era awal, skena NYHC sangat homofobik secara kasual (penggunaan kata-kata peyoratif adalah hal biasa). Namun, Walter adalah salah satu orang pertama dari dalam lingkaran NYHC yang secara terbuka mengevaluasi kebencian tersebut dan mendukung komunitas queer.
Walter Schreifels pada wawancara dengan No Echo menyatakan:
"Back in the day, the language used in NYHC could be very macho and, honestly, homophobic without people even thinking about it. But hardcore is supposed to be for the outsiders. To see how the scene has opened up to the queer community now is beautiful. It’s what punk was always supposed to be. If you’re homophobic, you don’t belong in hardcore anymore."
Jordan Cooper dengan Revelation Records, menampilkan dukungan konkrit terhadap komunitas queer dan mendobrak dominasi maskulinitas kaku ala tough guy yang merajai skena era 90-an. Langkah monumentalnya adalah ketika Revelation mengontrak dan merilis karya dari Team Dresch, band punk yang seluruh personilnya perempuan lesbian/queer.
Cooper menggunakan reputasi besar Revelation Records untuk memberikan validasi industri dan jaringan distribusi luas bagi narasi queercore. Sikap berani Cooper ini terdokumentasi dengan baik dalam buku sejarah lisan “Revelation Records: 1987-2012” serta buku “Queercore: Queer Punk Underground” pada 2020 yang mencatat bagaimana keputusannya berhasil memaksa skena hardcore arus utama membuka mata dan memberikan ruang bagi inklusivitas queer.
Chris Wrenn dan Bridge Nine Records aktif menggunakan pengaruhnya untuk melawan homofobia di skena hardcore dengan mengontrak hingga merilis piringan hitam untuk Limp Wrist, salah satu band queer edge paling ikonik. Langkah berani ini didukung ekosistem label yang dipenuhi band-band progresif seperti Have Heart, Verse, dan Ceremony, yang selalu menyuarakan pesan anti-penindasan guna mengubah konser hardcore dari arena maskulin yang intimidatif menjadi ruang aman bagi penonton perempuan dan queer.
Dinamika di skena hardcore dari masa ke masa akhirnya memunculkan dialektika yang berujung pada bagaimana kuatnya hari ini sisi politis hardcore disuarakan. Hardcore berjalan berbanding lurus dengan bagaimana pembebasan hak-hak tiap manusia diperjuangkan.
Dalam kurun waktu 2 dekade terakhir, pelaku-pelaku skena hardcore semakin masif mengkampanyekan inklusivitas dan menjaga ruang aman bagi siapapun. Mari kita sebut nama seperti, Jeremy Bolm (Touche Amore), GEL, Scowl, Brody King (God’s Hate), Aaron Heard (Jesus Piece), SPEED, dan figur penting dalam skena ini yaitu Patt Flynn dari Have Heart menjadi contohnya.
Di lain sisi, transformasi sikap Bad Brains terhadap komunitas queer menjadi salah satu rekonsiliasi sejarah paling emosional dan penting bagi dunia hardcore. Setelah grup musik penganut rastafari fundamentalis ini sempat dicap homofobik akibat aksi tindakan diskriminatifnya pada tahun 1982 terhadap Randy Turner (vokalis Big Boys yang gay) di Austin, Texas, terjadi perubahan yang masif atas kebencian mereka.
Seiring berjalannya waktu, kedewasaan serta refleksi spiritual mengubah pandangan tiap-tiap personil; sang vokalis, HR, menyadari kebencian bertentangan dengan pesan Positive Mental Attitude (PMA) yang selalu ia gaungkan, sementara sang bassist, Darryl Jenifer, secara terbuka mengakui kebodohan masa muda mereka yang terjebak pada dogma agama.
BACA JUGA : Tubuh Ilma Jadi Proksi Konflik Maskulinitas
Puncak dari perubahan sikap ini dibuktikan secara nyata dalam konser reuni mereka di San Francisco beberapa dekade kemudian, saat Bad Brains mengundang Gary Floyd (vokalis band The Dicks yang merupakan seorang openly gay sekaligus sahabat karib mendiang Randy Turner). Di atas panggung, di mana momen HR memeluk erat Gary di hadapan publik menjadi simbol kebencian masa lalu telah dikubur dalam-dalam dan digantikan secara total solidaritas yang inklusif.
Hal yang dapat kita refleksikan adalah memahami ulang subkultur hardcore merupakan budaya alternatif yang lahir dari keterasingan, bagaimana kekuatan akar rumput saling menjaga dan melindungi satu sama lain. Ketika pemahaman dogmatis dan moral-moral arus utama semacam negara dan agama yang menindas dipaksakan kepada lingkungan ini, maka saat itu pula hardcore sudah tidak memiliki esensinya.
Hardcore adalah tentang bagaimana kalian melindungi, menghargai, mencintai keberagaman. Hardcore tidak pernah lahir dari keterpaksaan maupun otoritarianisme. Ketika dirimu memutuskan diri menjadi bagian dari subkultur ini dan tetap menjadi penindas, sayangnya dirimu telah melewatkan banyak hal.
*Penulis adalah mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Airlangga Surabaya.