RAKAI Kurmavatara melangkah meninggalkan Balai Desa Tosari, Pasuruan, Jawa Timur. Program Manajer ALIT Indonesia, sebuah lembaga swadaya masyarakat di Surabaya, itu mengajak saya menyusuri lorong-lorong permukiman yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari pusat pelaksanaan Yadnya Karo.
Langkah kami berhenti di sebuah pelataran kecil. Percakapan mengalir, sementara hiruk-pikuk upacara memudar di kejauhan. Rakai membuka obrolan mengenai booming industri wisata yang mengubah sumber ekonomi warga Tengger. Namun ada satu hal yang paling dikhawatirkan pemuda yang mendampingi masyarakat Tengger di Tosari sejak 2016 itu.
Booming pariwisata perlahan menggeser nilai-nilai luhur yang selama berabad-abad menjadi penyangga kehidupan masyarakat Tengger di Bromo,” ujar Rakai.
Perubahan itu, kata Rakai, paling awal terlihat dari cara tradisi Tengger dipersepsikan. Budaya yang sejatinya sarat makna spiritual kini lebih sering dipandang sebagai tontonan wisata. Akibatnya, generasi muda mulai mengenal sisi hiburan tradisi, tetapi menjauh dari nilai dan ritus yang melatarbelakanginya.
"Budaya itu bukan sekadar tontonan, tetapi bagaimana kehidupan masyarakat sebelumnya yang sudah teratur dan menghormati leluhur. Yang ditangkap hanya tentang hiburannya, tidak pada ritus spiritualnya," imbuhnya, pada Rabu, 29 Juli 2026.

Pergeseran cara pandang semacam itu, menurut Rakai, berdampak langsung pada terputusnya proses pewarisan pengetahuan adat. Salah satu yang paling terasa adalah menurunnya kemampuan generasi muda memahami Bahasa Jawa Kuna yang digunakan dalam berbagai ritual adat masyarakat Tengger.
BACA JUGA : Yang Hilang dari Bromo, tapi Bukan Keindahannya
Tak hanya itu, terdapat pula tradisi pewarisan mantra secara lisan yang selama ini dijaga. Ada mantra-mantra suci yang tidak boleh dituliskan, harus dihafalkan dan diwariskan dari generasi ke generasi melalui lisan. Namun, melemahnya regenerasi itu membuat pengetahuan tersebut berpotensi berada di ambang kepunahan.
"Untuk menghafal pun sudah tidak ada. Di beberapa ritus memang mantra itu tidak tercatat. Harus dihafalkan, memang dari sananya begitu. Lisan ke lisan itu memang tidak boleh dicatatkan," ungkap Rakai.
Tradisi Tanam yang Mulai Memudar
Bukan hanya pada ritus, tradisi lain yang mulai memudar adalah dalam hal mengelola lahan pertanian mereka. Booming industri wisata, mengubah cara masyarakat Tengger mempelakukan tanah mereka. Petani yang sebelumnya menerapkan sistem pertanian organik dan permakultur, perlahan meninggalkannya.
Sistem monokultur semakin banyak diterapkan untuk memenuhi permintaan hotel-hotel yang semakin menjamur menjual pemandangan indah Bormo dan pasar luar kota. Padahal, praktik tersebut bertentangan dengan ajaran leluhur yang menekankan keragaman tanaman sebagai bentuk ketahanan pangan.
Leluhur itu tidak pernah menanam hanya satu jenis tanaman serentak, tapi beberapa macam sayuran yang mungkin bisa dipetik setiap saat. Artinya tidak kekurangan pangan ketika panen serentak," tambahnya.
Permakultur adalah sistem pertanian dan kehidupan yang meniru pola alam agar lebih berkelanjutan, hemat energi, dan ramah lingkungan. Konsep ini menggabungkan pengelolaan lahan, pemukiman, dan sumber daya dengan tujuan menghasilkan kebutuhan manusia tanpa merusak ekosistem.
Rakai mengungkapkan, pada masa lalu, setiap benih yang ditanam masyarakat Tengger telah melalui prosesi adat sehingga dipandang sebagai pusaka yang diwariskan turun-temurun. Benih-benih lokal seperti jagung kerit dan kentang hitam diwariskan antargenerasi tanpa bergantung pada industri benih.

"Bibit itu diturunkan turun-temurun dari nenek moyang mereka yang sudah diupacarai. Jadi misalkan seperti jagung kerit, itu mereka tidak beli tapi memang sudah ada dari pendahulunya. Itu ditanam secara organik tanpa pupuk kimia," papar Rakai.
Namun, kondisi itu kini mulai berubah. Benih lokal perlahan tergantikan bibit komersial yang membutuhkan pupuk kimia dan pestisida, sementara keragaman tanaman di lahan pertanian juga semakin berkurang. Kata dia, perubahan pola pertanian tidak bisa dilepaskan dari booming industri wisata di kawasan Bromo.
Padahal, para dukun pandita dan sesepuh memiliki pengetahuan titen untuk membaca tanda-tanda alam sebagai pedoman menghadapi ancaman kebakaran maupun erupsi gunung. Namun, pengetahuan tersebut kerap terpinggirkan oleh orientasi pembangunan yang lebih berfokus pada pertumbuhan ekonomi melalui industri wisata. Di sisi lain, arah pembangunan dinilai sering bertabrakan dengan pengetahuan lokal masyarakat adat Tengger.
Perubahan orientasi pembangunan berdampak pada cara anak-anak dan pemuda Tengger memandang cara hidupnya. Menurut Rakai, menjadi petani kini semakin sering dianggap sebagai pekerjaan kelas bawah. Banyak pemuda lebih tertarik bekerja di sektor wisata, seperti travel Jip atau perhotelan, karena dianggap lebih bergengsi dan menjanjikan penghasilan lebih cepat.
"Generasi muda ini melihat petani itu sebagai buruh. Berbeda ketika mereka kerja di kantoran atau industri, orang melihatnya sudah kerja. Di sini, menjadi petani bukan dilihat sebagai pekerjaan," kata Rakai.
Kami bertemu dua remaja Tengger yang bekerja di sektor pariwisata. Mereka adalah Dane (17), ojek pengkolan di kawasan Bromo, dan Glende (18), penjaga parkir di Penanjakan Satu. Pariwisata bagi mereka membawa keberkahan tersendiri. Sebab, mereka mengaku bisa mendapatkan uang tambahan dari aktivitas wisatawan yang datang berkunjung.
Di usianya yang baru 17 tahun, Dane, siswa kelas XI SMA asal Tosari telah bekerja sebagai tukang ojek di kawasan wisata Bromo sejak duduk di bangku kelas VIII SMP. Keputusan itu diambil untuk membantu perekonomian keluarga. "Soalnya untuk menambah uang saku biar tidak terlalu membebani orang tua," ujarnya, pada Rabu, 29 Juli 2026.
Dalam sehari, Dane rata-rata mampu mengantongi penghasilan sedikitnya Rp100.000. Meski telah bekerja sejak usia belia, ia berusaha menjaga pendidikannya tetap menjadi prioritas. Setiap selesai mengojek, ia langsung berangkat ke sekolah. "Karena saya masih sekolah, jadi setelah mengojek itu biasanya sekolah," katanya.
Ia menyadari pariwisata memberi manfaat ekonomi. Namun di balik segala keuntungan tadi, Dane masih menyimpan cita-cita melanjutkan jejak orang tuanya sebagai petani. Baginya, bertani tetap menjadi pekerjaan yang ingin ia tekuni pada masa depan.
Di sisi lain, Glende (18), bekerja sebagai penjaga parkir di Penanjakan Satu sejak duduk di bangku kelas VIII SMP. Keputusan itu diambil agar ia memiliki uang saku sendiri sekaligus membantu meringankan beban orang tuanya hingga lulus SMA. "Saya bekerja untuk mencari uang saku sendiri agar tidak terus meminta kepada orang tua," tuturnya, pada Rabu, 29 Juli 2026.
BACA JUGA : Gerakan Kolektif Menjaga Identitas Kopi Tretes
Rakai Kurmavatara, mendampingi anak-anak dan remaja masyarakat Tengger di Tosari dengan menghidupkan kembali kesenian Slompret yang mulai ditinggalkan. Ia juga mendirikan pusat edukasi Tetirah Gayatri sebagai ruang belajar untuk memperkenalkan kembali pertanian organik, konservasi benih lokal, serta pengetahuan adat kepada generasi muda.
"Harapan kami adalah mendirikan sanggar-sanggar di setiap titik yang bisa diakses anak-anak setiap saat. Ini menjadi visi misi kami untuk transformasi pengetahuan adat kepada anak muda dan anak-anak kecil," tegas Rakai.
Menjaga Titi Luri dari Booming Industri Wisata
Suhu di Desa Tosari kian dingin. Awan kelabu menggantung di langit, disusul gerimis yang perlahan membasahi halaman Balai Desa Tosari, Kabupaten Pasuruan. Edi Priyanto (54), Kepala Desa Podokoyo, baru saja menyelesaikan rangkaian Yadnya Karo. Ia duduk di kursi berkelir biru tak jauh dari panggung utama.
Kepada kami, Edi bertutur, apa yang ia lihat dan rasakan sebagai bagian dari masyarakat Tengger di era booming industri wisata. Ia mengakui adanya kemajuan ekonomi, namun semuanya itu tidak boleh mengorbankan pusaka budaya yang telah diwariskan para leluhur. Baginya, industri wisata merupakan pisau bermata dua.
Di satu sisi mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, tetapi di sisi lain berpotensi mengikis nilai-nilai adat apabila tidak dirawat. Edi menegaskan, adat Tengger bukan sekadar rangkaian upacara, melainkan cara hidup yang berpijak pada konsep titi luri atau tata kehidupan yang diwariskan secara turun-temurun.
Dalam penelitian berjudul Video Dokumenter ‘Sesanti Titi Luri Tengger’ Sebagai Media Informasi dipublikasikan pada tahun 2022 oleh Yogi Widya Saka Warsaa dari program studi Desain Komunikasi Visual, Institut Teknologi dan Bisnis Asia Malang menjelaskan, masyarakat Tengger sangat teguh menghayati sebuah prinsip yang disebut "Sesanti Titi Luri".
Secara harfiah, istilah titi luri ini bermakna mengikuti jejak para leluhur atau meneruskan agama, kepercayaan, budaya, serta adat-istiadat nenek moyang secara turun-temurun. Melalui penghayatan ini, setiap upacara tradisi dilaksanakan persis seperti yang dilakukan para pendahulu mereka berabad-abad silam tanpa perubahan sedikit pun.
Ada sejarah panjang yang menceritakan perjuangan leluhur kami. Adat Tengger mengajarkan, semua anak keturunan harus berbakti kepada orang tua, walaupun mereka sudah meninggal dunia," ujar Edi.
Ratu Anteng dan Joko Seger merupakan sosok yang dipercaya sebagai cikal bakal masyarakat Tengger. Menurut legenda yang diwariskan secara turun-temurun, Ratu Anteng adalah putri keturunan Kerajaan Majapahit, sedangkan Joko Seger merupakan seorang brahmana. Keduanya, “Anteng” dan “Seger”, yang jika disingkat menjadi “Tengger”, menetap di kawasan Pegunungan Tengger dan memohon keturunan kepada Sang Hyang Widhi.
Kembali ke Edi Priyanto (54), Kepala Desa Podokoyo, menurutnya keberhasilan sektor wisata tidak akan berarti apabila kelestarian lingkungan diabaikan. Sebab, bagi masyarakat Tengger, alam bukan hanya sumber ekonomi, tetapi juga bagian yang menyatu dengan kehidupan spiritual mereka.

Ia dan masyarakat Tengger tentu tak ingin tradisi yang dijaga selama ini tergerus zaman. Sebelum semuanya hilang, masyarakat Tengger berusaha sekuat tenaga melakukan apa yang leluhur mereka lakukan, mengerjakan apa yang nenek moyang mereka kerjakan. Mulai dari ritual, ekonomi sampai kehidupan sosial.
Itu bisa dilihat dari berbagai kegiatan yang rutin dilakukan. Warga bergotong royong dan setiap kegiatan sosial serta mempertahankan pola tanam berdasarkan kalender Tengger. Ia mengaku penggunaan pupuk kimia mulai merambah petani Tengger. Namun menurutnya, penggunaannya diupayakan seminimal mungkin agar kesuburan tanah dan sumber mata air tetap terjaga.
Kami masih menerapkan pola tanam berdasarkan hitungan kalender Tengger. Penggunaan bahan kimia pun kami upayakan agar tidak terlalu banyak demi menjaga kualitas tanah dan sumber air," kata Edi.
Di balik praktik-praktik tersebut, tradisi Tengger yang menyimpan filosofi bisa terus diwariskan secara turun-temurun. Salah satu tradisi itu adalah ritual Bari’an di Podokoyo, yang digelar setiap Jumat Legi sebagai ungkapan syukur sekaligus penghormatan kepada bumi yang menjadi sumber kehidupan masyarakat.
"Bari’an itu artinya kita bersyukur agar rezeki yang diberikan bisa berkah. Kami membawa hasil bumi untuk disedekahkan kepada bumi. Kami diajarkan untuk bersedekah kepada bumi karena bumi tidak membutuhkan apa-apa dari kita, tetapi kitalah yang hidup dari bumi. Ini adalah cara kami agar diberi keselamatan," ungkapnya.
Nilai-nilai itu, menurut Edi, masih terus diwariskan kepada generasi muda. Ia bersyukur, di Desanya, minat anak-anak dan pemuda terhadap tradisi tetap bisa dijaga. Anak-anak muda, justru menjadi motor penggerak berbagai kegiatan adat, di samping mereka bergelut dengan pariwisata.
BACA JUGA : Bagaimana Belajar Krisis Iklim di Rusun Sumbo
"Generasi muda sangat antusias. Buktinya, Tari Sodor itu diikuti semua pemuda. Mereka yang menjadi penyelenggara, sementara yang tua-tua hanya bertugas mengarahkan agar adat budaya di Tengger tidak punah," tuturnya.
Di tengah booming industri wisata, mereka berusaha menjaga keseimbangan antara adat dan keberlangsungan hidup. Ia meyakini, meninggalkan titi luri bukan hanya menghilangkan identitas budaya, tetapi juga berpotensi mengganggu hubungan harmonis antara manusia dan alam, dan itu berarti kehancuran bagi mereka.

Hubungan tersebut juga tercermin dalam berbagai ritual spiritual yang masih dijalankan para sesepuh. Pada bulan Kepitu dalam kalender Tengger, misalnya, mereka menjalani puasa mutih dan semedi selama satu bulan penuh untuk membaca tanda-tanda alam sekaligus memohon petunjuk bagi keselamatan masyarakat.
"Para sesepuh kita mempelajari tanda-tanda alam melalui ritual di bulan Kepitu. Selama sebulan penuh mereka berpuasa mutih dan bersemedi untuk mendapatkan petunjuk," jelas Edi. Selain ritual Kepitu, masyarakat juga menggelar ritual Pujan sebanyak empat kali dalam setahun sebagai ikhtiar membersihkan desa dari berbagai pengaruh buruk, baik yang bersifat fisik maupun spiritual.
Berkarir Tanpa Melupakan Adat Tengger
Ratusan pasang mata tertuju ke panggung Yadnya Karo di Balai Desa Tosari, Pasuruan. Di antara mereka, tampak Meininda Chyndi Fatika (22), pemuda asli Tosari yang datang bersama teman-temannya untuk mengikuti perayaan tersebut.
Di tengah booming industri wisata di Bromo, pilihan hidup Meininda berbeda dengan kedua orang tuanya yang menggantungkan penghasilan dari bertani kentang. Lulusan SMK pada 2022 itu memilih bekerja di sektor perhotelan. Baginya, tumbuhnya industri wisata membuka peluang kerja baru bagi anak muda tanpa harus meninggalkan kampung halamannya.
"Saya mengambil jurusan perhotelan karena melihat daerah ini adalah kawasan wisata. Jadi, sebagai perempuan, saya memutuskan untuk kembali dan bekerja di hotel," ungkap Meininda, pada Rabu, 29 Juli 2026.
Keputusan tersebut, menurut dia, dilandasi keinginan untuk tetap dekat dengan keluarga sekaligus memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan keahlian yang dimilikinya. Pilihan itu sekaligus mencerminkan bagaimana industri wisata mulai menghadirkan alternatif mata pencaharian selain bertani bagi pemuda di Tengger.
Di sisi lain, booming industri wisata khususnya perhotelan, tidak lepas dari masuknya investasi dari luar daerah. Hotel tempat Meininda bekerja, misalnya, dimiliki investor asal Surabaya. Kehadiran modal eksternal ini kerap memunculkan kekhawatiran di tengah masyarakat, terutama terkait penguasaan sumber mata air yang menjadi penopang kehidupan warga dan lahan pertanian.
Namun, sebagai pekerja sekaligus warga lokal, Meininda memiliki pandangan yang berbeda. Menurutnya, hingga kini hubungan antara pihak hotel dan masyarakat berjalan cukup baik. Ia menilai seluruh proses pembangunan telah melalui mekanisme perizinan yang berlaku, termasuk dalam pemanfaatan sumber mata air.

"Sejauh ini tidak ada keresahan dari warga karena pihak hotel sudah memiliki izin yang lengkap. Untuk kepemilikan surat-surat dan perizinan air, semuanya sudah diurus secara resmi, jadi tidak ada masalah atau konflik dengan warga lokal," jelasnya.
Meski demikian, keberadaan industri wisata tetap menghadirkan tantangan lain. Selain persoalan lingkungan, booming industri wisata juga berpotensi menggeser nilai-nilai budaya apabila tidak diimbangi dengan upaya pelestarian tradisi.
Kesadaran itu justru menjadi pegangan Meininda dalam menjalani pekerjaannya. Ia menegaskan, pekerjaannya sebagai karyawan hotel tidak mengubah identitasnya sebagai masyarakat Tengger yang memiliki tanggung jawab menjaga adat dan ritual warisan leluhur.
Saya adalah warga lokal. Walaupun saya bekerja sebagai pegawai di sektor wisata, adalah kewajiban saya untuk tetap menjaga dan melestarikan budaya serta ritual di sini," tegasnya.
Menurut Meininda, pelestarian budaya tidak selalu bertentangan dengan booming industri wisata. Di hotel tempatnya bekerja, tradisi lokal justru diperkenalkan kepada para tamu sebagai bagian dari pengalaman berwisata yang menghormati masyarakat setempat.
"Biasanya dari pihak hotel, kami memperkenalkan tradisi kita kepada tamu. Kami mengajak mereka untuk mengenal acara-acara adat yang ada di sini," tambahnya. Baginya, pendekatan tersebut menjadi cara agar wisatawan tidak hanya menikmati panorama Bromo, tetapi juga memahami nilai-nilai budaya yang hidup di tengah masyarakat Tengger.
BACA JUGA : Bagaimana TPA Benowo Bisa Terbakar?
Selain memberikan ruang untuk memperkenalkan budaya lokal, bekerja di sektor perhotelan juga menawarkan kepastian pendapatan yang berbeda dibandingkan bertani kentang yang sangat bergantung pada musim dan fluktuasi harga.
Namun, lagi-lagi, alasan terbesar yang membuatnya bertahan bekerja di Tosari adalah kedekatannya dengan keluarga. Ia ingin membangun karier tanpa harus meninggalkan kampung halaman yang telah membentuk identitasnya sejak kecil.
"Alasan saya tetap bekerja di sini karena lokasinya dekat dengan rumah dan keluarga. Selain itu, pendapatan yang saya terima juga sudah mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari saya," tuturnya.
