SUPRAPTO (50) memarkir sepeda motornya di Wisata Alas Pinggan, Ledug, Kabupaten Pasuruan. Ia kemudian berjalan menuju meja barista dan memperkenalkan kami kepada pengelola kedai kopi itu, Alfi Dahlan (27), yang tak lain anaknya. Bersama sejumlah petani kopi lainnya, Suprapto mengelola kedai tersebut sebagai tempat memasarkan kopi hasil panen dari kebun kopi setempat.
Bagi Suprapto, Wisata Alas Pinggan bukan sekadar destinasi wisata. Kawasan ini merupakan gerakan kolektif petani kopi di lereng Gunung Arjuno-Welirang untuk menghadapi persoalan yang selama ini dianggap sebagai beban masing-masing petani. Mulai dari dampak krisis iklim, terbatasnya jaringan pemasaran, hingga tekanan ekologis akibat rencana alih fungsi kawasan hutan menjadi kawasan properti.
Suprapto telah menggeluti dunia kopi selama sekitar satu dekade. Perjalanannya dimulai pada 2016 ketika ia melanjutkan pengelolaan kebun milik orang tuanya yang sudah tidak lagi sanggup bekerja di ladang. Bermodalkan lahan seluas 4 hektare di kawasan Perhutani, tak jauh dari lokasi Wisata Alas Pinggan, ia menanam kopi Arabika dan Robusta.
Dua tahun kemudian, tepatnya pada 2018, ia mulai mendalami pengolahan pascapanen untuk meningkatkan kualitas biji kopi yang dihasilkan. Upaya Suprapto membuahkan hasil.
Menurut Suprapto, Desa Ledug memiliki potensi besar sebagai penghasil kopi berkualitas. Meski produksi Arabika turun hingga 50 persen akibat perubahan iklim dan serangan hama bajing, nilai jualnya justru meningkat. Untuk kopi kategori spesialti, harga jualnya kini dapat mencapai Rp400 ribu per kilogram.
Berangkat dari tantangan tersebut, Suprapto bersama Kelompok Tani Sekar Arabika mengembangkan Wisata Alas Pinggan, kawasan wisata edukasi dan camping ground seluas 2 hektare di lahan Perhutani. Kawasan ini menjadi bagian dari strategi diversifikasi pendapatan petani.
BACA JUGA : Cerita Pahit Krisis Iklim di Secangkir Kopi
Melalui pengelolaan kebun kopi seluas sekitar 15 hektare yang dipadukan dengan wisata edukasi, para petani tidak lagi hanya bergantung pada hasil panen, tetapi juga memperoleh sumber penghasilan tambahan dari sektor pariwisata.
Tak hanya itu, ia juga mendapat berbagai penghargaan lain, termasuk juara kedua dalam kompetisi barista. Ini menjadi bukti, kopi dari lereng Gunung Arjuno-Welirang memiliki kualitas yang mampu bersaing di level nasional. Namun, beberapa tahun terakhir, tantangan berat itu muncul.

Perubahan iklim sangat terasa dampaknya bagi petani kopi di Ledug. Suprapto menceritakan, pola musim yang tidak menentu telah mengacaukan siklus pembungaan kopi. "Tahun kemarin itu seolah-olah tidak ada musim kemarau. Hal ini membuat produksi kopi menurun drastis hingga hampir 50 persen," ungkapnya.
Jika biasanya satu hektare lahan mampu menghasilkan sekitar 1 ton kopi, kini hasilnya menyusut tajam hingga hanya tersisa sekitar 3 kuintal saja untuk jenis Arabika. Kondisi ini diperparah dengan fluktuasi suhu yang ekstrem di daerah Tretes dan sekitarnya.
Ketidakpastian cuaca juga menyulitkan proses budidaya. Suprapto mengaku tidak berani melakukan penanaman massal ketika curah hujan tidak menentu, sehingga hanya melakukan penyulaman pada tanaman yang mati atau tidak lagi produktif. Di sisi lain, ancaman hama seperti tupai dan bajing kian memperbesar risiko gagal panen karena kerap menghabiskan buah kopi sebelum sempat memerah.
Ancaman hama di kebun kopi semakin tinggi akibat perubahan iklim. Kenaikan suhu global dan cuaca yang tidak menentu mempercepat perkembangbiakan hama, memperluas wilayah serangannya ke dataran tinggi, dan melemahkan ketahanan fisik tanaman kopi secara keseluruhan.
Menghadapi penurunan produksi, ia bersama kelompok taninya mengembangkan Wisata Alas Pinggan. Berawal dari warung sederhana sebagai tempat berkumpul komunitas kopi, kawasan seluas 2 hektare itu kini berkembang menjadi destinasi wisata edukasi kopi sekaligus camping ground dengan tetap mempertahankan kelestarian kawasan.
Cara inilah yang jadi penolong untuk menjaga pendapatan petani saat produksi menurun hingga 50 persen akibat perubahan cuaca. Program yang digelar setiap bulan ini mengajak pengunjung mengenal seluruh proses kopi, mulai dari pembibitan, budidaya, pengolahan pascapanen, hingga penyajian.
Melalui edukasi, petani menonjolkan kualitas pengolahan, seperti proses natural dan honey, untuk meningkatkan nilai jual di tengah keterbatasan hasil panen. Program ini juga diperkuat pengalaman Suprapto yang meraih juara ketiga nasional Kontes Kopi Spesialti Indonesia (KKSI) 2023. Selain itu, dipadukan dengan area camping ground, wisata edukasi menjadi sumber pendapatan alternatif sekaligus mendorong petani tetap konsisten merawat kebun dan menjaga keberlanjutan usaha.
Andalan kami adalah program edukasi kopi setiap bulan. Pengunjung bisa belajar mulai dari pembibitan, penanaman, panen, proses pasca-panen, hingga cara menyeduh kopi yang siap saji," jelasnya.
Keuntungan yang diperoleh dibagikan kepada para anggota untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Meski jumlah pengunjung dapat turun hingga sekitar 40 persen saat musim hujan, Wisata Alas Pinggan tetap menjadi penopang ekonomi bagi para petani.
Meski demikian, menjaga kualitas kopi tetap menjadi kunci. Ketika produksi menurun akibat cuaca buruk, ia memilih meningkatkan mutu pengolahan pascapanen agar harga jual tetap kompetitif. Berbagai teknik, seperti Natural Process dan Honey Process, ia kuasai untuk menghasilkan cita rasa yang bernilai lebih tinggi.

Pada metode Natural Process, misalnya, ceri kopi dijemur utuh selama 30-40 hari hingga benar-benar kering sebelum diolah lebih lanjut. Metode pengolahan pascapanen tertua ini memungkinkan daging buah dan cairan manis meresap ke dalam biji kopi sehingga memicu fermentasi alami yang menghasilkan karakter rasa lebih kuat.
"Proses natural menghasilkan rasa yang lebih kuat atau strong, seperti istilah tembakau itu 'nyegrak'. Harganya pun lebih mahal dibandingkan proses lainnya," ujarnya. Sementara itu, Honey Process dilakukan dengan mengupas kulit luar buah sebelum dijemur selama sekitar 20 hari.
Strategi meningkatkan kualitas itu menjadi pilihan yang rasional di tengah kelangkaan pasokan kopi di pasar. Kondisi tersebut mendorong harga green bean Arabika melonjak dari kisaran Rp100 ribu menjadi Rp160 ribu hingga Rp300 ribu per kilogram. Untuk kopi kategori spesialti, harganya bahkan dapat mencapai Rp400 ribu per kilogram.
Di tengah anomali cuaca yang terus menekan produksi, peningkatan kualitas menjadi cara agar kopi tetap memiliki nilai jual tinggi. "Kita harus tetap konsisten merawat tanaman. Jika tanaman dirawat dengan baik dan dipupuk dengan cukup, pasti akan memberikan hasil produksi yang baik nantinya," pungkasnya.
Menciptakan Ekosistem Tangguh Hadapi Krisis Iklim
Lembaga Cempaka Foundation mendampingi petani kopi di kawasan lereng Arjuno-Welirang. Banyak dari anggota yayasan ini adalah anak-anak muda yang juga lahir dari keluarga petani kopi di sana. Pendampingan mereka gagas pada 2024 dengan mengenalkan praktik pertanian regeneratif untuk menghadapi dampak krisis iklim.
Pertanian regeneratif adalah sistem pemulihan ekosistem lahan. Teknik ini berfokus pada kesehatan tanah, penyerapan karbon, dan peningkatan keanekaragaman hayati di area penanaman kopi. Artinya, petani kopi bisa meningkatkan pertaniannya sekaligus memulihkan dan menjaga ekosistem hutan di kawasan itu.
BACA JUGA : Hutan Tretes Lestari, Pengembang Harus Angkat Kaki
Akmaludin Dimas Anggara (28), Supervisor Divisi Konservasi Cempaka Foundation, menjelaskan praktik pertanian regeneratif kepada projectarek.id. Pendampingan itu dilakukan kepada sejumlah petani kopi di lima wilayah, yakni Prigen, Pecalukan, Ledug, Desa Dayurejo, dan Desa Sukolelo. Di wilayah-wilayah ini, kopi tumbuh di bawah naungan tegakan kayu seperti pinus yang dikelola Perhutani.
Selama ini petani hanya mengandalkan pengalaman turun-temurun tanpa adanya standar pengelolaan lahan yang mampu menghadapi perubahan iklim serta protokol mitigasi iklim yang baku. Standar pengelolaan yang diperkenalkan ini juga memanfaatkan data BMKG untuk memprediksi kebutuhan irigasi dan jadwal tanam sebagai memitigasi risiko gagal panen.
Standar ini menerapkan lima prinsip dasar, termasuk konservasi air melalui pembuatan rorak dan terasering. Pengelolaan ekosistemnya mencakup pengaturan strata tanaman dengan tutupan kanopi ideal 30-40 persen serta penggunaan varietas unggul tahan penyakit. Pendekatan sistematis ini dirancang agar produktivitas kopi lebih stabil dan berkelanjutan di tengah tantangan perubahan iklim.
Kami mulai mengintroduksi pertanian regeneratif untuk agroforestri kopi di lima desa. Wilayah-wilayah ini memiliki kawasan hutan di mana petani biasanya menanam kopi di bawah tegakan kayu yang dikelola negara, seperti pinus,” ujar Anggara, Selasa, 7 Juli 2026.
Cempaka Foundation menyusun modul teknis berbasis lima prinsip dasar pertanian regeneratif sebagai panduan melawan penurunan kualitas dan kuantitas kebun kopi. Prinsipnya meliputi meminimalisir gangguan tanah, memaksimalkan keanekaragaman hayati, menjaga akar tetap dalam tanah, menjaga tanaman penutup tanah, serta integrasi ternak.
"Kami mengintroduksi bagaimana caranya agar kondisi agroforestri mereka tidak gampang turun karena pengaruh musim. Petani harus merencanakan kondisi lahan, jenis tanaman tegakan, pola penanaman, hingga mengatur jarak tanam dan membuat tata letak lahan yang jelas,” kata Anggara.
Pertanian regeneratif diterapkan karena petani perlu paham langkah adaptasi dan mitigasi terhadap perubahan iklim. Anggara menyoroti fenomena El Nino tahun 2023 yang membawa kemarau panjang. Dampak, kemarau panjang yang parah, terlebih petani belum siap menghadapinya karena pengelolaan lahan masih mengandalkan pengalaman saja.
Namun, yang lebih diwaspadai petani saat ini justru La Nina atau kondisi “kemarau basah”. Anomali cuaca yang terjadi adalah curah hujan tetap tinggi meskipun memasuki musim kemarau. Kondisi ini merugikan karena menghambat fase cekaman panas yang diperlukan untuk merangsang pembungaan secara maksimal.
Akibatnya, produktivitas menurun akibat proses pembungaan tidak optimal, serta meningkatnya serangan hama penggerek buah kopi dan penyakit karat daun yang dipicu tingginya kelembapan lahan.

“Kopi itu harus mendapatkan stres terlebih dahulu. Jika kopi berada dalam kondisi stres akibat cekaman musim seperti kekeringan, mereka akan berbunga untuk mempertahankan kelestariannya. Namun, karena dua tahun terakhir terjadi kemarau basah, proses pembungaan tidak maksimal karena kurangnya waktu panas,” jelasnya.
Sugito (43), Ketua Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Loka Jaya Binangun, mengoordinasikan sekitar 165 petani anggota. Meski baru sekitar separuh anggota yang aktif mengelola kebun secara penuh, pendampingan dari Cempaka Foundation mulai mengubah cara pandang masyarakat terhadap kebun kopi mereka.
Perubahan itu berawal dari kemitraan yang terjalin sejak 2023. Selama lima tahun terakhir, Cempaka Foundation memberikan pendampingan secara menyeluruh kepada LPHD Loka Jaya Binangun. Menurut Sugito, pendampingan meliputi aspek teknis budidaya kopi dan penguatan kelembagaan agar kelompok tani mandiri.
Kami didampingi bukan hanya sekadar untuk agroforestri, tetapi juga pendampingan di sisi kelembagaan. Selama ini, terkait kebun kopi atau yang kami sebut agroforestri ini, kami mendapatkan peningkatan kapasitas kemampuan para petani melalui Sekolah Lapang," ujar Sugito, Jumat, 31 Juli 2026.
Sekolah Lapang adalah sebuah program peningkatan kapasitas dan kemampuan bagi para petani kopi yang dikelola melalui pendampingan dari pihak eksternal seperti Cempaka Foundation. Program ini bertujuan agar petani memahami cara mengelola kebun kopi yang baik, mulai dari teknik budidaya di kebun hingga cara mengemas produk kopi.
Melalui Sekolah Lapang, para petani tidak hanya belajar di kelas, tetapi juga studi banding ke wilayah lain yang berhasil, seperti Banyuwangi. Di sana, mereka melihat langsung bagaimana pengelolaan kebun kopi. Tak hanya ilmu, dukungan fisik berupa bibit kopi berkualitas pun dikucurkan untuk meremajakan kebun-kebun rakyat.
BACA JUGA : Menjaga Hutan Terakhir Lereng Arjuno Welirang (1)
Salah satu yang menarik dari program pendampingan Cempaka Foundation ini adalah kolaborasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Sugito mengungkapkan, Sekolah Lapang ini menjadi wadah untuk menyatukan data ilmiah BMKG dengan pengalaman turun-temurun para petani.
Ini istilahnya berbagi antara ilmu teknologi iklim yang dimiliki BMKG dengan keyakinan masyarakat lokal. Misalnya, masyarakat lokal paham kapan musim tanam kopi yang bagus, kapan harus membuat lubang tanam, atau kapan waktu yang tepat untuk sanitasi," tuturnya.
Dengan kolaborasi ini, data dari BMKG membantu menjelaskan secara ilmiah mengapa pola-pola tradisional tertentu efektif atau mengapa musim-musim tertentu menjadi tidak bagus untuk tanaman. Hasilnya, petani menjadi lebih tangguh menghadapi perubahan cuaca yang ekstrem dan dapat menentukan langkah mitigasi yang tepat di lapangan.
Selain itu, data BMKG mereka manfaatkan untuk mengantisipasi potensi fenomena La Nina dan El Nino di masa depan. Misalnya, persiapan menghadapi El Nino tahun 2026, mencakup pembangunan embung cadangan air, perencanaan alur pipa irigasi, serta pembuatan rorak dan terasering guna menjaga kelembapan tanah sepanjang tahun.
Sebelum adanya pendampingan, Sugito mengakui, kepedulian terhadap kelestarian tanaman kopi dan lingkungannya masih rendah. "Dulu sebelum didampingi, kami tidak begitu respek terhadap tanaman kami. Kopi dianggap hanya seperti itu saja. Nah, setelah didampingi, kami paham, merawat kopi lingkungannya harus tetap terjaga, jangan sampai dibabat habis," tegasnya.
Kini, kata Sugito, pola tanam beralih ke sistem agroforestri, di mana kopi ditanam di bawah naungan pohon tegakan di atas kopi untuk menjaga ekosistem hutan tetap stabil. Hingga saat ini, tercatat sekitar 50.000 bibit kopi telah ditanam di wilayah tersebut, mulai dari kawasan Prigen hingga Dayurejo. Jarak kedua lokasi itu sekitar 9 kilometer, atau sekitar 20 menit perjalanan menaiki sepeda motor.
Perubahan metode ini berdampak langsung pada kualitas kopi. Petani diajarkan cara memetik kopi yang baik, teknik pemupukan, hingga penanganan pascapanen yang benar. Penggunaan bibit berkualitas tinggi juga mulai membuahkan hasil secara ekonomi. "Dari segi pendapatan petani, pasti lumayan bagus karena kopi yang ditanam adalah kopi-kopi yang berkualitas bibitnya," kata Sugito.

Pengaturan strata tanaman juga diperhatikan secara vertikal, mulai dari pohon tajuk atas (seperti pinus), sub-kanopi (lamtoro), tanaman kopi, hingga tanaman bawah seperti empon-empon (jahe atau kunyit). Strategi ini bertujuan agar tanaman tidak berebut nutrisi, melainkan saling memfasilitasi. Kopi, sebagai tanaman C3, justru tumbuh lebih baik dengan naungan sekitar 30-40 persen daripada terpapar matahari penuh.
Sebelumnya, tanaman C3 adalah jenis tumbuhan yang menghasilkan senyawa awal berkarbon tiga (asam fosfogliserat) dalam proses fotosintesis. Tanaman ini tidak membutuhkan intensitas cahaya matahari penuh dan cenderung mengalami fotorespirasi tinggi, sehingga memerlukan naungan atau pohon pelindung agar dapat tumbuh secara optimal.
Anggara mengatakan, perubahan suhu sangat memengaruhi proses fisiologis kopi yang sensitif. Melalui pertanian regeneratif, Cempaka Foundation tidak menjanjikan lonjakan produksi yang instan secara drastis, melainkan fokus pada keberlanjutan (sustainability). Tujuannya adalah agar petani mampu bertahan di tengah guncangan iklim yang tak menentu.

“Kami tidak menjanjikan nilai produksi akan langsung bertambah, tetapi jika melakukan apa yang ada di dalam modul ini, setidaknya nilai produksinya bisa bertahan lama dan lebih berkelanjutan. Untuk menghadapi perubahan iklim, yang diperlukan adalah perencanaan dan kesiapan petani agar tanggap dan bisa memitigasi risiko lebih awal,” pungkas Anggara.
Gerakan Kolektif Melawan Deforestasi
Kesadaran pelestarian kawasan hutan perlahan terbangun di kalangan petani kopi Tretes. Kesadaran itu lantas bertumbuh menjadi gerakan kolektif lintas desa melawan rencana deforestasi kawasan hutan untuk pembangunan kawasan real estate dan vila mewah seluas 22,5 hektare di hutan lereng Gunung Arjuno-Welirang.
Lahan seluas 22,5 hektare di lereng Arjuno-Welirang ini awalnya merupakan kawasan Hutan Produksi Perhutani. Melalui Tukar Menukar Kawasan Hutan (TMKH), lahan beralih status menjadi milik PT Kusuma Raya Utama yang mengantongi Sertifikat Hak Guna Bangunan (SHGB) sejak 2015. Pada 2021, lahan itu dijual ke PT Stasionkota Saranapermai.
Pada 29 Maret 2026 lalu, ribuan warga lintas desa di kawasan itu, di antaranya Pecalukan, Ledug dan Prigen, menggelar aksi unjuk rasa. Demonstrasi ini menjadi yang terbesar dari aksi serupa sebelumnya. Mereka menolak tegas rencana alih fungsi hutan terakhir di lereng Arjuno-Welirang.
BACA JUGA : Menjaga Hutan Terakhir Lereng Arjuno-Welirang (2)
Perlawanan warga berawal dari media sosial sekitar tahun 2010-2011. Warga membentuk grup Facebook Gerakan Masyarakat Peduli Hutan (Gema Duta) sebagai basis konsolidasi awal. Ketika pengembang mulai melakukan penebangan pohon di lokasi proyek pada tahun 2011, warga bereaksi keras melalui demonstrasi besar-besaran hingga ke gedung DPRD Kabupaten Pasuruan.
Kami hanya ingin hutan itu dibiarkan selayaknya hutan. Kalau dibuat proyek, itu jadi bencana buat kami,” kata Priya Kusuma, Ketua Gema Duta.
Pembentukan aliansi di tiga kelurahan ini, diawali dengan petisi yang ditandatangani 3.000-an warga. Sebelumnya, pejabat lokal cenderung mengabaikan warga. Bupati bahkan menerbitkan izin pada 2011 meski didemo keras. Pembentukan Pansus DPRD pada Oktober 2025, menjadi respons formal pertama yang signifikan untuk menyelidiki kejanggalan perizinan setelah beragam upaya dari warga.
Alasan gerakan warga ini sederhana. Mereka tidak ingin alam yang menjaga kehidupan mereka, berubah menjadi malapetaka. Baik bencana, maupun perekonomian mereka. Semuanya bergantung pada kondisi alam di sana.

Di Desa Pecalukan, lahan yang kini diincar pengembang sebenarnya merupakan hasil jerih payah warga yang melakukan reboisasi swadaya sejak tahun 2008. Ikhsan Ulumuddin (40), salah satu petani kopi, menceritakan bagaimana warga mengubah lahan gundul menjadi hutan produktif yang ditanami kopi varietas Excelsa dan Liberika.
Baginya, saat ini kawasan hutan itu menjadi tumpuan ekonomi utama dengan nilai perputaran uang mencapai Rp40 juta hingga Rp50 juta per tahun untuk penjualan biji mentah (green bean), dan bisa melonjak hingga Rp80 juta jika dijual dalam bentuk bubuk.
Otomatis, itu hampir hilang semua karena pihak pengembang menganggap itu sudah menjadi tanahnya. Jadi, kami tidak akan memiliki penghasilan. Itu yang jelas," tegas Ikhsan.
Ikhsan mengungkapkan, deforestasi ini membawa beragam dampak. Selain hilangnya vegetasi, petani juga terancam krisis air. Di saat anomali cuaca, di mana kemarau bisa berlangsung lebih lama, tanaman kopi membutuhkan pasokan air yang disuplai dari sumber mata air di kawasan hutan yang hendak digusur.
Dalam satu dekade terakhir, debit air di hutan mulai menurun, dan deforestasi akibat proyek hunian mewah dikhawatirkan memperparah penurunan hasil panen yang saat ini sudah merosot hingga 50 persen akibat anomali cuaca. Penurunan debit mata air disebabkan hilangnya tutupan hutan sebagai daerah resapan air.
Tanpa vegetasi, air hujan menjadi aliran permukaan (run-off) dan gagal mengisi akuifer. Saat ini, area tersebut sebenarnya masih berupa hutan lebat, namun terancam proyek pembangunan real estate. Rencananya, lahan seluas 22,5 hektare itu akan dibagi menjadi 51 kavling vila mewah, yang ditolak warga demi mencegah bencana dan krisis air.
BACA JUGA : Menjaga Hutan Terakhir Lereng Arjuno-Welirang (3)
Ancaman ini merembet kuat ke sektor hilir, yakni para penjual kopi di Tretes. M. Taofik (46), salah satu penjual kopi, memprediksi proyek ini adalah ancaman matinya usaha yang ia rintis. Bisa turun hingga 90 persen, bahkan tutup total, kata dia. Ia sangat bergantung pada pasokan biji kopi berkualitas dari petani lokal di lereng Arjuno-Welirang.
Hal serupa dikhawatirkan Samsul Arifin, penjual kopi, yang berharap hutan dikembalikan sesuai fungsunya. "Harapan saya, hutan dikembalikan ke fungsinya. Petani bisa menghasilkan kopi yang baik sampai kualitasnya bagus. Kalau ada ciri khas (signature) dari sini, harga bisa naik dan semuanya bisa jalan beriringan, baik petani maupun penjual," pungkasnya.
Melihat besarnya dampak ekonomi dan sosial, warga teguh menolak proyek ini dalam bentuk apapun. Mereka berargumen, hutan tersebut adalah "sabuk pengaman terakhir" bagi ekosistem dan ekonomi warga.
*Artikel adalah edisi kedua dari dua seri Liputan Petani Kopi Tretes Menghadapi Dampak Krisis Iklim. Kedua liputan ini merupakan bagian dari serial "Krisis Iklim", kolaborasi projectarek.id dan iklimkita.org, media yang dikelola oleh LaporIklim.
