ABDUL KARIM (57) melangkahkan kaki menuju kebun kopi di samping kanan rumahnya di Jalan Raya Tulang, Ledug, Pasuruan. Kami mengikuti langkahnya. Setelah berjalan puluhan meter, hamparan tanaman kopi membentang di hadapan. Karim menjulurkan tangan, menunjuk lahan yang ia kelola dari kebun kopi itu.
Sejak 1997, ia mengelola kebun di lereng Gunung Arjuno-Welirang. Lahan garapannya tersebar di beberapa titik. Kebun terluas yang ia kelola berada di kawasan Perhutani dan hutan tradisional di bagian selatan desa, dengan luas sekitar 8 hingga 9 hektare. Selain itu, ia juga memiliki kebun seluas 0,4 hektare di utara desa yang merupakan tanah milik pribadi.
Selain mengolah kopi, Karim sempat merambah ke sektor hilir dengan membuka kedai kopi. Namun, pada 2024, ia memutuskan menutup usaha tersebut dan kembali memusatkan perhatian sepenuhnya pada sektor hulu, yakni budidaya kopi.
Dahulu, kopinya dikenal dengan nama Kopi Ledug. Namun, kini ia memberi label baru yaitu KWK atau Kopi Wak Karim. "Yang bubuk ini adalah kopi pilihan dari biji yang tua, jadi kopi khusus. Mulai 2011 sampai sekarang rasa dan aromanya tetap konsisten seperti ini," ungkapnya.
Karim berhasil mempertahankan kualitas produk, juga membangun jenama baru. Tapi bukan itu tantangan terbesar yang ia hadapi. Kata dia, perubahan cuaca kini jauh lebih mengkhawatirkan karena musim tidak lagi dapat diprediksi seperti dahulu.
Dampak Berderet Anomali Cuaca
Karim menjelaskan, anomali cuaca memang tidak banyak mengubah cita rasa kopi, tetapi berdampak besar terhadap jumlah produksi. Hujan deras yang turun pada malam hari ketika buah kopi mulai tua menyebabkan banyak buah rontok sebelum sempat dipanen. Akibatnya, hasil panen dan pendapatan petani merosot.
Kebun kopi umumnya panen sekali dalam setahun. Sebelum anomali cuaca melanda, kata Karim, total produksi dari seluruh kebun kopinya mencapai 3 hingga 4 ton setiap musim panen. Namun, setelah pola cuaca berubah, hasil panen turun menjadi sekitar 2 hingga 3 ton.
"Yang paling terasa betul adalah kuantitas. Otomatis jumlah tonase nanti ujung-ujungnya berpengaruh ke pendapatan. Jadi, tujuan petani saat musim anomali seperti ini adalah bagaimana caranya tetap menjaga hasil produksi secara kuantitas, syukur-syukur kualitasnya juga tetap terjaga," tuturnya.
Karim mulai mencari berbagai cara agar kebun kopinya tetap produktif di tengah cuaca yang kian sulit diprediksi. Salah satu upaya yang ditempuh ialah mengembangkan varietas kopi yang lebih tahan terhadap perubahan iklim. Tanaman ini diharapkan mampu beradaptasi terhadap suhu yang meningkat serta pola hujan yang semakin tidak menentu.
"Siasatnya adalah dengan mencari pohon-pohon kopi, baik jenis Robusta, Arabika, maupun Excelsa, yang sekiranya tahan terhadap perubahan cuaca. Ada jenis tertentu yang meskipun cuaca panas atau ditanam di bawah pohon yang sangat rimbun, buahnya tetap lebat. Itu yang perlu dikembangkan," jelas Karim.
Petani juga melakukan teknik penyambungan atau grafting. Dikenal juga dengan nama ‘sambung sisip’, teknik ini menyambungkan batang bawah (akar yang kuat) dengan batang atas (pucuk yang unggul) dari tanaman. Teknik ini bisa memperbaiki kualitas buah, mempercepat masa panen serta meremajakan pohon kopi tua. Namun petani baru bisa melakukan teknik ini saat panen.
Sebab tanaman butuh waktu sekitar dua tahun hingga bisa berproduksi secara normal. Baginya, cara ini menjadi pilihan paling realistis untuk menjaga keberlanjutan kebun. Ketika produksi kopi terus turun, maka yang ‘kena batu’-nya adalah tenaga kerja. Karim terpaksa merumahkan pekerjanya karena tak mampu memberi upah.
Sebelumnya, ia mempekerjakan hingga enam orang untuk mengelola kebun kopi total seluas 9 hektare di utara desa. Namun, kini tinggal 2-3 orang saja yang bekerja di kebunnya, kecuali saat musim panen.
Kalau honor (upah) tidak saya turunkan, tetapi jumlah tenaga kerjanya yang dikurangi. Dulu bisa enam orang tiap hari, sekarang hanya dua atau tiga orang. Yang rutin harian itu dua orang," katanya.
Dengan pasokan kopi yang turun, logikanya ia menaikkan harga jual kopi demi mempertahankan pemasukan. Tapi Karim memilih jalan berbeda. Ia tidak menaikkan harga secara drastis meski harga kopi di pasaran terus naik, demi mempertahankan hubungan dengan lebih dari 40 pelanggannya.
Saat ini KWK atau Kopi Wak Karim dijual seharga Rp40.000 per 250 gram untuk jenis Robusta dan Rp50.000 per 250 gram untuk jenis Arabika. Anomali cuaca yang ekstrem berarti ada hujan deras yang datang tak menentu. Hujan deras bisa menyebabkan buah kopi rontok sebelum dipanen.
BACA JUGA : Menjaga Hutan Terakhir Lereng Arjuno-Welirang (3)
Akibatnya, hasil produksi di kebunnya turun sekitar 65 persen, dari normalnya 3-4 ton menjadi hanya 2-3 ton saja. Kelangkaan pasokan ini menciptakan fenomena 'ada harga, tidak ada barang' ketika permintaan kopi terus naik sementara stok di tingkat petani sangat terbatas. Kondisi pasar yang tidak seimbang inilah yang memicu lonjakan harga jual kopi secara signifikan.
"Kalau saya sendiri, karena pelanggannya adalah orang-orang lama, perubahan harganya tidak signifikan. Saya lihat harga pasar, sekiranya tidak terlalu jatuh dan saya tidak rugi, serta pihak sana bisa berjalan, ya tetap kami jalankan dengan sistem kesepakatan," ujarnya.
Yang Mengancam Tak Hanya Perubahan Iklim
Krisis iklim yang sudah berdampak bagi petani kopi seperti Karim, kini ditambah lagi dengan ancaman alih fungsi lahan kawasan hutan. Karim meyakini, perubahan tutupan hutan akan menambah tekanan ekologis bagi keberlangsungan kopi di kawasan itu.
Saat ini, warga di kawasan itu berhadapan dengan perusahaan yang hendak meratakan hutan menjadi kawasan vila-vila elit. Kawasan hutan seluas ini menjadi incaran karena berhawa sejuk dan pemandangan yang indah. Padahal, lereng berkontur curam itu merupakan kawasan resapan air sekaligus sabuk pengaman alami yang melindungi warga dari longsor serta memasok air bersih bagi Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik.
Rencana deforestasi mencakup lahan seluas 22,5 hektare di lereng Gunung Arjuno-Welirang. Proses alih fungsi bermula pada 1988 melalui mekanisme Tukar Menukar Kawasan Hutan (TMKH) antara Perum Perhutani dan PT Kusuma Raya Utama. Pada 2004, status lahan resmi dilepaskan melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan. Namun, keresahan warga baru memuncak pada 2011 ketika aktivitas penebangan pohon mulai terlihat di lokasi proyek.
Kini, di bawah PT Stasionkota Saranapermai, kawasan yang termasuk wilayah Pecalukan, Ledug, dan Prigen, direncanakan menjadi kompleks real estate yang terdiri atas 51 unit vila mewah. Meski pengembang kemudian mengubah narasi proyek menjadi 'wisata alam terpadu', namun ribuan warga yang tergabung dalam Aliansi Gema Duta tetap menolak rencana tersebut.
Mereka menilai perubahan istilah itu hanya kamuflase. Hingga kini pun warga belum bisa memastikan apakah di tanah itu akan dibangun vila atau hanya tempat wisata. Warga ingin lahan tersebut yang sudah kembali menjadi hutan tetap difungsikan sebagai kawasan hutan dan dilindungi. Perubahan fungsi, akan berdampak pada kehidupan mereka, termasuk bencana.
Warga khawatir, risiko bencana hidrometeorologi meningkat, seperti banjir bandang dan longsor, mengingat kemiringan lahan mencapai 25 hingga 40 derajat. Pergerakan mempertahankan kebun kopi ini telah berlangsung selama puluhan tahun dan menjadi pertaruhan atas ruang hidup sekaligus mata pencaharian warga.
Bagi petani kopi seperti Karim dan kawan-kawannya, hilangnya kawasan hutan tidak hanya berarti berkurangnya tutupan vegetasi, tetapi juga hilangnya ruang produksi yang selama ini menopang kehidupan mereka. Apalagi sejak 2008, para petani melakukan reboisasi secara swadaya di kawasan tersebut.

Jika alih fungsi tetap berjalan, mereka khawatir upaya itu akan sia-sia, sebab pohon-pohon yang mereka tanam dulu kini sudah menjadi vegetasi atau tegakan. Selain itu, jika alih fungsi diloloskan, itu akan memutus mata pencaharian warga yang bergantung pada kopi.
Bukan hanya warga, Panitia Khusus atau Pansus DPRD Kabupaten Pasuruan juga memiliki kekhawatiran yang sama. Pada April lalu, mereka mengeluarkan tujuh rekomendasi berisi penolakan rencana proyek real estate atau wisata alam terpadu di lereng Gunung Arjuno-Welirang itu.
Rekomendasi strategis ini ditujukan kepada Bupati Pasuruan. Ketua Pansus, Sugiyanto menekankan, poin-poin ini harus dilaksanakan demi menjaga integritas hukum dan kelestarian lingkungan di wilayah Pasuruan. Salah satu rekomendasinya adalah, pencabutan persetujuan pemanfaatan ruang yang dikantongi perusahaan.
Kami merekomendasikan dilakukannya pencabutan atau pembatalan izin yang telah diterbitkan, termasuk Persetujuan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang (PKKPR), apabila terbukti bertentangan dengan undang-undang atau ketentuan hukum yang berlaku," tegas Sugiyanto, diwawancarai usai mengeluarkan rekomendasinya.
Dalam rekomendasi ini juga, pansus menyatakan izin pembangunan real estate cacat prosedural, cacat substansi, serta berpotensi melanggar peraturan perundang-undangan, mengembalikan fungsi kawasan tersebut sebagai zona lindung atau resapan air yang bersifat permanen dan tidak dapat dialihfungsikan.
BACA JUGA : Pansus: Tolak Proyek Deforestasi Hutan Tretes
Kemudian, pansus juga merekomendasi pengembalian status kawasan dari zona kuning (pemukiman) menjadi zona hijau (kawasan hutan) melalui mekanisme evaluasi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Warga belum bisa bernapas lega. Sebab, kini mereka masih mengawal rekomendasi ini sampai semuanya dipenuhi.
Harga Kopi Naik, Banyak Biji yang Dicuri
Di rumah Karim, Cahyono Priambodo (59) duduk di kursi kayu sambil menyeruput secangkir kopi hitam yang masih hangat. Kepulan uap tipis tampak terus menguar dari permukaan kopi di tangannya. Minuman itu baru saja diseduh.
Selama 10 tahun terakhir, Cahyono mendedikasikan hidupnya untuk memahami kopi dari hulu hingga hilir. Berawal dari kegemarannya terhadap kopi, ia mendalami dunia barista sebelum akhirnya terjun mengelola kebun. Namun, dalam dua tahun terakhir, pengalaman dan pengetahuannya seolah diuji anomali cuaca hingga sulit diprediksi.
Baginya, itu bukanlah fenomena lokal semata. Menurut Cahyono, gejolak harga kopi saat ini dipicu gagal panen besar-besaran di Brasil, produsen kopi terbesar dunia, akibat anomali cuaca. Karena kopi merupakan komoditas bursa internasional, dampak kegagalan di belahan bumi lain langsung merambat ke Indonesia.
"Dampaknya sangat besar. Stok kopi kurang, akhirnya kopi diperebutkan seperti emas. Harganya terus naik tidak karuan," ujar Cahyono, pada Selasa, 7 Juli 2026. Ironisnya, bagi petani seperti Cahyono, kenaikan harga ini bagaikan pisau bermata dua.
Di satu sisi, harga tinggi adalah impian setiap petani. Namun di sisi lain, kenaikan harga ini dibarengi dengan merosotnya produktivitas kebun akibat perubahan iklim yang ekstrem.
Cahyono tidak mengekspor biji kopi ke luar negeri, ia fokus menjadi petani kopi dan membuka kedai kopi sendiri. Lagi-lagi, sebagai komoditas bursa global, kegagalan panen kopi di Brasil akibat cuaca ekstrem memicu lonjakan harga kopi dunia yang merambat ke Indonesia. Kata Cahyono, kondisi itu membuat kopi diperebutkan seperti emas.
Di kebun yang ia garap, Cahyono menghadapi anomali cuaca berupa panas ekstrem yang diselingi hujan mendadak. Ini menyebabkan bunga kopi rontok dan gagal berbuah, sehingga produktivitas merosot drastis dari 1 kilogram per pohon menjadi hanya 1 hingga 2 ons. Artinya, terjadi penurunan produksi biji kopi sebesar 90 persen per pohon. Bahkan, ia sempat mengalami gagal panen total akibat faktor alam dan aksi pencurian.
Secara ekonomi, tingginya harga akibat kelangkaan biji kopi memicu masalah keamanan, marak terjadi pencurian di tengah hutan. Dampak ini meluas hingga ke hilir, Cahyono jadi kesulitan menjual kopi dengan harga terjangkau di kedainya. Ia terpaksa mengurangi suplai ke pelanggan karena ketiadaan stok barang yang memadai.
Pada waktu belum ada anomali cuaca seperti ini, sebetulnya petani senang kalau harga tinggi dan panen bagus. Tapi setelah ada perubahan cuaca, dampaknya banyak. Biasanya satu pohon bisa menghasilkan 1 kilogram kopi, sekarang paling hanya 1 ons," ungkapnya.
Di wilayah Pasuruan, panen raya biasanya terjadi secara serentak antara bulan Agustus hingga Oktober. Namun, siklus alami ini kini berantakan. Cuaca panas yang tiba-tiba diselingi hujan membuat pohon kopi mengeluarkan bunga, tetapi bunga-bunga tersebut gagal menjadi buah.
"Mau serentak bagaimana? Karena cuaca panas kena hujan, bunga keluar tapi tidak akan jadi. Sudah hampir dua tahun kondisinya seperti ini," jelas Cahyono.
Kondisi kebun saat ini tampak menipu mata. Pohon-pohon kopi terlihat hijau subur karena curah hujan yang tinggi, namun hijau tersebut tidak berarti hasil yang menggembirakan. "Senang melihat kebun kelihatan hijau saja, tapi bukan itu yang kami cari. Kami butuh isinya, bukan daunnya," tambahnya.
BACA JUGA : Menjaga Hutan Terakhir Lereng Arjuni-Welirang (2)
Cahyono menjelaskan, secara normal, satu hektare lahan organiknya bisa menghasilkan 1 ton kopi per tahun. Namun kini, untuk mendapatkan hasil yang layak dijual saja sulit. Di lahan Arabika yang ia kelola bersama rekannya, Karim, sempat mengalami gagal panen total karena buahnya hilang dicuri.
Tahun kemarin di Arabika sama sekali tidak panen, hilang semua. Itu termasuk efek domino dari harga kopi yang terlalu tinggi," keluhnya.
Kenaikan harga kopi yang kini menembus angka di atas Rp80.000 hingga Rp100.000 per kilogram untuk biji mentah (green bean) telah mengubah peta keamanan di perkebunan. Kopi kini dianggap setara dengan emas, yang memancing niat jahat orang-orang tak bertanggung jawab. Cahyono menceritakan bagaimana maraknya aksi pencurian biji kopi di tengah hutan.
"Dulu harga kopi cuma Rp20.000 sampai Rp50.000. Sekarang di atas Rp80.000 sampai Rp100.000, sudah seperti emas. Tidak mungkin petani harus tidur di hutan terus," katanya, "Orang yang niatnya jahat tidak peduli jam, mereka berangkat malam. Cari uang satu juta rupiah dalam satu jam bisa didapat dengan mencuri kopi. Itu dampak sosial yang terjadi saat ini," imbuhnya.
Kedai Kopi Ikut Terdampak
Rentetan dampak perubahan iklim dan ancaman alih fungsi lahan yang dialami petani kopi, juga diperkirakan menjalar hingga ke sektor hilir. Taofik (46), pedagang kopi di salah satu kedai di Tretes, memperkirakan pendapatannya dapat turun hingga 90-100 persen karena kehilangan akses terhadap kopi lereng Gunung Arjuno-Welirang.

Ada juga Mamad Haryoko (37) yang membangun bisnis kopi dengan memberdayakan keluarga dan kerabat sebagai petani, sementara ia menangani pengolahan hingga pemasaran.
Setiap tahun, Mamad mengolah sekitar 1,5 ton Robusta dan 0,5 ton Arabika. Produknya dipasarkan ke 30-40 pelanggan, mulai dari kafe hingga pasar luar negeri. Arabika Wine dijual hingga Rp600 ribu per kilogram, sedangkan Robusta Specialty Rp200 ribu per kilogram. Usaha ini menjadi sumber penghasilan utama keluarganya dengan pendapatan rata-rata Rp5 juta per bulan.
Mamad khawatir proyek pembangunan vila di dekat perkebunan akan merusak kualitas kopi dan memangkas pendapatannya hingga 80 persen, bahkan berpotensi membuat usahanya tutup.
"Menurut saya, jika proyek itu sampai dibangun, dampaknya akan besar karena lokasinya sangat dekat dengan perkebunan kopi. Robusta kualitas bagus itu ada di ketinggian 900 MDPL, dan Arabika di atasnya. Proyek ini menyerang area itu, sehingga hasil panen pasti menurun," pungkasnya.
Karena itu, sejak 2025, ia aktif mendukung penolakan warga terhadap proyek tersebut. Dan ia berharap pemerintah lebih mengutamakan kelestarian lingkungan serta kesejahteraan masyarakat.
"Menurut saya, jika proyek itu sampai dibangun, dampaknya akan besar karena lokasinya sangat dekat dengan perkebunan kopi. Robusta kualitas bagus itu ada di ketinggian 900 MDPL, dan Arabika di atasnya. Proyek ini menyerang area itu, sehingga hasil panen pasti menurun," pungkasnya.
Di sisi lain, Cahyono, yang juga memiliki kedai kopi bernama Gudel Coffee dengan misi edukasi, merasa kesulitan menentukan harga jual ketika harga biji kopi terus meningkat. "Jika mentahnya saja sudah di atas Rp100.000, dulu kita bisa jual satu gelas kopi murni seharga Rp6.000. Sekarang tidak mungkin lagi. Mau dijual berapa?" tanyanya.
Ketika harga kopi murni tak terjangkau, konsumen cenderung beralih ke produk industri yang harganya lebih murah namun kualitasnya meragukan. "Sekarang pilihannya kembali kepada konsumen. Mau minum kopi yang sehat atau asal hitam? Kopi murni itu ada unsur kesehatannya, tapi kalau kopi industri yang dicampur jagung atau kayu, itu beda lagi," tegasnya.
BACA JUGA : Menjaga Hutan Terakhir Lereng Arjuno-Welirang (1)
Padahal bagi Cahyono, menjalankan kedai kopi adalah bagian dari perjuangan mengedukasi masyarakat. Ia ingin pelanggannya memahami manfaat kafein murni bagi kesehatan, seperti meningkatkan metabolisme dan aliran oksigen ke otak, daripada sekadar minum kopi saset yang tinggi gula dan campuran.
Kedai saya dulu menggunakan konsep edukasi, tidak hanya mengandalkan keuntungan. Saya mengajak pelanggan ngobrol tentang apa itu espresso dan manfaatnya," kenangnya.
Menghadapi dampak perubahan iklim, Cahyono memilih memusatkan perhatian pada pembenahan di sektor hulu. Baginya, melawan alam adalah hal yang mustahil. Yang bisa dilakukan ialah menyiapkan kebun agar tetap produktif ketika kondisi cuaca kembali membaik, meski tak ada yang dapat memastikan kapan anomali iklim akan berakhir.
"Siasat saya adalah mencoba mengoptimalkan hulu. Kita tidak bisa 'perang' di hilir kalau tidak punya barang. Jadi, hulu diperbaiki lagi supaya nanti saat anomali selesai, hasilnya bisa optimal kembali," tuturnya.
Warga tak tinggal diam dengan dampak krisis iklim dan tekanan ekologis yang datang dari aktivitas manusia. Mereka membentuk gerakan kolektif mencegah situasi semakin memburuk. Edisi kedua liputan ini akan mengungkap gerakan kolektif warga, mulai dari perlawanan terhadap pengembang, sampai mengupayakan sistem budidaya tanaman kopi yang adaptif.
*Artikel adalah edisi pertama dari dua seri Liputan Petani Kopi Tretes Menghadapi Dampak Krisis Iklim. Kedua liputan ini merupakan bagian dari serial "Krisis Iklim", kolaborasi projectarek.id dan iklimkita.org, media yang dikelola oleh LaporIklim.
