Skip to main content
Ketika Kawanmu Ditangkap
Esai / Opini
Ketika Kawanmu Ditangkap
Ada saat ketika sebuah kota tidak lagi dikenali dari gedungnya, jalannya, atau lampu lalu lintasnya. Sebuah kota dikenali dari nama-nama yang mendadak dipanggil dengan suara pelan. Dari pesan singkat yang hanya berisi satu pertanyaan, "Sudah ada kabar?". Dari telepon yang tidak diangkat. Dari wajah yang tidak muncul ketika semua orang mulai menghitung siapa yang berhasil pulang.

NEGARA selalu percaya, penangkapan adalah soal memindahkan tubuh dari jalan ke dalam mobil, dari kerumunan ke ruang pemeriksaan, dari kebebasan menuju tembok yang lebih rapat. Negara menghitung tubuh seperti menghitung barang bukti satu orang, dua orang, lima orang. Kami belajar menghitung dengan cara yang berbeda.

Kami menghitung kekosongan. Kami menghitung bangku yang tidak lagi diduduki, gelas kopi yang mengembun tanpa disentuh, poster yang masih tergulung di sudut ruangan, pesan yang terakhir dibaca tetapi tidak pernah dibalas. Kami menghitung jarak antara kabar dan kecemasan. Begitulah cara kami mengetahui ketika seorang kawan telah ditangkap.

Tidak ada sirene yang cukup keras untuk mengalahkan sunyi setelahnya. Orang-orang mungkin mengira yang paling menakutkan dari sebuah penangkapan adalah saat tubuh diseret atau tangan diborgol. Mereka keliru, yang paling menakutkan justru datang setelah kerumunan bubar.

Ketika jalan telah kembali dibuka, ketika kendaraan kembali melintas seperti tidak pernah terjadi apa-apa, ketika kota menjalankan rutinitasnya dengan wajah yang sama, sementara kami tahu ada satu kehidupan yang sedang digantung pada keputusan orang lain. Di situlah negara menunjukkan wajahnya yang paling telanjang.

Ia ingin mengajarkan bahwa kekuasaan adalah hak untuk menentukan siapa yang boleh pulang dan siapa yang harus tinggal. Tetapi sejarah selalu memiliki kebiasaan yang buruk di mata para penguasa.

Ia tidak pernah patuh, setiap kali seorang kawan dibawa pergi, yang ikut berjalan bersamanya bukan hanya tubuhnya ada percakapan yang belum selesai ada tawa yang belum sempat diulang ada mimpi yang belum sempat dirundingkan ada kemarahan yang belum menemukan bentuknya. Tidak ada kendaraan yang cukup besar untuk mengangkut semua itu mereka hanya mampu membawa manusia. Mereka tidak pernah berhasil membawa alasan mengapa manusia itu turun ke jalan.

Barangkali memang demikian cara kekuasaan bekerja. Ia mengenali wajah, tetapi tidak memahami keyakinan. Ia hafal nama, tetapi tidak pernah mengerti mengapa nama itu bersedia berdiri di tengah gas air mata dan teriakan. Ia percaya rasa takut dapat diproduksi seperti surat keputusan. Padahal rasa takut memiliki watak yang aneh. Ia dapat membuat seseorang bersembunyi. Ia juga dapat membuat seseorang berhenti bersembunyi. Kami tidak pernah datang ke jalan karena menyukai kekacauan.

BACA JUGA : Macondo dan Hak Atas Kota

Kami datang sebab terlalu banyak ketertiban dibangun di atas kebungkaman. Ada saat ketika diam berubah menjadi cara paling halus untuk mengkhianati hati sendiri. Ada saat ketika berjalan bersama menjadi satu satunya cara agar seseorang tidak merasa sendirian menghadapi sebuah zaman.

Demonstrasi tidak pernah dimulai ketika massa berkumpul. Ia dimulai jauh sebelumnya. Ia lahir dari upah yang dipotong, dari tanah yang dirampas, dari pendidikan yang menjadi barang dagangan, dari ruang hidup yang dipersempit, dari kesabaran yang terus diminta kepada mereka yang tidak pernah menikmati hasil dari kesabaran itu. Jalan hanya menjadi tempat semua luka akhirnya saling mengenali.

Karena itu, ketika seorang kawan ditangkap, yang sebenarnya ingin ditangkap adalah keyakinan bahwa orang-orang biasa dapat berdiri sejajar dengan kekuasaan dan berkata, "Tidak." Kata itu selalu terdengar kecil. Namun setiap pemerintahan yang takut kepada rakyat selalu mengetahui betapa beratnya satu kata itu.

Mereka membangun pagar.

Mereka membangun barikade.

Mereka membangun pasukan.

Mereka membangun penjara.

Semua itu dilakukan demi menghadapi satu kemungkinan yang sederhana. Bahwa rakyat suatu hari berhenti meminta izin untuk didengar. Kepadamu yang malam ini tidur di ruang yang asing, kami ingin mengatakan sesuatu. Jangan bayangkan kami telah melupakanmu.

Kami masih mengingat cara engkau tertawa ketika hujan membubarkan aksi, kami masih mengingat bagaimana engkau membagikan air minum kepada orang yang bahkan tidak kau kenal, kami masih mengingat keyakinanmu bahwa sebuah gerakan tidak dibangun oleh pahlawan, melainkan oleh orang-orang yang terus datang meski tahu mereka bisa kalah.

Ingatan adalah wilayah yang tidak dapat digeledah. Tidak ada surat perintah yang mampu menyitanya. Barangkali mereka sedang bertanya siapa yang menggerakkanmu, siapa yang membiayaimu, siapa yang memerintahkanmu. Mereka memang terbiasa berpikir bahwa setiap langkah pasti memiliki majikan. Mereka sulit memahami bahwa manusia dapat bergerak karena nuraninya sendiri. Bagi mereka, solidaritas selalu tampak mencurigakan sebab mereka hidup dalam dunia yang mengukur segala sesuatu dengan keuntungan.

BACA JUGA : Menguji Alibi Budiman Sudjatmiko

Mereka lupa bahwa ada orang yang rela menjaga semalaman di depan kantor polisi tanpa memperoleh apa pun selain kepastian bahwa kawannya tidak sendirian, mereka lupa bahwa ada ibu yang memasak untuk puluhan orang yang tidak pernah ia kenal, mereka lupa bahwa ada mahasiswa yang menyisihkan uang makannya untuk biaya bantuan hukum, mereka lupa bahwa persahabatan sering kali lebih kuat daripada ancaman.

Negara dapat memonopoli senjata. Ia tidak pernah berhasil memonopoli kasih sayang. Di situlah letak kegagalannya yang paling sunyi sebab setiap kali ia mencoba memisahkan manusia dari manusia lainnya, selalu ada tangan yang tetap terulur selalu ada suara yang memanggil nama selalu ada langkah yang memilih menunggu di depan gerbang sampai fajar datang.

Kami tahu, tidak semua perjuangan akan berakhir dengan kemenangan yang segera tidak semua sidang menghadirkan keadilan tidak semua berita memihak kepada mereka yang dipukul tidak semua sejarah ditulis oleh orang yang berada di jalan.

Namun sejarah juga mengenal sesuatu yang lebih keras daripada kemenangan. Ia mengenal keteguhan, yakni ketika seseorang tetap percaya kepada masa depan meski masa kini sedang memenjarakannya.

Keteguhan adalah ketika seorang ibu masih mengirim makanan kepada anaknya yang ditahan. Keteguhan adalah ketika seorang ayah tetap mengatakan bahwa anaknya tidak melakukan kejahatan karena menolak ketidakadilan. Keteguhan adalah ketika seorang kawan berkata, "Kami akan menunggumu pulang," lalu benar-benar melakukannya. Barangkali itulah yang paling ditakuti kekuasaan.

Bukan batu, Bukan spanduk, Bukan pengeras suara, Melainkan kesetiaan. Sebab kesetiaan membuat sebuah gerakan bertahan lebih lama daripada usia rezim mana pun. Rezim berganti, seragam berganti, jabatan berpindah. Tetapi cerita tentang orang-orang yang saling menjaga akan terus diceritakan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Suatu hari nanti, mungkin anak-anak yang hari ini belum lahir akan membaca bahwa pernah ada orang-orang biasa yang berdiri di jalan Surabaya dan percaya bahwa hidup tidak boleh diatur oleh rasa takut. Mereka mungkin tidak mengenal nama kita. Mereka mungkin tidak mengetahui wajah kita.

Tidak apa-apa.

Perjuangan tidak pernah meminta dikenang.

Ia hanya meminta diteruskan.

Maka jika malam ini engkau sedang duduk sendirian di balik pintu yang dikunci dari luar, ketahuilah bahwa kota ini masih menyimpan jejak langkahmu. Aspal masih mengingat suara sepatumu trotoar masih mengingat poster yang pernah kau angkat tinggi angin masih membawa gema suaramu melewati gedung-gedung yang mengira dirinya lebih abadi daripada rakyat.

Tidak ada tembok yang cukup tebal untuk menahan ingatan.

Tidak ada borgol yang cukup kuat untuk mengikat harapan.

Dan tidak ada penjara yang cukup luas untuk memenjarakan masa depan.

Esok hari mungkin kami akan kembali ke jalan.

Bukan karena kami melupakan apa yang terjadi kepadamu.

Justru karena kami mengingatnya.

Kami akan membawa namamu bukan sebagai ratapan.

Kami akan membawanya sebagai pengingat bahwa kebebasan selalu memiliki harga, tetapi harga yang paling mahal adalah membiarkan ketidakadilan berjalan tanpa seorang pun berani menyapanya.

Jika kelak kita bertemu lagi, entah di depan ruang sidang, di sebuah warung kopi, di bawah langit yang lebih tenang, atau di jalan yang kembali dipenuhi nyanyian, kita tidak perlu saling bertanya siapa yang paling berani. Keberanian bukan milik orang yang tidak pernah takut. Keberanian adalah milik mereka yang tetap berjalan meski tahu rasa takut akan selalu mengikuti beberapa langkah di belakangnya.

BACA JUGA : Rendra dan Perlawanan

Dan jika suatu hari sejarah memutuskan untuk melupakan nama kita, biarlah. Asal ia tetap mengingat bahwa pernah ada sekelompok orang yang menolak meninggalkan kawannya sendirian ketika kekuasaan datang mengetuk pintu dengan tangan besi. Sebab sebuah gerakan tidak diukur dari berapa banyak orang yang mampu berteriak ketika jalan sedang penuh.

Ia diukur dari berapa banyak orang yang tetap tinggal ketika jalan mulai sepi. Di sanalah persahabatan berubah menjadi politik di sanalah politik berubah menjadi martabat. Dan di sanalah, setiap kali seorang kawan tertangkap, lahir seribu alasan baru untuk terus berjalan.

 


Kami menerima tulisan opini/esai Anda. Rubrik ini projectarek.id dedikasikan untuk siapa pun yang memiliki minat dan kemauan dalam berpendapat dan berekspresi melalui tulisan. Kami ingin menjadikan rubrik ini sebagai rumah digital untuk bertumbuh bersama merawat demokrasi. Untuk selengkapnya, baca PANDUAN kami.