Skip to main content
Rendra dan Perlawanan
Esai / Opini
Rendra Dan Perlawanan
Puisi adalah harapan terakhir yang bisa merawat kebudayaan di muka bumi ketika politik dan ekonomi tak mampu memeliharanya. Saya masih yakin sastra (dalam hal ini puisi) memiliki fungsi sebagai “agama” sekaligus kontrol sosial.

SEMOGA Tuhan selalu bersemayam dalam tubuh dan jiwa WS. Rendra sebelum hari akhir tiba. Semoga ruh semangatnya selalu menyirami jiwa-jiwa seniman Indonesa yang kerdil, yang saat ini tengah bercerai berai karena angin politik atau bahkan dihembuskan oleh seniman itu sendiri yang takut tidak bisa makan.

Semasa hidupnya, Rendra menyebarkan ekspedisi sastra ke pelosok hati penguasa dan kekuasaan. Mendengar narasinya, mengingatkan saya pada prajurit perang Salman Al-Farisi di abad ke-7 Masehi. Dengan gagah ia menyerang musuh, meskipun musuhnya terlalu banyak, sedangkan kekuatan tentara Salman sangat sedikit.

Untuk mundur tentu tak mungkin. Karena harus membela kebenaran yang diyakininya, ia pun membuat parit-parit di sekitar jalan yang akan dilalui musuhnya, sehingga dengan leluasa ia bisa melihat musuhnya terjebak dan ia pun leluasa menembaki musuh dengan panah.

Rendra membuat parit-parit sastra perlawanan, ketika sastra didosakan oleh pemilik modal yang kemudian hanya mementingkan kuantitas bukan kualitas. Sama sekali saya tidak ragu kalau parit-parit yang ia buat tak mampu melawan hegemoni kekuasaan dalam sastra. Seperti katanya, setiap teks adalah sebuah penulisan kembali atas teks-teks lainnya, tak ada teks yang tidak memiliki interteksnya.

BACA JUGA : Transendental Puasa dan Puisi

Sastra adalah teks, puisi adalah teks, perlawanan adalah teks. Gerakan perlawanan dalam sastra tentu banyak cara, selain yang engkau lakukan saat ini – mengembara seperti Marcopolo, menebarkan benih semangat pada anak anak muda, menyuntikan virus sastra yang tasbih pada para penyair yang belum faham soal teks di luar sastra; teks kehidupan sosial.

Rendra, Si Burung Merak, sangat paham dengan apa yang dikatakan seorang Valentinovich Plekhanov si pendiri marksisme Rusia itu. Masalah yang selalu lahir dalam setiap kesusastraan adalah hubungan seni dan kehidupan sosial. Pada bagian lain, saya setuju jika fungsi seni untuk membantu perkembangan kesadaran manusia.

Meskipun kemudian kita tahu, puisi ditulis lalu disimpan di bawah bantal, tak bersejarah. Kumpulan puisi dibuat buku, tapi hanya mampu menembus komunitas tertentu. Namun itu bukan berarti, puisi tak mampu membantu perkembangan kesadaran manusia, tapi nyatanya kesadaran manusia terhadap seni sangat terbatas.

Bersyukurlah sekarang ada mahluk bernama internet, yang di sana lahir Facebook, Instagram, Tiktok dan lain lain, sehingga kawan-kawan kita bisa leluasa membuat puisinya sendiri. Kehadiran meraka di media sosial mungkin menjaga harga diri puisi atau paling tidak merawat perlawanan dari sekadar caci maki soal habib, caleg edan dan calon pemimpin daerah yang narsis.

Pasti setuju sastra di mana pun membutuhkan sesuatu di luar sastra. Uang misalnnya, bukanlah segalanya. Ketika kau menyebarkan teks-teks perlawanan dengan mulut dan tubuh sastramu, banyak orang kepanasan dan berbalik mencacimu. Ketika itu pula kau tidak sendirian. Masih ada penerusmu untuk ikut mengangkat senjata, meski cara kita berbeda.

Teks perlawanan yang saya usung dengan (misalnya) masih bersifat lokal, karena kami yakin jika hegemoni kekuasan lokal bisa dilawan tanpa darah – revolusi atau evolusi – maka teks perlawanan itu dengan sendirinya akan menyebar juga ke wilayah yang lebih luas secara geografis.

Politik

Apa yang sudah Rendra lakukan, akan menjadi sejarah panjang sastra Indonesia. Suatu saat nanti, jika kita almarhum, maka para penyair abad 23 dan abad-abad seterusnya akan mencatat namamu.  Jika ada pertanyaan, apakah perlawanan harus berhenti, maka jawabnya tidak!! – kecuali mati – bahkan setelah mati pun – karya kita masih bisa dijadikan senjata untuk melawan.   

Hal yang menarik dari sastra ialah, ia selalu diperbincangkan dalam riuh maupun sunyi. Sastra memang selalu seksi untuk diperbincangkan, sampai akhirnya kita pada pertanyaan, apakah sastra masih kontekstual dengan persoalan masa kini?

BACA JUGA : Menimbang Penangsang, Menggugat Babad

Untuk menjawab pertanyaan itu, saya harus memulainya dengan, bahwa sastra selalu diperebutkan oleh kekuasaan Orde Lama, Orde Baru dan Orde Reformasi, Orde Jokowi sampai Prabowo. Mungkin masih ingat saat Pilpres tahun lalu, bagaimana Fadli Zon berbalas puisi dengan lawan politiknya, itu artinya puisi memang dibutuhkan oleh kekuasaan politik.

Kemudian kita juga menyadari, sastra bukan merupakan teori yang bisa dipraktikkan seketika. Ia gerak dan digerakan, hidup dan dihidupkan oleh sesuatu yang tidak disadari, namun terjadi. Jadi sastra disempurnakan oleh fenomana kejadian alam.

Dan yang paling harus dipahami bahwa sastra bukan lahir begitu saja tanpa pemikiran intelektual, ia lahir dari cermin kehidupan.

Sebuah karya sastra, pada umumnya tidak hanya mampu menyuguhkan rangkaian kata dan bahasa yang estetis dan segar, tetapi juga harus memuat makna yang mendalam, baik yang tersirat maupun sengaja ditegaskan penulisnya.

Karya sastra selain bisa memberikan suatu pengalaman batin yang baru, juga menyadarkan pembaca pada nilai-nilai esensial kehidupan. Sebab, sastra bukan melulu jadi hiburan dari rasa sunyi penyair, tapi cermin kehidupan sosial yang dapat mencerahkan masyarakat pembacanya.

Mas Willy, sapaan akrab Rendra, adalah pelopor sastra mimbar (puisi Pamflet), sebagai bentuk kesadaran penyair untuk memberontak terhadap perilaku semena-mena penguasa. Dengan menggunakan bahasa yang jernih, lugas dan terukur, juga mampu merefleksikan kenyataan yang tengah terjadi, syairmu seakan menjadi penyambung lidah masyarakat yang ingin melakukan perlawanan.

Karya-karyanya sebagai bentuk kejujuran peristiwa yang terjadi. Bagimu puisi menjadi semacam dokumen peristiwa, jauh sebelum lahir FacebookInstagram, X atau Youtube. Karya sastramu menjadi bahan rujukan yang  refleksikan kenyataan sosial di masyarakat. Di titik ini, puisi menjelma menjadi media penyadaran.

Memang, karya sastra bukanlah solusi persoalan politik atau ekonomi, tapi karya sastra mampu menjadi kamera sejarah yang menghasilkan potret untuk bahan perenungan generasi selanjutnya.

Sebagai penyair dan penulis naskah drama, Rendra peduli terhadap kehidupan sosial masyarakat. Puisi-puisinya seolah menjadi potret realitas buramnya sejarah Indonesia. Bayangkan, betapa hampir semua mahasiswa di Indonesia menjadikan puisimu sebagai materi demonstrasi. Dan demonstrasi adalah bentuk kesadaran sosial itu sendiri.

Sejak tahun 1967-an puisi Rendra sudah sarat kritik sosial dan politik. Kegelisahan eksistensial Rendra adalah puisi, karena saat Orde Baru fenomena politik sangat kental. Dan Lalu Rendra pun dengan lugas memanfaatkan diksi yang unik, kadang mudah diartikan, namun tak jarang sulit diterjemahkan.

Menghisap sebatang lisong

Melihat Indonesia Raya

Mendengar 130 juta rakyat

Dan di langit

Dua tiga cukung mengangkang

Berak di atas kepala mereka

Matahari terbit

Fajar tiba

Dan aku melihat delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan

Aku bertanya

Tetapi pertanyaan-pertanyaanku membentur meja kekuasaan yang macet

Dan papantulis-papantulis para pendidik yang terlepas dari persoalan kehidupan

(cuplikan Sajak Sebatang Lisong, 1978)

Masyarakat

Sudah saatnya, penyair tidak lagi berpikir menulis puisi untuk menumbuhkan kreativitas, mendapatkan penghasilan dari menulis puisi, akan terkenal karena menulis, menggembirakan hati dan lain-lain. Sudah saatnya (bahkan sejak lama), penyair menjadi “khotib” untuk kepentingan ideologi.

Penyair memang sebaiknya bersentuhan dengan masyarakat, dengan kenyataan sosial, karena karya sastra selalu bergesekan dengan masyarakat, agar ia berpihak pada kepentingan masyarakat.

Puisi harus berbicara persoalan dalam masyarakat, tentang fakta yang terjadi. Baik itu kemiskinan, pendidikan, sosial, politik, atau harga cabe yang mahal, BBM naik, Gubernur dan wakilnya yang jadi bintang iklan dan hobi main sinteron, misalnya. Jadi puisi tidak melulu bicara patah hati, pacar direbut kawan sendiri, atau cinta segitiga dan seterusnya. Karya sastra yang tak bersentuhan dengan fungsi sosial, sejatinya karya itu mengandung pengkhianatan.

Sebab, seorang penyair harus bisa mengolah dan menganalisa data. Dari data itu akan lahir puisi yang bernas. Okelah, bahwa karya sastra saat ini belum bisa dipahami semua kalangan masyarakat, tapi ia tetap menjadi kontrol sosial yang abadi. Kritik adalah variabel penting dalam memelihara sistem sosial yang ada, dan itu harus dilakukan penyair. Kata-kata (teks) adalah alat untuk melawan.

Setelah itu, ada anak muda yang semangatnya begitu menggebu, namanya  Wiji Thukul. Ia menjadikan puisi sebagai dialog menolak adanya kebohongan dan penindasan. Ia ingin, penyair sebagai penjaga moral, sehingga sastra memiliki posisi tawar untuk kesadaran masyarakat.

Kritik dan penyadaran sosial lewat sastra di Indonesia sebenarnya sudah ada sejak lama, bahkan zaman Manikebu (Manifesto Kebudayaan) sudah mengedepankan realisme dan menjadikan polemik paling keras sepanjang sejarah sastra di Indonesia.

Sebut saja lahirnya buku “33 Tokoh Sastra Paling Berpengaruh” yang diusung ahli a.ka. peneliti Denny JA yang kemudian ditentang oleh hampir semua kalangan sastrwaan. Bahkan Saut Situmorang dan Iwan Soekri, dua sastrawan senior terkena dampak hukum.

BACA JUGA : Wiji Thukul: Kata Tak Bisa Dikubur

Tetapi harus diakui, sebagai sebuah gerakan, sastra tidak bisa dilakukan sendiri. Ia harus bergerak secara kolektif agar gerakan penyadaran itu menjadi massif. Karena pada akhirnya, karya sastra menjadi medium gerakan amar ma’ruf nahi munkar.

Seperti Rendra, puisi Wiji Thukul, meski dari sudut pengucapan, tidak ada yang baru, tetapi cita rasa estetik yang ditunjukkannya dalam diksi dan metafora sangatlah tepat. Puisi baginya didedikasikan untuk nasib manusia. Perlawanan terhadap kesewenag-wenangan, jeritan kemiskinan dan kemelaratan menjadi tema puisi- puisinya.  Bisa kita simak,

“Perlawanan”

Jika rakyat pergi

Ketika penguasa pidato

Kita harus hati-hati

Barangkali mereka putus asa

Kalau rakyat bersembunyi

Dan berbisik-bisik

Ketika membicarakan masalahnya sendiri

Penguasa harus waspada dan belajar mendengar

Bila rakyat berani mengeluh

Itu artinya sudah gawat

Dan bila omongan penguasa

Tidak boleh dibantah

Kebenaran pasti terancam

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang

Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan

Dituduh subversif dan mengganggu keamanan

Maka hanya ada satu kata: lawan!

 


Kami menerima tulisan opini/esai Anda. Rubrik ini projectarek.id dedikasikan untuk siapa pun yang memiliki minat dan kemauan dalam berpendapat dan berekspresi melalui tulisan. Kami ingin menjadikan rubrik ini sebagai rumah digital untuk bertumbuh bersama merawat demokrasi. Untuk selengkapnya, baca PANDUAN kami.