MENGUNJUNGI Kota Batu, tentu ada satu oleh-oleh yang pertama kali terpikirkan untuk dibawa pulang yaitu buah apel. Kota Batu memang merupakan kota penghasil buah apel terbesar di Jawa Timur, dari situlah datang julukan Kota Apel. Kota ini indentik dengan buah bulat berwana hijau kemerahan tersebut.
Tapi label ini mungkin perlu dipikirkan kembali. Keberadaan lahan apel di Kota Batu dilaporkan semakin sempit karena digantikan komoditas lain seperti wortel, sawi, hingga daun bawang. Bahkan beberapa petani pada akhirnya menjual lahan pertaniannya kepada investor perumahan, home stay, dan objek wisata buatan. Persoalan yang lebih pelik bagi petani apel di Batu adalah naiknya suhu udara di sana, akibat perubahan iklim.
Agus (60), petani apel asal Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, menjelaskan, beberapa wilayah di Kota Batu, utamanya Kota Batu bawah, sulit ditanami apel karena suhu naik di atas 20 derajat Celcius. Akibatnya wilayah yang bisa ditanami apel hanya terbatas di Kecamatan Bumiaji, di ketinggian 950 mdpl ke atas. Sementara di Kecamatan Junrejo (793 mdpl) dan Kota Batu (897 mdpl), tidak ada lagi lahan apel yang produktif.
BACA JUGA : Ketika Lebah Lupa Jalan Pulang
“Keadaan petani apel sekarang istilahnya berat lah. Apel itu karakter tanamannya untuk suhu udara di bawah 20 derajat. Jadi waktu masih banyak kabut dulu enak karena tandanya suhu udara masih dingin (di bawah 20 derajat celcius). Sekarang sudah jarang ada kabut, jadi sulit buat apel,” terangnya saat ditemui pada Rabu (5/8/2026).

Tak cuma naiknya suhu udara, petani apel Kota Batu juga dihadapkan dengan ancaman hama berupa lalat buah dan kutu sisik. Lalat buah menyerang buah apel yang sudah matang dengan menusuk kulit buah memakai organ khusus atau ovipositor untuk menginjeksi telur-telurnya ke dalam daging apel. Telur-telur ini kemudian menetas menjadi larva yang memakan daging apel. Sementara kutu sisik adalah serangga kecil penghisap cairan tanaman. Hama ini sering jadi masalah serius karena tubuhnya dilindungi perisai keras dari lilin yang membuat ia terlindung dari pestisida.
Setelah bertahun-tahun terus terpapar pestisida, kedua hama ini kemudian mengembangkan kemampuan untuk bertahan dari berbagai macam racun, alias semakin kebal dari pestisida. Kondisi memaksa petani apel untuk terus menambah dosis pestisida setiap tahun, tapi di satu sisi hama-hama ini akan semakin kebal dari racun pestisida.
Karena hama semakin kebal, otomatis obat (pestisida) yang diperlukan dosisnya semain besar lagi, tapi setiap tahun harga obat dan pupuk (kimia) semakin naik. Saya setidaknya harus siapkan sekitar Rp8 juta untuk obat saja, belum pupuk dan lain-lainnya," beber Agus.
Dia mengungkapkan, harga apel jenis Manalagi saat ini antara Rp13 ribu-Rp17 ribu per kilogram, sementara jenis Apel Anna itu sekitar Rp9 ribu-Rp11 ribu per kilogram. Ia menilai, harga apel saat ini sudah tak lagi bagus.Ia membandingkan dengan obat atau pestisida yan saat ini lebih banyak dibandingkan beberapa tahun lalu.
Kebutuhan pestisida juga semakin banyak setiap memasuki musim penghujan. Pada 2025 lalu terjadi fenomena cuaca ekstrim yang membuat hujan badai muncul hampir setiap hari di Kota Batu. Hujan meluruhkan pestisida yang sudah disemprot di pagi hari, akibatnya petani mesti menyemprot lagi dengan pestisida di sore hari. Pengeluaran untuk pestisida semakin ugal-ugalan. Petani tak punya pilihan lain kecuali ingin hama mampir dan gagal panen.
Mereka yang Menyerah dan Memilih Sayur
Kalau Agus terus bertahan, maka Eko Said Saputro (53) warga Dusun Geduh, Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji memilih menyerah. Ia berhenti jadi petani apel sejak 2023, padahal ia sudah menggeluti pekerjaan ini sejak 1990an. Ia mewarisi lahan apel sekitar seribu meter persegi dari mertuanya. Kini pohon-pohon apel sudah dibabat habis. Ia sempat mencoba bertahan, tapi tak sanggup ‘berkelahi’ dengan perubahan iklim.
“Kalau apel, ada pengaruh suhu dingin juga. Apel kalau malam harus 10 derajat, kalau 15 derajat sudah sulit. Perubahan suhu itu sudah terjadi sejak 2017 kira-kira. Sebenarnya sempat dingin lagi waktu COVID-19, mungkin karena tidak banyak kendaraan keluar jadi polusi berkurang. Tapi setelah COVID-19 itu sudah mulai panas lagi,” ujar pria yang mulai menjadi petani sejak 1994 ini.
BACA JUGA : Cerita Pahit Krisis Iklim di Secangkir Kopi
Soal lain adalah biaya perawatan yang mahal. Eko tak sanggup lagi menanggung biaya perawatan kebun apel dengan hasil panen yang hanya dua kali dalam setahun.
Saya dulu (saat masih jadi petani apel) untuk perawatan saja bisa habis sekitar Rp15 juta buat obat dan pupuk saja, tapi hasil panen cuma Rp10 juta, malah rugi Rp5 juta. Karena terus rugi, saya akhirnya memutuskan tebang saja semuanya,” sambung Eko.
Dulu lahan ratusan hektar di Blok Pancasila, Dusun Gabes, Desa Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji seluruhnya ditanami apel oleh warga. Kini mayoritas petani telah berpaling ke komoditas sayur mayur seperti sawi, wortel, dan daun bawang. Menurut Eko, pergeseran lahan ini tidak terjadi serentak, tapi polanya sama. Petani rugi, pohon ditelantarkan, hingga mati dengan sendirinya; lalu pohon dicabut dan digantikan dengan komoditas sayur.
Padahal sebetulnya permintaan buah apel Kota Batu masih tinggi. Buktinya, kata Eko, lahan apel di Desa Tulungrejo dulu sering disatroni pencuri apel. Hasil kebunnya bisa dibabat dalam hitungan menit saja.
“Kalau cuma buat dimakan di sini ya gak masalah sebenarnya. Masalahnya maling itu bawa kantong kresek yang warna merah. Langsung habis semua belum sempat dipanen, petaninya cuma disisakan apel yang kecil-kecil saja,” bebernya sambil mengelus kepala.

Karena masalah pencurian apel ini, para petani harus menjaga lahan apelnya selama 24 jam penuh. Pencuri apel bisa datang siang hari, atau malam hari - memanfaatkan kelengahan petani apel. Para pencuri apel ini biasanya berkelompok dan memantau mana lahan yang siap panen. Mereka bergerak cepat karena biasa menggunakan kendaraan mulai dari sepeda motor dan mobil pikap.
Petani apel yang masih muda biasanya melakukan penjagaan sendiri karena tenaganya masih kuat. Sementara petani apel yang sudah sepuh mau tidak mau harus keluar biaya lagi untuk membayar penjaga lahan apel, setidaknya Rp1,5 juta tiap bulannya.
Memang kalau petani apel itu jarang pulang ke rumah. Setiap hari harus jaga lahan dari maling-maling apel. Karena itu saya nyerah, karena resikonya tinggi, harga apel tidak stabil, dan biaya perawatan tinggi. Tapi kalau pemerintah mau bantu buat naikin harga apel, mungkin bakal banyak yang balik lagi menanam apel,” jelas Eko.
Kombinasi Batu yang menghangat, biaya perawatan kebun yang tinggi dan maraknya pencurian apel membuat Eko mantap memutuskan berganti komoditas - dari apel ke daun bawang.
BACA JUGA : Siklus Cuaca Berubah Kacaukan Usaha Warga
“Saya riset dulu buat tanam sawi atau wortel. Ternyata daun bawang lebih simpel. Yang paling penting, belum banyak saingannya di sekitar sini.” Sebagai petani daun bawang, ia bisa panen setiap dua bulan. Biaya perawatannya pun lebih mudah dan murah - cukup untuk menyambung hidup.
Lahan Apel di Kota Batu Terus Menyempit
Era kejayaan Kota Batu sebagai penghasil apel terjadi sekitar tahun 1980an. Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Batu mencatat, saat itu luas lahan apel di sana mencapai tiga ribu hektare. Tapi kini luas lahan apel di Kota Batu terus merosot, dan akibatnya hasil panen juga terus turun. Tahun 2024-2025, luas lahan apel tinggal 740 hektare dengan hasil panen sebanyak 106.608 kwintal.

Berkurangnya jumlah lahan kebun apel terjadi karena banyak petani seperti Eko yang menyerah pada apel dan memilih komoditas sayur seperti sawi, wortel dan daun bawang. Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat ada kenaikan lahan komoditas sayur.
Guru Besar Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan Universitas Brawijaya (UB), Prof. Dr. Agr. Sc. Hagus Tarno, SP., MP., mengungkapkan apel bukanlah tanaman endemik negara tropis seperti di Indonesia. Apel adalah tanaman asli wilayah dengan iklim subtropis seperti Asia Tengah, Eropa, hingga Amerika.
Tahun | Sawi | Wortel | Daun Bawang | |||
Luas (Ha) | Panen (Kw) | Luas (Ha) | Panen (Kw) | Luas (Ha) | Panen (Kw) | |
2021 | 555 | 96.616 | 462 | 83.674 | 504 | 71.597 |
2022 | 572 | 99.673 | 464 | 84.132 | 533 | 75.669 |
2023 | 581 | 101.501 | 467 | 90.556 | 542 | 76.304 |
2024 | 578,76 | 101.190,78 | 470,13 | 91.225,79 | 505,35 | 71.673,28 |
2025 | 579,83 | 101.377,54 | 446,7 | 86.676,2 | 491, 53 | 69.585 |
Karena itu apel butuh udara sejuk untuk tumbuh, di daerah yang elevasinya di atas seribu meter di atas permukaan laut (mdpl) seperti Kota Batu. Berdasarkan penelitian yang ia lakukan pada 2017, memang terjadi perubahan iklim di Kota Batu. Perubahan iklim menyebabkan kenaikan suhu yang mempengaruhi produktivitas tanaman apel di sana.
“Daerah tropis itu ada (tanaman apel) tapi di daerah dengan elevasi yang agak tinggi, termasuk di Batu. Tapi Kota Batu di daerah bawah yang elevasinya di bawah 1.000 (mdpl) itu sudah mulai gak cocok lagi ditanami apel. Akhirnya kan mereka bergerak ke atas lagi atau 1.000 (mdpl),” jelasnya.
Hagus mengungkapkan memang tidak akan mudah mengembalikan suhu udara yang terlanjur meningkat akibat perubahan iklim. Prosesnya juga tidak bisa instan atau membutuhkan waktu yang lama. Satu-satunya cara yaitu dengan memperbanyak teduhan-teduhan pohon di wilayah Kota Batu. Tujuannya untuk menurunkan suhu udara agar kembali sejuk, dan ini bisa meningkatkan volume oksigen di sekitar kita.
“Artinya kan menghasilkan oksigen yang banyak, makanya termasuk lapisan ozon yang pecah itu bisa diatasi dengan memperbanyak oksigen atau O2. Karena lapisan ozon itu melindungi bumi dari radiasi matahari sehingga tidak panas. Kita juga sama, ketika kita mau mengkondisikan agar sekitar kita menjadi sejuk, ya oksigen harus siapkan. Karena oksigen itu kontribusinya terhadap terhadap suhu itu menjadi lebih sejuk,” ujarnya.
Selain perubahan iklim, lulusan doktor di Kyoto University ini juga melihat penggunaan pestisida yang berlebihan menyebab evolusi hama dan penyakit pada tanaman apel. Penggunaan pestisida jangka panjang ini membuat beberapa jenis hama beradaptasi dan mengembangkan resistensi tinggi pada racun pestisida. Hama pada tanaman apel biasanya adalah lalat buah sampai kelelawar saja, tapi kini ada jenis hama baru bernama kutu sisik.
“Sekarang itu ada yang namanya kutu sisik, padahal dulu tidak ada hama yang menyedot nutrisi tanaman apel dari batang, dulu ya cuma memakan atau menggigit buah apel. Apalagi kutu sisik ini punya perisai dari lilin yang melindungi tubuhnya, jadi mau disemprot pestisida pasti akan luruh di lapisan lilinnya itu. Perubahan iklim kemudian menstimulasi suhunya semakin tinggi akan meningkatkan reproduksi dan aktivitas dari kelompok-kelompok serangga, hama utamanya, termasuk serangga penghisap,” bebernya.
BACA JUGA : Bagaimana Belajar Krisis Iklim di Rusun Sumbo
Pestisida ini sayangnya tidak pandang bulu dalam membunuh serangga. Pestisida justru menyebabkan serangga polinator mati, padahal dia bertugas untuk melakukan penyerbukan. Pestisida juga membuat serangga tidak mau mendekati tanaman apel yang pekat dengan zat beracun. Padahal penyerbukan yang dilakukan serangga polinator seperti lebah sangat diperlukan agar bunga terbuahi dan menghasilkan buah apel yang sehat.
Dengan hilangnya serangga polinator, tumbuhan hanya mengandalkan angin untuk melakukan penyerbukan. Padahal menurutnya, model pertanian orang zaman dulu sangat ramah terhadap beberapa kelompok serangga polinator.
Habitat alami dari beberapa kelompok serangga polinator itu hilang, karena model bertani kita sekarang itu berbeda dengan model bertaninya masyarakat zaman dulu. Dulu mereka masih lebih berpikir untuk menjaga keanekaragaman vegetasi. Jadi ada tanaman pagar, tanaman-tanaman sela, ada juga tanaman-tanaman penutup tanah dan seterusnya,” tuturnya.
Masalah lain yang dihadapi petani apel adalah margin keuntungan yang kian menipis. Tak jarang petani pun merugi. Pembeli apel masih banyak, tapi harganya tidak mampu naik agar cukup menghidupi para petani apel. Tidak ada instrumen yang mampu melindungi harga apel di pasaran agar layak untuk menghidupi para perawatnya.
Pemerintah diharapkan memiliki peran dalam meningkatkan harga jual apel jika tetap ingin mempertahankan tanaman apel sebagai ikon Malang Raya. Sayangnya hingga kini belum ada langkah nyata apapun untuk melindungi komoditas apel dan petaninya. Jika tidak ada intervensi dari pemerintah maka akan ada semakin banyak petani apel seperti Eko yang menyerah dan memilih untuk berganti komoditas.
Setelah masalah harga apel ini teratasi, bisa dilanjutkan dengan penggalakkan sekolah lapangan untuk mengajari petani apel bagaimana mengolah pertanian organik tanpa bergantung pada pestisida dan pupuk kimia.
“Pemerintah seharusnya membuat program-program yang terkait dengan upaya untuk menggalakkan kembali bahwa Malang Raya sebagai Kota Apel. Memang ini menjadi isu sosial dan bukan hanya isu pertanian. Kalau bicara masalah apel berarti petaninya masyarakat atau orang-orang juga kan. Maka tidak bisa dilepaskan campur tangan mulai dari pemerintah sendiri, parlemen atau DPR, dan seterusnya.
Jangan hanya bicara masalah subsidi pupuk. Soal pertanian itu bicara masalah keseluruhan mulai dari input sampai output. Mereka seharusnya berpikir bagaimana proses itu dijalankan sehingga akan menghasilkan luaran produk pertanian yang bagus dan pertanian yang berkelanjutan. Jangan sampai nanti kita beli apel itu semuanya dari luar negeri dan tidak dari petani kita,” tegasnya.
Mereka yang Percaya Apel Akan Kembali Berjaya
Jika ada satu orang yang tetap teguh menjadi petani apel di Kota Batu, orang itu adalah Utomo (66) Ketua Kelompok Tani Bersama Dusun Gerdu, Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji. Ia sudah menjadi petani apel sejak tahun 90-an. Ia kini juga aktif melakukan konservasi untuk berbagai jenis apel seperti Apel Manalagi, Apel Anna, Apel Rome Beauty, dan Granny Smith.
Sama seperti mayoritas petani apel di Kota Batu, dulu ia juga sangat bergantung dengan dengan pestisida dan pupuk kimia. Benar saja, uang hasil panen langsung ludes hanya untuk membeli pestisida dan pupuk kimia. Harga pestisida yang terus naik membuat ia hampir menyerah dan mengganti lahannya dengan komoditas lain.
"Saya dulu belanja obat itu bisa sampai Rp10 juta lebih cuma buat lahan 1.600 meter persegi ini, memang habis buat obat saja, bahkan hasil panen kadang tidak menutup. Soalnya harga obat setiap tahun terus naik, jadi memang dulu selalu pusing sama obat terus,” ungkapannya.
Pada 2023, Utomo mengikuti bimbingan teknis (bimtek) dari Dinas Pertanian Kota Batu terkait pengolahan lahan secara organik. Utomo sudah muak karena setiap tahun uang hasil panennya ludes untuk biaya pembelian pestisida yang terus naik tiap tahunnya. Ia pun jadi korban dampak penggunaan pestisida jangka panjang yaitu pusing dan mual-mual setiap menyemprotkan pestisida.
BACA JUGA : Gerakan Kolektif Menjaga Identitas Kopi Tretes
Saat mulai menerapkan metode pengolahan lahan secara organik, ia harus puasa panen selama dua tahun karena fokus memperbaiki unsur hara di tanah. Utomo bertahan hidup hanya dari tabungan yang pas-pasan. Langkah ini diperlukan karena ia harus merombak tanah yang selama ini bergantung pada pupuk kimia, dan mulai memperkenalkan pupuk dari fermentasi kotoran kambing dan sekam ke tanah. Ia secara khusus memilih pupuk dari fermentasi kotoran kambing karena lebih cocok untuk nutrisi tanaman apel.
Perjuangan selama 2 tahun tidak sia-sia. Kandungan PH tanah di kebunnya kini di angka 55-60. Ia tak perlu lagi membeli pupuk kimia, cukup diberikan pupuk organik dan sekam setiap setahun sekali. Kemudian di saat musim kemarau saat ini, pupuk organik mampu menyimpan air lebih efektif sehingga tanaman tetap terhidrasi.

Utomo belum bisa sepenuhnya berhenti pakai pestisida. Pasalnya masih ada hama yang sulit diatasi saat musim bunga tiba. Tapi ia menjelaskan kalau 60 persen obat hama yang ia gunakan menggunakan ramuan bahan organik seperti fermentasi temu lawak, temu ireng, laos, dan buah apel sendiri. Ramuan yang ia pelajari dari bimtek inilah yang disemprotkan ke tanaman apel miliknya. Hasilnya cukup untuk meringankan beban biaya perawatan apel dari pembungaan hingga panen. Ketika ia mulai mengurangi pemakaian pestisida, buah apel jadi lebih aman dikonsumsi secara langsung karena semakin sedikit bahan kimia yang menempel di kulit buahnya.
Kalau hasil panen ya masih sama, lahan 1.600 (meter persegi) ini hasilnya sekitar 4 ton. Tapi saya menang di biaya obat. Sekarang ya beli obat sekitar Rp4 juta yang cuma dapat 1 kantong plastik saja. Kalau bikin organik habis Rp200 ribu sudah bisa untuk berapa kali semprotan. Yang pasti ini berhasil buat saya menekan biaya untuk obat hanya 40 persen saja,” jelasnya.
Utomo menjelaskan, ia bertahan jadi petani apel karena tidak ingin keberadaan apel di Kota Batu musnah. Apalagi apel adalah ikon dari kota kelahirannya ini. Ia menegaskan akan tetap bertahan sambil mengadopsi cara bertani organik seperti orang tuanya terdahulu. Ia masih ingat kisah manis sepuluh tahun lalu, ketika ia bisa menghasilkan enam ton apel di lahan yang sama.
“Yang jadi masalah masih harga jual apel yang masih rendah. Jadi harapannya pemerintah bisa membantu menaikkan harga apel agar lebih layak lagi. Karena saya yakin teman-teman di sini masih ingin bertani apel kalau harganya menggiurkan. Nah, kalau teman-teman di sini kembali pingin menanam apel, beli bibitnya kan bisa di saya,” tutupnya diikuti gelak tawa.
*Artikel ini merupakan bagian dari serial "Krisis Iklim", kolaborasi projectarek.id dan iklimkita.org, media yang dikelola oleh LaporIklim.
