Skip to main content
Foto: Rizal Adhi Pratama/Project Arek
Reportase
Ketika Lebah Lupa Jalan Pulang
*Cerita Petani Lebah Menghadapi Krisis Iklim
Krisis iklim bukan sekadar dongeng. Itulah yang dirasakan para petani lebah madu di Kabupaten Malang. Mereka mendapati jejak krisis iklim dari kotak-kotak koloni lebah mereka yang tak lagi bermadu. Krisis iklim, deforestasi dan anomali alam lainnya, membuat hancur kehidupan petani lebah.

SENJA belum sepenuhnya turun, Eko Budiono (38) bersama 2 rekannya sudah sibuk mengangkut kotak-kotak lebahnya ke atas bak pikap dari dataran tinggi Desa Jajang, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang. Peternak lebah asal Desa Wringinsongo, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang ini terpaksa memulangkan sekitar 25 kotak lebah, atau setengahnya karena hujan abu yang terus mengguyur wilayah Kecamatan Poncokusumo sejak Kamis (9/7/2026).

Sebenarnya Eko sudah menata rapi 50 kotak lebah jenis Apis Melifera miliknya di kompleks perkebunan jeruk Desa Njajang sejak awal Juni 2026. Lebah ini adalah jenis unggulan yang mampu menghasilkan madu rata-rata 40 kilogram per tahun untuk satu koloni. Namun, para petani seperti Eko memilih lebah ini lantaran lebih kuat di segala cuaca, terutama dingin.

Lebah ini, kata Eko, diletakkan di sekitar perkebunan jeruk agar bisa memanen nektar bunga hutan di sana. Tapi hujan abu membuat bunga-bunga di sana menjadi layu, koloni lebah juga jadi semakin galak karena terpapar abu saat terbang mencari makanan.

"Di sini kita sempat panen 3 kali, tapi hasilnya tidak maksimal. Biasanya per kotak saya bisa dapat 2,5 kilogram madu sekali panen, sekarang cuma 1 kilogram madu saja per kotak. Itu pun sekarang kita agak maksa panennya biar madunya gak dikonsumsi lebah sendiri semuanya," terangnya pada Jumat (17/7/2026).

BACA JUGA : Karhutla Bromo dan Kebisuan Titik Api PSN

Hujan abu bukan satu-satunya masalah, ada masalah yang lebih kompleks dibandingkan dampak erupsi Gunung Semeru yang muncul sesekali tiap tahunnya. Eko mengungkapkan kalau ia berhadapan dengan krisis iklim yang menyebabkan cuaca menjadi tak menentu. Padahal, membaca cuaca adalah modal utama peternak madu untuk menentukan vegetasi mana yang bisa dipanen nektarnya oleh koloni-koloni lebah mereka.

Eko Budiono menunjukkan kotak koloni lebah-lebahnya. Pada satu sisir atau bingkai inilah lebah-lebah merekatkan sarang atau lilin berisi madu. Setelah penuh, barulah petani bisa memanennya. Namun di situasi cuaca yang tak menentu, bingkai itu sering kali tak dipenuhi madu. (Rizal Adhi Pratama/Project Arek)

 

Musim panas adalah waktu yang paling dinanti para peternak lebah. Pasalnya banyak pohon  yang berbunga randu, rambutan, hingga kopi. Dalam cuaca panas tanpa dengan hujan yang jarang, lebah bisa lebih aktif mencari nektar. "Bunga seperti kopi dan rambutan kan tetap butuh hujan sekali buat mekar dan menghasilkan nektar. Kalau tidak ada hujan sama sekali ya sulit lebah buat cari nektar karena bunganya tidak mekar maksimal," jelasnya.

Namun, kemarau panjang yang diperparah dengan El Nino yang terjadi tahun ini, justru membuat hasil panen yang dinantikan tidak sesuai ekspektasi Eko. Ketika bunga tidak menghasilkan nektar dan pollen atau serbuksari secara maksimal. Kondisi ini mengancam keberlanjutan koloni lebah karena kekurangan sumber pangan. Dalam satu koloni, terdapat ribuan bahkan belasan ribu lebah.

Krisis iklim yang memicu panas ekstrem, juga berdampak pada daya tahan lebah. Panas ekstrem membuat lebah kehilangan kemampuan navigasinya hingga kelelahan di luar sarang dan tak mampu kembali lagi ke kotak koloninya. Lebah-lebah yang gagal pulang pada akhirnya berdampak pada produktivitas madu. 

Untuk menyiasatinya, peternak lebah mau tidak mau harus menyediakan pangan secara mandiri seperti air gula hanya agar tak terlalu jauh meninggalkan kotak koloni. "Sebenarnya pintar-pintarnya peternak menyiasati agar koloni lebah bisa bertahan. Kalau saya biar bertahan ya menyediakan gula cuma biar lebah tetap hidup. Tapi pada akhirnya bengkak di pembiayaan, soalnya kita harus menyediakan pakan, sedangkan lebah kan tidak produktif," jelasnya.

Peternak lebah tidak seperti peternak binatang pada umumnya yang menetap di satu wilayah. Mereka harus memindahkan kotak-kotak lebahnya mengikuti musim bunga yang muncul saat itu juga. Jadi peternak lebah akan berpindah-pindah lokasi menggunakan truk setiap 2 sampai 3 bulan sekali untuk membawa kotak-kotak koloni lebah.

Kalau perubahan iklim memang berpengaruh, sekarang kan sudah musim kemarau, tapi panasnya terlalu parah sehingga menyebabkan bunga cepat kering dan layu. Jarak 3 hari sudah gosong, jadi cairannya (nektar) tidak maksimal," kata Eko sambil mengelus kepala.

Pria berkacamata ini mengungkapkan, kalau perubahan iklim menyebabkan pergeseran jadwal mekarnya bunga, membuat ilmu hitung-hitungan memprediksi musim bunga yang ia asah sejak 20 tahun lalu tidak lagi bisa dipergunakan. Ia mencontohkan jika normalnya bunga pohon randu akan mekar pada bulan Mei, tapi kini bunga pohon randu sudah mekar di bulan April. 

Itupun hasilnya tidak lagi maksimal seperti dulu, jika normalnya mereka bisa 3-4 kali panen nektar bunga pohon randu, kini hanya mampu 2 kali panen saja. Eko biasanya memanen nektar bunga pohon randu di Desa Umbulan, Kecamatan Winongan, Kabupaten Pasuruan.

"Ini saya perkiraan juga berpengaruh nanti sekitar bulan 8 (Agustus) untuk bunga kopi, sekarang cuaca sudah tidak bisa diprediksi. Karena bunga kopi harus kena hujan sebentar baru setelah itu mekar, sekarang kelihatannya tidak hujan sama sekali. Kalau hujan terus-terusan juga gak bisa panen, karena nektar pasti terbilas hujan," ujarnya pasrah.

BACA JUGA : Gerakan Kolektif Menjaga Identitas Kopi Tretes

Eko juga mengeluhkan penebangan hutan yang menyebabkan ketersediaan pakan lebah semakin menipis. Ia mencontohkan dulu wilayah Kabupaten Pasuruan dan Kabupaten Pati masih rimbun dengan pohon randu, tapi kini sudah banyak dibabat tanpa ada peremajaan yang maksimal. Oleh karena itu, kini ia harus pintar-pintar mencari lokasi memanen nektar yang masih rimbun vegetasinya.

"Selanjutnya mungkin kita bakal pindah ke tempat yang ada bunga kopi seperti di wilayah Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang. Tapi kita lihat dulu situasi cuaca apakah memungkinkan. Kalau tidak, kita akan ke Jember buat ambil nektar di perkebunan karet," bebernya. Semakin jauh lokasinya, semakin besar pula biaya operasional. Perubahan iklim membuat ia harus merogoh kocek lebih dalam.

Kotak-kotak berisi koloni lebah yang sebelumnya ditata rapi agar bisa dipanen, dipindahkan di tempat lain karena kondisi alam yang kurang memadai untuk lebah mencari nektar. Krisis iklim membuat petani lebah sering memindahkan kotak-kotak koloni lebahnya agar tak terus merugi. Mereka mencari kawasan dengan ekosistem hutan yang baik di kawasan Malang dan Jember, bahkan sampai Pati, Jawa Tengah. (Rizal Adhi Pratama/Project Arek)

 

Eko mengungkapkan hasil panen saat ini mengalami penurunan signifikan, sehingga berdampak pada pendapatan. Ia mencontohkan, saat panen madu nektar bunga pohon randu pada 2017 ia bisa menghasilkan 8 kuintal atau 800 kilogram sampai 1 ton madu dengan harga madu sekitar Rp40 ribu per kilogram. Saat itu ia mampu mengantongi Rp32 juta sampai Rp40 juta dalam sekali panen.

Namun saat ini, beragam kendala terutama cuaca yang tak menentu, membuat siklus tanaman dan interaksinya dengan lebah menjadi kacau balau. Saat ini, ia mengaku pendapatannya menurun drastis hingga 60 persen. Tak heran, kata Eko, banyak petani lebah yang gulung tikar. Namun, semakin sedikitnya persaingan, rupanya tak berdampak pada produksi madu karena ekosistem berubah seiring diterpa krisis iklim.

"Kalau sekarang di (Kabupaten) Pasuruan itu paling cuma dapat sekitar 4 kuintal madu, tapi harga madu sekarang agak naik jadi Rp65 ribu. Meskipun jumlah peternak berkurang yang otomatis persaingan mencari nektar juga tidak sengit seperti dulu, tapi jumlah lahannya juga semakin sempit dan pengaruh cuaca juga berdampak, jadi turunnya jauh sekali hasil panennya," jelasnya.

Yang Akhirnya Menyerah

Jika Eko masih jungkir balik berjuang mempertahankan pekerjaannya sebagai peternak lebah, maka nasib kurang beruntung tampaknya menghinggapi Ba’i Kurniawan (28) peternak asal Desa Tulus Besar, Kecamatan Tumpang. Ia pada akhirnya menyerah dan menjual puluhan koloni lebah miliknya untuk merantau ke luar Pulau Jawa sejak Senin (13/7/2026). Padahal, koloni-koloni lebah miliknya masih sangat produktif. Ia jual koloni itu hanya agar tidak terus merugi.

Pengalaman belasan tahun sebagai peternak lebah tidak cukup untuk melawan perubahan iklim yang menyebabkan hasil panen kini kian merosot. Pendapatannya tak lagi cukup untuk memenuhi biaya perawatan lebah. Belum lagi merebaknya madu abal-abal di pasaran membuat madu murni semakin kalah pemasaran karena harganya jauh lebih murah.

Khusus untuk perubahan iklim, Ba’i sudah merasakan perbedaanya sejak 2022, perubahan ini ditandai dengan seringnya turun hujan di musim kemarau. Menurutnya cuaca masih berubah-ubah tidak menentu sampai tahun 2025, hanya beberapa bulan saja ia merasakan cuaca yang bagus untuk memanen madu, bahkan serigkali terjadi hujan ekstrem di wilayah Jawa Timur.

Kotak-kotak berisi koloni lebah ini diletakkan di lokasi yang berdekatan dengan hutan yang memiliki keragaman pohon, seperti randu, rambutan, hingga kopi. Lebah juga berguna bagi kelestarian hutan itu karena membantu proses penyerbukan. (Rizal Adhi Pratama/Project Arek)

 

“Karena kalau musim hujan itu di Malang sama sekali gak bisa menghasilkan madu, jadi kita kasih pakan lebah untuk bertahan saja, gak bisa panen. Kalau musim hujan biasanya di bulan 2 (Februari) ada jarak tidak hujan selama sebulan setengah, biasanya itu bisa panen, tapi sampai sekarang kita cari vegetasi apa di bulan itu belum ketemu,” sambungnya.

Ba’i secara khusus membagikan jadwal peternak lebah dimulai dengan musim penghujan di bulan November sampai Mei, pada musim ini para petani tidak terlalu banyak aktivitas karena lebah tidak akan bisa mencari makanan, sehingga koloni lebah secara khusus diberikan pakan oleh peternak sekadar untuk bertahan hidup. Panen akan dimulai pada akhir Mei sampai awal Juni, pada bulan-bulan ini para peternak lebah akan memindahkan koloni ke wilayah dengan banyak vegetasi bunga randu.

BACA JUGA : Cerita Pahit Krisis Iklim di Secangkir Kopi

Kemudian pada akhir bulan Juni sampai akhir bulan Juli, peternak akan memindahkan koloni lebah ke wilayah dengan vegetasi bunga hutan. Selanjutnya pada bulan Agustus biasanya akan ada kiriman hujan sesekali, saat itu koloni lebah akan langsung dipindah ke wilayah denan vegetasi bunga kopi, tapi pemindahan ini akan dilakukan sebentar saja karena umur bunga kopi tergolong pendek. 

Setelah bulan Agustus, peternak kembali memasuki musim paceklik sampai bulan September, lalu di bulan Oktober langsung meluncur ke vegetasi karet dan juga bunga rambutan sampai bulan November.

Tapi sekarang cuaca sudah tidak bisa diprediksi lagi seperti dulu. Sebenarnya tahun 2018-2020 itu masih enak, karena kemarau basah itu cuma sekali dalam 4 tahun, sekarang bahkan sama BMKG hasilnya gak sama cuacanya,” ujarnya.

Ba'i menjelaskan secara rinci, biaya operasional yang harus dikeluarkan saat akan memanen madu di Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Dimulai dengan sewa truk sebesar Rp3,2 juta, sewa lahan Rp1 juta per bulan, biaya buruh bongkar muat Rp4,8 juta untuk 6 orang, biaya buruh panen 1,5 juta untuk 7 orang, sewa tempat tinggal sebesar 1,5 juta, dan biaya makan Rp3,5 juta selama sebulan.

Ditotal Ba'i setidaknya harus mengeluarkan uang sebesar Rp15,5 juta selama satu bulan. Dalam hitungan matematis, biaya yang ia keluarkan, sering kali tidak sebanding dengan hasil panen madu. Itulah yang menjadi alasan ia memilih jalan lain, berhenti menjadi petani lebah. Ia mengaku realistis dan beralih hidup menjadi perantau di luar Jawa.

"Sementara sekarang produksi madu semakin sedikit, paling cuma 4 kali panen dapatnya sekitar 200-300 kilogram madu. Harga jualnya cuma Rp40 ribu per kilogram, jadi gak nutup sama biaya operasionalnya. Belum lagi kalah sama madu abal-abal di marketplace yang harganya murah. Diecer juga agak lama terjualnya, konsumen minta harga murah tapi kualitasnya bagus," keluhnya.

Krisis Iklim Itu Nyata

Guru Besar Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan Universitas Brawijaya (UB), Prof. Dr. Agr. Sc. Hagus Tarno, SP., MP., mengungkapkan, ia melakukan penelitian pada 2017 terkait pengaruh perubahan iklim pada produktivitas tanaman, terutama pada tanaman apel dan durian. Hasilnya menunjukkan, krisis iklim memang nyata telah terjadi dan memiliki dampak signifikan pada produktivitas tanaman pangan di Indonesia.

Dalam penelitian tersebut, disebutkan ada evapotranspirasi mulai dari periode bulan Januari sampai Desember 2017 baik itu di wilayah Kota Batu, Poncokusumo (Kabupaten Malang), Wonosalam (Kabupaten Jombang), maupun Ngantang (Kabupaten Malang). Evapotranspirasi adalah gabungan dari dua proses utama hilangnya air ke atmosfer, keduanya adalah evaporasi yaitu penguapan dari tanah, genangan air, atau permukaan benda dan transpirasi yaitu pelepasan uap air dari jaringan tanaman.

Prof. Dr. Agr. Sc. Hagus Tarno, SP., MP, Guru Besar Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan Universitas Brawijaya. (Rizal Adhi Pratama/Project Arek)

“Yang paling nampak perubahan itu di Wonosalam (Kabupaten Jombang) karena memiliki potensi evapotranspirasi paling tinggi dibandingkan tempat penelitian lain. Selebihnya kita jumpai juga evapotranspirasi yang hampir sama seperti di Wonosalam yaitu di Ngantang (Kabupaten Malang),” ungkapnya.

Masih kata Hagus, di kawasan itu, suhu dan curah hujannya juga fluktuatif. Salah satu faktor gagalnya pembuahan adalah curah hujan, karena dari penelitian yang ia lakukan pada 2017-2019, fluktuasi curah hujan terjadi sangat signifikan. Dampaknya adalah, mempengaruhi juga kesuburan tanah.

Hagus mengungkapkan, dampak perubahan iklim membuat adanya perubahan mineral dalam tanah. Perubahan inilah yang menyebabkan kesuburan tanah menurun. Ia menyebut ada perubahan atau penurunan mulai dari kandungan fosfor, kalium, besi, kalsium, nitrogen, dan bahan organik lainnya.

Ia membeberkan, dari 2013-2017 ada penurunan fosfor di tanah yang awalnya 18,22 sekarang turun jadi 0,08; kemudian kalium yang awalnya 0,65 malah ada kenaikan menjadi 0,92; besi yang awalnya 2,08 menjadi 0,032; nitrogen naik dari 0,18 menjadi 0,84.

“Jadi salah satu penyebab meningkatnya hama dan penyakit adalah meningkatnya kadar nitrogen yang tinggi. Akhirnya kan kadar air di tanah banyak, sehingga mudah diserang hama dan penyakit,” tuturnya.

Menurunnya, kesuburan tanaman akibat perubahan iklim ini menyebabkan produktivitas tanaman menurun. Dampaknya juga menyebabkan serangga pollinator seperti lebah juga kehilangan banyak sumber makanan. Sayangnya, perubahan ini sering kali tidak diikuti dengan kesadaran para petani akan dampak perubahan iklim yang mempengaruhi tanaman pangan milik mereka. Hagus bahkan menemukan masih banyak petani yang tidak percaya dengan adanya perubahan iklim.

“Ternyata petani tidak percaya bahwa perubahan iklim ini berpengaruh. Karena menurut mereka yang paling berpengaruh adalah hama dan penyakit tanaman. Tapi setelah kita cek kembali, mereka baru percaya bahwa perubahan iklim memang berpengaruh. Jadi baru sadar bahwa ada beberapa jenis hama yang baru muncul sekarang, suhu udara juga meningkat, kelembapan juga tinggi. Akhirnya beberapa dari mereka memahami bahwa serangan hama dan penyakit tanaman juga karena adanya perubahan iklim,” ucapnya.

Eko Budiono, petani lebah asal Malang, menjukkan satu sisir atau bingkai berisi sarang lebah. Di sarang inilah madu dipanen. Ia mengaku, tak jarang memberi makan lebah-lebahnya secara mandiri agar bisa bertahan hidup karena kondisi hutan-hutan tempat lebah mencari nektar tak lagi memadai karena krisis iklim dan penggunaan pestisida berlebihan. (Rizal Adhi Pratama/Project Arek)

Hagus juga menjelaskan, petani perlu mencermati peran serangga pollinator untuk proses penyerbukan tanaman pangan. Ia menegaskan, 75 persen tanaman pangan dunia sangat bergantung penyerbukannya pada serangga pollinator. Tapi yang tidak dicermati para petani adalah serangga pollinator cenderung hidup di wilayah yang banyak ragam pohon penghasil segala jenis bunga dan teduhan.

Ia menyarankan agar petani menyediakan habitat untuk kelompok-kelompok pollinator. Karena kalau tidak, potensi terjadinya polinasi pada tanaman akan kecil, tanaman memang akan tetap bisa menghasilkan bunga tapi tidak terbuahi. Polinasi atau penyerbukan adalah proses perpindahan serbuk sari (bagian bunga jantan) ke kepala putik (bagian betina bunga).

Krisis iklim juga memicu perubahan pola hidup dan perkembangbiakan serangga hingga disebut sebagai hama. Pada praktik pertanian saat ini, petani meresponnya dengan  penyemprotan pestisida utamanya insektisida yang presistensinya tinggi, dan memiliki kemampuan menempel pada suatu material dalam waktu lama.

Jadi kalau pestisida ini disemprotkan, maka zat aktifnya akan menempel pada tanaman sampai periode yang lama, dan ini berdampak pada kesehatan serangga pollinator, terutama lebah.

Beberapa kelompok serangga sangat sensitif dengan penggunaan pestisida, khususnya beberapa kelompok polinator seperti lebah, kalau lebah terpapar pestisida terus menerus maka akan mati pada akhirnya,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, ada lima penggunaan pestisida yang berdampak buruk bagi pollinator, khususnya lebah. Pertama, penyeprotan pestisida yang langsung mengenai lebah. Ini yang paling berbahaya dan bisa menyebabkan kematian pada lebah. Kedua, saat bahan aktif dalam pestisida terkena nektar atau pollen bunga kemudian dibawa pulang, sehingga di situ ada residu kena secara sistemik ke jaringan bunga.

“Ketiga, semprotan pestisida itu kena air dan kutasi, jadi seperti embun air yang ada pada lubang-lubang alami daun juga bisa terkontaminasi. Keempat, ada juga pada tanah atau sarang serangga polinator. Kelima, ada juga partikel yang terbawa angin sehingga menempel pada tanaman,” jelasnya.

Ia juga menjabarkan tingkatan jenis pestisida dari yang beresiko tinggi hingga yang memiliki resiko rendah bagi serangga pollinator yaitu Neonikotinoid, Piretroid, Organofosfat/Karbamat, Fungisida dan Tank-mix, serta Herbisida.

 

Hagus juga mengungkapkan, lebah adalah serangga yang sangat selektif memilih habitat untuk bersarang, sehingga dampak perubahan iklim dan pestisida jadi faktor utama kenapa koloni lebah semakin sedikit. Ia menemukan fakta, serangga jenis lalat kini menjadi pollinator dominan untuk vegetasi pangan.

“Dari hasil penelitian mahasiswa bimbingan saya, ternyata sekarang yang paling banyak menjadi serangga polinator justru dari kelompok diptera dari famili Calliphoridae atau lalat bangkai. Karena dijumpai 29,4 persen ada pada bawang merah, yang kedua ada Tetragonula atau lebah tanpa sengat itu 13,9 persen,” ujar Hagus.

BACA JUGA : Siklus Cuaca Berubah, Kacaukan Usaha Warga

Ia melanjutkan, urutan berikutnya diptera yaitu Episyrphus balteatus yaitu 13,4 persen dan Syrphus ribesii 12,9 persen. Sementara lebah bersengat seperti Apis Cerana hanya punya kelimpahan 9,6 persen. Ini berbeda dari yang dibayangkan, ternyata lebah Apis (bersengat) ini lebih kecil kelimpahannya kurang dari 10 persen. Apalagi peran lebah-lebah lain yang soliter jauh lebih sedikit lagi.

Lulusan Kyoto University itu juga mengungkapkan, serangga pollinator paling banyak mengunjungi bunga pada pukul 08.00 sampai 10.00 dengan presentase 31 persen. Kedua, pukul 10.00 sampai 12.00 dengan presentase 22,7 persen. Sementara pukul 06.00 WIB sampai 08.00 hanya 20,7 persen. Sedangkan di atas pukul 12.00 hingga sore hari, hanya kurang dari 8 persen serangga pollinator yang masih bekerja mencari nektar dan pollen.

Dari temuan itu diketahui, serangga pollinator akan langsung mati kalau petani menyemprot pestisida pada pagi sampai siang hari, pasalnya serangga pollinator akan terpapar pestisida secara langsung saat sedang bekerja melakukan penyerbukan. Sekali lagi, kalau tidak ada serangga pollinator maka tidak ada pembuahan dan pembungaan.

“Jadi Indonesia harus mulai berpikir cara budidaya yang ramah pada serangga pollinator dan musuh alami. Contohnya cara budidaya agroforestri atau pertanian tanaman pangan tapi menggabungkan dengan tegakkan seperti pohon. Sistem pekarangan juga bagus, kalau di kita juga jarang, mungkin yang masih ada di wilayah Malang Selatan seperti Kecamatan Gedangan maupun Sumbermanjing Wetan, tapi di daerah lainnya sudah jarang,” pungkasnya.

 


*Artikel merupakan bagian dari serial "Krisis Iklim", kolaborasi projectarek.id dan iklimkita.org, media yang dikelola oleh LaporIklim.