Skip to main content
Foto: Robertus Risky/Project Arek
Reportase
Dari Bom Gereja Jadi Peristiwa Iman
*Memperingati 8 Tahun Tragedi
Serangan bom di tiga gereja di Surabaya pada 13 Mei 2018, meninggalkan luka fisik dan trauma psikologis. Sejumlah penyintas pendampingan panjang untuk pemulihan. Mereka bertahan tanpa rasa dendam. Mengubah tragedi ini menjadi peristiwa iman yang menguatkan keyakinannya kepada Tuhan.

*Trigger Warning: artikel ini memuat cerita tentang kekerasan/ aksi terorisme yang bisa memicu rasa trauma. 

PAGI ITU, Ary Setiawan (48) bersiaga di pintu selatan Gereja Santa Maria Tak Bercela (SMTB), seperti rutinitas hariannya. Ia baru saja memasuki pergantian shift dari malam ke pagi, Minggu, 13 Mei 2018. Tidak ada yang aneh, pagi itu sama seperti pagi-pagi lainnya. Gereja ramai, hilir mudik jemaat sembari melempar senyum.

Saat sibuk mengatur arus kendaraan dan jemaat yang hendak mengikuti misa, sekitar 06.30-07.00 pagi, sebuah sepeda motor tiba-tiba menerobos masuk ke area gereja tanpa mematikan mesin. Pengendaranya dua orang tidak dikenal. Ketika ditegur oleh rekan Ary, mereka sama sekali bergeming.

Beberapa saat kemudian, rekan Ary mencoba menarik tas yang dipangku salah satu pengendara tersebut. Seketika, ledakan keras menggelegar. Duuuaaarrr!!!! Ledakan menghancurkan apa saja di sekitarnya. Ary dan rekannya terkapar. Pendengarannya seketika senyap.

“Pendengaran saya langsung hilang, nggak bisa dengar apa-apa. Waktu saya membasuh kepala, darah mengucur deras. Anehnya, saat itu belum terasa sakit,” ujar Ary saat ditemui di rumahnya, pada Minggu, 21 Desember 2025.

Meski tragedi itu telah berlalu delapan tahun, Ary Setiawan masih hidup dengan kecemasan. Setiap kali mendengar suara keras, seperti petasan atau terompet, ingatannya seketika menyeret kembali memori buruk yang tidak pernah benar-benar pergi. (Robertus Risky/Project Arek)

Dengan mata kabur, Ary melihat orang-orang bergelimpangan di halaman gereja, Jl. Ngagel Madya. Pos keamanan hancur, kaca-kaca gereja pecah berhamburan, dan potongan tubuh manusia tercecer sejauh mata memandang. Sejumlah jemaat menjadi korban dan meregang nyawa di tempat kejadian.

BACA JUGA : Ibu Korban Perkosaan Mei 1998 Menolak Diam

Lelaki itu berusaha menolong siapa pun yang masih bisa diselamatkan. Ia tak menyadari, kondisinya tak kalah memprihatinkan dibanding korban lain. Ary terluka parah. Kepalanya tertusuk serpihan besi dari bom yang meledak. Ia ngotot tetap ingin menolong korban. Namun, rekan-rekannya memaksa Ary untuk dibawa ke rumah sakit.

“Awalnya, saya dibawa ke RS Bedah, tapi ternyata penuh, lalu dibawa ke RSAL. Di sana ternyata kumpul dengan korban-korban dari gereja yang lain,” ujarnya.

Sampai di rumah sakit, kepala saya terasa ‘besar’ atau bengkak. Ternyata ada tiga sampai empat bagian di kepala saya yang tertusuk serpihan besi dari bom tersebut.”

Sehari sebelumnya, pada malam hari, Ary sempat merasa tidak tenang. Ary mengaku keluar-masuk rumah, sulit tidur, dan diliputi kegelisahan. Ia sendiri mengaku tak mengetahui kenapa dirinya diselimuti gelisah malam itu. Mendiang istrinya bahkan sempat menegurnya.

Turu, Mas. Kok gak turu? Mene jogo isuk. Kenapa nggak bisa tidur? Wong kerja cuma delapan jam, nanti selesai misa siang,” ucap mendiang istri, melalui cerita Ary. Ucapan sang istri menenangkan hatinya. Setelah itu, ia akhirnya bisa tidur.

Ia menjelaskan, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) sempat memberikan pendampingan psikologis selama sekitar satu tahun, bantuan materiil, serta mempertemukan para penyintas terorisme agar dapat menguatkan satu sama lain.

Pihak Gereja SMTB juga memberikan bantuan materiil dan bimbingan moral. Ary pun menerima santunan dari Wali Kota Surabaya saat itu, Tri Rismaharini, berupa pembuatan gigi palsu. Ia mengungkapkan, telah menerima restitusi dari pemerintah untuk menutup biaya pengobatan.

Ledakan bom membuat Ary mengalami luka serius di bagian kepala. Tiga hingga empat serpihan besi menancap di kepalanya, sementara mulutnya terkena gotri atau bola-bola besi kecil yang menjadi material bom. Bibirnya robek, giginya rusak, sehingga ia membutuhkan gigi palsu.

BACA JUGA : Jadikan Gereja Rumah Kelas Pekerja

“Waktu itu gigi saya terdampak, banyak yang rusak. Bibir saya sobek. Dari situ kemudian dibuatkan gigi palsu,” ujarnya. Hingga kini, Ary masih mengeluhkan gangguan penglihatan. Pandangannya kerap terlihat menguning, yang diduga disebabkan oleh kerusakan saraf gigi atau masuknya benda asing ke area mata saat ledakan.

Karena melihat langsung, kejadian itu sulit dilupakan. Saya berusaha mengikuti nasihat romo dan umat untuk mengedepankan cinta kasih.”

Pasca-tragedi, pihak gereja melakukan perombakan total terhadap sistem keamanan dan deskripsi kerja petugas keamanan. Pola penjagaan diperketat, disertai penambahan personel yang juga melibatkan partisipasi umat gereja.

Berjuang Mendampingi Anak

Desmonda Paramarta (27) berangkat lebih pagi ke Gereja SMTB karena bertugas sebagai relawan parkir. Ayahnya, Buang Djuliadi, menyusul sekitar pukul 07.00. Saat perjalanan menuju gereja, Buang melihat langit mendadak suram. Asap hitam mengepul menyerupai awan yang akan hujan lebat.

Saat itu, ia tidak mengira bahwa Gereja SMTB baru saja menjadi sasaran bom. Sesampainya di gerbang selatan gereja, Buang terkejut melihat kondisi yang kacau. Orang-orang berteriak panik, sementara sejumlah korban tergeletak di pelataran gereja.

“Saat mau sampai, saya dengar banyak orang berteriak, ‘Awas bom! Awas bom!’” ujarnya. “Saya langsung teringat Desmonda. Saya cari ke dalam gereja, tapi tidak ada.”

Tak lama kemudian, seorang teman Desmonda memberi tahu bahwa putrinya telah dilarikan ke rumah sakit akibat luka-luka. Tanpa berpikir panjang, Buang segera menyusul ke sana. Desmonda dilarikan ke RS Manyar untuk menjalani operasi.

Pendampingan yang dilakukan pemimpin dan sesama jemaat gereja kepada para penyintas, menjadikan tragedi bom ini menjadi peristiwa iman yang semakin menguatkan keyakinan penyintas kepada Tuhan. (Robertus Risky/Project Arek)

 

Sejumlah bagian tubuhnya, leher dan kaki, tertusuk serpihan besi dari material bom yang terpental saat ledakan. Desmonda sempat mengalami trauma cukup lama, sekitar satu tahun. Selama masa itu, ia kerap menangis atau terkejut ketika mendengar suara keras, seperti bunyi petasan dan sejenisnya.

Buang juga sempat mengalami luapan emosi dan menyimpan perasaan dendam terhadap kelompok pelaku. Namun, ia mengaku pulih lebih cepat, sekitar 2-3 bulan setelah peristiwa itu, setelah mendapatkan pencerahan melalui komunitas lintas agama.

“Pemerintah dan LPSK menanggung seluruh biaya pengobatan hingga sembuh, serta memberikan bantuan sembako dan bentuk simpati lainnya,” kata Buang, pada Senin, 22 Desember 2025. Ia menambahkan, putrinya juga mendapat pendampingan dari psikolog dan relawan selama kurang lebih satu tahun untuk memulihkan kondisi mentalnya.

Pihak gereja turut memberikan penguatan iman melalui rekoleksi dan pendampingan rohani. Bahkan, menurut Buang, romo tetap menggelar misa pada sore hari setelah kejadian sebagai wujud keteguhan iman sekaligus solidaritas terhadap para korban.

Perawatan dan Pendampingan Korban

Serangkaian serangan bom bunuh diri mengguncang tiga gereja di Surabaya pada Minggu pagi, 13 Mei 2018. Aksi teror ini dilakukan secara terencana oleh satu keluarga yang diduga terafiliasi dengan jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD).

Serangan pertama terjadi sekitar pukul 06.30 WIB di Gereja SMTB. Dua anak laki-laki, YF (18) dan FH (16), melancarkan aksi bom bunuh diri dengan mengendarai sepeda motor sambil memangku bahan peledak. Ledakan tersebut menewaskan sekitar enam orang.

Sekitar 45 menit kemudian, pukul 07.15 WIB, aksi kedua menyasar Gereja Kristen Indonesia (GKI) di Jalan Diponegoro. Pelaku adalah sang ibu, Puji Kuswati (43), bersama dua anak perempuannya, FS (12) dan PR(9). Ketiganya meledakkan bom yang diikatkan di pinggang dan tewas di lokasi kejadian.

BACA JUGA : Pengecut Beraksi Lewat Teror

Puncak serangan terjadi sekitar pukul 07.50 WIB di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) di Jalan Arjuno. Sang ayah, Dita Supriyanto (48), menabrakkan mobil minibus pribadinya bermuatan bahan peledak ke area gereja. Ledakan besar pun terjadi, menewaskan pelaku serta sejumlah korban lainnya.

Dukungan dan bantuan dari berbagai elemen masyarakat, termasuk organisasi lintas agama semakin menguatkan hati dan mempercepat proses pemulihan penyintas. Para penyintas yang kami temui mengaku bertahan hidup dengan rasa tauma namun tak memendam dendam. (Robertus Risky/Project Arek)

FX Ping Teja, pengurus Dewan Pastoral Paroki (DPP) Kerasulan Umum Gereja SMTB pada 2018, membagikan pengalamannya saat mendampingi keluarga para korban bom gereja di Surabaya. Di Gereja SMTB, serangan menewaskan enam orang dan melukai sedikitnya 32 lainnya. Ledakan juga menyebabkan kerusakan fisik yang signifikan.

Saat itu, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini dinilai responsif dalam menangani dampak serangan bom tersebut. Pemerintah Kota Surabaya segera mengambil langkah untuk membantu para korban dan memulihkan kondisi usai kejadian.

“Bentuk dukungannya meliputi pembiayaan perawatan rumah sakit selama tiga bulan, perbaikan sarana gereja yang rusak, serta pemberian santunan atau tali asih kepada para korban,” ujar Ping saat ditemui di Gereja SMTB, Senin, 22 Desember 2025.

Selain itu, psikolog serta institusi pendidikan turut memberikan pendampingan trauma kepada para korban dan keluarga terdampak. Proses pemulihan psikologis ini berlangsung cukup panjang, berkisar antara enam bulan hingga satu tahun.

Meski demikian, menurut Ping, dampak trauma tidak sepenuhnya hilang setelah periode tersebut. Hingga beberapa waktu setelahnya, masih ada umat yang merasa takut untuk kembali mengikuti misa di gereja, terutama pada momen-momen peribadatan besar yang melibatkan banyak jemaat.

Hingga kini, sekitar lima korban masih membutuhkan perawatan medis lanjutan. Namun, menurut Ping, proses pemulihan tersebut kerap terkendala birokrasi, khususnya terkait akses bantuan dari Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK)

BACA JUGA : 

Perkosaan Massal Mei 98 Bukan Rumor (1)

Perkosaan Massal Mei '98 Bukan Rumor (2)

Ia menjelaskan, LPSK mensyaratkan adanya surat keterangan dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) yang menyatakan bahwa mereka merupakan korban tindak pidana terorisme. Proses pengurusan dokumen tersebut dinilai memakan waktu cukup lama, sehingga berdampak pada bantuan dan layanan yang dibutuhkan para korban.

Pihak gereja, terutama melalui arahan Romo Paroki, memilih untuk tidak memandang kejadian ini semata sebagai tragedi, melainkan sebagai ‘peristiwa iman’ yang justru menumbuhkan dan menguatkan kepercayaan umat,” ujarnya.

Di tengah duka tersebut, muncul pula gelombang solidaritas lintas agama. Umat dari berbagai latar belakang, termasuk Muslim dan Hindu, datang dan berkumpul untuk menggelar doa bersama. Aksi ini menjadi wujud empati sekaligus dukungan moral bagi para korban.

“Mereka datang ke sini untuk saling mendoakan. Sekitar satu tahun setelah kejadian, umat dari berbagai agama di Surabaya berkumpul di Gereja SMTB,” pungkasnya.