LANGIT di Surabaya masih relatif bersih saat massa Aksi Kamisan Surabaya ke-929 kembali berdiri di depan Gedung Negara Grahadi, Jumat (15/10). Mereka menyerukan tajuk ‘Kalimantan yang Dikepung Asap Namun Negara Buta, Wujudkan Keadilan Ekologis dan Penuhi Hak atas Lingkungan yang Baik dan Sehat’ sebagai respon atas apa yang terjadi selama empat bulan terakhir. Mereka membuka payung hitam sebagai simbol keteguhan perlawanan.

Alif, seorang mahasiswa asal Jambi bercerita, dampak karhutla dirasakan keluarga dan kampung halamannya. Adiknya yang memiliki kebutuhan khusus menjadi terisolasi di rumah terhitung sejak 23 Agustus 2026 dan mengharuskan sistem pembelajaran Luring (luar jaringan). Ia mengkhawatirkan, indeks kualitas udara di Jambi yang memburuk, semakin mengancam nyawa keluarganya.
BACA JUGA : #KAMISAN| Suar Suara Tragedi Tanjung Priok
Dan ini kita juga bisa melihat bagaimana pemerintahan datang tidak memberikan solusi. Malah mereka semakin menjadi-jadi mengeksploitasi sumber daya. Rakyat harus menolong dirinya sendiri karena pemerintah tak datang dengan solusi,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, kualitas udara di sana memburuk ratusan kali lipat dari ambang batas sehat. Di Situasi itu, kata Alif, warga bantu warga. Secara swadaya warga membantu warga lain dengan masker. Warga melakukan sebiasa yang mereka usahakan. Sebab menurutnya, tak banyak yang bisa diharapkan dari pemerintah.
Derita Rakyat karena Asap
Karhutla di Kalimantan meluas mencapai ratusan ribu hektare sepanjang Januari hingga Juli 2026. Mengutip Data Sistem Informasi Deteksi Dini Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) Kementerian Kehutanan merilis 793 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi di Indonesia hingga Sabtu, 10 Oktober 2026.
Titik pembakaran meningkat dari 356 menjadi 437 titik, dengan wilayah Kalimantan Tengah sebagai titik lonjakan panas paling tinggi, dari 122 menjadi 288 titik. Selain itu, terjadi juga di Kalimantan Barat, dari 13 menjadi 44 titik, serta Kalimantan Selatan dari 13 menjadi 28 titik.
Jumlah keseluruhan wilayah prioritas pengendalian karhutla ada di enam Provinsi yaitu Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, Jambi, dan Riau, yang mencatat 421 titik panas. Angka itu meningkat pada hari sebelumnya yang tercatat 270 titik. Terkini, total hotspot 2026 yang masih aktif berdasarkan data SiPongi per Oktober 2026 mencapai 8.357 titik.
BACA JUGA : #KAMISAN| Bangkitnya Militerisme dan Matinya Ruang Sipil
Asap sudah banyak memakan korban, termasuk hilang nyawa. Seorang guru di Banjarmasin meninggal dunia akibat sesak napas yang memiliki riwayat asma. Lisna, nama korban karhutla yang meninggal akibat sesak napas, harus menggunakan nebulizer yang lebih intens dari sebelumnya. Menurut penuturan Marhamah, Ibu Lisna, hampir setiap hari putrinya membutuhkan alat itu.

Keluarganya harus menembus kabut pekat asap karhutla untuk membawa putrinya ke rumah sakit sejauh setengah jam perjalanan. Namun belum sempat mendapat pertolongan yang memadai, Lisna menghembuskan nafas terakhir. Apa yang dialami Lisna, adalah gambaran apa yang di derita rakyat di Sumatera hingga Papua Selatan karena asal karhutla.
Putri, salah satu peserta aksi asal Surabaya mengingatkan kembali, asap di Kalimantan tidak terjadi begitu saja. Ada kejahatan korporasi yang membakar lahan konsesi mereka. Menurutnya, sudah banyak rakyat berteriak, bahkan negara tetangga. Namun respon pemerintah, tak menunjukkan empati dan malah terus memuja-muji diri mereka sendiri dengan klaim-klaim keberhasilan.
Secara enggak langsung, alam sudah menunjukkan pada kita. Rakyat menunjukkan pada para penguasa, mereka sudah lelah. Mereka sudah lelah dengan proyek-proyek bodoh yang kayak yang para penguasa buat itu. Alam sudah lelah terus dirusak,” ujarnya.
Menurut Putri, korban karhutla ini bukan hanya manusia, melainkan juga satwa yang hidup di alam yang tersisa. Ia menegaskan, pemerintah tak pernah mau belajar sehingga karhutla terus terjadi setiap tahun. Lahan-lahan hutan, terutama hutan gambut, kata Putri, dibabat habis untuk sawit demi melayani keserakahan segelintir manusia. Lahannya dibakar dan asapnya membunuh rakyat.
Tetapkan Sebagai Bencana Nasional
Hingga saat ini, pemerintah belum menetapkan karhutla sebagai bencana nasional. Rezim ini merasa bisa menangani karhutla. Padahal, jutaan rakyat menderita karena asap terus memenuhi udara yang mereka hirup. Bagi massa Aksi Kamisan, keengganan pemerintah menetapkan karhutla sebagai bencana nasional adalah pengabaian pada keselamatan jiwa rakyat.
Massa Aksi Kamisan juga menyoroti ragam pernyataan para pejabat yang dinilai tak menunjukkan empat. Salah satu yang membuat mereka geram adalah, respon Gubernur Kalimantan Tengah, Agustiar Sabran, yang membuat lelucon semua pihak harus ‘bersatu dan bercerai kita kawin lagi’. Belum lagi Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud yang kepergok bersantai di Singapura di saat rakyatnya menderita akibat asap.
Menurut Yoga, salah satu peserta Aksi Kamisan, terjadi peningkatan luasan lahan yang terbakar. Ia bahkan menegaskan, lahan-lahan itu bukan terbakar, namun dibakar. Salah satu pihak yang harus dimintai pertanggungjawaban adalah perusahaan. Menurutnya, apa yang mereka lakukan adalah kejahatan ekologi dan kemanusiaan. Yoga pernah terlibat sebagai relawan pemadaman karhutla pada 2015 lalu
BACA JUGA : #KAMISAN| Empat Tahun Tragedi Kanjuruhan
Bahkan dibandingkan di tahun 2025, ada peningkatan 69% lahan yang terbakar. Gambut bahkan lahan-lahan hutan lainnya itu dibabat habis, dibakar habis. Bukan tidak sengaja dibakar, tapi ini sangat dibakar oleh para manusia.” ungkap Yoga.
Massa Aksi Kamisan mendesak pemerintah pusat segera menetapkan bencana nasional untuk karhutla saat ini. Bagi mereka, pemerintah harus segera menyudahi sandiwara seolah-olah mereka berhasil menangani karhutla. Sebab faktanya, semakin banyak rakyat menderita karena asap.
Mereka melihat, pemerintah lebih sibuk memoles citra daripada menangani rakyat yang menderita. Mereka juga menuntut, seret penjahat ekologi yang menyebabkan karhutla ke pengadilan. Sebab, setelah api mulai padam, lahan-lahan yang terbakar ditanami bibit sawit.
