Skip to main content
Menolak Lupa Tragedi Al Khoziny
Reportase
Nyawa Santri Ditimbun Gedung Megah
Menutup Tragedi dengan Gedung Baru dan Narasi Musibah
Saat proses hukum dan keadilan bagi 63 nyawa santri yang diabaikan, pemerintah malah dengan cekatan menggelontorkan dana bantuan pemulihan bernilai fantastis bagi Ponpes Al Khoziny. Gedung baru nan megah itu dibangun tak lama setelah puluhan santri menjemput ajalnya akibat runtuhnya gedung empat lantai di ponpes itu.

WAJAH-WAJAH sumringah tampak dalam prosesi peletakkan batu pertama proyek revitalisasi gedung baru di Ponpes Al Khoziny pada Kamis, 11 Desember 2025 lalu. Ya, pemerintah pusat menganggarkan lebih dari Rp125 miliar yang dibiayai seluruhnya oleh negara dari pos anggaran pendapatan dan belanja nasional (APBN) untuk membangun kembali gedung yang runtuh itu.

Saat peletakan batu pertama itu, Pengasuh Ponpes Al Khoziny, KH Abdus Salam Mujib, justru membandingkan tragedi kelalaian konstruksi di pesantrennya dengan bencana ekologis, seperti banjir dan longsor yang sedang melanda Sumatera dan Aceh. Atas hilangnya 63 nyawa santri, pihak pengelola Ponpes Al Khoziny tak pernah dimintai pertanggungjawaban.

Kami sangat-sangat prihatin atas terjadinya musibah-musibah di belahan Indonesia khususnya bagian barat di mana banyak desa yang hilang di daerah Sumatera," kata Abdus Salam saat itu.

Sang kiai menilai, kematian puluhan santri di Ponpes Al Khoziny tergolong kecil dibandingkan apa yang terjadi di Sumatera. Ia juga sempat mengatakan, peristiwa ambruknya bangunan itu adalah takdir seraya meminta semua pihak bersabar. "Tentunya ini musibah yang terjadi di Al Khoziny ini tidak ada apa-apanya kalau dibandingkan itu (bencana Sumatra dan Aceh)," ucap dia.

Pengasuh Ponpes Al Khoziny, KH Abdus Salam Mujib saat acara seremonial peletakkan batu pertama pembangunan gedung baru di atas bekas lokasi gedung runtuh yang menewaskan 63 santrinya. Pembanguan ini dilakukan sekitar dua bulan setelah tragedi itu. Namun hingga setahun berlalu, tak satu pun orang yang dimintai pertanggungjawaban hukum. (Farid Rahman/Project Arek)



 

Pada kesempatan sama, ia tak lupa mengucap syukur karena di tengah peristiwa yang ia anggap tak seberapa itu, pemerintah pusat justru turun tangan memberikan hadiah berupa pembangunan ulang gedung secara gratis. Ia sama sekali tidak menyinggung soal penegakan hukum untuk menghadirkan keadilan bagi korban dan keluarganya. 

"Tetapi Alhamdulillah pemerintah sangat mencurahkan perhatiannya kepada kami. Maka kami tidak bisa membalas apapun kepada pemerintah. Mudah-mudahan selalu dibimbing oleh Allah SWT, selalu diberikan pertolongan oleh Allah Ta'ala dalam menjalankan roda pemerintahan Republik Indonesia," katanya.

BACA JUGA : Yang Sembunyi di Balik Takdir Ilahi

Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar, yang hadir secara langsung memimpin seremoni peletakan batu pertama gedung baru tersebut seolah mengamini hal itu. Di tengah isak tangis keluarga korban yang diundang menghadiri penayangan kilas balik tragedi, proyek megah ini diresmikan seolah menjadi obat penyembuh yang harus diterima semua pihak.

"Alhamdulillah hari ini saya dan seluruh lintas kementerian di dalam satuan tugas rekonstruksi pesantren ada, PU, Kementerian Agama sama, ATR BPN, pemerintah daerah, ada bupati memulai ground breaking Pesantren Al-Khoziny," kata Muhaimin dalam sambutannya.

Tanpa beban dan tanpa menyinggung secara serius mengenai sanksi bagi pihak pengelola pesantren atas hilangnya 63 nyawa di lokasi tersebut, Muhaimin dengan bangga memaparkan besaran dana kompensasi fasilitas yang disuntikkan pemerintah pusat ke pihak pondok.

"Iya, [menggunakan] APBN semua. Ada disitu tadi Rp125 miliar," ucapnya menyinggung besaran nilai kontrak pembangunan asrama lima lantai dan masjid yang megah itu. Setali tiga uang, Muhaimin juga sama sekali tak menyinggung soal penagakan hukum dan siapa yang harus bertanggungjawab atas kematian 63 santri di lokasi yang ia banggakan akan dibangun gedung baru itu. 

Gedung baru di kompleks Ponpes Al Khoziny mendekati selesai. Gedung megah ini dibangun tak lama setelah tragedi ambruknya gedung di sana yang menyebabkan 63 santri meninggal. Pembangunan ini menghabiskan Rp125 miliar yang bersumber dari APBN. (Foto: Agus Yudhoyono/Kemenko Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan)



Setahun berlalu, gedung baru Pesantren Al-Khoziny setinggi lima lantai sebentar lagi akan rampung dibangun. Namun bagi Nur Ahmad yang kehilangan lengannya, bagi paman F dan Bibi Mimied yang tak lelah menuntut hukum ditegakkan. Bagi Mimied, Gedung megah bernilai ratusan miliar itu tak akan pernah bisa menggantikan jiwa 63 santri yang tewas dalam kejadian tersebut.

Kami keluarga korban, Lelah harus berhadapan dengan negara saat mencari keadilan. Lelah dengan tekanan dan intimidasi. Yang jelas, semewah apapun gedung itu, tidak akan menutupi fakta bahwa ada nyawa 63 anak-anak menunggu keadilan,” kata Mimied.

Menurutnya, dengan pembangunan gedung baru nan megah itu, negara dan pengelola ponpes sengaja untuk mengubur dalam-dalam tragedi ini.

Dalih Musibah dan Ikhlaskan Saja

Sementara itu, sikap pihak pesantren sejak awal cenderung mengarahkan narasi tragedi ini sebagai sebuah suratan takdir ilahi yang tidak perlu diperdebatkan penyebab teknisnya. Pengasuh pondok, KH Abdus Salam Mujib, membenarkan bahwa saat kejadian, para pekerja dan santri memang sedang mengecor bagian atap musala.

"Ini pengecoran yang terakhir saja. Itu jebol. Ya hanya itu," kata Mujib.

Meskipun mengakui penyebab keruntuhan diduga akibat tiang penopang cor yang tidak kuat, Mujib lebih memilih untuk meminta seluruh pihak agar mengikhlaskan kejadian tersebut sebagai sebuah ketetapan Tuhan yang harus diterima dengan lapang dada. "Sepertinya penopang cor itu tidak kuat. Jadi seperti menopang ke bawah," kata dia.

BACA JUGA : Kaleidoskop September Menghitam

Lebih jauh, ia berulang kali menyampaikan bahwa tidak ada yang perlu disalahkan dalam kejadian ini. Menurutnya peristiwa ini adalah musibah yang pasti akan digantikan dengan balasan yang lebih baik oleh Tuhan. Tak ada sepatah kata maaf yang terlontar dari mulut sang kiai usai kejadian.

Ya saya kira ini takdir dari Allah, jadi semuanya harus bisa bersabar. Dan mudah-mudahan juga diberi diganti oleh Allah yang lebih baik," kata Mujib.

Narasi kepasrahan ini turut diamini dan didukung penuh oleh para petinggi ormas keagamaan dan pejabat pemerintah yang datang berkunjung. Ketua Umum PBNU kala itu, KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, secara eksplisit meminta keluarga untuk tidak meratapi kejadian ini secara berlebihan, melainkan melihatnya sebagai bentuk kasih sayang Tuhan.

"Kepada para wali santri kita memohon diberikan ketabahan, kita berikan penghiburan, kita yakinkan kepada semua menerima musibah ini," kata Gus Yahya.

Petugas mengevakuasi jenazah korban ambruknya gedung empat lantai di kompleks Ponpes Al Khoziny Senin (6/10/2025). Jumlah korban meninggal mencapai 63 orang dan ratusan lainnya terluka, termasuk di antaranya harus diamputasi. (Foto: dok. BNPB)

Menurut Gus Yahya, musibah yang menelan puluhan nyawa santri ini bukan sekadar bencana konstruksi, melainkan sebuah ujian spiritual yang menandakan kedekatan pencipta dengan hambanya. "Kita yakin, saya yakin ini adalah pertanda dari perhatian Allah SWT kepada kita semua," ucapnya.

Senada dengan PBNU, Menteri Agama Nasaruddin Umar yang turun ke lokasi kejadian juga menyematkan gelar mati syahid bagi seluruh santri yang menjadi korban. Menurutnya, niat tulus anak-anak tersebut untuk menimba ilmu agama menjadi pengangkat derajat mereka di akhirat.

"Kita berdoa semoga anak-anak bangsa yang kubur ini insyaallah syuhada. Niatnya suci untuk menuntut ilmu, pertama menuntut ilmu Al Quran," kata Nasaruddin.

Selain seruan dari pemerintah, simpati dan upaya untuk menenangkan para keluarga korban juga datang dari para alumni pesantren. Ketua Alumni Pusat Al Khoziny, KH Zainal Abidin, tampil mewakili para pengasuh pondok untuk meminta maaf atas kurang maksimalnya perlindungan terhadap para santri.

"Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya, mewakili keluarga ndalem [pengasuh pesantren], manakala kami belum bisa memberikan pelayanan kepada santri secara maksimal," ucapnya.

Namun, tidak semua wali santri bisa menerima narasi pasrah yang terus-menerus disuarakan oleh pengasuh pesantren dan otoritas agama tersebut. Seorang berinisial F, pria paruh baya yang harus kehilangan empat orang keponakannya sekaligus dalam insiden itu, menolak keras ajakan untuk melupakan aspek kelalaian teknis hanya dengan berlindung di balik kata takdir.

BACA JUGA : Santri dan Menggugat Batas Sami'na wa Atho'na

Namanya sengaja dirahasiakan untuk faktor keamanan. Kemarahan dan kekecewaannya memuncak ketika menyadari bahwa bangunan tersebut dibangun secara serampangan. Ia berharap orang yang bertanggungjawab atas tragedy yang merenggut puluhan nyawa santri ini harus dihukum. 

Kalau memang di situ ada human error atau kelalaian manusia dalam hal pembangunan, ya harus diproses. Penegakan hukum itu harus ditegakkan," kata F dengan nada tegas. 

F telah berupaya mencari kebenaran dengan menanyakan kondisi puing bangunan kepada tenaga ahli independen. Jawaban yang ia dapatkan semakin meyakinkan dirinya bahwa konstruksi bangunan tersebut memang jauh dari kata layak untuk ditempati ratusan santri. "Saya sudah konsultasi dengan yang lebih ahli. Dilihat dari konstruksinya memang tidak standar untuk pembangunan," ucap dia.

Pengasuh Ponpes Al Khoziny, KH Abdus Salam Mujib menjawab pertanyaan dari jurnalis yang mewawancarainya beberapa saat setelah tragedi runtuhnya gedung empat lantai di ponpes yang dikelolanya. Ia meminta keluarga korban untuk bersabar karena peristiwa ini dinilainya sebagai takdir ilahi. (Farid Rahman/Project Arek)

Kenyataan bahwa ada indikasi kuat santri dipekerjakan sebagai kuli cor semakin mempertebal tekad F untuk mendesak kepolisian mengusut tuntas pihak yang bertanggung jawab atas proyek maut itu. “Santri pada saat itu dipekerjakan. Nanti bukan tidak mungkin ada eksploitasi anak di sana. Aparat penegak hukum) jangan berhenti di evakuasi saja, tapi juga proses hukumnya harus jalan," tegasnya.

Bagi F, kedudukan seseorang di mata hukum adalah sama. Ia tidak rela jika proses penyidikan menguap begitu saja hanya karena status sosial atau posisi keagamaan yang disandang oleh para kiai sebagai pemilik atau pengasuh pondok pesantren.

Kita tidak memandang status sosial atau jabatan. Meskipun statusnya kiai, kalau memang bersalah ya harus diproses. Masa hukum kalah sama status sosial seseorang," katanya.

Ia menepis anggapan, menuntut keadilan berarti melawan takdir. Menurutnya, takdir dan kelalaian manusia adalah dua hal yang berbeda, dan hukum duniawi tetap harus berjalan untuk memberikan efek jera agar nyawa santri lain di masa depan tidak dikorbankan dengan alasan yang sama.

"Kalau masalah ikhlas, benar kita ikhlas, itu namanya takdir. Tapi kalau kelalaian, ya harus diproses. Hukum harus ditegakkan, supaya ke depan adik-adik kita bisa belajar dengan aman," ujarnya.

Detik-detik Gedung Runtuh

Nur Ahmad, seorang santri yang baru menginjak usia 16 tahun, mengingat memori kelam sore itu yang tak akan pernah bisa ia lupakan. Senin sore setahun yang lalu itu, ia tengah menunaikan ibadah Salat Ashar berjamaah bersama ratusan temannya di lantai dasar gedung musala pesantrennya yang masih dalam tahap pembangunan itu.

Ketenangan ibadah di sore hari itu mendadak buyar ketika rakaat kedua baru saja dimulai. Ahmad tiba-tiba mendengar gemuruh dari lantai atas gedung. Suara itu memekakkan telinganya. Seketika, bangunan yang seharusnya menjadi tempat bersujud itu berubah menjadi jebakan maut yang runtuh menimpa tubuhnya bersama ratusan santri lain.

Rakaat kedua saat rukuk [kejadian bangunan ambruk]. Langsung jatuh [betonnya]," kata Ahmad, mengingat kembali detik-detik beton menghantam tubuhnya.

Dalam sekejap, pemandangan di sekelilingnya menjadi gelap, Ahmad mendapati dirinya tak mampu bergerak. Reruntuhan beton seberat ratusan bahkan ribuan kilogram menghimpit tubuhnya, menekan lengannya. Kepanikan menjalar di sekelilingnya, namun ia tak bisa berbuat banyak selain menahan rasa sakit yang luar biasa.

Dua petugas saat upaya evakuasi korban yang tertimpa reruntuhan gedung di Ponpes Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo pada 29 September 2025 lalu. Tragedi itu merenggut nyawa 63 santri, dan menyebabkan 104 lainnya luka-luka. (Farid Rahman/Project Arek)

Dari ekor matanya, ia melihat samar-samar bayangan teman-temannya yang berusaha mencari jalan keluar, merangkak di antara celah-celah pilar yang patah. Namun bagi Ahmad, usahanya untuk menarik diri dari himpitan itu sia-sia belaka. Tangannya tertindih terlalu kuat, mengunci tubuhnya di satu titik di bawah reruntuhan.

"Enggak bisa (menyelamatkan diri), langsung kena tangan," kata dia dengan nada pelan.

Berjam-jam lamanya Ahmad terbaring pasrah menahan sakit yang tak tertahankan. Tubuhnya gemetar hebat di tengah udara pengap dan debu yang menyesakkan dada. Harapannya hanya satu, petugas evakuasi yang sedang berpacu dengan waktu di atas sana. Ia terus mengeluarkan sisa tenaganya untuk memanggil bantuan, menembus lapisan beton yang menguburnya hidup-hidup.

Iya saya teriak minta tolong, ada yang mendengar bertahannya dari sore sampai malam," kata dia.

Doa dan teriakannya akhirnya terdengar oleh tim penyelamat pada Senin malam. Nyawanya tertolong, tapi tidak dengan lengannya. Tim medis yang berhasil menjangkaunya di bawah reruntuhan mendapati, lengannya sudah tidak mungkin lagi diselamatkan. Himpitan beton telah merusak jaringan syaraf tangannya secara fatal. Mengingat posisi korban yang berada di titik sempit dan rawan runtuhan susulan, proses evakuasi normal tidak mungkin dilakukan. 

"Kata dokter harus tenang," ucap dia mengingat momen saat petugas medis memberitahukan tindakan medis darurat yang akan mengubah jalan hidupnya, selamanya. Tangan bocah itu harus diamputasi di lokasi.

Dokter Spesialis Ortopedi dan Traumatologi RSUD RT Notopuro Sidoarjo, dr Larona Hydravianto, yang turun langsung ke lokasi kejadian mengakui malam itu adalah salah satu momen paling krusial dalam karier medisnya. Mengamputasi anggota tubuh pasien di lapangan dengan kondisi pencahayaan dan peralatan yang serba terbatas, apalagi di bawah ancaman bangunan yang bisa runtuh kapan saja, adalah keputusan yang sangat dilematis.

Proses evakuasi korban berlangsung hingga malam hari. Evakuasi melibatkan tim Basarnas dan medis. Evakuasi berkejaran dengan waktu karena setiap saat bisa terjadi runtuhan susulan. Sejumlah korban selama, harus kehilangan salah satu bagian tubuhnya karena terpaksa diamputasi langsung di lokasinya ditemukan. (Farid Rahman/Project Arek)

"Memang ini sesuatu yang sangat berat ya secara pertimbangan. Artinya kita harus melakukan amputasi atau menghilangkan bagian tubuh," kata Larona.

Kisah Ahmad hanyalah satu dari ratusan cerita pilu yang lahir dari tragedi Senin sore itu. Muhammad Rijalul Qoib, santri berusia 13 tahun asal Sampang, Madura, menjadi salah satu yang beruntung karena berhasil lolos dari maut. Kesaksiannya juga membuka tabir mengenai apa yang sebenarnya terjadi sebelum gedung musala itu roboh.

Sama seperti Ahmad, Rijalul saat itu juga berada di lantai dasar musala untuk bersiap menunaikan Salat Ashar di gedung tersebut. Bangunan itu, kata dia, direncanakan dibangun dan memiliki empat lantai termasuk atap. Lantai dasar sudah rampung dan digunakan untuk aktivitas ibadah dan mengaji.

BACA JUGA : Gus Kinin, antara Zikir dan Kalkulator Tambang

Sedangkan lantai dua serta tiga masih dalam proses pembangunan. Meskipun proses pengerjaan proyek masih terus berjalan, bangunan itu dipaksakan untuk digunakan. Bahkan, kata Rijalul beberapa jam sebelum kejadian, atap gedung itu baru selesai tahap pengecoran.

"Denger suara seperti material jatuh retak-retak tambah lama tambah keras akhirnya [material] jatuh di atas, lantai lain juga jatuh," ucap Rijalul menceritakan detik-detik awal keruntuhan.

Mendengar suara retakan yang semakin nyaring, Rijalul yang saat itu belum masuk ke dalam barisan shaf salat langsung bereaksi dengan cepat. Instingnya menyuruhnya untuk segera berlari menjauh dari titik tengah ruangan, menuju area tempat wudu yang dirasa lebih aman. Namun, pergerakannya kalah cepat dengan jatuhnya material bangunan.

Peringatan yang Diabaikan

Tragedi ini mengungkap sebuah tradisi di lingkungan pesantren yang para santri sebagai tenaga kasar dalam proyek pembangunan. Gedung yang ambruk di Ponpes Al Khoziny tidak hanya dikerjakan tukang profesional, melainkan juga para santri. Salah seorang santri, Sulaiman membeberkan, melakukan pengecoran beton biasanya merupakan bentuk hukuman atau sanksi disiplin dari pengurus pondok.

Itu banyak tukang sih. (Santri) itu ikut bantuin. Kalau santri enggak wajib itu. Cuma apa kayak hukuman, misal hukuman lah. Kayak enggak ikut kegiatan itu nanti disuruh bantuin ngecor gitu," kata Sulaiman.

Pernyataan ini diperkuat pengakuan para wali santri yang mengetahui anak atau keponakan mereka mendapat tugas mengecor pada hari kejadian. Noer, seorang wali santri asal Pasuruan menyebutkan, keponakannya yang bernama Saugik mengalami luka patah tulang tangan kanan karena sedang bertugas di lantai atas saat bangunan itu runtuh.

"Dia bagian ngecor. Iya [yang ngecor santri]," kata Noer membenarkan keterlibatan keponakannya dalam proyek tersebut.

Ahli konstruksi bangunan menyimpulkan gedung yang ambruk di Ponpes Al Khoziny mengalami kegagalan struktur. Bangunan empat lantai ini tidak dibangun sesuai strandar konstruksi. Ada unsur kelalaian dalam perencanaan dan proses pembangunan yang ternyata melibatkan para santri yang tidak memiliki pengetahuan soal konstruksi. (Foto: dok. BNPB dan BPBD Sidoarjo)



 

Rosyid, wali santri lainnya dari Bangkalan, juga menceritakan hal serupa. Keponakannya yang bernama Ahmad Fariz menderita luka parah di bagian wajah dan mulut akibat terjatuh bersama material bangunan saat sedang mengecor di lantai atap gedung tersebut. "Jadi lagi ngecor, jatuh, luka di wajah, terus giginya copot," ucapnya.

Di sisi lain, kejanggalan dalam standar teknis bangunan ini sebenarnya sudah tercium oleh warga sekitar jauh sebelum tragedi terjadi. Masyarakat yang tinggal di sekitar lingkungan pesantren mengaku telah berkali-kali mengingatkan pihak pengurus mengenai metode pembangunan yang dinilai sangat riskan dan tidak sesuai standar keselamatan gedung bertingkat.

Salah seorang warga yang tak mau disebut namanya, menceritakan, pihak pondok sama sekali tidak menggunakan paku bumi atau tiang pancang untuk menopang struktur bangunan yang direncanakan memiliki tiga lantai tersebut. Namun, peringatan itu tak ditanggapi. 

Gak pakai paku bumi. Sudah diingetin sama warga, tapi ya enggak ditanggapi. Wong waktu bangun itu cuma pakai sepatu, enggak pakai paku bumi. Kalau normal ya pakai paku bumi, "kalau pondok ya pakai paku doa"," kata salah satu warga sekitar, menirukan jawaban bernada kelakar dari salah seorang pengurus pesantren saat diingatkan.

Warga memperhatikan dengan jelas proses penggalian fondasi terlihat sangat dangkal untuk ukuran gedung sebesar itu. Pihak pekerja proyek hanya memasang pondasi tapak beton yang biasa disebut pondasi sepatu, lalu menimbunnya dengan tanah tanpa melakukan penggalian yang dalam.

"Langsung pasang (pondasi) sepatu, terus ditimbun tanahnya, biar enggak terlalu dalam. Waktu itu kami sempat bilang, kok enggak ke bawah sekalian, tapi ya enggak didengar," katanya.

BACA JUGA : Krisis Tata Kelola Dana Umat

Ketika bangunan itu pada akhirnya benar-benar runtuh, ketakutan warga terbukti. Getaran yang dihasilkan dari ambruknya ribuan ton beton itu terasa seperti gempa bumi lokal yang membuat warga berhamburan keluar rumah dalam kepanikan. "Waktu ambruk itu geter aku sampai lari. Kayak gempa, Mas. Aku wis di-warning sama suami, begitu geter ojo ke depan, langsung ke belakang, tanah kosong," ucapnya.

Kini, penyesalan dan duka mendalam meliputi warga sekitar yang merasa tidak berdaya untuk mencegah tragedi tersebut karena terhalang oleh rasa segan terhadap otoritas pesantren. "Dulu kami sudah ngomong, tapi yo wis, wong pondoknya sendiri yang ngatur. Sekarang malah jadi begini. Kasihan anak-anak [yang jadi korban] itu," ujar warga dengan nada lirih.

 

 

*Artikel ini adalah bagian kedua dari dua seri liputan ‘Menolak Lupa Tragedi Al Khoziny'. Liputan ini kami dedikasikan untuk semua korban yang tak lagi bisa bersuara dan keluarga mereka.