PERBINCANGAN kami disaksikan bintang-bintang dan berselimut dingin malam. Di bawah pohon ketapang, depan padepokan—tempat para murid-muridnya menimba ilmu.
“Saya ingin tetap di sini, Ki. Menjadi orang biasa, mengabdikan diri di padepokan,” katanya dengan mata yang penuh gelisah. Aku bisa merasakan kegelisahan yang begitu tulus itu.
Sepasang mata itu seperti menyalahkan takdir, akan asal-usul dirinya. Ada semacam keirian yang kutangkap dari sana, keirian terhadap teman-temannya di padepokan. Iri akan status mereka yang rakyat biasa.
Sejak ayahandanya menitipkannya di padepokan, tidak pernah sekalipun aku mendapati tindakannya yang mengisyaratkan kalau ia merasa lebih tinggi dari lainnya karena anak seorang raja. Ia justru beberapa kali berkata padaku, supaya menjaga rahasia identitas dirinya.
“Saya akan menuruti apapun yang Ki Jejer inginkan. Asal tolong saya, Ki. Saya benar-benar ingin tetap di sini.”
Ia melontarkan kata-katanya, kali ini sembari bersujud kepadaku, merangkul kakiku. Aku kaget diberlakukan demikian olehnya. Aku menyuruhnya berdiri, dan membimbingnya duduk dengan penuh kesabaran. Jujur saja, baru kali ini aku tidak bisa menolong muridku yang meminta pertolongan. Namun, aku tidak merasa kecewa, yang ada hanya sedikit rasa kasihan—atau jika boleh bilang sedikit rasa bangga. Ini adalah takdir yang sudah digariskan Tuhan.
BACA JUGA : Pemanggil Dewi Laut
“Yang perlu angger pahami, tidak ada satu pun manusia yang bisa mengatur dirinya, dari rahim siapa ia dilahirkan,” ucapku. “Begitu juga dengan angger.”
“Ada satu hal yang sangat saya ingat dari Ki Jejer, dan sampai sekarang masih saya pegang. Ki Jejer pernah bilang kepada saya, takdir bisa diubah sepanjang kita berusaha.” Ia mencoba menepis ucapanku. Aku sungguh bangga kepadanya. Semakin memperlihatkan kelayakannya.
“Memang takdir bisa diubah. Angger bisa saja melakukan segala cara supaya tetap di sini, atau pergi ke mana saja, asal tidak jadi raja. Tetapi, kenyataan bahwa ayahanda angger adalah raja, tidak bisa dimungkiri. Adakalanya saat kita hendak menghindari suatu takdir, kita terbentur dengan hal lainnya, Ngger. Sehingga membuat kita tetap menjalani takdir itu,” terangku.
Aku mengalihkan penglihatanku kepadanya. Kulihat gelisah di matanya masih ada, tapi sedikit mereda.
“Kita sendiri ini saja, tidak lain hasil dari takdir. Ibunda angger mau menikah dengan ayahanda angger, itu adalah jalan yang dipilih. Sehingga kemudian lahirlah angger. Seperti yang sudah saya katakan, kita tidak pernah bisa memilih dari rahim siapa kita dilahirkan. Ada hal-hal yang tidak dapat kita jangkau, Ngger.”
“Ini tidak adil bagi saya, Ki. Tidak adil!”
“Maaf, sekali lagi maaf. Kali ini saya tidak bisa membantu. Saya sangat senang dan bangga dengan keinginan angger. Senang sekali. Hanya saja, saya tidak berani dan tidak mungkin mengkhianati harapan ayahanda angger. Tidak mungkin.”
“Jadi, Ki Jejer juga mempunyai harapan yang sama?” Kulihat kegelisahan itu menguat.
“Agaknya angger membuat saya harus terpaksa jujur, memang benar. Saya mempunyai harapan yang sama dengan ayahanda angger.”
“Mengapa, Ki? Bagaimana mungkin saya gembira mendapatkan sesuatu yang bukan hak saya? Saya ingin menentukan masa depan saya sendiri, Ki!”
Kutepuk pundaknya. Dari balik kegelisahannya, ketulusan itu terus mengalir membasahi hatinya, tidak henti-henti. Ia menatapku penuh terka. Mungkin ia tahu, aku sedang mencari kata yang tepat untuk menjawab pertanyaannya. Mungkin ia berprasangka, kata-kataku yang akan keluar adalah kata-kata rekayasa. Mungkin saja. Aku juga hanya menerka-nerka.
“Saya tidak tahu mengapa angger yang dipilih. Tapi saya yakin, sungguh yakin, jika ayahanda angger mempunyai alasan yang kuat.”
Akhirnya aku terpaksa menekannya, berujar jika masih menganggapnya sebagai gurunya, ia harus pulang sekarang juga. Kembali ke kraton, untuk mempersiapkan diri dilantik menjadi seorang raja. Ia sempat berkata-kata sebelum aku menekannya. Segala sesuatu yang diawali dengan hal tidak baik hanya akan berakhir dengan tidak baik pula. Itu yang keluar dari mulutnya. Memang ada benarnya—aku tidak bisa membantahnya untuk hal ini. Aku tahu, ia masih dibayangi soal siapa yang sejatinya berhak naik tahta, sehingga ia menganggap penunjukkan dirinya adalah sesuatu yang tidak baik.
“Ini bukan soal yang baik dan tidak, Ngger. Ini soal kenyataan yang sudah terjadi,” batinku.
Aku membayangkan, saat ia sudah menjadi raja. Sosoknya yang gagah memancarkan kharisma luar biasa. Aku yakin, ia akan mampu mengemban tugas layaknya seorang raja dengan baik. Menjalankan roda pemerintahan dengan tindakan-tindakan yang bijaksana, tidak membuat rakyat merasakan sengsara. Aku yakin akan hal itu. Rakyat Mataram akan bangga kelak kemudian hari.
BACA JUGA : Singgasana Kertas Lembana
Salah satu orang yang paling mendukung ia untuk menjadi raja adalah Ki Ageng Pemanahan. Ia sempat bercerita kepadaku. Prabu Anyakrawati, ayahandanya sesungguhnya mempunyai alasan lain memilihnya sebagai putra mahkota.
“Jadi bukan karena Pangeran Martopuro, maaf… tunagrahita, bukan. Walaupun saya juga yakin, rakyat tidak akan setuju jika ia diangkat menjadi raja karena alasan tadi,” kata Ki Ageng Pemanahan.
Mendengar cerita dari Ki Ageng Pemanahan, aku terkejut. Sangat terkejut. Tidak akan menyangka jika kraton terlumuri darah. Ki Ageng Pemanahan bercerita kepadaku, alasan sebenarnya Prabu Anyakrawati memilih putra mahkota dari istri kedua, bukan atas inisiatif sendiri. Namun, amanah langsung dari Prabu Anyakrawati. Kepadaku, Ki Ageng Pemanahan menyuruhku supaya merahasiakan cerita tentang alasan dipilihnya Rangsang.
“Suatu ketika Den Mas Rangsang akan tahu cerita yang sebenarnya,” kataku.
“Memang saya juga berpikir demikian. Bagaimanapun keburukan pada akhirnya tercium juga baunya. Yang terpenting bagi kita, melaksanakan apa yang sudah disabdakan Gusti Prabu Anyakrawati. Jangan sampai kita melanggarnya, kualat!” ucap Ki Ageng Pemanahan.
Aku hanya berpikir—hanya sebatas kepikiran—mungkin ada seseorang yang diberikan mandat untuk menyampaikan cerita apa yang sebenarnya terjadi langsung kepada Rangsang. Tanpa sepengetahuan Ki Ageng Pemanahan.
“Atau malah Ki Ageng Pemanahan sendiri yang akan menceritakan. Hanya saja ia tidak bercerita kepada saya?” bisikku, hampir tidak terdengar, seperginya Ki Ageng Pemanahan.
Sudah menjadi rahasia umum, Ki Ageng Pemanahan adalah orang yang sangat bisa dipercaya. Apalagi jika itu berkaitan dengan titah raja. Hal itulah yang membuat Ki Ageng Pemanahan menjadi tangan kanan sang raja.
Yang jelas, Rangsang akan tahu cerita itu. Entah dengan cara tahu sendiri atau lewat orang lain. Aku bisa sedikit memahami, mengapa Prabu Anyakrawati membagikan cerita itu kepadaku lewat Ki Ageng Pemanahan. Tidak lain, supaya aku bisa bersungguh-sungguh memberikan alasan-alasan, agar anaknya langsung menerima kenyataan kalau ia harus menjadi raja—tanpa membongkar cerita itu tentu saja.
Aku membaca, Prabu Anyakrawati menyadari jika Rangsang akan berusaha menghindar dari beban tanggungjawab yang akan ia terima. Aku juga membaca, ia mempunyai harapan supaya Rangsang tidak mempunyai dendam kepada orang yang pernah mempunyai upaya untuk mencelakakan dirinya. Sekilas memang cukup bijaksana.
BACA JUGA : Kutu Losmen di Perbatasn Gulita
Namun, aku juga bisa mengerti terhadap orang itu—yang hendak mencelakakan Prabu Anyakrawati. Siapa yang tidak sakit hati dikhianati? Prabu Anyakrawati juga melakukan semacam kesalahan telah memilih Rangsang. Hanya saja, aku bisa memahami keadaannya—itu tidak bisa dihindarinya. Sebagai seorang raja, berat tentu mengemban segala tanggungjawab. Tidak sebatas memikirkan hari ini dan esok saja, melainkan juga masa depan. Sebagai seorang raja, wajar jika ia menakutkan satu hal, apakah ia mampu mewujudkan cita-cita ayahandanya, Panembahan Senopati? Membawa Mataram ke puncak kejayaan? Tentu berat.
Kelangsungan Mataram di masa depan, bergantung pada keputusan-keputusan hari ini. Aku tidak dapat menyalahkan Prabu Anyakrawati, aku juga tidak dapat menyalahkan orang yang akan mencelakakannya. Keadaan yang begitu sulit bagi Prabu Anyakrawati. Sungguh sulit.
Rangsang telah menjadi raja kini. Ia bergelar Sultan Agung. Saat aku menemuinya di ruang kebesaran di dalam kraton, sebagaimana yang kubayangkan, ia terlihat begitu gagah dengan pakaian hitam-hitam dan berhias jarik di pinggangnya. Ia melarangku memanggilnya sinuhun, meski begitu aku tidak mau. Bagaimanapun, sekarang ia sudah menjadi seorang raja.
Hari berganti hari. Hingga tahun berganti tahun. Suatu ketika ia datang ke kediamanku. Rangsang yang datang kali ini, seperti bukan Rangsang yang kukenal. Saat ia datang, aku sedang menulis surat untuknya. Aku hendak memberikan saran kepadanya, supaya niat untuk berperang melawan VOC di Batavia diurungkan. Sebab hal itu hanya mengundang penderitaan bagi rakyat. Kemungkinan buruk lainnya membawa Mataram kepada kemunduran.
“Mengapa Ki Jejer tidak bercerita kepada saya, jika ayahanda pernah akan dicelakakan?”
“Mohon ampun, Sinuhun. Saya hanya menjalankan amanah.”
Aku tidak sanggup menatapnya, matanya menjelma api yang siap menyambar apa saja yang ada di hadapannya. Tentu saja termasuk aku.
“Jika Ki Jejer bercerita kepada saya, ayahanda tiada secara mengenaskan tidak akan pernah terjadi! Orang yang pernah akan mencelakai ayahanda, akhirnya berhasil mewujudkan ambisinya!”
Mengenaskan? Satu kata itu terngiang-ngiang di kepalaku. Aku tidak bertanya-tanya dalam kepala, dari mana ia bisa tahu kalau aku menyimpan rahasia. Namun, aku bertanya kepada diriku sendiri dengan rasa tidak percaya tentang kebenaran perkataan Rangsang. Aku memang tidak tahu, dengan bagaimana Prabu Anyakrawati tiada.
Rangsang berbalik badan, aku masih menunduk. Mungkin tatapannya kali ini menjelma ujung tombak yang runcing, yang siap menembus dadaku.
“Ketahuilah, Ki Jejer. Saat ini saya benar-benar merasa gagal sebagai anak! Tidak mampu menyelamatkan ayahanda. Saya gagal! Andai saja Ki Jejer bercerita kepada saya, tidak akan terjadi seperti ini!”
Aku juga tidak pernah menyangka di dalam cerita yang kusembunyikan tersimpan malapetaka yang muncul di kemudian hari. Yang kubisa hanya meminta maaf kepadanya. Aku tidak bisa melakukan apa-apa.
“Jika bukan Ki Jejer yang melakukan, mungkin sudah saya lenyapkan!”
Ia meninggalkanku, tidak dengan cara yang baik. Bersama beberapa prajurit-prajuritnya, aku melihat kepergiannya dari pintu rumah. Perlakuannya tidak membuatku terluka. Kemudian aku tertuju pada surat yang belum selesai kutulis, saat rombongan itu menghilang dari pandanganku. Aku menjadi ragu untuk menyelesaikannya.
Risen Dhawuh Abdullah
Kelahiran Sleman. Alumnus Magister Sastra, UGM 2025. Alumnus Bengkel Bahasa dan Sastra Bantul 2015, kelas cerpen. Bermukim di Pleret, Bantul, Yogyakarta. Dapat dihubungi di instagram @risendhawuhabdullah.
Kami menerima tulisan cerpenmu di rubrik AREK BERCERITA. Rubrik ini projectarek.id dedikasikan untuk siapa pun yang memiliki minat di dunia sastra khususnya cerpen. Kami ingin menjadikan rubrik ini sebagai rumah digital untuk bertumbuh bersama menghidupi dunia cerpen. Kirimkan karyamu dengan membaca PANDUAN kami.