SETIAP PAGI, sebelum matahari sempat membasuh wajahnya di ufuk, aku sudah memanggul karung goni—rahim bagi segala macam benda yang dianggap dunia sebagai kegagalan. Orang-orang menyebutku pemulung. Sebutan yang jujur, meski terasa dingin di telinga.
Namun bagiku, aku adalah seorang kurator dari sejarah yang terbuang. Di dalam bak sampah yang menganga seperti luka, aku tidak hanya mencari plastik yang bisa ditukar dengan beberapa keping rupiah. Aku mencari nyawa yang disekap dalam lembaran-lembaran kertas.
Malam ini, di bawah lampu jalan yang berkedip payah layaknya mata orang yang sedang sekarat, aku menemukan sebuah buku lagi. Sampulnya sudah koyak, warnanya cokelat kusam serupa kulit punggungku. Namun judulnya masih terbaca samar: Hikayat Angin dan Hujan. Aku mengelusnya pelan, membersihkan sisa saus sambal yang menempel di sudut sampul dengan ujung kaus yang sebenarnya lebih dekil dari buku itu sendiri.
“Ah, kau lagi,” bisikku pada buku itu. Solilokui ini sudah menjadi kawan setiaku. “Siapa yang tega membuangmu? Apakah mereka pikir kata-kata di dalammu sudah kehilangan denyut?”
Aku memasukkannya ke tempat paling empuk di dalam karung, di atas tumpukan botol mineral yang sudah kupisahkan. Buku ini adalah tangkapan ketujuh hari ini. Bagiku, menemukan buku di tempat sampah adalah sebuah mukjizat kecil yang ironis; seolah-olah kecerdasan manusia sengaja dibuang demi memberi ruang bagi kebebalan yang baru.
***
Rumah kontrakanku berada di sebuah gang yang lebarnya hanya cukup untuk dua orang yang sedang berpapasan tanpa harus saling merengkuh. Sebuah kotak sabun dari triplek dan seng yang senantiasa menangis setiap kali hujan turun. Namun, di dalamnya ada sebuah keajaiban yang tak dimiliki oleh gedung-gedung pencakar langit mana pun.
Aku menyebutnya “Bilik Aksara”.
Di sepanjang dinding yang lembap, aku menyusun rak dari kayu palet bekas. Di sanalah mereka berbaris: novel-novel picisan yang kehilangan akhir cerita, buku sejarah yang tak lagi dianggap relevan oleh kementerian, hingga kitab-kitab suci yang mungkin pemiliknya sudah merasa terlalu suci untuk membacanya lagi. Bau kertas tua yang terpadu dengan aroma tanah basah menciptakan parfum paling mewah yang pernah kuhirup.
“Pak Lembana, apa ada cerita baru hari ini?”
Suara itu milik Gatot, bocah sepuluh tahun yang ayahnya bekerja sebagai kuli panggul di pasar. Di belakangnya, mengekor Siti dan beberapa anak gang lainnya. Wajah mereka adalah sebuah kanvas yang butuh warna, dan mereka tahu, di bilik sempit inilah warna-warna itu disimpan.
“Ada, Tot. Sebuah kisah tentang angin yang jatuh cinta pada hujan. Tapi kau harus cuci tangan dulu. Ilmu itu bersih, ia tak mau hinggap di tangan yang penuh bekas lumpur selokan,” ujarku sambil tersenyum, menampakkan barisan gigi yang tak lagi utuh.
BACA JUGA : Kutu Losmen di Perbatasan Gulita
Mereka pun berebut menuju pancuran air yang berada di depan. Aku memperhatikan mereka di ambang pintu. Anak-anak ini adalah tunas yang tumbuh di sela retakan aspal. Mereka miskin, ya, secara materi. Tapi saat mereka memegang buku-buku buangan ini, mata mereka menyala.
Mereka tak lagi berada di gang pengap yang bau pesing; mereka sedang terbang di atas punggung naga atau berlayar menyeberangi samudra yang tenang. Literasi, kata orang pintar di televisi adalah kunci kemajuan. Bagiku, literasi adalah cara agar anak-anak ini tidak merasa dikerdilkan oleh keadaan. Bahwa meskipun perut mereka keroncongan, pikiran mereka harus tetap berpesta.
Namun, kota ini punya estetika yang kejam. Baginya, keindahan adalah keteraturan yang steril. Baginya, kumuh adalah penyakit yang harus diamputasi, bukan dirawat. Suatu pagi, ketika aku baru saja pulang dengan membawa karung yang lumayan berat, beberapa pria berseragam cokelat muda berdiri di depan kontrakanku.
Mereka memegang papan jalan dan pena yang siap mencoret nasibku. Di belakang mereka, sebuah ekskavator terparkir di ujung jalan, seperti monster purba yang sedang menunggu aba-aba untuk memangsa.
“Saudara Lembana?” tanya salah satu dari mereka. Namanya tertera di dada: Suwito. Wajahnya datar, namun matanya menghindari tatapanku—seolah-olah empati adalah barang mewah yang tak mampu ia beli.
“Ya, saya sendiri,” jawabku sambil menurunkan karung.
“Tempat ini harus dikosongkan. Ini termasuk zona hijau yang akan dialihfungsikan. Selain itu, ada laporan warga menyebut rumah Anda menjadi gudang sampah yang mengancam kesehatan dan rawan kebakaran.”
Aku tertegun. “Sampah? Anda menyebut ini sampah?”
Aku membuka pintu bilikku lebar-lebar. “Lihatlah, Pak Suwito. Di dalam sini bukan sampah. Di dalam sini ada Pramoedya, ada Hamka, bahkan Shakespeare yang saya temukan di dekat pembuangan hotel berbintang. Ini adalah sekolah bagi anak-anak yang tak mampu membeli seragam. Apakah ilmu pengentahuan kini dianggap sebagai ancaman kesehatan?”
Suwito melongok ke dalam. Matanya menyisir ribuan buku yang tertata rapi. Sejenak, aku melihat keraguan di pupil matanya. Mungkin dulu ia juga pernah mencintai buku. Namun, seragamnya terlalu ketat, sehingga mencekik hati nuraninya hingga sesak.
“Secara administratif, ini ilegal, Pak. Bangunan ini tidak berizin, tumpukan kertas ini berbahaya jika ada puntung rokok yang jatuh. Kami beri waktu sampai lusa. Jika tidak, alat berat yang akan bicara.”
Mereka pergi dengan meninggalkan debu yang beterbangan dan rasa pahit yang menggantung di lidahku.
Malam itu, aku tidak keluar untuk memulung. Aku duduk di tengah-tengah kerumunan bukuku. Aku merasa seperti seorang raja yang kerajaannya sedang dikepung oleh tentara barbar.
Aku mengambil satu buku secara acak. Isinya tentang filsafat kuno. Panta Rhei, kata Herakleitos. Semuanya mengalir, tidak ada yang abadi. Aku tersenyum getir. Apakah perjuanganku mengumpulkan sisa-sisa peradaban ini juga akan mengalir menuju parit-parit kelupaan?
BACA JUGA : Hening Rindu
“Pak Lembana, kenapa menangis?” Siti berdiri di ambang pintu. Ia membawa sebungkus gorengan, mungkin sisa dagangan ibunya.
Aku menghapus air mata dengan punggung tangan yang kasar. “Tidak, Siti. Mata Bapak hanya terkena debu buku tua. Kemari, bacalah satu puisi untuk Bapak.”
Siti pun duduk di sampingku. Ia membuka sebuah antalogi puisi yang sampulnya sudah hilang. Dengan suara yang jernih namun penuh penekanan, ia membaca:
“...meski tubuhku terpenjara dalam lumpur, pikiranku adalah burung yang mematuk bintang-bintang. Jangan kau rampas langitku, karena di sanalah aku benar-benar hidup.”
Dadaku sesak. Anak ini, yang setiap hari menghirup aroma kemiskinan, telah memahami esensi dari kata-kata itu. Jika rumah ini dirubuhkan, mereka akan kehilangan langitnya. Dan aku, aku akan kembali menjadi sekadar pemulung, tanpa tujuan, tanpa jiwa.
Aku pun mulai berpikir. Apa yang bisa dilakukan oleh seorang lelaki tua dengan tenaga yang tinggal separuh melawan mesin-mesin besi itu? Logika kota mengatakan aku harus menyerah. Tapi logika buku mengajarkanku tentang perlawanan yang elegan.
***
Hari yang ditentukan itu tiba. Langit mendung, seolah-olah ikut berduka. Ekskavator itu mulai merayap masuk, suaranya menderu-deru seperti naga yang sedang menggeram. Warga gang mulai berkumpul, wajah mereka terlihat tegang. Beberapa ibu-ibu menggendong anak mereka kembali berbisik cemas.
Suwito pun kembali hadir, “Pak Lembana, tolong kosongkan tempat ini sekarang. Kami harus segera bekerja.”
Aku tidak bergerak dari ambang pintu. Aku tidak membawa senjata. Aku hanya memegang sebuah buku kecil bersampul merah.
“Pak Suwito,” suaraku tenang, hampir seperti bisikan angin di antara celah seng. “Saya tahu Anda hanya menjalankan tugas. Tapi sebelum Anda meratakan tempat ini, biarkan anak-anak ini mengambil apa yang menjadi hak mereka.”
Satu per satu, anak-anak gang maju. Gatot, Siti, dan belasan lainnya. Mereka tidak menangis. Mereka justru berbaris rapi. Setiap anak masuk ke dalam bilikku, mengambil lima buah buku, lalu keluar dan duduk bersila di depan ekskavator.
Suasana mendadak hening. Hanya ada suara mesin yang menderu pelan. Anak-anak itu mulai membaca dengan suara lantang. Gatot membaca tentang hukum fisika, Siti membaca tentang sejarah perjuangan bangsa, dan yang terkecil membaca dongeng tentang kura-kura yang cerdik.
Suara mereka saling bersahutan, menciptakan polifoni yang luar biasa. Sebuah barikade aksara. Petugas-petugas itu terdiam. Operator ekskavator mematikan mesinnya. Udara yang tadinya tegang mendadak penuh dengan pengetahuan yang bertebangan.
“Apa yang kalian lakukan?” teriak Suwito, namun otoritasnya luruh. Ia tampak bingung menghadapi perlawanan yang tidak menggunakan otot, melainkan dengan otak.
“Kami sedang belajar, Pak!” teriak Gatot tanpa mengalihkan pandangan dari bukunya. “Kata Pak Lembana, orang yang berhenti belajar adalah orang yang mati sebelum dikubur. Apakah bapak ingin mengubur kami hidup-hidup?”
Ini bukan lagi sekadar pemukiman yang kumuh. Ini telah berubah menjadi sebuah simposium jalanan. Sebuah demonstrasi literasi yang paling jujur yang pernah disaksikan oleh kota ini.
Kota ini mungkin memiliki hukum yang kaku, namun ia juga memiliki mata yang haus akan cerita. Sore itu, sebuah keajaiban terjadi. Seorang jurnalis yang terjebak macet di jalan utama masuk ke gang kami dan mengabadikan momen itu. Beritanya menjadi viral dengan judul: Perpustakaan Sampah yang Melawan Besi Tua.
Tekanan publik mulai berdatangan. Orang-orang di media sosial berteriak tentang pentingnya ruang kreatif bagi masyarakat bawah. Pemerintah kota, yang awalnya ingin menggusur demi “zona hijau”, tiba-tiba berubah haluan untuk menghindari citra buruk.
***
Seminggu kemudian, seorang pejabat tinggi datang. Ia bukan datang dengan ekskavator, melainkan dengan janji-janji manis dan beberapa kardus buku baru. Ia mengatakan bahwa tempat ini akan direnovasi menjadi “Taman Bacaan Masyarakat” yang resmi.
Aku berdiri di sudut, memperhatikan orang-orang berseragam mahal itu berpidato. Mereka menggunakan kata-kata yang rumit—kata-kata yang barangkali mereka ambil dari buku-buku yang pernah kubersihkan dari sisa sambal.
“Pak Lembana, kita menang!” teriak Siti sambil memeluk sebuah ensiklopedia baru yang masih berbau pabrik.
Aku tersenyum, meski ada sepercik kesedihan yang menggelayut di hatiku. Bilik Aksaraku yang sunyi kini akan berubah menjadi bangunan beton yang dingin dan penuh birokrasi. Buku-bukuku yang “bernyawa” itu akan disandingkan dengan buku-buku baru yang belum pernah mencicipi pahitnya perjuangan.
BACA JUGA : Sahabat daari Zogbya
Malamnya, saat keramaian sudah surut, aku kembali duduk bersila di kontrakanku yang kini sudah mulai diperbaiki orang. Aku mengambil karung goniku.
“Mau ke mana, Pak?” tanya Gatot yang melihatku bersiap-siap.
“Memulung, Tot,” jawabku singkat.
“Tapi kan kita sudah punya banyak buku baru sekarang?”
Aku mengelus kepala bocah itu. “Buku baru itu bagus, Tot. Tapi di luar sana, di dalam bak-bak sampah yang gelap, masih banyak jiwa-jiwa yang terbuang. Masih banyak kata-kata yang butuh diselamatkan agar tidak membusuk sendirian. Tugas Bapak belum selesai.”
Aku melangkah keluar gang. Kota masih tetap sama; sebuah lambung raksasa yang lapar. Namun sekarang, aku tahu bahwa di antara sampah-sampah itu, ada harta karun yang lebih berharga daripada emas. Ada peradaban yang sedang menunggu untuk ditemukan kembali. Aku akan terus memulung. Karena bagiku, sebuah buku yang dibuang adalah sebuah pengkhianatan terhadap kemanusiaan. Dan selama aku masih bisa bernapas, aku akan menjadi benteng terakhir bagi kata-kata yang terlupakan.
Fitri Rusandi
Seorang penulis dan penyair Indonesia yang aktif di platform daring seperti Omong-Omong Media, Halimun Salaka, Yoursay.id, Kompasiana, Kumparan, Kaltim Post, Suara Merdeka Post, dan Indonesiana. Ia dikenal karena karya-karya fiksi dan puisinya yang sering mengangkat isu sosial.
Kami menerima tulisan cerpenmu di rubrik AREK BERCERITA. Rubrik ini projectarek.id dedikasikan untuk siapa pun yang memiliki minat di dunia sastra khususnya cerpen. Kami ingin menjadikan rubrik ini sebagai rumah digital untuk bertumbuh bersama menghidupi dunia cerpen. Kirimkan karyamu dengan membaca PANDUAN kami.