SAYA teringat Plinius ketika membaca laporan kebakaran di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Agustus 2026. Bukan karena skalanya serupa, melainkan ada sesuatu yang sama dalam cara kita merespons api. Kita mencatat luasnya, melaporkan titik apinya, mengumumkan pemadamannya. Jarang kita tanyakan apa yang sesungguhnya hilang.
Padahal kita tahu, api di kawasan Bromo selalu tampak lebih besar dari dirinya sendiri. Dalam beberapa hari, angka luas yang terbakar terus berubah seiring pemetaan di lapangan. Data BPBD Jawa Timur merinci 1.120 hektare terbakar. Seluruhnya di wilayah lintas kabupaten (Probolinggo, Pasuruan, Malang, dan Lumajang).
Upaya pemadaman dimulai. Media meliput. Pejabat memberikan pernyataan di hadapan sorot kamera dan alat perekam jurnalis. Lalu api padam. Angka-angka itu penting. Tapi kelemahannya, angka tidak bisa menunjukkan apa yang hilang dari sebuah tempat. Sebuah peta mungkin memberinya warna merah. Laporan menjadikannya statistik.
Bagi seekor burung, itu mungkin berarti berkurangnya tempat mencari makan. Bagi mamalia kecil, hilangnya tempat berlindung. Bagi tumbuhan yang hanya tumbuh pada kondisi tertentu, mungkin berarti populasi yang tidak akan kembali dengan mudah.
TNBTS bukan saja lanskap untuk difoto saat matahari terbit. Bukan sekedar pemuas hajat manusia menikmati keindahan alamnya. Kawasan itu menyimpan ekosistem yang khas. Lautan pasir, sabana, hutan pegunungan, dan vegetasi subalpine yang terbentuk dari proses geologis dan ekologis yang berlangsung ribuan tahun.
BACA JUGA : Karhutla Bromo dan Kebisuan Titik Api PSN
Data TNBTS mencatat 38 jenis satwa liar yang dilindungi. Puluhan jenis burung, belasan mamalia, reptil, serangga. Di antara yang disebut ada elang, macan tutul, lutung. Semuanya endemik. Semuanya rentan. Pertanyaannya, kemana satwa-satwa itu saat api menghanguskan habitat mereka?
Penelitian terbaru dalam Journal of Natural History (2026) menemukan 47 spesies herpetofauna di hutan pegunungan kawasan ini. Ada 20 amfibi dan 27 reptil, tiga di antaranya memiliki nilai konservasi penting.
Artinya, ketika kita mengatakan ‘hutan Bromo terbakar’, kita sedang berbicara tentang sebuah rumah yang dihuni jauh lebih banyak makhluk daripada yang tampak dalam foto wisatawan.
Rumah itu adalah relasi. Antara rumput dengan tanah. Serangga dengan burung. Air dengan vegetasi. Vegetasi dengan tanah yang menyimpan benih generasi berikutnya. Satu bagian yang terbakar tidak selalu berarti seluruh relasi itu mati. Tapi setiap kebakaran menguji daya pulihnya.
Di sinilah kita sering keliru memahami api. Kita melihatnya sebagai peristiwa. Ekologi melihatnya sebagai proses. Ada savana yang memang memiliki sejarah kebakaran alami. Fire-adapted ecosystem, dalam bahasa ekologi. Ada vegetasi yang mampu tumbuh kembali, bahkan lebih cepat dari yang kita bayangkan.
Penelitian IPB (2018) tentang savana TNBTS menunjukkan, kawasan pascakebakaran bisa memiliki komposisi vegetasi yang berbeda dari kawasan yang tidak terbakar. Imperata cylindrica misalnya, dikenal sebagai tumbuhan yang cepat menjajah tanah gundul pascakebakaran.
Tapi ada yang Lebih Rumit
Ekosistem savana tropis seperti di TNBTS bekerja dalam keseimbangan yang rapuh antara api, curah hujan, jenis tanah, dan keanekaragaman hayati yang saling bergantung. Kebakaran alami dalam siklus yang wajar bisa merangsang regenerasi. Tapi kebakaran berulang dalam interval pendek, seperti yang terjadi di Bromo dalam tiga tahun terakhir, memberi tekanan berbeda.
Tanah tidak punya cukup waktu untuk memulihkan bahan organiknya. Benih yang membutuhkan kondisi tertentu untuk berkecambah kehilangan kesempatannya. Populasi hewan yang bergantung pada vegetasi tertentu tersudut ke wilayah yang semakin sempit.
Penelitian tentang vegetasi savana TNBTS itu secara khusus mencatat, komposisi jenis di kawasan tidak terbakar lebih beragam dibandingkan kawasan pascakebakaran yang diteliti. Dan ada yang lebih mengkhawatirkan, ancaman kebakaran terhadap Melelo, tumbuhan endemik Jawa yang terdapat di Kaldera Bromo.
Melelo adalah satu-satunya spesies dari marga Styphelia. Salah satu gangguan bagi populasi melelo yaitu kebakaran hutan. Endemik berarti ia tidak tumbuh di tempat lain. Ketika habitatnya terganggu, tidak ada cadangan populasi di luar sana. Jadi persoalannya bukan apakah alam bisa pulih. Persoalannya, pulih menjadi apa?
BACA JUGA : Menjaga Adat Tengger Sebelum Semuanya Hilang
Itu seperti mengatakan manusia tidak perlu takut kehilangan rumah karena manusia bisa membangun lagi. Bisa. Tapi dengan apa, dalam berapa lama, dan apakah rumah baru itu akan berdiri di tempat yang sama, dengan tetangga yang sama, dengan sejarah yang sama?
Ekosistem memiliki pertanyaan semacam itu. Dan tidak semua jawabannya menyenangkan.
Kebakaran Bromo Bukan Cerita Baru.
Pada 2023, api yang dipicu suar dalam kegiatan pemotretan membakar savana hingga 504 hektare, menurut hitungan Balai Besar TNBTS. Juni 2024, kebakaran kembali melanda kawasan Gunung Batok di wilayah Kabupaten Pasuruan. BNPB melaporkan sekitar 50 hektare terdampak sebelum berhasil dikendalikan. Kini, Agustus 2026, api menyala lagi.
Tiga kali dalam tiga tahun. Kawasan yang sama, atau berdekatan. Api yang berbeda, tapi pola yang serupa. Maka ada pertanyaan yang lebih penting. Mengapa sebuah kawasan konservasi terus berada dalam posisi mudah terbakar?
Kajian pola kebakaran di TNBTS dalam Jurnal Silvikutur Tropika menunjukkan, kebakaran adalah pertemuan antara kondisi lingkungan dan aktivitas manusia. Musim kering dan iklim ekstrem meningkatkan kerawanan.
Tapi keberadaan manusia di kawasan konservasi, termasuk wisatawan, membuka peluang munculnya sumber api. Kebakaran, dengan demikian, bukan hanya soal cuaca. Juga soal perilaku. Dan mungkin soal cara kita memandang alam.
Konteks iklim, tentu, tidak bisa diabaikan. Anomali suhu dan pergeseran pola curah hujan akibat El Nino telah berulang kali memperpanjang musim kering di kawasan Jawa Timur, termasuk di ketinggian TNBTS.
Vegetasi yang kering lebih mudah terbakar. Angin yang kencang di kawasan pegunungan mempercepat perambatan. Kondisi ini membentuk lanskap yang, dalam istilah manajemen kebakaran, disebut high fire hazard condition. Kawasan dengan potensi kebakaran tinggi yang hanya menunggu sumber panas.
Sumber Panas Hampir Selalu dari Manusia
Kita datang ke Bromo untuk bersenang-senang. Alam hadir sebagai latar. Kita mencari matahari terbit, kabut, lautan pasir, savana yang fotogenik. Tapi alam tidak pernah tahu bahwa ia sedang menjadi latar bagi foto seseorang. Ia hanya sedang hidup.
Itulah ironi pariwisata alam. Semakin indah sebuah tempat, semakin banyak manusia ingin datang. Semakin banyak manusia datang, semakin besar kemungkinan habitatnya terganggu. Bahkan ada anekdot, keindahan adalah kutukan.
Kita menyebutnya destinasi. Bagi satwa, itu adalah rumah. Dua kata itu tampak sederhana, tapi keduanya membawa kepentingan yang tidak selalu bisa didamaikan.
Bagi wisatawan, Bromo adalah tempat untuk dikunjungi. Bagi pelaku ekonomi lokal, sumber penghidupan. Bagi pemerintah, kawasan konservasi sekaligus aset pariwisata yang menyumbang pendapatan daerah. Bagi masyarakat Tengger, ruang hidup yang menyimpan sejarah, ritus, dan identitas yang sudah ada jauh sebelum taman nasional itu punya nama. Bagi satwa, tidak ada nama-nama itu. Hanya habitat.
Yang mengkhawatirkan bukan perbedaan kepentingan itu sendiri. Yang mengkhawatirkan adalah ketika satu kepentingan terus-menerus menang tanpa pernah dihitung kerugiannya. Ada yang harus dibayar alam ketika kedatangan jutaan manusia dengan ragam prilakunya.
Kunjungan wisatawan ke TNBTS dalam beberapa tahun terakhir terus meningkat. Sebelum pandemi, kawasan ini dikunjungi lebih dari 500 ribu orang per tahun. Angka itu sempat turun drastis, lalu naik lagi. Setiap kenaikan disambut sebagai pemulihan ekonomi.
Tidak banyak yang bertanya, berapa kapasitas ekologis Bromo untuk menampung manusia sebelum ia mulai rusak dari dalam? Kebakaran Bromo seharusnya tidak berhenti dengan pemadaman. Pemadaman adalah tindakan pertama, bukan akhir. Sebab pemulihan ekologis tidak bekerja secara mekanis.
Luthfiralda Sjahfirdi, pakar biologi lingkungan dan konservasi Universitas Indonesia pernah mengingatkan, pemulihan ekosistem Bromo pascakebakaran membutuhkan waktu panjang. Karena kawasan itu memiliki ekosistem unik. Lautan pasir, sabana, flora dan fauna yang tidak tumbuh di sembarang tempat.
Beberapa spesies butuh kondisi yang sangat spesifik untuk berkembang biak. Ketika habitatnya terganggu, mereka tidak sekadar pindah. Beberapa tidak punya tempat lain untuk pergi. Satwa mungkin bergerak ke wilayah lain dan berhadapan dengan kompetisi baru yang tidak pernah ada sebelumnya.
BACA JUGA : Yang Hilang dari Bromo, Tapi Bukan Keindahannya
Kita hidup di zaman yang menyukai sesuatu cepat selesai. Api padam, selesai. Kawasan dibuka, selesai. Wisatawan kembali, selesai. Ekonomi bergerak, selesai. Tapi tanah mungkin masih kehilangan bahan organik. Benih tertentu mungkin belum kembali. Burung mungkin mengubah jalur mencari makan. Hidup mereka yang tak pernah selesai.
Departemen Geografi Universitas Negeri Malang sudah berjalan lebih dulu dalam hal ini. Mereka meneliti pemetaan kebakaran TNBTS menggunakan indeks NBR (Normalized Burn Ratio) dan BAIS2 (Burn Area Index for Sentinel-2) untuk mengidentifikasi area terdampak secara lebih presisi.
Penginderaan jauh membantu pemetaan areal. Tapi pengukuran ekologis di lapangan tetap tidak tergantikan. Citra satelit bisa menysun piksel yang hangus. Tapi tidak bisa mendeteksi kepunahan lokal seekor amfibi yang habitatnya terfragmentasi.
Kita butuh tahu bukan hanya berapa hektare yang terbakar, tapi vegetasi apa yang hilang, seberapa parah kerusakannya, dan habitat apa yang terfragmentasi.
Habitat fragmentation adalah salah satu ancaman paling serius terhadap keanekaragaman hayati. Itu lebih berbahaya dari kebakaran tunggal, karena ia memotong populasi menjadi pulau-pulau kecil yang tidak bisa saling bertukar gen, tidak bisa merespons perubahan lingkungan, dan perlahan kehilangan kemampuan untuk bertahan.
Kita butuh angka. Tapi kita juga butuh cerita di balik angka. Sebab 1.120 hektare bukan hanya 1.120 hektare. Di dalamnya mungkin ada ribuan organisme yang tidak pernah masuk laporan, tidak pernah punya nama dalam dokumen resmi, dan tidak akan pernah diketahui sudah hilang atau belum.
Bromo mengajarkan sesuatu yang sederhana. Api tidak memilih antara yang indah dan yang tidak. Ia merambat mengikuti bahan bakar, angin, kemiringan, kekeringan. Tapi manusia memilih bagaimana sebuah kawasan diperlakukan sebelum api datang.
Pilihan itu ada di banyak tempat. Di meja kebijakan yang menetapkan berapa pengunjung boleh masuk setiap hari. Di SOP pengelolaan kawasan yang memutuskan mana yang boleh dan tidak boleh dibawa masuk. Di anggaran pemulihan yang memutuskan apakah revegetasi dilakukan sungguh-sungguh atau sekadar seremonial penanaman pohon untuk foto. Di regulasi wisata yang belum secara tegas memisahkan zona konservasi ketat dari zona pemanfaatan.
Pada akhirnya, kebakaran berulang di Bromo bukan hanya kegagalan teknis. Ia adalah cermin bagaimana kita memperlakukan sesuatu yang tidak bisa menagih kerugiannya sendiri. Tentang bagaimana kita menghitung nilai sebuah tempat hanya dari apa yang bisa kita ambil darinya, bukan dari apa yang kita tinggalkan di sana.
Plinius akhirnya mati ketika mencoba memahami Vesuvius yang ternyata mengeluarkan gas beracun. Itu bukan kecerobohan. Itu curiosity yang salah perhitungan. Tapi setidaknya ia pergi ke sana untuk mencatat, bukan untuk berfoto.
Ketika api padam di Bromo, pekerjaan manusia sesungguhnya baru dimulai. Sebuah hutan tidak benar-benar selamat hanya karena apinya telah padam. Ia selamat ketika rumput kembali, ketika burung kembali, ketika tanah yang kehilangan bahan organiknya perlahan mengisi diri lagi. Itu urusan bertahun-tahun.
Dan manusia mesti belajar datang tanpa membuat rumah yang bukan miliknya itu kembali terbakar.
Kami menerima tulisan opini/esai Anda. Rubrik ini projectarek.id dedikasikan untuk siapa pun yang memiliki minat dan kemauan dalam berpendapat dan berekspresi melalui tulisan. Kami ingin menjadikan rubrik ini sebagai rumah digital untuk bertumbuh bersama merawat demokrasi. Untuk selengkapnya, baca PANDUAN kami.
