Skip to main content
Wajah Masyarakat Paliatif Kita
Esai / Opini
Wajah Masyarakat Paliatif Kita
Dalam peradaban manusia, kekuasaan sering kali dikaitkan dengan kemampuan untuk menimbulkan rasa sakit atau ketakutan. Michel Foucault (1975), menjelaskan bagaimana disiplin fisik dan hukuman publik menjadi instrumen utama untuk menjaga ketertiban sosial.

KINI LANSKAP kekuasaan telah mengalami pergeseran radikal dalam fase kapitalisme modern saat ini. Kita tidak lagi berada di masyarakat disipliner yang menghukum tubuh untuk meningkatkan produktivitas, tetapi di masyarakat yang berusaha menghilangkan segala bentuk ketidaknyamanan.

Filsuf kontemporer Byung Chul Han (2020) menyebut fenomena ini sebagai masyarakat paliatif. Dalam struktur ini, kapitalisme modern tidak menguasai melalui rasa sakit atau ancaman, melainkan dengan tuntutan untuk selalu bahagia, optimis, dan positif.

Rasa sakit, penderitaan, dan penolakan dianggap sebagai gangguan dalam produktivitas yang perlu segera diatasi atau dihilangkan. Lantas, bagaimana obsesi terhadap kebahagiaan dan penghapusan rasa sakit dapat menjadi bentuk penindasan baru yang lebih efektif daripada disiplin tradisional?

Transformasi dari Disiplin ke Paliatif

Pada abad ke-18 dan 19, kekuasaan diterapkan melalui mekanisme pengawasan yang ketat, di mana pekerja dipaksa mengikuti rutinitas yang kaku dan diancam hukuman atas ketidakpatuhan. Hari ini, dengan kemajuan teknologi informasi dan psikologi industri, cara memotivasi individu telah berubah.

Dalam kapitalisme saat ini, penjara dan hukuman fisik "tidak lagi" diperlukan; sebaliknya, sistem ini bergantung pada optimasi diri. Dalam rezim neoliberal, setiap orang dianggap sebagai perusahaan yang mengelola dirinya sendiri. Keberhasilan kini lebih dipandang sebagai hasil dari manajemen diri, bukan hanya kepatuhan pada peraturan.

Oleh karena itu, rasa sakit atau ketidaknyamanan dianggap sebagai kegagalan dalam manajemen diri. Dalam masyarakat paliatif, rasa sakit kehilangan perannya sebagai alat kritik sosial. Kita diarahkan untuk mencari kebahagiaan melalui produk, layanan, dan gaya hidup yang dipromosikan oleh media sosial.

BACA JUGA : Menakar Keadilan di Atas Piring Kosong

Ketika individu merasa sedih atau tidak puas, ia tidak didorong untuk mempertanyakan sistem ekonomi atau politik yang tidak adil, tetapi sebaliknya, diharapkan untuk mencari terapi, obat penenang, atau strategi pengembangan diri agar bisa segera kembali berproduksi.

Dengan cara ini, rasa sakit yang seharusnya menjadi pemicu untuk perubahan sosial justru diredam melalui anestesi psikologis. Dalam kapitalisme modern, ada kebutuhan untuk individu selalu beroperasi pada kapasitas optimal tanpa adanya ruang untuk refleksi kritis yang muncul dari penderitaan.

Kewajiban untuk selalu bahagia telah menjadi imperatif kategoris baru di masyarakat. Media sosial berfungsi sebagai panggung utama di mana kebahagiaan dipamerkan sebagai standar kesuksesan yang harus dicapai.

Fenomena ini menciptakan kondisi toksisitas positif, di mana ketika seseorang merasa tertekan oleh tuntutan kerja atau ekspektasi sosial yang tidak realistis, narasi kebahagiaan yang paksa mengharuskan mereka untuk tetap tersenyum dan berpikiran positif. Dalam konteks ini, kebahagiaan bukan lagi emosi autentik melainkan sebuah komoditas dan standar perilaku yang didikte oleh pasar.

Lebih jauh lagi, tuntutan untuk selalu bahagia berfungsi untuk melemahkan potensi perlawanan kolektif. Kemarahan muncul dari perasaan sakit dan ketidakadilan. Ketika dirasakan secara kolektif, kemarahan ini dapat memicu gerakan sosial. Namun, dengan cara memaksa masyarakat untuk selalu optimis, kapitalisme meredam kemarahan tersebut.

Setiap kritik terhadap sistem ekonomi sering kali dianggap sebagai sikap pesimis yang merusak motivasi. Kita diajari untuk menyalahkan diri sendiri atas kegagalan, alih-alih memperhatikan struktur kekuasaan yang menciptakan ketimpangan. Dalam konteks ini, kebahagiaan berfungsi sebagai penghilang rasa sakit yang memastikan individu tetap produktif tanpa mengeluh atau mengajukan pertanyaan mengenai tujuan sistem itu sendiri.

Secara filosofis, rasa sakit memiliki peranan penting dalam membentuk identitas manusia. Tubuh adalah media di mana dunia dialami. Rasa sakit bukan hanya gangguan, tetapi cara dunia berkomunikasi dengan subjektivitas manusia. Menerima dan memahami rasa sakit adalah bagian dari pendewasaan diri yang utuh (Maurice Merleau Ponty, 1945).

Rasa sakit adalah ujian atas ketangguhan mental dan integritas moral (Stoikisme). Penderitaan adalah syarat mutlak bagi pertumbuhan diri dan pencapaian potensi manusia yang lebih tinggi (Friedrich Nietzsche, 1968). Tanpa pengalaman penderitaan, manusia tidak akan terdorong untuk melampaui batasan diri.

BACA JUGA : Hilangnya Imajinasi Kemerdekaan

Masyarakat yang bersifat paliatif berusaha menghapus penderitaan ini dari kehidupan, yang mengakibatkan kedalaman pengalaman tergerus. Kita hidup dalam permukaan yang datar, di mana emosi-emosi intens diredam demi kenyamanan yang dangkal.

Menghilangkan rasa sakit justru melemahkan ketahanan mental manusia. Masyarakat yang tidak pernah mengalami rasa sakit atau tantangan akan menjadi sangat rentan saat menghadapi krisis.

Dalam konteks pekerjaan, budaya positif yang dipaksakan sering kali menyembunyikan kelelahan kronis (burnout). Pekerja dipaksa untuk tampak bersemangat, meskipun mereka dieksploitasi secara sistematis. Kebahagiaan palsu ini menciptakan jarak antara realitas internal individu dan tuntutan eksternal.

Perpecahan psikologis ini, yang dikenal sebagai disonansi kognitif, menjadi salah satu penyebab utama krisis kesehatan mental di era modern. Dengan menolak legitimasi rasa sakit sebagai bagian dari eksistensi manusia, kapitalisme modern sebenarnya merusak kemampuan kita untuk merasakan kebahagiaan sejati.

Kebahagiaan yang autentik memerlukan adanya kontras; dan tanpa penderitaan, kebahagiaan hanya jadi pemenuhan keinginan sesaat yang tak memberikan kebermaknaan. Digitalisasi semakin memperkuat dinamika masyarakat paliatif. Melalui algoritma, kita disuguhkan konten yang dirancang untuk menjaga kita tetap nyaman.

Media sosial memanipulasi emosi pengguna dengan menyaring realitas yang menyakitkan. Kita melihat kehidupan orang lain yang tampak sempurna dan bahagia, yang bisa menimbulkan rasa rendah diri dan tekanan untuk beradaptasi. Algoritma ini tidak hanya memengaruhi selera konsumsi, tetapi juga membentuk standar emosional.

Kita dipaksa untuk mengkurasi diri sendiri, menampilkan citra kebahagiaan dan kesuksesan demi mendapatkan validasi di dunia maya. Interaksi digital yang dimediasi oleh layar sering kali menghapus elemen kehadiran fisik yang nyata. Rasa sakit fisik atau ketidakhadiran dalam komunikasi sering diabaikan.

Kita merasa terhubung melalui platform digital, sementara sebenarnya semakin terisolasi dalam ruang-ruang privat yang steril. Kekuasaan dalam kapitalisme digital beroperasi melalui daya tarik, bukan ancaman. Kita secara sukarela menyerahkan data pribadi, waktu, dan energi kepada mesin eksploitasi ini karena dijanjikan kenyamanan, kemudahan, dan kebahagiaan.

Masyarakat paliatif adalah masyarakat yang patuh bukan karena takut, tetapi karena kecanduan akan kenyamanan yang disediakan oleh sistem.

Secara ekonomi, budaya paliatif menciptakan pasar yang sangat menguntungkan bagi industri kesehatan mental, farmasi, dan pengembangan diri. Selama rasa sakit dianggap sebagai patologi yang harus disembuhkan segera, akan selalu tersedia produk dan layanan untuk mengatasinya.

Industri ini mengambil keuntungan dari kesulitan individu dalam menghadapi rasa sakit mereka secara eksistensial. Kita sering diberikan obat-obatan penenang atau teknik manajemen stres agar tetap dapat berfungsi dan mencapai target produktivitas.

BACA JUGA : Macondo dan Hak Atas Kota

Model ekonomi ini menciptakan siklus tanpa akhir. Sistem ekonomi tersebut menghasilkan tekanan yang membuat individu merasa tidak cukup, sedih, atau lelah, kemudian menawarkan solusi agar mereka dapat kembali produktif. Dengan kata lain, kapitalisme modern menciptakan rasa sakit yang samar sekaligus menjual solusi untuk meredakannya.

Ini merupakan bentuk kekuasaan yang sangat canggih, yang tidak lagi mengeksploitasi tenaga kerja dengan pemaksaan fisik, tetapi melalui manipulasi emosional. Pekerja yang bahagia dan terawat cenderung lebih efisien. Oleh karena itu, banyak perusahaan berinvestasi dalam program kesejahteraan karyawan bukan karena kepedulian sosial, tetapi untuk memastikan produktivitasnya tidak terhambat oleh masalah psikologis.

Untuk keluar dari jebakan masyarakat paliatif, diperlukan rehabilitasi legitimasi rasa sakit dan ketidakbahagiaan sebagai bagian integral dari kehidupan. Kita harus mengubah pandangan bahwa ketidaknyamanan adalah tanda kegagalan pribadi. Kehidupan yang penuh makna tidak selalu identik dengan kebahagiaan yang konstan.

Kita memerlukan ruang untuk merasakan kondisi melankolis, kemarahan, dan merenung tentang batasan. Ini menjadi landasan perlawanan terhadap kapitalisme modern yang mendesak efisiensi mutlak.

Menerima rasa sakit adalah langkah awal untuk membangun solidaritas. Dengan berani menunjukkan bahwa kita tidak selalu bahagia, kita sebenarnya membangun hubungan yang lebih jujur dengan orang lain. Solidaritas muncul dari pengakuan atas kerentanan bersama, bukan dari pameran kebahagiaan individu.

Kita perlu menolak narasi bahwa kebahagiaan adalah tanggung jawab individu semata. Sebaliknya, kebahagiaan harus dipandang sebagai hasil dari struktur sosial yang adil dan hubungan antarmanusia yang autentik, bukan sekadar komoditas yang dijual di pasar. Dengan demikian, kita dapat merebut kembali kendali atas diri kita dan berhenti menjadi objek dari mesin kapitalisme yang terus menerus menuntut produktivitas.

Konteks Indonesia

Indonesia, sebagai salah satu negara berkembang dengan tingkat penetrasi media sosial yang tinggi, dapat menjadi laboratorium untuk memahami tesis masyarakat paliatif. Dalam konteks politik nasional, narasi pembangunan sering disampaikan dengan nuansa optimisme yang berlebihan. Pemerintah sering kali merespons kritik dengan retorika kebahagiaan.

Misalnya, ketika ada keluhan mengenai kenaikan harga barang pokok atau kebijakan yang tidak populer, tanggapan yang muncul sering kali berupa seruan untuk menjaga optimisme nasional atau menghindari pesimisme yang dianggap menghambat kemajuan ekonomi.

Strategi komunikasi politik ini secara efektif memposisikan kritik sebagai tindakan yang tidak patriotik. Para kritikus sering kali dicap sebagai kelompok yang pesimis, penghambat kebahagiaan nasional, atau tidak menghargai usaha pemerintah. Dalam situasi ini, politik kehilangan kemampuannya sebagai arena perdebatan kritis.

Diskusi publik yang seharusnya membahas masalah ketimpangan atau kegagalan institusi sering terjebak dalam polarisasi antara pendukung narasi kebahagiaan pemerintah dan mereka yang dianggap sebagai ancaman terhadap harmoni sosial.

Lebih jauh, pembangunan infrastruktur sering kali diangkat sebagai simbol kebahagiaan kolektif yang harus diterima tanpa pertanyaan. Ruang publik yang estetis dan narasi mengenai kemajuan fisik sering dijadikan pelindung untuk mengabaikan isu-isu struktural seperti korupsi, kerusakan lingkungan, dan pelanggaran hak asasi manusia.

Warga diminta untuk merasa puas dengan keadaan yang ada dan tidak memperhatikan penderitaan kelompok marginal. Pendekatan ini menciptakan semacam konsensus palsu, di mana kesakitan kelompok terpinggirkan dianggap sebagai pengorbanan yang wajar demi kebahagiaan mayoritas.

Depolitisasi merupakan konsekuensi nyata dari masyarakat paliatif di Indonesia. Ketika kewajiban untuk selalu bahagia menjadi norma, maka setiap wacana politik yang membawa beban emosional atau kesedihan sosial cenderung dihindari. Ruang diskusi publik menjadi sempit dan kehilangan keberanian untuk menghadapi realitas yang pahit.

BACA JUGA : Paradoks Kenyamanan

Ini berdampak pada melemahnya kontrol sosial terhadap kekuasaan. Kekuasaan yang bersembunyi di balik citra kebahagiaan menjadi sulit untuk dipertanyakan karena tidak terlihat represif secara fisik; ia tampak ramah, akomodatif, dan menjanjikan kesejahteraan.

Kondisi ini menciptakan jarak antara harapan warga dengan realitas kebijakan yang ada. Sebagai contoh, narasi tentang kebahagiaan di sektor ekonomi digital sering kali menyembunyikan kerentanan para pekerja lepas (gig workers) yang tidak memiliki jaminan sosial.

Mereka terpaksa terus menunjukkan kinerja yang baik demi algoritma, sementara rasa sakit akibat kelelahan kronis atau ketidakpastian masa depan diabaikan sebagai risiko individu. Politik, yang seharusnya menjadi arena untuk memperjuangkan keadilan bagi mereka yang sakit atau menderita, malah berubah menjadi panggung untuk merayakan pencapaian administratif yang palsu.

Untuk melawan jebakan masyarakat paliatif, Indonesia perlu melakukan rekontekstualisasi rasa sakit. Rasa sakit dalam politik seharusnya tidak dihilangkan, melainkan menjadi kompas moral yang harus diperhatikan. Jika masyarakat yang merasakan sakit karena ketidakadilan, itu menandakan bahwa sistem politik sedang gagal.

Mengakui adanya rasa sakit bukan berarti bersikap pesimis atau menolak kemajuan, tetapi merupakan prasyarat untuk melakukan perbaikan yang tulus (jujur) dan mendasar. 

Politik yang sejati harus mampu menampung penderitaan dan kemarahan publik sebagai sarana refleksi. Tanpa keberanian untuk menghadapi rasa sakit, politik akan terjebak dalam siklus kebohongan.

Para pelaku politik dan masyarakat sipil perlu berani menantang narasi kebahagiaan yang dipaksakan dengan mengangkat isu-isu yang tidak nyaman, seperti dampak lingkungan dari kebijakan ekstraktif atau nasib kelompok minoritas yang terpinggirkan. Tindakan ini bukanlah merusak keharmonisan, tetapi justru menyelamatkan integritas sosial bangsa.

Tantangannya adalah menciptakan ruang publik yang tidak lagi bersifat paliatif. Ruang publik harus menjadi arena di mana perbedaan pendapat dan ketidaknyamanan dapat diungkapkan tanpa takut dianggap mengkhianati kebahagiaan nasional. Pendidikan politik juga perlu diarahkan untuk membantu warga mengembangkan ketahanan terhadap narasi manis yang menyesatkan serta kemampuan untuk melihat kekurangan di balik penampilan yang sempurna.

BACA JUGA : Soeharto Runtuh, Namun Tak Hilang

Pada akhirnya, kebahagiaan sejati tidak dapat tercipta dari paksaan untuk merasa baik-baik saja di tengah kondisi yang merusak. Kebahagiaan kolektif yang bermartabat hanya dapat dicapai melalui proses demokrasi yang berani menghadapi rasa sakit dan menggunakannya sebagai pendorong untuk menciptakan keadilan yang sesungguhnya.

Dengan cara ini, masyarakat Indonesia dapat keluar dari perangkap masyarakat paliatif dan menuju kehidupan politik yang lebih jujur, kritis, dan manusiawi.

 

 

*Penulis merupakan lulusan S2 Fakultas Filsafat, Universitas Katolik Parahyangan, Bandung. Pekerja swasta. Penulis lepas di media sosial termasuk Harian Kompas. 


Kami menerima tulisan opini/esai Anda. Rubrik ini projectarek.id dedikasikan untuk siapa pun yang memiliki minat dan kemauan dalam berpendapat dan berekspresi melalui tulisan. Kami ingin menjadikan rubrik ini sebagai rumah digital untuk bertumbuh bersama merawat demokrasi. Untuk selengkapnya, baca PANDUAN kami.