SETIAP Agustus, kita kembali mengulangi sebuah peristiwa yang telah menjadi ritual kebangsaan. Bendera dikibarkan, pidato diperdengarkan, lagu perjuangan dinyanyikan, sementara ingatan tentang kemerdekaan dipanggil kembali melalui berbagai seremoni. Namun, di balik seluruh perayaan itu, ada satu pertanyaan yang hampir tidak pernah diajukan.
Apakah kita masih memiliki kemampuan untuk mengimajinasikan kemerdekaan, atau justru sedang merayakan sesuatu yang maknanya perlahan menghilang dari kesadaran kita sendiri?
Pertanyaan itu penting karena kemerdekaan tidak pernah lahir dari penerimaan terhadap kenyataan. Sebelum menjadi sebuah peristiwa politik, kemerdekaan adalah keberanian membayangkan kenyataan yang berbeda dari apa yang sedang dihadapi.
Republik ini tidak lahir karena para pendirinya menerima kolonialisme sebagai nasib. Mereka mampu melihat kemungkinan ketika seluruh keadaan tampak menutup jalan. Dengan kata lain, kemerdekaan lebih dahulu hadir sebagai kerja imajinasi sebelum menjadi kenyataan sejarah.
Persoalannya, imajinasi adalah sesuatu yang dapat dilumpuhkan. Ia tidak selalu dihancurkan melalui kekerasan atau larangan. Ia lebih sering habis karena manusia terlalu lama hidup dalam kenyataan yang terus mengajarkan bahwa tidak ada kemungkinan lain selain menerima apa yang sudah ada.
Ketika keadaan semacam itu berlangsung terus menerus, seseorang perlahan kehilangan kemampuan untuk membedakan mana kenyataan yang harus diterima dan mana yang justru harus ditolak. Pada titik itulah kemerdekaan mulai meninggalkan masyarakat, bukan karena wilayahnya direbut, melainkan karena kesadarannya menyempit.
Indonesia hari ini memperlihatkan gejala yang mengarah ke sana. Pergantian kepemimpinan berlangsung secara berkala, kabinet terus berganti, program pembangunan silih berganti diumumkan, tetapi arah kegelisahan masyarakat nyaris tidak bergerak.
BACA JUGA : Buzzer, Influencer dan Matinya Nalar Kritis
Harga kebutuhan hidup terus meningkat, ruang hidup masyarakat semakin menyempit oleh berbagai proyek pembangunan, hukum berulang kali dipertontonkan sebagai sesuatu yang dapat disesuaikan dengan kepentingan politik, sementara berbagai kebijakan yang menyentuh kepentingan publik kerap lahir tanpa percakapan yang memadai dengan mereka yang akan menanggung akibatnya.
Dalam situasi seperti itu, masyarakat dipaksa menyaksikan paradoks yang semakin sulit dijelaskan. Semakin sering kata kemajuan diucapkan, semakin banyak orang merasa bahwa masa depan mereka semakin jauh dari jangkauan.
Yang lebih mengkhawatirkan bukanlah kenyataan tersebut, melainkan cara masyarakat mulai membiasakan diri dengannya. Kita tidak lagi terkejut ketika hukum tampak kehilangan keberanian di hadapan kekuasaan. Konflik kepentingan tidak lagi memancing kemarahan sebagaimana mestinya. Politik kekerabatan perlahan dianggap sebagai bagian dari kewajaran demokrasi.
Keputusan yang merugikan masyarakat diterima sebagai konsekuensi yang tidak dapat dihindari. Bahkan kritik terhadap kekuasaan semakin sering diposisikan sebagai ancaman terhadap stabilitas, seolah ketertiban lebih penting daripada keadilan.
Di sinilah gagasan Antonio Gramsci menemukan relevansinya. Hegemoni bukan sekadar kemampuan penguasa memaksa rakyat mematuhi kehendaknya, melainkan keberhasilan menjadikan cara berpikir penguasa sebagai cara berpikir masyarakat itu sendiri.
Kekuasaan mencapai bentuk paling efektif ketika masyarakat berhenti mempertanyakan dasar moral dari keputusan politik, lalu mulai menerima kepentingan elite sebagai sesuatu yang identik dengan kepentingan bersama. Pada titik itu, dominasi tidak lagi memerlukan tekanan yang terus menerus karena masyarakat telah melakukan pekerjaan kekuasaan atas dirinya sendiri.
Ada hal lain yang bekerja lebih halus daripada hegemoni, yaitu cara sebuah bangsa mengingat dirinya sendiri. Setiap Agustus, kemerdekaan lebih sering dihadirkan sebagai sesuatu yang selesai diperebutkan pada masa lalu daripada sebagai sesuatu yang terus dipertaruhkan pada masa kini. Kita diajak mengenang keberanian para pendiri republik, tetapi jarang diajak mewarisi keberanian mereka untuk meragukan keadaan yang dianggap telah mapan.
Sejarah perlahan berubah menjadi ruang penghormatan, bukan ruang dialog. Padahal, sejarah memperoleh maknanya justru ketika ia terus mengganggu kenyamanan masa kini. Bangsa yang hanya merawat ingatan sebagai upacara, akan kehilangan daya kritis yang dahulu melahirkan republik. Kemerdekaan akhirnya berhenti menjadi pekerjaan politik dan berubah menjadi peringatan tahunan yang khusyuk, tetapi tidak lagi mengandung keberanian untuk membayangkan kemungkinan yang lain.
Namun, kenyataan yang kita hadapi tampaknya telah bergerak lebih jauh. Hegemoni tidak lagi hanya bekerja melalui institusi pendidikan, media, atau pidato politik. Ia bekerja melalui kebiasaan. Manusia terbiasa melihat penyimpangan sehingga penyimpangan kehilangan daya kejutnya.
Manusia terbiasa hidup bersama ketidak adilan sehingga ketidakadilan tidak lagi dikenali sebagai sesuatu yang harus dilawan. Yang berubah bukan hanya wajah negara, melainkan ambang kepekaan masyarakat terhadap apa yang sedang terjadi di hadapan mereka.
Ketika batas kepekaan itu bergeser, kekuasaan tidak lagi membutuhkan pembenaran yang rumit. Ia hanya membutuhkan waktu agar segala sesuatu tampak normal.
Keadaan seperti ini melahirkan bentuk penyesuaian yang jauh lebih berbahaya daripada kepatuhan. Masyarakat mulai menyesuaikan ukuran harapannya dengan kenyataan yang semakin sempit. Harapan tidak lagi diarahkan pada kehidupan yang lebih adil, melainkan sekadar agar keadaan esok hari tidak lebih buruk daripada hari ini. Pendidikan tidak lagi dibayangkan sebagai jalan pembebasan, melainkan sekadar alat memperoleh pekerjaan.
BACA JUGA : Ketika Kawanmu Ditangkap
Politik tidak lagi dipahami sebagai ruang bersama untuk menentukan arah kehidupan, melainkan sekadar perebutan kekuasaan yang hasilnya dianggap tidak akan mengubah apa pun. Ketika harapan diperkecil sampai sebatas kemampuan bertahan hidup, sesungguhnya yang menyusut bukan hanya cita cita, melainkan juga martabat sebagai warga negara.
Di sinilah pemikiran Hannah Arendt menjadi penting. Politik bukan pertama-tama persoalan tentang siapa yang memerintah, melainkan kemampuan manusia untuk memulai sesuatu yang baru bersama orang lain. Politik lahir ketika warga percaya bahwa tindakan mereka memiliki arti bagi kehidupan bersama. Sebaliknya, ketika masyarakat tidak lagi percaya bahwa tindakan mereka mampu mengubah keadaan, hubungan antara warga dan republik perlahan terputus.
Pemerintahan tetap berjalan, pemilu tetap dilaksanakan, lembaga negara tetap berfungsi, tetapi kehidupan politik kehilangan rohnya. Yang tersisa hanyalah administrasi kekuasaan yang mengatur masyarakat tanpa benar-benar melibatkan mereka sebagai subjek. Barangkali karena itu, persoalan yang sedang kita hadapi tidak hanya menyangkut kualitas demokrasi atau arah pembangunan, melainkan juga perubahan diam-diam dalam cara kita memahami diri sebagai warga negara.
Seorang warga negara tidak semata tinggal di dalam wilayah yang bernama Indonesia. Ia merasa memiliki republik sebagai ruang bersama yang terbuka untuk dipersoalkan, diperbaiki, bahkan diperdebatkan. Ketika keyakinan itu memudar, hubungan antara masyarakat dan negara berubah menjadi hubungan administratif. Warga hadir sebagai angka dalam sensus, suara dalam pemilu, data dalam berbagai kebijakan, tetapi semakin jarang diperlakukan sebagai subjek yang ikut menentukan arah kehidupan bersama.
Negara tetap berjalan dengan seluruh perangkat hukumnya, sementara republik perlahan kehilangan percakapan yang membuatnya tetap hidup. Yang tersisa bukan lagi kehidupan politik, melainkan tata kelola yang sibuk mengatur masyarakat tanpa benar-benar mendengarkan mereka. Dalam keadaan seperti itu, manusia memang masih tinggal di sebuah negara yang merdeka, tetapi ia tidak lagi mengalami kemerdekaan sebagai pengalaman batin maupun pengalaman politik.
Mungkin inilah bentuk krisis yang paling sunyi dalam kehidupan berbangsa. Kita sering menganggap ancaman terhadap republik hanya datang dari korupsi, penyalahgunaan wewenang, pelemahan hukum, atau menguatnya oligarki. Semua itu memang persoalan serius. Namun, ada sesuatu yang lebih mendasar daripada seluruh gejala tersebut, yaitu hilangnya kemampuan masyarakat untuk membayangkan bahwa kehidupan bersama masih dapat diubah menjadi lebih adil.
Ketika kemampuan itu hilang, kekuasaan tidak lagi menghadapi warga yang kritis, melainkan individu yang sekadar berusaha bertahan dalam keadaan apa pun. Ironisnya, republik ini justru lahir dari keberanian untuk melakukan hal yang hari ini dianggap tidak realistis, yaitu membayangkan dunia yang berbeda dari kenyataan. Kemerdekaan tidak pernah dimulai dari sikap menerima.
Ia selalu dimulai dari penolakan terhadap keadaan yang dianggap tidak bermartabat bagi manusia. Karena itu, ketika masyarakat mulai diyakinkan bahwa menerima keadaan adalah bentuk kedewasaan, sementara membayangkan perubahan dianggap sebagai sikap naif, sesungguhnya yang sedang dipersempit bukan ruang politik, melainkan ruang imajinasi.
BACA JUGA : Paradoks Kenyamanan
Di titik itulah kemerdekaan kehilangan maknanya yang paling mendasar. Sebab kemerdekaan tidak hidup di dalam bendera, upacara, ataupun pidato kenegaraan. Kemerdekaan hidup di dalam kesadaran manusia yang percaya bahwa kenyataan tidak pernah selesai, bahwa kekuasaan selalu dapat dipersoalkan, dan bahwa masa depan tidak ditentukan oleh mereka yang sedang memegang jabatan.
Selama kemampuan itu masih dimiliki masyarakat, republik akan selalu memiliki kemungkinan untuk memperbarui dirinya. Namun, ketika masyarakat tidak lagi mampu mengimajinasikan kemerdekaan, sesungguhnya mereka telah berjalan jauh dari kata merdeka. Bukan karena rantai kembali dipasang pada tubuh mereka, melainkan karena cara berpikir mereka telah menerima belenggu sebagai kenyataan yang tidak perlu lagi dipertanyakan.
Kami menerima tulisan opini/esai Anda. Rubrik ini projectarek.id dedikasikan untuk siapa pun yang memiliki minat dan kemauan dalam berpendapat dan berekspresi melalui tulisan. Kami ingin menjadikan rubrik ini sebagai rumah digital untuk bertumbuh bersama merawat demokrasi. Untuk selengkapnya, baca PANDUAN kami.
