Skip to main content
Air Mataku di Keningmu
Arek Bercerita
Air Mataku di Keningmu
“Awas ...” “Lari .... Lari ..... Lari ....” “Ibu ... Ayah ...” Aku terbangun karena riuhnya suara teriakan warga kampung yang memekakkan telinga dan seketika kulihat ibu lari menuju kamarku. “Adam! Ayo cepat keluar rumah,” teriak ibuku dengan tergopoh sembari menarik lenganku agar segera beranjak dari kasur.

KETIKA di luar rumah aku melihat air bercampur lumpur mulai menggenangi jalanan, diiringi hujan yang sangat lebat.Terlihat pula kayu gelondongan terseret arus air lumpur. Aku baru menyadari, sedang terjadi longsor dan banjir bandang di kampungku.

“Ayah sama Tasya di mana?” Sembari berlari aku menanyakan keberadaan ayah dan adik perempuanku kepada ibu. Ibu tak terlalu memperhatikan pertanyaanku dan terus berlari mencari tempat aman.

Aku dan ibu akhirnya sampai di rumah Pak Suryo, tetanggaku yang memiliki rumah dua lantai. Kami menyelamatkan diri di lantai dua rumah itu. Banjir sudah hampir memenuhi lantai satu. Aku melihat ada enam orang yang mengungsi di rumah ini. Ada ibu, aku, Pak Suryo, Bu Surti—istri Pak Suryo, Dani dan adiknya Dinda.

Aku mengulang pertanyaanku pada ibu—ayah sempat berpamitan denganku saat ingin menjemput Tasya dari kerja kelompok. Ibu mengatakan “Ibu enggak tahu Dam. Semoga mereka selamat,” jawab ibuku terbata-bata dan seketika memelukku.

Tubuhnya bergetar hebat. Dingin malam itu menusuk tulang. Apalagi pakaian kami basah. Terlihat matanya yang indah kini penuh air mata. Aku membalas pelukan Ibu dan mencium keningnya.

***

Tiga hari sudah kami terjebak banjir lumpur yang dihiasi gelondongan kayu. Selama itu pula listrik padam. Setiap malam kami hanya melihat kegelapan total. Kami makan dan minum dari persediaan yang ada di rumah Pak Suryo. Namun, aku melihat persediaan minum tidak akan cukup untuk satu hari ke depan.

Aku bingung harus berbuat apa, yang aku bisa hanyalah berdoa meminta keselamatan kepada Tuhan. Ibu selalu saja menangis dan aku hanya bisa memeluknya. Malam itu aku menatap langit indah penuh bintang, seolah menghiburku yang penuh kesedihan.

Tiba-tiba awan menutupi seluruh bintang. Hujan lebat kembali menghujam. Sempat aku berpikir untuk menghanyutkan diri saja bersama gelondongan kayu yang terbawa arus. Tapi bagaimana dengan ibu? Apakah ibu bisa bertahan tanpa diriku? ayah dan Tasya? Kuharap mereka baik-baik saja.

Hari berlalu dan kami mulai mengambil air banjir menggunakan ember yang diikat dengan tali rafia. Tak ada pilihan, kami meminum air banjir yang keruh agar tetap terhidrasi. Persediaan makanan masih ada, meskipun sedikit. Kami selalu membaginya sedikit-sedikit, seperti satu bungkus roti dibagi untuk tiga orang.

BACA JUGA : Tiga Pasak Kota

Setiap malam yang sangat gelap itu aku merenungi di mana ayah dan adikku. Ibu yang tak kuasa menahan rindu dan takut kehilangan selalu menangis setiap hari. Dani menenangkan adiknya yang menangis karena kehilangan jejak kedua orang tuanya. Bu Surti tampak trauma dan selalu ingin di samping Pak Suryo. Semuanya terpukul bencana hebat ini.

Aku berusaha menghibur si kecil Dinda dengan memberinya tebak-tebakan agar pikirannya teralihkan. Namun tetap saja Dinda tampak tidak terhibur dan trauma. Tak lama, Pak Suryo datang mendekat. Aku mencoba berbincang dengannya.

”Bagaimana bila kita terjebak sampai tak bisa bertahan lagi, Pak?” kataku dengan menatap mata Pak Suryo. “Kita bisa bertahan! Berdoalah agar semua terselamatkan,” jawabnya dengan suara beratnya sembari menepuk pundakku.

***

“Tolong ... Tolong ...”

“Abang ... Tolong ...”

Aku terbangun karena mimpiku yang sungguh mengerikkan. Samar-samar suara ayahku dan Tasya yang berteriak meminta tolong dan menyebut namaku. Kuharap suara itu bukan suara mereka.

Kulihat ibu sepertinya kedinginan karena hawa malam itu sungguh menusuk tulang.

Ditambah hujan lebat yang tak menunjukkan keinginannya untuk berhenti. Aku mengambil kantong plastik merah di atas lemari, merobeknya agar menjadi lebar untuk menyelimuti kaki Ibu.

Kembali aku menatap ke arah luar. “Wahai alam, apakah kau bisa melihat betapa kami merasa tersiksa? Siapakah yang membuatmu murka hingga meleburkan ketenangan kami?” ucapku dalam hati.

“Tuhan, berikan kami keselamatan dan kumohon hentikan hujan yang sangat lebat ini”.

***

Siang itu aku melihat dari balkon, tim evakuasi menyisir kampung yang terendam banjir menggunakan perahu karet. Aku melambaikan tangan dan berteriak sekencang yang aku bisa. Mereka melihat ke arah rumah kami dan mulai menghampiri. Ternyata perahu karet itu penuh dengan korban bencana seperti kami. Hanya tersisa sedikit ruang dan tak cukup untuk kami berenam.

Pak Suryo menyarankan agar aku dan ibuku untuk diselamatkan terlebih dahulu, namun aku menolak dan meminta Dani dan Dinda menaiki perahu karet itu dulu. Setelah Dani dan Dinda menaiki perahu itu, tim evakuasi memberi informasi, sore nanti akan ada tim evakuasi lain datang untuk menjemput kami.

Sinar senja pun tiba. Kami menanti di balkon dan bersiap. Kami telah diberi sedikit harapan dan merasa lebih tenang dengan kabar akan datang tim evakuasi. Namun, setelah lama kami menunggu, tak ada tanda-tanda tim evakuasi yang datang menjemput kami.

Dan, sial bagi kami, malam itu hujan kembali mengguyur.Aku pun kembali merasa putus asa. Kembali aku teringat mimpiku, apakah ayah dan Tasya telah ditelan arus banjir yang sangat deras itu? Sungguh aku tak ingin hal itu terjadi.

Aku melihat ibu yang tidur meringkuk. Betapa hancurnya hati ibu. Aku mendekat dan tidur di sampingnya. Aku peluk tubuh ibuku, setidaknya untuk mengurangi rasa dinginnya.

Pagi datang. Hujan semalam membuat permukaan banjir kembali naik. Persediaan air minum kami habis. Tak ada pilihan lain, aku harus tetap minum, termasuk meminum air hujan.

Satu bungkus roti kini bisa dibagi untuk dua orang, aku dan ibu berbagi roti coklat sembari menanti tim evakuasi di atas balkon. Pak Suryo dan Bu Surti menyiapkan kain dan tongkat jemuran untuk dikibarkan, sebagai tanda agar terlihat para tim evakuasi.

Kami bertanya-tanya apakah mereka akan datang atau tidak. Kami sudah letih menanti ketidakpastian ini. Harapan kami masih tinggi untuk selamat, karena mendapat kabar akan ada tim evakuasi menjemput. Namun hingga sore, pertolongan itu tak kunjung tiba lagi.

***

Kini satu minggu sudah kami menunggu. Persediaan makanan benar-benar habis, bahkan sejaktiga hari lalu. Kami hanya bertahan dengan meminum air keruh ini. Ibu sudah mulai lemas karena tidak makan selama tiga hari ini dan hanya minum air banjir. Aku kembali merasa putus asa.

“Adam, jangan pernah kamu sesekali merasa putus asa” tiba-tiba dari belakangku Pak Suryo menepuk pundakku.

“Siapa yang akan menguatkan ibumu bila kamu sendiri tidak cukup kuat? Kamu harus percaya dengan keajaiban di kondisi seperti ini”.Aku hanya bisa menatapnya dengan tatapan kosong. Pak Suryo memelukku layaknya anak sendiri.

BACA JUGA : Ruang

Ibu masih tertidur di sudut ruangan. Langit kini mulai cerah. Bu Surti yang sudah sangat lelah, menyenderkan kepalanya di pundak suaminya itu. Kembali aku melihat ke luar balkon dan menanti keajaiban.

Kini langit memberiku secercah harapan. Mungkin saja akan ada keajaiban yang datang. Ibu sudah terbangun dari tidurnya. Pak Suryo bersiap denganku di atas balkon. Tampak Ibu dan Bu Surti berbincang di belakang kami.

Sore hari akhirnya perahu karet yang sangat kami nantikan datang. Aku kibarkan kain yang dipasang Pak Suryo di sebilah bambu. Sekuat-kuatnya aku kibaskan, sekencang-kencangnya aku berteriak. Mereka pun menoleh dan melihat ke arah kami. Kami bersyukur.Tapi rasa syukur itu mengantar pikiranku pada nasib ayah dan Tasya.

“Bagaimana ayahku, adikku,” tanyaku dalam hati.

Di perjalanan menuju pos pengungsian aku melihat di sela-sela kayu yang mengambang, telihat sesosok tubuh yang memucat. Bau busuk berbaur menyembur di udara. Sungguh penuh pilu perjalanan ini.

***

Sesampainya di pos pengungsian,aku dan ibu berpisah dengan Pak Suryo dan Bu Surti. “Terima kasih, Pak” ucapku padanya. Ia tersenyum dan membalas dengan anggukan.

Aku berlari menuju anggota tim evakuasi dan menanyakan apakah mereka telah menemukan ayah dan adikku. Mereka hanya bilang, tunggu dan sabar. Tapi bagaimana aku bisa sabar dengan ketidakpastian ini?

Ibuku yang tak sabar, menarik-narik tangan seorang relawan. Dengan tangisan yang deras ia mengatakan, “Di mana suami dan anak gadisku?”

Sungguh aku tak kuasa melihat ibuku. Aku tak ada daya untuk kembali menenangkannya. Ku biarkan ibu melepas rasa sedihnya. 

“Aji Cholil Anwar, dan adikku Tasya Elia Syafira,” jawabku setelah ditanya nama ayah dan adikku. Mereka mencatatnya di berkas korban yang belum ditemukan. Ibu telah kuantar ke tenda buatan warga yang dibuat dari alat seadanya, seperti terpal dan besi jemuran.

Ada banyak korban di penampungan darurat ini. Namun, aku melihat tim evakuasi yang jumlahnya hanya segelintir. Mungkin ini penyebab lambatnya penyelamatan kami berempat. Ada juga korban yang ikut serta menjadi relawan.

Suara radio di pengungsian lirih kudegar. Samar terdengar suara pejabat yang menyebutkan situasi kondusif. Ia meminta masyarakat, khususnya kami yang mengungsi untuk tenang.

Dalam hati bergumam, apa alasanku untuk bisa tenang? Ayah dan adikku tak tahu di mana rimbanya. Ibuku sakit, batuk darah pula dan harus tinggal di tenda pengungsian. 

Jumlah orang yang mengawal pejabat itu ke sana dan kemari saja lebih banyak dari tim evakuasi dan pencari korban. Jika aku mengingat apa sebab banjir bandang ini terjadi, aku pasti lebih sakit hati lagi. 

***

Satu minggu sudah aku dan ibu berada di pengungsian. Aku belum mendengar kabar nasib ayah dan adikku. Aku mulai mengkhawatirkan kondisi ibu. Ia mulai batuk-batuk. Mungkin karena meminum air banjir yang dicampur serbuk teh agar wangi.

“Pak, kapan kita mendapat bantuan? Setidaknya air bersih,” ucapku kepada seorang relawan. “Sabar ya, akses jalan terputus karena jembatan hancur, logistik bantuan belum bisa sampai sini,” balasnya.

Mengapa bantuan begitu lambat? Bila tidak bisa jalur darat, mengapa tidak lewat udara saja? Apakah mereka tahu bahwa kami terjebak selama ini? Apakah mereka peduli dengan keadaan kami?

BACA JUGA : Roro Oyi

“Sabar. Berdoa saja agar bantuan cepat datang” suara itu terdengar dari belakang. Pak Suryo rupanya. Ia menepuk pelan pundakku. “Iya pak, semoga saja cepat datang, biar Ibu tidak batuk-batuk lagi,” jawabku murung. Aku lantas mengajaknya mengunjungi tendaku. Pak Suryo mengiyakannya.

Saat kembali ke tenda, aku melihat ibu batuk parah. Kali ini, aku melihat dahaknya bercampur darah. “PAKKKK! TOLONG...” tim medis langsung mendatangi ibu.

Aku mendengar batuk ibu yang sungguh menyiksa. Tak pernah aku melihatnya begitu. Air mataku sudah tak bisa terbendung lagi. Pak Suryo merangkul pundakku dan memintaku berdoa. Tak lama batuk ibu mereda. Aku mulai tenang.

Tapi apalah arti ketenangan itu ketika aku teringat, hidup kami tak menentu. Ibu sakit di pengungsian. Sakit fisik dan mentalnya. Entah sampai kapan hidup sebagai pengungsi di negeri sendiri. Sementara, ayah dan adikku tak jelas nasibnya. 

 

 

Gading Firdaus Ola

 


Kami menerima tulisan cerpenmu di rubrik AREK BERCERITA. Rubrik ini projectarek.id dedikasikan untuk siapa pun yang memiliki minat di dunia sastra khususnya cerpen. Kami ingin menjadikan rubrik ini sebagai rumah digital untuk bertumbuh bersama menghidupi dunia cerpen. Kirimkan karyamu dengan membaca PANDUAN kami.