Skip to main content
ilustrasi: Darius Tri/Project Arek
Arek Bercerita
Blok F
Tak ada orang yang tahu di mana Ed berada. Televisi tak pernah memajang rupanya sebagai orang hilang. Radio tidak memutarkan lagu untuk nasib malangnya. Berita hanya mengabarkan kisah cinta yang remeh. Jangan-jangan semua orang sudah sepantasnya untuk melupakan dia.

“NAK ED, LEKAS MANDI,” panggil Cak Jar ramah. Sudah berulang kali ia membangunkannya, namun Ed tak bergeming. “Sebentar lagi jam 9. Mau jatah makanmu bakal dimakan sama yang lainnya?”

Kepala Ed hanya bergoyang pelan, menolak ditakut-takuti.

Suara keran menguar dari rongga kecil. Air jatuh pada lantai dan kian deras. Seseorang seolah sedang menguras habis bak mandi.

“Setelah Dul, giliranmu. Sudah berapa lama kau tidak mandi? Jangan buat KM marah. Dia akhir-akhir ini gampang uring-uringan,” tambah Cak Jar.

Ed memaksa diri untuk bangun. Semenjak subuh ia tertidur dan kemudian terduduk lesu dalam kondisi masih setengah tersadar. “Cak, saya pinjam baju lagi, ada?”

“Kaosku di lemari tinggal satu. Sebentar lagi akan saya pakai. Baju yang lainnya masih mamel.”

Cak Jar duduk di sebelah Ed. Ia melihat pemuda itu penuh simpati.

“Kalau begitu saya tetap pakai baju ini saja, Cak.”

Ed lalu membalik bantal. Potongan kalender tahun lalu sengaja ia sembunyikan di sana. Garis-garis hitungan tertulis di atasnya. Ia pandangi warna kusamnya dalam lanturan.

“Kalau kau begitu terus, di sini akan terasa lebih lama,” pangkas Cak Jar meneduhkan sorot mata Ed.

Ed hanya mengulang tanda yang sama. Ingatan mudanya tak pernah bersabar. Ia tak tahu telah berapa lama raganya sudah terkurung. Lantas ia menebali tanda tersebut demikian lurus sehingga membuat Cak Jar terpana akan guratannya.

BACA JUGA : Tongkat Salat Jumat

“Hari ini waktu besuk. Kau sudah diberi tahu, kan?” tanya Cak Jar. “Pakailah sabun punyaku dulu. Kalau sudah ada besukan dari orang tuamu, bilang kita di sini butuh odol, sabun mandi dan detergen.”

Wajah Ed layu walau angin kemarau sudah menyentuh pipinya. Gumam Cak Jar, anak muda ini sedang sakit sawan atau bodoh. Sifat kebapak-bapakan juga tak dapat merubahnya jadi lebih periang. Didoakan juga paling percuma karena Cak Jar sendiri lupa bagaimana cara yang benar menyembah Allah.

Senin itu adalah hari besuk. Mulai pukul 10 pagi. Waktu temu keluarga dua jam, tetapi Ed tak juga beranjak dari ranjangnya saat bel sudah berkumandang.

Cak Jar berdiri membiarkan Ed dilumat pikirannnya. Ia menyemprotkan parfum aroma melati ke baju, celana, dan bagian bawah telinganya. Di sampingnya, Dul menyisir rambutnya yang basah. Sehelai handuk masih melekat di tubuh Dul. Matanya melirik kepada Ed. “Kalau kamu tetap tidak mau mandi, terserah. Tapi setelah waktu besukan, pindahlah tidur dekat WC.”

“Ikut saja, Nak Ed, siapa tahu hari ini ada keluargamu datang,” potong Cak Jar meredam suasana.

Seorang sipir membuka gembok kamar. Ia menghitung ulang jumlah tahanan. Sorot tajam matanya berhenti lama pada piring Ed, orang paling baru di sana.

Ed tidak menghabiskan sarapannya. Ia hanya memakan nasi putih. Kesempatan itu digunakan oleh Cak Jar dan Dul untuk membungkus lauk ikan yang masih utuh sebagai camilan bermain kartu nanti malam.

Suasana Lapas terbilang ramai di hari Senin. Ratusan tahanan beserta keluarganya berduyun-duyun untuk saling berjumpa. Pengumuman terus bergema dari pengeras suara. Isinya menyatakan bahwa setiap orang diwajibkan berkumpul di bangsal yang sama di lantai dua. Tanpa kecuali.

BACA JUGA : Belitan Hayat

Ed berjalan di sebelah Cak jar sementara Dul sendiri sudah menghilang entah ke mana. Biasanya semua akan terkuak saat malam hari tentang apa yang dilakukan oleh Dul selama waktu besukan. Kisah yang keluar dari mulut Dul selalu berbeda-beda juga ditunggu-tunggu oleh tahanan lain.

Bangsal di lantai dua penuh sesak. Anak-anak bermain dengan gembira seakan tempat itu adalah taman kanak-kanak. Pelukan rindu dan tangis penyesalan terpantul dari dinding bangsal mengiringi tawa polos anak-anak itu.

Tetiba seorang sipir menghentikan langkah Ed di tangga.

“Pak?” sela Cak jar—“anak itu masih keluarga saya.”

Sipir itu mengusir Cak jar tanpa menanggapi kebohongannya. Ed tertahan di depan pintu. Sipir itu tampak bicara tanpa putus kepada Ed. Apa yang ia katakan terlampau pelan sehingga mudah sirna terbawa angin.

Mendekati akhir jam besuk, Ed diperbolehkan masuk ke bangsal tetapi dengan satu syarat, yakni dilarang berbicara dan harus membuka matanya lebar-lebar.

“Diam dan amati saja.” Begitu perintah sipir.

Mulanya Ed hanya berdiri dekat jendela. Ia tak percaya apa yang ada di hadapannya sekarang. Segala hukum yang membatasi manusia di muka bumi seakan tak berlaku dalam ruangan itu.

Ed mengelap keringat saat menyaksikan sepasang suami dan istri melakukan cumbu dahsyat di dekat anak-anaknya. Ia pun bertambah ngilu melihat satu keluarga sedang melakukan doa bersama tak jauh dari suami dan istri itu.

Di panggung utama seorang tahanan kaya meniup kue ulang tahunnya yang ke dua puluh satu tahun. Bermacam jenis bunga dan balon beterbangan. Para undangan bertepuk tangan. Termasuk seluruh orang di ruangan itu tampak turut merayakan. Cak Jar yang tahu keberadaan Ed segera melambaikan tangan. Ed melangkah, membawa serta tubuhnya yang penuh lebam.

“Sisakan ayam dan nasinya, Bu,” minta Cak Jar kepada istrinya.

Istri Cak Jar memisahkan sebiji paha ayam tanpa mempertanyakan sebuah alasan pada suaminya itu. Semua sisa nasi kuning juga dimasukan di dalamnya. Ed duduk bersila di hadapan mereka sembari terkadang ia menutupi bekas luka di ubun-ubunya.

Ed membuat tanda salib sebelum mengunyah paha ayam. Sejak itu Cak Jar tahu bahwa Ed ternyata bukanlah seorang muslim. Istrinya lalu mengurungkan niat untuk mengucap doa bersama sesaat setelah waktu besuk usai. Tetapi itu tak merubah keakraban di antara mereka. Ed diperlakukan bagai seorang kerabat dekat oleh Cak Jar meski itu harus lebih dahulu dibumbui dengan tatapan curiga dari sang istri. Dikarenakan terakhir kali Cak Jar menolong seseorang yang baru ia kenal, justru suaminya itu malah dibui.

Orang-orang yang kenal dekat merasa tertipu oleh sifat normal yang digiatkan oleh Cak Jar selama hidupnya. Ia sekarang dikucilkan dalam kurungan selama enam tahun akibat tuduhan membantu sindikat perdagangan satwa liar. Sekarang hanya istrinya yang masih tetap setia. Sementara anak-anaknya yang sudah dewasa terlalu malu untuk mengamini musibah yang menimpa ayah mereka.

“Hati-hati dengan kebaikanmu!” Itulah kata-kata yang selalu istri Cak Jar bisikan kepada suaminya sebelum ia berpamitan keluar Lapas.

Semua bekal habis tanpa sisa. Seperti sedia kala, Cak Jar akan menawarkan rokok kepada seseorang yang menurutnya adalah orang baik-baik seperti Ed.

“Kau putar-putar saja rokoknya?” Cak Jar mencoba ketus. “Memangnya kau tidak merokok?”

“Tidak boleh, Cak. Ayah tidak mengijinkan.”

“Memangnya dia di rumah tidak merokok?”

“Belum pernah, Cak. Ibu melarang.”

“Terus, ayahmu tidak melawan larangan dari ibumu?”

“Bukan, Cak. Mereka benci rokok karena katanya hidup kami pas-pasan.”

“Maksudmu, kalau keluargamu sudah kaya baru bebas merokok, ya?”

“Ibu pasti tetap melarang, Cak. Lagi pula kami tidak pernah membicarakannya.”

Cak Jar bertambah yakin bila anak muda yang ada di sampingnya sekarang adalah anak baik-baik yang patut mendapat perlindungan sekaligus belas kasihnya. Saat mengetahui itu, istrinya langsung memasang muka waspada.

Sebagai penghuni lama, Cak Jar lalu membantu Ed menyusuri bangsal untuk mencari keluarganya. Tak mendapatkan hasil, ia juga menanyakan pada semua sipir yang ia kenal di pintu masuk Lapas.

“Tidak ada dalam daftar kunjungan,” tegas sipir secara serempak.

Seorang sipir muda terus membolak-balik berkas. Tak ada keinginan untuk barang sebentar menatap ke arah Cak Jar dan Ed. Sipir itu hanya sepintas berkata bila sepasang suami dan istri telah menitipkan amplop dan bungkusan untuk orang baru bernama Ed kepadanya.

“Di mana mereka?” tanya Cak Jar memangkas keangkuhan sipir itu.

“Sudah pulang,” sahut sipir. Ia lekas menyerahkan barang titipan kepada Cak Jar.

BACA JUGA : Kutu Losmen di Perbatasan Gulita

Di bangsal buah tangan dari orang tua Ed dibuka bersama-sama. Amplopnya berisi uang lima puluh ribu. Sedangkan di dalam bungkusan hanya ada satu biji gorengan yang sudah dingin.

Istri Cak Jar melotot dan mengatakan bila tak mungkin seorang ibu membekali anaknya yang sedang dalam penjara hanya itu saja. “Pelit sekali ibumu, Nak!” ujarnya.

Ed hanya menggeleng lambat sambil memangku barang pemberian dari orang tuanya. Cak Jar dan Istrinya saling berdesas-desus, sengit—tentang pungutan liar yang mungkin sudah dikenakan pula pada sebungkus gorengan.

“Tak perlu nunggu berkuasa, Nak Ed buat korupsi,” kata Cak Jar diselingi denting bel Lapas. “Pejabat kacangan juga mau kalau ada kesempatan.”

 

***

Kedua tangan Dul menggenggam kuat kawat pembatas. Tepat di depannya wajah seorang wanita muda bertubuh kecil mendengarkan Dul berbicara. Wanita itu lebih banyak menggeleng saat Dul seperti berusaha membujuknya.

“Setelah kau bebas, sayang. Aku akan menikahimu.”

Wanita berparas serius itu mundur selangkah.

“Kau harus percaya dengan ucapanku.”

Wanita itu kembali mendekat kepada Dul. Matanya terlihat cukup teduh meski di balik pagar kawat.

“Bagaimana dengan istrimu?”

Dul menarik nafas. Ingatannya kembali lagi kepada rumah yang sudah lama ia tinggalkan. Beberapa tahun ia tak pernah mengenangnya. Sebagai akibatnya ia hanya tersenyum penuh paksa.

“Aku sudah melupakan mereka. Kita akan menikah setelah aku keluar dari sini.”

Wanita itu memalingkan wajahnya.

“Baru saja matamu tampak sedih. Aku tak akan mau terlibat lagi. Apalagi menikahimu.”

Kini Dul melihat ke bawah seakan sedang mencari jawaban yang tepat selagi bel Lapas belum juga terdengar.

“Sialan,” umpatnya.

Dul memberi isyarat supaya wanita itu mau lebih mendekat padanya. Dengan ragu-ragu, wanita itu luluh dan menghampiri Dul. Dan tanpa rasa canggung jemari mereka berdua mulai saling bersentuhan.

“Pagar kawat ini bukanlah pembatas bagi niatku untuk menikahimu. Tapi sebelum kau pergi dari sini, aku mohon, bantulah aku untuk yang terakhir kali.”

Dul tak melepaskan jemarinya walau wanita itu sudah terlihat ingin berontak.

“Sayang, aku sudah membayar lebih petugas.”

“Bulan lalu kau juga mengatakan itu. Tapi apa? Kau malah membiarkan dia menggerayangiku.”

“Sipir baru itu memang keparat. Itu di luar kesepakatan kami.”

Wanita muda itu menjauh, membiarkan rambut merahnya tergerai apa adanya. Ia menghampiri teman-temannya yang sedang menikmati kudapan di sebuah kantin dan kembali kepada Dul dengan tatapan yang berbeda.

“Setengah dari keuntunganmu adalah milikku?”

“Pelankan suaramu, sayang.”

Petugas yang lalu-lalang melihat mereka berdua dengan sinis.

“Kau tak perlu pura-pura lesu lagi. Dan, tentunya kita akan menikah di mana pun sesuai keinginanmu.”

Dul membayangkan sebuah gunung yang terletak pada Timur kepulauan Sumba—di mana sepasang pengantin baru akan berkemah di bawah kolong langit dan miliaran bintang, dan dengan hewan-hewan liarnya yang saling menerkam satu sama lain.

Dua orang sipir mendekati mereka. Dul membuang nafas begitu cepat.

“Tapi, jumlah itu tak sebanding dengan resikonya….”

“Kalau itu keputusanmu, pergilah ke lorong pengap itu sendiri. Semoga sipir baru itu juga suka menggerayangi pantatmu.”

“Oke, baiklah. Bawalah cincin ini sebagai jaminan.”

 

***

Tikar tipis digelar pada kamar dengan ukuran lima belas meter persegi. Dul memerintahkan seluruh penghuni agar mengumpulkan barang-barang pemberian dari keluarga mereka di tengah-tengah. Terdapat mi instan, air mineral, jajanan pasar, dan beberapa rokok dengan bermacam logo. Untuk uang, Dul membiarkan masing-masing penghuni menyimpannya. Ia selalu memperingatkan agar uang dijaga dengan hati-hati. Kalau perlu masukan ke celana dalam dan bawa ke mana pun bila hendak pergi.

BACA JUGA: Naskah dan Jelaga

Setiap penghuni Lapas mempunyai caranya sendiri agar uang mereka aman dari maling, yang kerap kali pelakunya itu adalah teman-teman mereka sendiri. Selain celana dalam, banyak dari mereka menyembunyikan uang yang sudah digulung dengan karet di lipatan celana atau kantong rahasia.

Suatu hari seorang penghuni Lapas yang terbilang baru dibui pernah menyembunyikan uangnya di bawah bantal. Pada besok paginya uang jatah untuk dua Minggu itu sudah lenyap. Ia kebingungan mencari ke sana-ke mari, tapi tetap tak ada yang mengakui tuduhan pria sial itu.

Semua penghuni tiba-tiba menjadi bisu dan tuli. Lalu ia berniat menanyakan itu pada Dul, namun kehilangan nyali saat tahu bila ternyata Dul sedang melamun. Kemudian ia kembali tidur dalam keadaan perut yang menahan lapar. Mengetahui kejadian itu Dul hanya diam saja. Ia merasa bahwa itu bukanlah tanggung jawabnya sebagai KM.

“Apa yang kau punya?” tanya Dul kepada Ed yang belum memahami apa maksud dari semua ini. Ed menyerahkan uang semata wayangnya ke bawah kaki Dul yang lekas ditampik oleh Cak Jar.

“Tapi, setidaknya kau harus hafal lagu Iwan Fals, mengerti?” kata Dul mengundang tanya di benak Ed. “Di kamar ini kita memikul beban tahanan lain. Jaga baik-baik uangmu.”

 

Darius Tri

Penulis

 


Kami menerima tulisan cerpenmu di rubrik AREK BERCERITA. Rubrik ini projectarek.id dedikasikan untuk siapa pun yang memiliki minat di dunia sastra khususnya cerpen. Kami ingin menjadikan rubrik ini sebagai rumah digital untuk bertumbuh bersama menghidupi dunia cerpen. Kirimkan karyamu dengan membaca PANDUAN kami.