JENDELANYA berwarna hitam pekat, lift-liftnya menebarkan aroma logam yang cukup tajam, sementara pendar lampu neon di dalamnya—seolah terus-menerus memaksa malam untuk mengaku kalah.
Tidak ada papan nama perusahaan di sana. Tidak ada logo korporasi multinasional yang mentereng, tidak juga ada sapaan ramah resepsionis di balik meja marmer. Hanya ada sebuah layar panjang di lobi yang sesekali berkedip, menampilkan kalimat-kalimat pendek berhuruf kapital yang cukup angkuh:
PELUANG DATANG BAGI MEREKA YANG BERTAHAN.
Kadang kalimat itu berganti menjadi:
JANGAN BERHENTI DI TENGAH JALAN.
Karus mencintai kalimat-kalimat itu. Ia merasa layar tersebut sedang berbisik langsung ke telinganya, memahami luka, tumpukan piutang, dan ambisinya secara personal. Baginya, kata “bertahan” bukan lagi sebuah pilihan, melainkan sebuah kewajiban.
*****
Namun, Karus tidak selalu menjadi penyembah kata “bertahan”.
Dulu, saat pertama kali menjejakkan kaki di gedung itu, ia datang dengan wajah yang jauh berbeda. Waktu itu pundaknya masih tegak, tidurnya masih cukup, dan matanya belum terbiasa memandangi cahaya layar yang (katanya) magic itu.
Karus mengenal gedung itu dari seorang teman lama yang mengaku berhasil mengubah nasib hanya dalam hitungan hari. Suatu waktu, temannya datang ke sebuah tempat kongkow. Senyumnya terlalu lebar untuk ukuran manusia yang baru saja membayar seluruh tagihan.
BACA JUGA : Setelah Pagar Tertutup
“Korporat terlalu berat buat orang-orang yang mau ngubah nasib dengan cepat. Kalau mau kaya cepat, yaa.... kudu berani ambil momentum”. nada yang cukup meyakinkan.
Saat itu Karus tidak langsung paham apalagi percaya. Ia hanya mengangguk dan mencerna tanpa berlebihan. Namun beberapa hari setelah percakapan itu, ketika tagihan-tagihan sudah menumpuk lama dilemari dan asap dapur yang mulai terasa menipis, kalimat tersebut kembali menghampiri pikirannya dengan bobot yang lebih menarik.
“Apa iya?? Gedung itu bisa kasih gue, bonus banyak... Apa iya?? Momentum itu terbuka di sana.... Apa iya?? Gue gak cukup berani ambil momentum....” Pikir keras Karus.
Dengan keyakinan yang baru sampai mulut, Karus mendatangi gedung itu. Malam pertama terasa cukup ganjil. Ia harus beradaptasi di antara orang-orang asing yang fokus menatap layar. Tatapan yang sungguh-sungguh dan penuh harap.
Karus meniru tatapan itu, ia bersunguh-sungguh memainkan ritme layar. Satu angka, dua angka, tiga angka. Tidak banyak. Semuanya berputar lancar di layar Karus. Lalu kesungguhan itu melahirkan keajaiban kecil.
“YES! Oh begini, toh cara mainnya... Kalau begini terus, besok.... gue bisa beli, tuh omongan tetangga,” Karus bangga, meremehkan.
Angka-angka di layar bergerak sesuai harapan. Tidak spektakuler, tidak cukup untuk membeli rumah atau mobil, tetapi cukup untuk membuatnya pulang dengan senyum yang sudah lama tidak muncul.
Malam itu ia membawa beberapa bingkisan ke rumah. Istrinya tersenyum lega. Suara ‘tik-tik’ di depan rumah yang sudah berminggu-minggu membuat mereka cemas, akhirnya terbayar lunas.
Bahkan anaknya belum sempat meminta asupan gizi yang cukup, Karus tanggap membawa amunisi-amunisi itu kerumahnya.
Tidak ada perayaan besar-besaran. Mereka hanya makan malam dengan lauk yang sedikit lebih baik daripada biasanya.
Karus tidak sedang membeli kemewahan. Ia sedang membeli keyakinan.
Dan sejak malam itu, gedung tanpa nama berhasil menanamkan satu gagasan yang terus tumbuh di kepalanya:
Bahwa mungkin, hanya mungkin, seluruh kesulitannya akan selesai jika ia bertahan sedikit lebih lama.
*****
Awalnya, sang istri mengira Karus bekerja layaknya manusia pada umumnya. Berangkat pagi, pulang malam, membawa wajah lelah yang wajar, dan berbagi keluh kesah tentang target atau dinamika korporasi. Namun, perlahan suasana rumah berubah ganjil.
Jam berangkat Karus bergeser ke angka-angka yang tidak masuk akal, ia menjadi pria yang hemat kata, dan sering kali mengunci diri dalam labirin pikirannya sendiri, kecuali saat ia menggumamkan satu andalan mantra:
"Aku sedang menunggu momentum..."
Mantra ini menjadi keyakinan baru baginya. Ia bermutasi dari hari ke hari, mengikuti fluktuasi grafik tak kasat mata yang berkecamuk di kepalanya:
"Besok pasti bonusnya besar."
"Firasatku sedang bagus hari ini."
"Nah! Polanya sudah mulai terbaca."
Pola.
Istrinya tidak pernah paham pola apa yang dimaksud. Baginya, satu-satunya pola yang nyata adalah bagaimana rumah mereka perlahan rontok; sandang yang lusuh, pangan yang seadanya, dan papan yang mulai tak terurus. Suara ‘tik-tik’ di awal bulan menjadi identitas rumah, ketukan pintu penagih hutang sudah tidak kenal jadwal, dan pulau diatap rumah adalah pola-pola yang teramat jelas.
BACA JUGA : Hidup di Negeri Omong-omong
Meja makan mereka selalu diselimuti kebekuan yang amat terasa. Makanan di piring mendingin tanpa pernah benar-benar dinikmati. Tidak jarang, Karus lebih memilih menatap layar ponsel–ketimbang melihat guratan lelah di wajah istrinya atau bahkan binar di mata anaknya.
Suatu malam, anaknya yang baru berusia tujuh tahun mendekati kursi Karus. Tangannya yang kecil dengan bangga menyodorkan selembar kertas. "Ini Ayah, hasil gambarku tadi di sekolah. Kata Ibu guru, gambarnya bagus."
Namun, gambar rumah dan dua gunung yang dilengkapi dengan matahari tersenyum itu—dikalahkan telak oleh cahaya biru yang memancar kuat dari ponsel Karus. Layar itu sedang menampilkan grafik naik-turun angka-angka digital yang bergerak dalam hitungan milidetik.
Mata Karus bergerak ke kiri dan ke kanan, memuja kedipan warna-warna yang dianggap sebuah keajaiban.
"Oh, iya, Nak. Bagus sekali," jawab Karus hambar. Matanya tak bergeser seinci pun dari layar. Ibu jarinya bergerak cukup cepat—mengetuk sebuah tombol digital di berbagai sudut.
"Ayah lagi apa, sih? Lihat dulu gambarnya, Ayah! Pegang kertasnya!" protes si kecil ketus.
Tanpa menoleh, Karus mencoba menenangkan dengan nada hambarnya, seolah sedang mengusir seekor lalat yang mengganggu konsentrasinya.
"Iya, Nak. Tidak perlu Ayah lihat. Ayah sudah yakin gambarmu pasti bagus. Sebentar ya, Ayah sedang kerja. Ini demi kita. Nanti kalau Ayah gajian, kalau momentumnya sudah pas, kamu tidak perlu menggambar di kertas murahan itu lagi. Ayah belikan komputer paling mahal."
Si kecil mundur dengan bibir mengerucut, menyadari bahwa ia baru saja kalah bersaing dengan sebuah benda persegi—berukuran lima inci.
Malam-malam di rumah itu kini hanya dihuni oleh bunyi-bunyi artifisial: denting notifikasi, desahan kecewa, tawa pendek yang janggal, lalu hening yang panjang. Ironisnya, suara-suara itu terdengar jauh lebih hidup daripada percakapan manusia di dalamnya.
*****
Karus bekerja di lantai sembilan belas. Di sana, ruang kerja dirancang tanpa sekat. Semua pegawai duduk berderet menghadap layar masing-masing, menyerupai jamaah yang sedang khusyuk menunggu wahyu turun dalam bentuk angka.
Tidak ada pertemanan, namun semua memiliki wajah yang seragam: mata merah yang cekung, rahang tegang, dan harapan yang dipelihara terlalu lama hingga membusuk.
Tiba-tiba, di ujung barisan meja, seorang pria berdiri dari kursinya. Kursinya terdorong ke belakang hingga berdentum keras ke lantai. Pria itu mengangkat kedua tangannya dan bersorak bangga,
"Fix! Kaya mendadak gue! Besok gue pensiun! Besok gue beli mobil! Gue beli tuh, Si Messi! Emang dasarnya, rezeki papi-papi salehh, ya… begini.”
BACA JUGA : Pilihan
Ruangan yang tadinya sunyi seketika meledak, orang-orang langsung bangkit dari kursi mereka—meninggalkan layar masing-masing demi mengerumuni meja pria itu. Mereka menatap layarnya dengan mata terbelalak, seolah-olah sedang melihat keajaiban yang amat ditunggu.
"Dapat berapa, Pren?" tanya seseorang dengan napas memburu.
"Gila! Angkanya naik terus!"
"Tambah lagi, gue yakin bonusnya bakal makin gila! Lipat gandakan!"
"Lanjut, jangan dilepas! Pasang lagi semua!" timpal Karus ikut berteriak penuh semangat.
Darahnya berdesir kencang. Dada Karus bergemuruh melihat angka di layar temannya. Ia semakin yakin bahwa Pola itu nyata! Momentum itu ada!
Namun, euphoria di lantai sembilan belas selalu berumur pendek. Hanya berselang lima menit, saat pria itu mengetuk tombol berikutnya—gambar di layar mendadak bergerak cepat tidak karuan.
"Lahhh! Mampus….. Mampus….. Salah langkah gue! Kacau! HABISS... HABIS SEMUANYA!" umpat pria tadi, sambil mengepalkan kedua tangan diatas kepalanya.
Ia kembali terduduk. Wajahnya pucat, tangannya gemetar hebat. Namun anehnya, di kantor ini, kehilangan tidak pernah dianggap sebagai kegagalan. Ia hanya dianggap sebagai proses—biaya administrasi menuju keberhasilan besar yang (katanya) sudah di depan mata.
Karus memuja cara berpikir itu. Ia merasa gedung ini lebih memahaminya, lebih menghargai perjuangannya daripada rumahnya sendiri.
Karena di rumah, istrinya adalah suara bising yang selalu menyuruhnya berhenti, menyuruhnya menyerah, dan meneriakkan realitas yang menyakitkan. Sementara di kantor, Jiwan adalah suara yang membujuknya untuk mencoba sekali lagi, memberikan pembenaran atas setiap kekalahan.
Jiwan adalah tangan kanan Sang Bos. Ia sering berjalan memutari meja-meja pegawai dengan langkah kaki yang tak bersuara. Suaranya selalu tenang, sejuk, dan ritmis–persis seperti penyiar radio di tengah malam.
"Sabar…. Tenang…. Yang penting jangan emosional, Karus," bisik Jiwan malam itu. "Atur napasmu. Pasar selalu menguji mereka yang berhati lemah. Kadang rezeki besar datang tepat satu detik setelah orang-orang ‘biasa’ itu memilih untuk menyerah. Kamu bukan orang biasa, kan?
Karus menelan mentah-mentah kata-kata itu, bahkan ia lebih percaya pada Jiwan ketimbang sinyal tubuhnya sendiri yang mulai meronta. Ia mulai lupa hari, lupa rasa makanan, dan lupa caranya duduk tenang tanpa memikirkan kemungkinan-kemungkinan.
*****
Dirumah, anaknya selalu dan masih sering menggambar.
Ada masa ketika Karus menjadi orang yang paling ditunggu kepulangannya.
Setiap sore, ia selalu berhasil membuat anaknya berlari keluar rumah tanpa diminta. Kadang dengan kaki telanjang, kadang masih mengenakan seragam sekolah yang belum sempat diganti.
"Ayah pulang!"
Seruan itu dahulu terdengar hampir setiap hari.
Dan Karus selalu menjawabnya dengan cara yang sama. Ia akan membungkuk sedikit, membuka kedua tangannya lebar-lebar, lalu membiarkan tubuh kecil itu menabrak dadanya dengan penuh semangat.
Pada waktu-waktu tertentu, Karus sering duduk di lantai ruang tamu menemani anaknya menggambar. Anaknya sangat suka menggambar: Rumah, Pohon, Gunung, Matahari yang selalu tersenyum.
BACA JUGA : Yang Tak Pernah Masuk Sistem
Dulu hampir setiap gambar selalu memuat sosok keluarga kecil. Kadang Karus digambarkan sebagai pahlawan super berjubah, kadang juga istrinya digambarkan sebagai seorang cinderella, atau kadang hanya gambar rumah lengkap dengan tiga orang penghuni yang berdiri di depannya
Bentuknya kadang tidak masuk akal. Warnanya tidak selalu pas di garis. Namun Karus selalu memperlakukannya seperti karya seorang pelukis handal.
"Wah, ini Ayah ya?" tanyanya suatu malam sambil menunjuk sosok manusia berkepala terlalu besar.
"Iya."
"Kok ganteng banget, Nak?"
Anaknya salting sampai terguling.
Karus ikut tertawa.
Pada masa itu, Karus tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari nanti dirinya akan hilang dari bayang-bayang anaknya. Karus menyimpan semua gambar itu di dalam laci. Namun sudah lama sekali, ia tidak pernah membukanya lagi.
*****
Suatu sore, saat sedang menunggu notifikasi di layar ponsel, matanya tanpa sengaja menangkap selembar gambar baru yang tergeletak di lantai ruang tamu. Di sana tergambar seorang ibu dan seorang anak yang sedang berpegangan tangan di depan rumah sederhana. Tidak terlihat sosok ayah di dalamnya. Karus mengernyit.
"Nak, ini rumah apa? lalu, dua orang itu siapa?"
“Ini rumah kita ayah….. liat deh, jendelanya–pecah. Sama, kan??” polos anaknya menjelaskan.
“Yang kanan, aku. Yang Kiri, ibu” Lanjut anaknya.
Karus agak terkejut
“Lalu Ayah, mana?
Anaknya mengangkat bahu.
"Ayah kan kerja…"
"Lho, kok nggak digambar, Nak?"
Anak itu berpikir sebentar sebelum menjawab.
"Soalnya Ayah kan jarang di rumah. Aku cuma menggambar apa yang aku lihat aja, Ayah."
Jawaban itu meluncur begitu saja, polos seperti anak-anak pada umumnya. Tidak ada nada marah ataupun kecewa. Dan justru karena itulah Karus merasa dadanya seperti dipukul sesuatu yang tidak terlihat.
Namun beberapa detik kemudian layar ponselnya berkedip, sebuah angka bergerak naik. Karus kembali menunduk, gambar itu tertinggal begitu saja di lantai.
*****
Pukul tiga pagi. Suasana kota di luar jendela sudah mati, namun di dalam ruang tamu rumah Karus, sebuah pendar biru masih menyala.
Istri Karus terbangun karena hawa dingin dan mendapati suaminya masih duduk di kursi kayu ruang tamu, membungkuk di depan meja dengan ponsel yang menempel dekat ke wajahnya. Karus sedang tersenyum sendiri menghadap layar, sebuah senyuman ganjil yang membuat bulu kuduk istrinya merinding.
"Ayah, kok belum tidur? Ini udah masuk pagi loh, Yah... Besok anak kita harus diantar ke sekolah," suara istrinya serak, sarat akan kelelahan batin.
"Sebentar lagi, Bu," sahut Karus tanpa menoleh, jarinya bergerak dengan ritme yang mekanis.
Sebentar lagi. Kalimat yang mulai dibenci istrinya. Karena "sebentar lagi" adalah garis finis yang selalu bergeser sangat jauh.
"Ayah tahu," suara istrinya pelan, "beberapa orang yang tenggelam selalu punya cara untuk menentang aturan ‘sebentar saja, sebentar lagi.’ Sampai akhirnya mereka tidak bisa balik lagi. "
Karus tertawa kecil, suara tawa yang kering dan hampa. "Ah, kamu terlalu dramatis, Bu. Ini bisnis modern. Kamu tidak sekolah tinggi, jadi kamu tidak paham bagaimana dunia digital bekerja."
Padahal, jauh di lubuk hatinya yang paling gelap, Karus mulai merasa takut pada dirinya sendiri. Ada monster kecil yang tumbuh di kepalanya. Ia merasa dunia nyata—dunia dengan suara hujan yang jatuh di genting, tawa renyah anaknya, obrolan hangat istrinya—terasa bergerak terlalu lambat, terlalu membosankan, dan tidak memiliki warna.
Semua hal nyata itu terasa seperti gangguan yang tidak berarti, seperti distorsi yang menghambatnya untuk mencapai angka kemenangan di layarnya.
*****
Di lantai paling atas gedung tanpa nama itu, Jiwan menghadap Sang Bos dengan membawa laporan harian. Layar-layar besar di ruangan itu menampilkan rekaman CCTV para pegawai yang masih terpaku di meja mereka.
Di salah satu kotak monitor, wajah Karus terlihat jelas—kuyu, dengan mata yang terus disorot cahaya ponselnya sendiri.
"Yang ini mulai menjual waktu tidurnya demi grafik kita, Pak," lapor Jiwan, jarinya mengetuk layar menampilkan data aktivitas Karus.
"Dia juga sudah mulai abai dengan keluarganya. Berdasarkan pelacakan data, dia tidak lagi merespons pesan-pesan dari istrinya. Bahkan durasi tinggalnya di kantor, meningkat drastis belakangan ini."
BACA JUGA : Ular Rumah Tangga
Sang Bos yang duduk di kursi besarnya terkekeh. Suara kekehannya sinis, berat, dan penuh kuasa yang mutlak. Ia menikmati pemandangan para "pekerja" di layar monitor yang tampak seperti semut-semut kelaparan dalam botol kaca.
"Dan mereka masih percaya bahwa sebentar lagi hidup mereka akan berubah?" tanya Sang Bos dengan nada kuasa.
"Iya, Pak."
"Cerdas! Saya suka gaya berpikir mereka. Lanjutkan." Bos menanggapi dengan senyum yang lebar.
*****
Malam berikutnya, rintik hujan turun di rumah karus. Di ambang pintu rumah, istri Karus berdiri sigap–tegak, menghadang jalan saat suaminya sudah mengenakan jaket dan bersiap untuk berangkat lagi ke gedung itu.
"Hari ini, Ayah jangan masuk kerja dulu, ya... Tolong, sekali ini saja dengarkan aku," pinta istrinya, matanya berkaca-kaca menatap Karus.
"Aku cuma masuk sebentar, Bu. Malam ini trennya lagi bagus, loh…." jawab Karus, tangannya sudah memegang gagang pintu, mencoba menggeser tubuh istrinya.
"Tempat itu membuatmu lupa pulang, Ayah! Tempat itu membuatmu lupa akan semua hal!" suara istrinya naik satu oktav—pecah oleh keputusasaan.
Karus menghela napas panjang, sebuah helaan napas yang sarat akan rasa beban dan kesal yang tertahan.
"Ibu, kamu tidak mengerti dan tidak akan pernah paham bagaimana roda dan pola ini berputar. Sedikit lagi, Bu. Sabar sedikit lagi, tolong…. Aku sudah mempelajari ini berbulan-bulan. Aku sudah paham betul polanya seperti apa, kapan dia turun dan kapan dia akan naik melesat!"
“Toh, Kalo aku dapat bonusnya, kita akan bahagia juga, kan?” Lanjut Karus.
Perempuan itu menatap mata suaminya. Mata yang dulu hangat dan penuh binar kasih, kini telah berubah menjadi dua lubang hitam yang hampa, memantulkan sisa-sisa kegilaan angka. "Yang aku takutkan bukan karena kamu pulang tanpa bingkisan, Ayah. Tapi karena kamu tetap bertahan dan terus berharap, bahkan setelah semua milik kita dirampas habis oleh bosmu!"
Sesuatu bergetar di dada Karus. Seperti ada sebuah palu yang menghantam dinding beku di dalam kesadarannya. Nuraninya, yang telah lama mati, mencoba mengirimkannya sinyal darurat.
Namun, sebelum nurani itu berhasil mengambil alih kendali tubuhnya, ponsel di saku celananya bergetar kuat. Karus buru-buru merogohnya. Sebuah notifikasi pesan dari Jiwan masuk ke layarnya:
“Malam ini gedung cukup ramai. Banyak yang sudah balik, bahkan untung besar. Momentum emas sedang terbuka, Karus…”
Balik. Kata itu bertindak seperti zat adiktif yang langsung disuntikkan ke dalam pembuluh darahnya. Adrenalinnya memuncak, memabukkan seluruh fungsi logikanya dalam sekejap. Rasa bersalah yang baru saja muncul langsung menguap tak berbekas.
Karus menepis tangan istrinya perlahan namun tegas, membuka pintu, dan melangkah keluar menembus gerimis malam tanpa menoleh lagi.
*****
Di dalam lift gedung lantai sembilan belas, Karus berdiri sendirian. Kaca dinding lift memantulkan bayangannya dari berbagai sisi. Wajah yang memantul itu tampak sangat asing bagi Karus. Kulitnya pucat, kantung matanya menghitam legam, persis tampak seperti sesosok mayat yang terus bergerak oleh suatu kemungkinan di kepalanya.
Layar di atas pintu lift berkedip:
SELAMAT DATANG KEMBALI, WAHAI PARA PEMENANG.
Kalimat itu bukan lagi sebuah sambutan, melainkan sebuah ejekan bagi jiwa-jiwa yang sudah terjebak.
Di lantai teratas, Sang Bos menutup laporan harian.
"Pegawai baru hari ini tiga puluh dua orang, Pak," kata Jiwan.
"Yang menang besar kemarin sudah masuk lagi?"
"Sudah, Pak."
Sang Bos tersenyum puas. "Memang begitu manusia. Beri mereka satu bonus kecil, maka mereka akan sukarela menghidupi gedung ini, lebih lama lagi.”
Ia menatap ke arah jendela besar yang menghadap kota.
"Padahal, gedung ini tidak benar-benar menghasilkan apa-apa. Semua bonus yang mereka perebutkan semuanya berasal dari kantong-kantong mereka."
Jiwan terdiam, sementara layar raksasa di lobi gedung kembali menyala terang, memanggil mangsa-mangsa baru dari kegelapan kota:
PELUANG DATANG BAGI MEREKA YANG BERTAHAN.
Caesar Rifyal Sidqi
*Penulis lahir di Bogor. Saat ini sedang menjalani studi di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Baca juga karyanya (Nadira Bicara Sendiri; basabasi.co, Tikusruk; semilir.co, beberapa cerpen di tebuireng online). Instagram akun: @caesarmuhammad27
Kami menerima tulisan cerpenmu di rubrik AREK BERCERITA. Rubrik ini projectarek.id dedikasikan untuk siapa pun yang memiliki minat di dunia sastra khususnya cerpen. Kami ingin menjadikan rubrik ini sebagai rumah digital untuk bertumbuh bersama menghidupi dunia cerpen. Kirimkan karyamu dengan membaca PANDUAN kami.
